Jumat, 14 Maret 2014

Kumpulan Artikel: kisahmuslim.com

Di Atas Ranjang Kematian

Penulis akan memaparkan untuk sahabat kisah muslim kisah-kisah dari sebagian sahabat di saat-saat akhir hayat mereka. Bagaimana keadaan mereka ketika kematian menjelang, bagaimana rasa takut mereka kepada Allah, padahal sebagian mereka telah dijamin sebagai penghuni surga.

Menjelang ajalnya Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya.” Lalu dia berkata kepada putrinya, Aisyah radhiallahu ‘anha, “Perhatikanlah kedua baju ini. Cucilah keduanya, dan kafanilah aku dengan keduanya. Karena orang yang hidup lebih berhak mendapatkan yang baru daripada orang mati.”

Beliau juga berwasiat kepada Umar bin Khottob radhiallahu ‘anhu, “Aku mewasiatkan sebuah wasiat untukmu, jika engkau berkenan menerimanya dariku. Sesungguhnya Allah mempunyai hak di malam hari yang tidak Dia terima di siang hari. Allah juga mempunyai hak di siang hari yang tidak diterima-Nya di malam hari. Dia tidak meneriman ibadah sunnah sebelum ibadah yang wajidb ditunaikan. Orang-orang yang berat timbangannya di akhirat dikarenakan mereka mengikuti kebenaran di dunia. Timbangan amalan baik memang sudah sepantasnya mendapat nilai yang besar. Orang-orang yang berat timbangannya di akhirat, hal itu karena mereka mengikuti kebatilan. Amalan kejelekan memang layak dinilai dengan nilai rendah dan timbangan yang ringan..”

Ketika Umar ditikam, Abdullah bin Abbas datanga dan mengatakan, “Ya Amirul Mukminin, engkau masuk Islam manakala orang-orang masih kufur. Engkau berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam manakala orang-orang meninggalkannya. Engkau terbunuh secara syahid tanpa ada yang menyangkal. Dan Rasulullah wafat dalam keadaan beliau ridha terhadapmu.” Umar berkata, “Ulangi ucapanmu itu.” Lalu Ibnu Abbas pun mengulangi ucapannya, kemudian langsung ditanggapi oleh Umar, “Orang yang tertipu adalah orang yang kalian tipu. Demi Allah, seandainya aku memiliki harta yang memenuhi antara terbit dan terbenamnya matahari, niscaya aku akan memakainya untuk menebus kengerian kiamat (agar selamat darinya).”

Abdullah bin Umar berkata, “Kepala Umar berada di atas pahaku pada waktu ia terluka sebelum wafatnya. Saat itu Umar berkata, “Letakkan kepalaku di atas tanah.” aku berkata, “Apa bedanya di atas tanah dengan di atas pahaku?” Umar berkata, “Letakkan!” Lalu aku pun meletakkan kepalanya di atas tanah, kata ibnu Umar. Kemudian Umar mengatakan, “Celaka Umar dan celakalah (musibah bagi) orang yang melahirkan Umar, jika Rabbku tidak merahmatiku.”

Amirul mukminin Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, ketika para pemberontak menikamnya dan darah mengalir di jenggotnya, dia berkata, “Tiada sesembahan yang benar kecuali Engkau ya Allah. Maha Suci Engkau dan aku termasuk orang-orang yang zalim. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk kepada-Mu. Aku memohon pertolongan kepada-Mu dalam segala urusanku. Aku memohon kepada-Mu kesabaran atas musibahku.” Lihatlah Utsman bin Affan, di saat-saat api fitnah bergejolak, beliau tidak membiarkan satu orang sahabat nabi atau seorang muslim lainnya datang melindunginya. Beliau khawatir darah uamt Islam tertumpah karena beliau, beliau lebih memilih bersabar, menahan kezaliman dan bersabar walaupun resikonya adalah nyawa

Ketika Utsman radhiallahu ‘anhu wafat dan syahid, para pemberontak membongkar lemarinya. Mereka menemukan sebuah kotak yang terkunci rapat. Mereka membukanya, dan menemukan secarik kertas yang bertuliskan: Ini adalah wasiat Utsman. Bismillahirrahmanirrahim. Utsman bin Affan bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Allah membangkitkan orang-orang dari kubur mereka pada hari yang tidak ada keraguan akan terjadinya. Sesungguhnya Allah tidak menyelesihi janji. Di atasnya dia hidup, di atasnya dia mati dan di atasnya pula dia dibangkitkan, insya Allah’.

Setelah ditikam, amirul mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Bagaimana dengan orang yang menikamku?” Orang-orang menjawab, “Kami telah menangkapnya.” Ali mengatakan, “Beri dia makan dari makananku dan beri dia minum dari minumanku. Jika nanti aku masih hidup, maka nanti akan aku pikirkan. Jika ternyata aku mati, maka penggallah ia dengan sekali penggalan jangan lebih dari itu (jangan dianiaya).” kemudian beliau berwasiat kepada putranya hasan bin Ali, “Jangan bermahal-mahalan dalam urusan kafan. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah kalian bermahal-mahal dalam urusan kafan, karena kafan akan usang dengan cepat.’.” Ali juga mewasiatkan “Bawalah jasadku nanti diantara dua cara berjalan; jangan bawa dengan tergesa-gesa dan jangan juga terlalu lambat. Jika ternyata (keadaan kuburku) memang baik, maka kalian telah menyegerakanku kepada kebaikan itu (karena tidak memperlambat). Namun apabila ternyata kuburku buruk, maka kalian telah meletakkanku di pundak kalian (dengan tidak tergesa-gesa).” Masya Allah orang seperti Ali bin Abi Thalib yang dijamin surga pun masih takut dengan keadaan alam kuburnya, bahkan hal itu beliau pikirkan di saat-saat orang sudah mengalami kondisi sulit, di saat sakratul maut, di saat luka parah karena sabetan pedang beracun yang menghantam kepala beliau radhiallahu ‘anhu.

Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, seorang sahabat yang mulia. Manakala maut datang menjemput, beliau menyeru Allah Ta’ala, “Ya Rabbi, dulu aku takut kepada-Mu. Namun pada hari ini aku berharap kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak mencintai dunia karena mengalirnya sungai-sungai, tidak pula karena ingin menanam pohon-pohon. Akan tetapi aku hanya ingin merasakan hausnya karena berpuasa di panas yang terik, mengisi saat demi saat dengan bergaul bersama orang-orang shaleh, dan menghadiri halaqah-halaqah ilmu.” Itulah artinya dunia bagi para sahabat nabi, itulah kesenangan dan ambisi hidup mereka di dunia. Rasa senang dan gembira mereka ada pada rasa haus di panas yang terik karena beribadah kepada Allah dengan berpuasa, bergaul dengan orang shaleh dan mendengarkan kalam ilahi di halaqah ilmu.

Demikianlah di antara kisah-kisah sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ajal menjemput mereka. Betapa yakinnya mereka dengan hari pembalasan dan betapa khawatirnya mereka akan keadaan mereka di kehidupan setelah kematian, padahal mereka telah mengamalkan amalan-amalan yang agung semasa hidup di dunia. Bersamaan itu pula muncul rasa harap yang besar kepada Allah Ta’ala.

Sumber: Ensiklopedi Kisah Generasi Salaf

Artikel: KisahMuslim.Com

____________________________________________

Menerima Kekurangan Pasangan

Kurang berarti tidak cukup, di bawah harapan, under standar. Namanya saja kurang, tak ada orang yang mau, karena ia tidak sesuai dengan harapan yang biasanya melahirkan masalah. Kurang adalah pahit dan terbatas, karenanya semua orang mau melepehnya. Namun celakanya sesuatu yang pahit dan getir ini justru ada pada setiap orang, termasuk suami atau istri Anda, bahkan Anda pun tak terkecualikan darinya.

Sesuatu yang pasti ada namun pahit, karena itu menerimanya jadi mandan, rada susah dan relatif sulit, bahkan ada beberapa orang yang kurang bisa menerimanya atau paling tidak dalam kondisi tertentu lahir indikasi tidak menerima, hingga akhirnya muncul kekesalan terhadapnya, lebih-lebih bila ternyata kekurangan ini lalu menjadi yang tertuduh, kambing hitam persoalan.

Anggaplah kekurangan pasangan melahirkan persoalan, akan tetapi bukankah dia juga memiliki kebaikan-kebaikan? Dan secara umum kebaikannya lebih besar dan lebih banyak. Karena itu Anda jangan melulu memandang dengan mata marah dan kesal, karena lumrah kalau dalam kondisi marah dan kesal, yang terlihat di depan mata adalah keburukan.

Imam asy-Syafi’i berkata,

Mata kerelaan itu buta terhadap segala aib
sebagaimana mata kebencian membuka keburukan

Al-Qur`an mengajak melihat dua sisi, kelebihan dan kekurangan secara berimbang, dalam konteks perceraian yang biasanya terjadi dalam kondisi benci, ayat al-Qur`an memerintahkan untuk tidak melupakan keutamaan di antara pasangan, firman Allah,(yang artinya) "Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan." (Al-Baqarah: 237).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dari Abu Hurairah,

"Hendaknya seorang mukmin tidak membenci seorang mukminah, jika dia tidak menyukai satu perangainya niscaya dia menyukai yang lain." (HR. Muslim).

Tidak ada manusia tanpa kekurangan dan kekeliruan termasuk Anda. Jika itu yang ada dalam pikiran Anda, bukankah hal yang sama juga ada dalam pikiran pasangan Anda? Kalau begitu kapan Anda dengan pasangan berbaikan bila yang ada dalam pikiran hanya kekurangan semata? Bacalah ucapan penyair ini.

Siapa gerangan yang seluruh sifatnya diterima
cukuplah seseorang itu dianggap baik jika aib-aibnya terhitung

Itu kekurangan dari sisi orang lain yang memandang, bagaimana dari sisi pemiliknya? Tak ada manusia yang bersih dari kekuarangan, maka tak ada jalan lain kecuali usaha memperbaikinya, memang Anda tak akan pernah bisa membuangnya sebersih-bersihnya, tak jadi soal karena ia bukan bisnis Anda, sebaliknya bisnis Anda hanya sebatas mengupayakan diri melepaskan diri dari kekurangan, kalau pun tidak bisa semuanya, paling tidak ada sedikit yang terbuang dan itu sudah cukup. Wallahu a’lam.

Sumber: Alsofwah.or.id

Artikel: KisahMuslim.Com

____________________________________________

Yang Langka, Jenaka, dan Pilihan

– Seorang yang miskin meminta kepada orang pedalaman agar kebutuhannya dipenuhi. Orang pedalaman tersebut berkata, "Saya tidak mempunyai apa pun untuk diberikan kepada orang lain. Harta yang saya punya, saya sendirilah yang paling berhak menggunakannya. Si peminta berkata, "Di manakah orang-orang yang mengutamakan (orang lain) daripada dirinya sendiri?" Orang pedalaman pun menimpali. "Mereka pergi bersama orang-orang yang tidak meminta secara paksa kepada orang lain."

Ada orang bodoh –dia menghindari ghibah (menggunjing)- saking menghindarinya, ia pun menjadi orang yang berlebihan. Ia ditanya, "Bagaimana pendapatmu tentang iblis?" Dia menjawab, "Saya sering mendengar pembicaraan mengenai Iblis. Allah yang Maha Mengetahui rahasia iblis.

Seorang laki-laki berangkat untuk berjuang di jalan Allah. Dia meninggalkan istri dan anak-anaknya. Ada sebagian perempuan yang lemah iman berkata kepada istri pejuang tersebut, "Wahai ibu yang miskin! Siapa orang yang akan membiayai keluargamu serta merawat anak-anakmu jika ternyata Allah Subhanahu wa Ta'ala menakdirkan suamimu meninggal dunia dan tercatat sebagai orang yang mati syahid?" Perempuan mukminah itu pun berkata lantang dengan penuh kemantapan, keimanan, dan ketenangan, "Sungguh, yang saya tahu suamiku adalah tukang makan. Saya tidak mengenal dia sebagai pemberi rezeki. Jadi, apabila tukang makan meninggal dunia, maka Sang Pemberi Rezeki masih tetap hidup."

Pada suatu hari Abu Darda radhiyallahu 'anhu terdiam di depan Ka'bah, lalu dia berkata kepada para sahabatnya, "Bukankah jika seseorang hendak melakukan perjalanan, pastinya dia mempersiapkan bekal?" Mereka menjawab, "Iya, benar." Abu Darda' radhiyallahu 'anhu berkata, "Padahal perjalanan akhirat lebih jauh daripada perjalanan kalian ini." Mereka pun berkata, "Tunjukkan kepada kami bekal untuk ahirat!" Dia berkata, "Lakukanlah ibadah haji untuk menghadapi hal-hal besar, laksanakanlah shalat dua rakaat di malam yang gelap untuk menghadapi kesulitan di alam kubur, dan berpuasalah pada hari yang sangat terik untuk menghadapi lamanya hari kiamat."

Al-Jahizh, seorang penulis, ahli sastra Arab terkenal adalah seorang yang buruk rupa, tetapi dia sombong meskipun tentang fisiknya. Al-Jahizh pernah bercerita mengenai dirinya sendiri. Dia berkata, "Saya pernah berdiri di depan pintu rumahku, lalu ada seorang perempuan yang menghampiriku." Perempuan tersebut berkata, "Saya butuh kepadamu. Saya ingin engkau ikut bersamaku untuk suatu kepentingan." Al-Jahizh melanjutkan ceritanya, "Saya pergi bersamanya sehingga kami sampai ke toko emas. Lalu perempuan tersebut berkata kepada tukang emas, 'Seperti ini,' sambil menunjuk ke arahku. Kemudian dia meninggalkanku dan pergi. Lalu saya bertanya kepada tukang emas, 'Apa maksud dari perkataan perempuan tersebut?" Tukang emas menjelaskan, "Perempuan tersebut pernah membawa batu mata cincin kepadaku dan menyuruhku agar aku melukiskan gambar setan di atasnya, lalu saya berkata kepadanya, "Wahai nona! Saya belum pernah melihat setan sama sekali.' Lantas dia datang lagi membawamu dan mengatakan apa yang telah kamu dengar tadi."

Isham bin Yusuf melewati Hatim al-Asham di majelis pengajiannya, lalu Isham bertanya, "Wahai Hatim! Apakah kamu melaksanakan shalat dengan baik?" Dia menjawab, "Iya." Isham bertanya lagi, "Bagaimana tata caramu melaksanakan shalat?" Hatim al-Asham menjawab, "Saya berdiri berdasarkan perintah, saya berjalan dengan rasa khasyyah (takut kepada Allah), saya masuk (ke dalam shalat) dengan niat, saya bertakbir dengan mengagungkan, saya membaca Alquran dengan tartil dan memikirkan artinya, saya melakukan ruku' dengan khusyuk, saya bersujud dengan tawadhu, saya duduk tasyahhud dengan sempurna, saya mengucap salam dengan berniat, saya mengakhiri shalat dengan ikhlash kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, saya kembali pada diri sendiri dengan rasa takut, saya takut bila Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menerima shalatku. Saya menjaganya dengan susah payah sampai mati." Isham berkata, "Ya sudah, bicaralah. Engkau melaksanakan shalat dengan baik."

Juha sedang pergi ke pasar untuk membeli keledai. Dia bertemu temannya. Temannya bertanya, "Kamu mau pergi ke mana?" Juha menjawab, "Ke pasar untuk membeli keledai." Temannya berkata, "Katakanlah, 'Insya Allah'." Juha menanggapi, "Hal ini bukan tempatnya mengucapkan insya Allah. Di sakuku ada uang, sedangkan keledai ada di pasar." Ternyata, ketika dia telah berada di pasar, tiba-tiba uangnya dicuri orang. Dia pun pulang dengan menyesal, lalu temannya bertanya kepadanya, "Hai Juha, mana keledainya?" Dia menjawab, "Insya Allah, uangku dicuri orang."

Ada seorang yang bodoh melihat ke sumur. Dia melihat wajahnya di dalam sumur. Lalu dia kembali menemui ibunya, "Hai ibu, di dalam sumur ada pencuri." Lantas ibunya datang dan melihat sumur. Dia berkata, "Iya, benar di dalam sumur ada pencuri beserta pelacur." (ungkapan sindiran atas kebodohan anaknya.)

Seorang laki-laki berkata kepada Hisyam al-Quthi, Kam ta'uddu (Berapa kamu menghitung)?" Hisyam menjawab, "Dari satu sampai satu juta bahkan lebih banyak lagi." Dia berkata, "Bukan itu maksudku." Hisyam menimpali, "Lalu apa yang kamu maksud?" Dia berkata lagi, "Kam tau'ddu minas sinni (Berapa hitungan gigi)?" Hisyam menjawab, "Ada tiga puluh dua. Yang enam belas di bagian atas dan enam belas lagi di bagian bawah." Dia berkata, "Bukan itu yang aku kehendaki dan aku maksud." Hisyam menimpali, "Lalu apa yang kamu maksud?" Dia berkata lagi, "Kam laka minas sinin (Berapa banyak gigimu)?" Hisyam menjawab, "Saya tidak mempunyai sedikit pun. Semuanya milik Allah 'Azza wa Jalla." Dia berkata lagi, "Fa ma sinnuka (Apa gigimu)?" Hisyam menjawab, "Tulang." Dia berkata lagi, "Faibnu kam anta (kamu ini anak berapa orang)?" Hisyam menjawab, "Anak dua roang, yaitu Ayah dan Ibu." Dia berkata lagi, "Fa kam ata alaika (berapa banyak yang membinasakanmu)?" Hisyam menjawab, "Katakanlah, 'Kam Madha min umrika (Berapa banyak umurmu yang telah berlalu)'?"

Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki yang mempunyai keinginan kuat untuk shalat berjamaah. Kemudian ada salah seorang yang tidak ikut shalat berjamaah memasuki rumahnya, dan menzinai istri pemilik rumah tersebut. Tiba-tiba ada anjing yang melompat menyerang keduanya sehingga keduanya mati. Kemudian pemilik rumah pulang dan mendapati keduanya telah tidak bernyawa.

Lantas dia mendendangkan syair berikut:

Anjing selalu memelihara tanggung jawabnya kepadaku, melindungiku, dan menjaga janjiku. Sedangkan kekasih malah berkhianat.

Sungguh heran, seorang kekasih malah merusak kehormatanku

Dan sungguh heran terhadap anjing bagaimana ia dapat menjaga

Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah berbincang-bincang dengan seseorang. Beliau bertanya kepadanya, "Siapa namamu?" Dia menjawab, "Jamrah (bara api)." Umar radhiyallahu 'anhu bertanya lagi, "Anaknya siapa?" "Anak Syihab (cahaya api)" jawabnya. Umar radhiyallahu 'anhu melanjutkan, "Kamu dari golongan siapa?" Dia menjawab, "Dari Hurqah (kebakaran)." Umar radhiyallahu 'anhu bertanya lagi, "Di mana tempat tinggalmu?" Dia menjawab, "Di daerah Harratin Nar (panasnya api)." Tepatnya di sebelah mana, "Di daerah Dzati Lazha (yang mempunyai nyala api)." Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Segera susul keluargamu. Mereka mengalami kebakaran." Lelaki itupun bergegas menuju ke rumahnya. Dan ternyata memang terjadi seperti apa yang disampaikan Umar radhiyallahu 'anhu.

Al-Ahsmu'i berkata, "Saya pernah berkata kepada seorang anak muda dari kalangan anak-anak Arab, 'Apakah kamu senang jika kamu mempunyai seratus ribu dirham, tetapi kamu bodoh?" Dia menjawab, "Demi Allah, tidak." Saya bertanya lagi, "Mengapa?" Dia menjawab, "Saya khawatir kebodohanku berbuat jahat kepadaku, sehingga hartaku lenyap dan tinggal bodohnya saja."

Hakim berkata, "Jauhilah tujuh perkara, niscaya ragamu dan hatimu akan merasa lega. Di samping itu, kehormatanmu dan agamamu akan selamat.

Janganlah engkau bersedih atas sesuatu yang hilang dari dirimu.

Jangan memikul kesedihan atas sesuatu yang belum terjadi.

Janganlah engkau mencela orang atas sesuatu yang ada pada dirimu yang sama dengan orang lain.

Jangan engkau minta imbalan atas sesuatu yang tidak pernah engkau lakukan.

Janganlah engkau marah kepada orang yang tidak terpengaruh dengan kemarahanmu.

Janganlah engkau memuji orang yang tidak mengetahui bahwa dirinya tidak sesuai dengan apa yang dipujikan kepadanya."

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu mengatakan, "Tiada suatu musibah yang menimpaku melainkan aku melihat ada tiga hikmah di baliknya yang merupakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepadaku. Pertama, musibah ini tidak terkait dengan agamaku. Sebab, musibah mengenai agama merupakan musibah besar. Terkadang dengan musibah ini seseorang merugi di dunia dan akhirat. Kedua, musibahnya tidak lebih besar dari itu. Tidak ada satu pun musibah melainkan ada yang lebih besar lagi. Ketiga, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan kesabaran kepadaku untuk menghadapinya. Sungguh, kesabaran dan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan penyumbat rasa aman yang dapat meringankan musibah yang menimpa."

Ibnu Khalikan mengatakan, "Kami dengar dari sekelompok orang yang dapat dipercaya bahwa mereka mempunyai desa yang dikenal dengan nama 'Dairu Abi Salamah'. Di dalamnya terdapat seorang laki-laki yang fasih lisannya tetapi dia berlimpah kebohongan dan kebodohan. Pada suatu hari dia menyebtukan siwak dan keutamaan yang ada di dalanya. Dia berkata, 'Demi Allah, saya tidak bersiwak kecuali dari dubur,' lalu dia mengambil siwak dan membiarkan pada duburnya, sehingga siwak itupun menyakitkannya pada malam harinya. Hal tersebut masih berlangsung sampai sembilan bulan. Dia mengeluhkan rasa sakit pada perut dan duburnya. Dia merasakan sakitnya orang melahirkan. Kemudian dia melahirkan binatang yang bentuknya seperti tikus dan kepalanya seperti ikan. Binatang tersebut mempunyai taring yang nampak, berekor panjang, empat jari, dan dubur yang mirip dengan dubur kelinci. Ketika dia melahirkannya, binatang tersebut menjerit tiga kali. Lantas putri lelaki tersebut berdiri, kemudian meremukkan kepala binatang tersebut hingga mati. Lelaki tersebut masih hidup dua hari sejak binatang tersebut mati. Dia berkata, "Binatang ini membunuhku dan memotong usuku.' Sekelompok orang dari daerah tersebut menyaksikan binatang tersebut pada tahun 665 H."

Seorang lelaki thufaili (orang yang suka ikut-ikutan dalam suatu jamuan makan tanpa diundang) melihat serombongan orang yang sedang bepergian. Dia mengira bahwa rombongan tersebut hendak menghadiri undangan walimah (jamuan makan). Dia pun mengikuti mereka. Selidik punya selidik, ternyata mereka adalah rombongan penyair yang hendak mendatangi raja. Ketika masing-masing penyair telah mendendangkan syairnya dan mengambil hadiahnya, maka tersisalah lelaki thufaili tadi. Dia hanya duduk terdiam. Lalu dikatakan kepadanya, "Ayo dendangkan syairmu!" Dia menjawab, "Saya bukan seorang penyair." Dia ditanya, "Lalu kamu siapa?" Dia menjawab, "Termausk orang-orang yang sesat, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:

"Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat." (QS. Asy-Syu'ara: 224)

Kontan sang raja tertawa atas jawaban tersebut. Dia memerintahkan agar lelaki tersebut juga diberi hadiah.

Al-Aqra' bin Habis (salah satu amir di negeri Islam) menghadap Amirul Mukminin, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. Ternyata dia mendapati Umar radhiyallahu 'anhu sedang bermain dengan anak-anaknya. Anak-anaknya bergantungan di lengannya dan di atas punggungnya. Lantas al-Aqra bertanya, "Apa-apaan ini, wahai Amirul Mukminin? Apakah memang seperti ini yang Anda lakukan bersama anak-anak Anda?" Umar bangun dan bertanya kepada al-Aqra', "Hai al-Aqra', kamu sendiri apa yang kamu lakukan di rumah?" Dia menjawab, "Ketika aku masuk rumah, orang yang berdiri langsung duduk, orang yang berbicara langsung diam, dan orang yang tidur langsung bangun. Saya mempunyai sepuluh anak, tetapi saya tidak pernah mencium satu pun dari mereka." Lantas Umar berkata, "Kalau begitu kamu tidak layak menjadi penguasa bagi kaum muslimin." Selanjutnya Al-Aqra dipecat.

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Artikel: KisahMuslim.Com

____________________________________________

Kisah Syuraih al-Qadhi Bersama Istrinya

Ini Syuraih al-Qadhi bersama istrinya. Syuraih adalah seorang tabi'in yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab menjadi pejabat hakim di wilayah kekhalifahan Islam.

Setelah Syuraih (seorang tabi'in) menikah dengan seorang wanita bani Tamim, dia berkata kepada Sya'bi (seorang tabi'in), "Wahai Sya'bi menikahlah dengan seorang wanita bani Tamim karena mereka adalah wanita."

Sya'bi bertanya, "Bagaimana hal itu?"

Syuraih bercerita, "Aku melewati kampung bani Tamim. Aku melihat seorang wanita duduk di atas tikar, di depannya duduk seorang wanita muda yang cantik. Aku meminta minum kepadanya."

Wanita itu berkata kepadaku, "Minuman apa yang kamu sukai?"

Aku menjawab, "Seadanya."

Wanita itu berkata, "Beri dia susu. Aku menduga dia orang asing."

Syuraih berkata, "Selesai minum aku melihat wanita muda itu. Aku mengaguminya. Aku bertanya kepada ibunya tentang wanita itu."

Si ibu menjawab, "Anakku."

Aku bertanya, "Siapa?" (maksudnya siapa ayahnya dan bagaimana asal usulnya).

Wanita itu menjawab, "Zaenab binti Hadhir dari bani Hanzhalah."

Aku bertanya, "Dia kosong atau berisi?" (maksudnya bersuami atau tidak).

Wanita itu menjawab, "Kosong."

Aku bertanya, "Kamu bersedia menikahkanku dengannya?"

Wanita itu menjawab, "Ya, jika kamu kufu' (sepadan).

Aku meninggalkannya pulang ke rumah untuk beristirahat siang, tetapi aku tidak bisa tidur. Selesai shalat aku mengajak beberapa orang saudaraku dari kalangan orang-orang yang terhormat. Aku shalat ashar bersama mereka. Ternyata pamannya telah menunggu.

Pamannya bertanya, "Wahai Abu Umayyah, apa keperluanmu?"

Aku menjelaskan keinginanku, lalu dia menikahkanku. Orang-orang memberiku ucapan selamat, kemudian acara selesai. Begitu sampai di rumah aku langsung menyesal. Aku berkata dalam hati, "Aku telah menikah dengan keluarga Arab yang paling keras dan kasar." Aku ingat kepada wanita-wanita bani Tamim dan mereka keras hatinya.

Aku berniat menceraikannya, kemudia aku berubah pikiran. Jangan ditalak dulu, jika baik. Jika tidak, barulah ditalak.

Berapa hari setelah itu para wanita Tamim datang mengantarkannya kepadaku. Ketika dia didudukkan di rumah, aku berkata kepadanya, "Istriku, termasuk sunnah jika laki-laki bersatu dengan istrinya untuk shalat dua rakaat dan dia pun demikian."

Aku beridiri shalat, kemudian aku menengok ke belakang, ternyata dia juga shalat. Selesai shalat para pelayannya menyiapkan pakaianku dan memakaikan jubah yang telah dicelup dengan minyak za'faran.

Manakala rumah telah sepi, aku mendekatinya. Aku menjulurkan tangan ke arahnya. Dia berkata, "Tetaplah di tempatmu."

Aku berkata kepada diriku, "Sebuah musibah telah menimpaku." Aku memuji Allah dan membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dia berkata, "Aku adalah wanita Arab. Demi Allah, aku tidak melangkah kecuali untuk perkara yang diridhai Allah. Dan kamu adalah laki-laki asing, aku tidak mengenal akhlak kepribadianmu. Katakan apa yang kamu sukai, sehingga aku bisa melakukannya. Katakan apa yang kamu benci, sehingga aku bisa menjauhinya."

Aku berkata kepadanya, "Aku suka ini dan ini (aku menyebut ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, dan makanan-makanan yang aku sukai) dan juga membenci ini dan ini."

Dia bertanya, "Jelaskan kepadaku tentang kerabatmu. Apakah kamu ingin mereka mengunjungimu?"

Aku menjawab, "Aku seorang hakim. Aku tidak mau mereka membuatku jenuh."

Aku melalui malam yang penuh kenikmatan. Aku tinggal bersamanya selama tiga hari. Kemudian aku pergi ke majlis pengadilan (mulai bekerja kembali). Tidak ada hari yang aku lalui tanpa kebaikan darinya.

Satu tahun kemudian (setelah pernikahan kami), tatkala aku pulang ke rumah, aku melihat seorang wanita tua yang memerintah dan melarang, ternyata itu adalah ibu mertuaku.

Aku berkata kepada ibu mertuaku, "Selamat datang."

Ibu mertua berkata, "Wahai Abu Umayyah, apa kabarmu?"

Aku menjawab, "Baik, alhamdulillah."

Ibu mertua bertanya, "Bagaimana istrimu?"

Aku menjawab, "Wanita terbaik dan teman yang menyenangkan. Ibu telah mendidiknya dengan baik dan mengajarkan budi pekerti dengan baik pula kepadanya."

Ibu mertua berkata, "Seorang wanita tidak terlihat dalam suatu keadaan dimana prilakunya paling buruk kecuali dalam dua keadaan. Jika dia telah memperoleh tempat di sisi suaminya dan jika dia telah melahirkan anak. Jika kamu melihat sesuatu yang membuatmu marah darinya, maka pukullah (dengan pukulan yang membimbing, tidak membekas). Karena laki-laki tidak memperoleh keburukan di rumahnya kecuali dari wanita bodoh dan manja."

Syuraih berkata, "Setahun sekali ibu mertuaku datang, dia pulang setelah bertanya kepadaku, 'Bagaimana menurutmu jika kerabatmu ingin mengunjungimu?' Kujawab, 'Terserah mereka'."

Dua puluh tahun aku bersamanya. Aku tidak pernah mencelanya atau marah kepadanya.

Pelajaran dari kisah:

Seorang laki-laki harus religius dan teguh dalam beragama.
Seorang laki-laki harus cepat-cepat menikah jika hatinya telah mencintai seorang wanita, karena dikhawatirkan ia akan terfitnah.
Memilih wanita sebagai istri dan meneliti keluarganya sebelum menikah.
Bertawakkal kepada Allah, tidak takut menghadapi masa depan dan optimis terhadap suksesnya pernikahan.
Menggunakan sarana dialog dan berlemah lembut terhadap istri, terlebih di awal-awal pernikahan untuk mewujudkan saling mencintai di antara suami istri dan menghilangkan rasa takut seorang gadis.
Hendaknya suami istri memperhatikan penampilannya, agar cinta keduanya tetap langgeng dan keduanya terjaga dari hal-hal yang diharamkan yang menggoda mata dan hati.
Perkara penting: Hendaknya seorang wanita mempunyai akal jernih, karena hal itu membantu pemahaman dan mengimbangi suami dalam segala sesuatu yang sesuai dengan tabiat akhlaknya.
Hendaknya suami istri saling memahami semenjak dimulainya kehidupan suami istri. Karena hal itu bisa mewujudkan ketentraman, ketenangan, terhindar dari problem dan perselisihan. Dan hal itu bisa dicapai bila suami menjelaskan kepada istri tentang:
Sifat-sifat buruk yang tidak ingin dimiliki oleh seorang istri.
Prilaku-prilaku yang tidak disukainya pada diri wanita secara umum, agar sang istri menghindarinya sebisa mungkin.
Siapa saja dari teman-temannya yang boleh berhubungan dengannya, baik dari keluarga, tetangga atau teman-teman. Suami memiliki hak penuh dalam menentukan siapa yang boleh masuk rumahnya dan siapa yang dikunjungi oleh istrinya atau berhubugan dengannya.
Hendaknya istri berusaha memasak makanan kesukaan suami dan menjauhi apa yang tidak disukainya. Memakai warna yang dia sukai dan menjauhi yang dibencinya. Karena istri berbusana untuk suami dan itu termasuk berhiasnya seorang wanita bagi suaminya.
Hendaknya istri memperhatikan ucapan suami dengan sebaik-baiknya. Hal itu akan membantunya untuk memahami dan mengerti maksudnya, sehingga dia bisa menunaikan perintahnya dengan baik.
Kewajiban istri untuk taat kepada suami dalam setiap perintahnya, tanpa membantah, selama suami tidak memerintahkannya kepada apa yang menyelisihi perintah Allah Tabaraka wa Ta'ala dan Rasul-Nya shallallah 'alaihi wa sallam.
Keluarga istri mempunyai kedudukan dan penghormatan dari pihak suami. Hanya saja hal itu bukan alasan yang membolehkan mereka untuk mengunjungi anak mereka tanpa izin dan ridha suaminya. Oleh karena itu, hendaknya istri mengetahui sejauh mana kesediaan suami menerima kunjungan salah seorang keluarganya di rumah suaminya. Perkaranya tidak memerlukan pertanyaan, orang berakal bisa mengerti, walaupun dari ucapan yang tidak berterus terang. Karena sebagian istri marah jika suami menyatakan keberatannya secara terang-terangan atas keluar masuknya salah seorang keluarganya. Suami pulang hendak mencari ketenangan di rumahnya, dia memendam hal ini karena takut istrinya marah. Suami diam, tetapi ia tertekan. Ini jelas-jelas mempengaruhi keharmonisan hubungan suami istri dan menjadi penyebab terjadinya sengketa di antara mereka berdua setelah kunjungan sanak kerabat tersebut.
Ibu yang shalehah dan wanita pendidik yang berhasil, pengaruhnya membekas pada diri putrinya. Seorang ibu berusaha agar rumah tangga putrinya langgeng dan berhasil. Karena hal itu termasuk kewajibannya yang penting setelah anaknya pindah ke rumah suaminya, ibu tidak berpartisipasi dalam rumah tangga putrinya kecuali dalam keadaan darurat dan demi meraih kebaikan hubungan suami –istri. Dalam hal ini, sang ibu harus menghindari perasaan yang tidak sepatutnya dalam setiap perselisihan yang didengannya dari pernikahan anaknya.
Ancaman memukul tidak secara otomatis digunakan dalam memperbaiki hubungan suami istri.
Seorang wanita yang lulus dari rumah yang mendidiknya dengan baik dengan nilai-nilai luhur dan pemahaman-pemahaman bisa membantu membangun kehidupan rumah tangga yang sehat dan tentram.
Jika suami dan istri berprilaku seperti yang dijelaskan, niscaya keduanya akan mengenyam kehiduapan rumah tangga yang bahagia. Istri tidak menemui hal-hal yang mengotori kebahagiannya. Suami berbahagia dengan istrinya yang shalehah dan bisa membahagiakannya.
Hendaknya suami tidak memanjakan istri dan mencari ridhanya secara berlebih-lebihan. Karena jika seorang wanita melihat kedudukannya dan posisinya di sisi suaminya begitu dimanja, niscaya dia akan tinggi hati dan sombong, dan mungkin saja menjadikannya tidak menggubris ucapan suami yang marah kepadanya karena kesalahannya. Hendaknya suami bisa menata perasaannya kepada istri dengan baik.
Suami yang berbahagia di rumah akan berhasil pula dalam pekerjaannya.
Inilah pedoman yang harus dimengerti dan dipahami dengan baik oleh seorang wanita, sebagai pijakan cahaya dalam hidupnya. Mengabdilah dengan baik kepada suamimu, niscaya kamu berbahagia dan mendapatkan suami yang berbahagia dan berhasil dalam pekerjaannya.

Sumber: Ensiklopedi Kisah Generasi Salaf

Artikel: KisahMuslim.Com

____________________________________________

Yang Membuat Pemuda ini Menangis

Apa yang Membuat Pemuda ini Menangis?

Saya melakukan perjalanan pulang setelah melakukan safar yang cukup lama. Setelah mengambil posisi di pesawat, qadarullah, posisiku di dekat sekelompok pemuda yang doyan hura-hura. Ketika tertawa dibuat terbahak-bahak, dan terlalu banyak bersenda gurau. Tempat itupun penuh dengan bau rokok mereka.

Ketika itu, pesawat penuh penumpang, sehingga tidak memungkinkanku untuk berpindah tempat. Ingin sekali aku pergi dari tempat ini, biar aku bisa istirahat. Sesak rasanya duduk bersama mereka. Aku hanya bisa menenangkan pikiranku dengan mengeluarkan mushaf dan membaca Al-Quran dengan suara pelan.

Beberapa saat kemudian, kondisi mulai tenang. Ada diantara pemuda ramai itu mulai membaca koran, ada yang sudah mulai tidur. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan salah satu pemuda yang hura-hura duduk di sampingku: cukup..cukup…! Saya mengira dia merasa terganggu dengan suaraku. Akupun minta maaf, dan melanjutkan baca Al-Quran dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar.

Tiba-tiba orang itu menutupi wajahnya dengan tangannya, kepalanya naik turun, maju mundur, dengan respon kasar dia memarahi saya: ‘Saya sudah minta kamu untuk diam, diam. Saya gak sabar!’ Diapun langsung pergi meninggalkan tempat duduknya, menghilang dari pandanganku. Sampai akhirnya dia kembali. Dia minta maaf, dan menyesali perbuatannya, kemudian tenang di tempat duduknya.

Saya tidak tahu, apa yg sedang terjadi. Tapi setelah tenang sejenak, dia melihat saya dan air matanya mengalir. Di situlah dia mulai bercerita:

Sudah kurang lebih tiga tahun, saya belum pernah meletakkan dahiku untuk sujud, saya tidak menyentuh sedikitpun satu ayat dalam Al-Quran. Sebulan ini saya melakukan traveling. Hampir semua maksiat telah aku cicipi dalam perjalanan ini.

Aku mendengar anda membaca Al-Quran. Terasa hitam dunia di wajahku. Sesak dadaku. Aku merasa sangat hina. Aku merasa semua ayat yang engkau baca menghantam jasadku, layaknya cambuk. Akupun bingung dan bertanya pada diriku: ‘Sampai kapan kelalaian ini akan kualami?’ ‘Kemana lagi aku harus melaju?’ ‘Setelah piknik penuh hura-hura ini apalagi yang harus aku lakukan?’ Lalu tadi aku ke toilet. Tahu kenapa? Saya ingin menangis sejadinya, dan tidak ada tempat yang terlihat manusia, selain toilet.”

Akupun menasehatinya untuk bertaubat, kembali kepada Allah. Setelah itu dia terdiam. Ketika pesawat mendarat. Dia memintaku ngobrol sejenak. Seolah dia ingin menjauh dari kawan-kawannya. Semangat kesungguhan untuk bertaubat sangat kelihatan dari raut wajahnya. Dia bertanya: “Apa mungkin Allah akan menerima taubatku?” Kujawab dengan firman Allah, ‘Apakah anda pernah membaca firman Allah,

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53)

Dia mulai senyum kecil, senyum penuh harapan dan air matanya berlinangan. Dia menyampaikan kepadaku: “Saya janji, saya akan kembali kepada Allah.”

Pelajaran:

"manusia adala makhluk yang lemah". Tak kuasa untuk bersih dari dosa dan maksiat. Ditambah dengan godaan pasukan iblis yang berusaha selalu menyeretnya ke dunia hitam. Tidak ada yang maksum kecuali para Nabi yang Allah lindungi dari dosa besar. Di saat yang sama, Allah membuka pintu taubat yang seluas-luasnya, agar mereka tidak putus asa dari rahmat Sang Pencipta. Tinggal satu yang perlu digugah: Kapan saatnya kita mau bertaubat?

Jika Allah sangat menyayangi kita, mengapa diri kita tidak menyayangi diri kita sendiri.

Dalam perjalanan pulang dari peperangan, kaum muslimin membawa kemenangan besar. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan dan tawanan. Tiba-tiba ada seorang ibu diantara tawanan itu, yang kebingungan mencari anaknya. Sampai akhirnya ketemu dan dia susui. Melihat hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat,

“Mungkinkah wanita ini akan melemparkan anaknya ke api?”

Para sahabat spontan menjawab: “Demi Allah, tidak mungkin.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menimpali:

“Allah lebih menyayangi hamba-Nya, dari pada kasih sayang ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari).

Sumber: Tajarub Da’awiyah Najihah (Diterjemahkan Oleh ustadz Ammi Nur Baits)

Artikel: KisahMuslim.Com

___________________________________________


Kisah Haru: Sms Datang Setelah Enam Tahun Meninggal

Pada tahun ini, telah sampai kepadaku lebih dari 400 SMS berkenaan dengan datangnya bulan Ramadhan. SMS itu dari keluarga, kerabat, dan rekan, baik dari Saudi, negeri-negeri Arab, maupun negeri-negeri Islam lainnya, khususnya dari saudara-saudaraku para da’i di Indonesia. Mudah-mudahan Allah Ta’ala membalas mereka semua dengan kebaikan atas hubungan dan do’a mereka untukku pada bulan yang penuh berkah tersebut.

Hanya saja ada sebuah SMS yang mengejutkan dan menggoncangkan kesedihan, dan perasaanku. SMS itu sempat membuat pikiranku bimbang, yang kemudian membuat kedua mataku menangis. SMS itu berasal dari teman lama. Dia termasuk sebaik-baik teman yang aku bangga mengenalnya. Namun permasalahannya, temanku ini telah wafat enam tahun lalu karena sebuah kecelakaan mobil.
Aku terus menyimpan nomor HP-nya di HP-ku. Setiap kali aku putuskan untuk menghapus nomornya, jiwaku tidak terima. Maka akupun membiarkan nomor tersebut sebagai sebab do’aku untuknya agar diberi rahmat Allah Ta’ala setiap kali aku melihat namanya.

Tiba-tiba, pada suatu malam di bulan Ramadhan tahun ini -enam tahun sesudah wafatnya- sebuah SMS datang dari nomor yang sama miliknya. Begitu melihat nomor tersebut aku langsung terperanjat, campur perasaan aneh dan “takut”… serta perasaan-perasaan yang aku tidak bisa menjelaskannya untuk para pembaca yang budiman, hingga membuatku ragu untuk membukanya. Akan tetapi, karena penasaran maka pada akhirnya aku membuka dan mulai membaca SMS tersebut.

Di dalam SMS tersebut kudapati ucapan:
“Paman Mamduh yang mulia, saya Ahmad, putra saudara paman ‘Athiyah, saya menyimpan HP ayah hingga saya besar. Saya ucapkan selamat dan do’a keberkahan bagi setiap teman-teman ayah. Mudah-mudahan paman senantiasa dalam kebaikan sepanjang tahun. Bulan keberkahan atas kita dan atas paman, mudah-mudahan paman berada dalam kebaikan sepanjang tahun.”

Sungguh, kedua matakupun berlinangan air mata karena bocah kecil ini, ayahnya telah meninggal saat dia berusia 4 tahun, dan sekarang dia telah berusia 10 tahun. Bocah kecil ini telah mengajariku bagaimana seharusnya menyambung hubungan? Bagaimana cara berbuat baik? Dan bagaimana melanggengkan rasa cinta?
Bocah kecil ini membuat aku mengingat teman-teman pamanku yang telah merawatku. Akupun bergegas untuk pergi menjenguk mereka yang tersisa satu persatu, termasuk bocah kecil tersebut.

Temanku tersebut telah menikah dengan seorang wanita shalihah, yang kemudian melahirkan bocah laki-laki tersebut. Kemudian wanita tersebut mendidiknya dengan baik, menyimpan HP suami dan nomor teman-temannya hingga putranya besar, dan berkata kepada puteranya: “Sambunglah teman-teman ayahmu.”
Betapa mulianya istri tersebut, dan betapa baiknya anak tersebut. Aku memohon kepada Allah agar memberinya taufik, menjaga agama dan dunianya, mudah-mudahan Allah Ta’ala mengampuni kita semua dan orang-orang yang telah meninggal mendahului kita.

Dikisahkan bahwa seorang dari bani Salimah datang kepada Nabi lalu berkata: Wahai Rasulullah, apakah masih tersisa perbuatan birrul walidain yang harus saya lakukan setelah kedua orang tuaku meninggal dunia? Nabi bersabda:

“Benar: berdoa kepada keduanya, memohonkan ampun untuk keduanya, menjalankan wasiat-wasiatnya sepeninggalnya, dan memuliakan sahabat keduanya dan menyambung kerabat yang tidak disambung kecuali dengan keduanya.”
(HR. Ibnu Majah).

Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Sumber: Majalah Cetak Qiblati

Artikel: KisahMuslim.Com

___________________________________________

Turunnya Emas dari Langit

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Ketika Nabi Ayyub mandi telanjang, di hadapannya berjatuhan sekelompok belalang dari emas. Nabi Ayyub segera mengumpulkannya dengan bajunya. Allah menegurnya, ‘Wahai Ayyub, bukankah Aku telah mencukupkan dirimu dengan apa yang engkau lihat?’ Ayyub menjawab, ‘Betul ya Allah, tetapi aku tidak bisa berpaling dari barakah-Mu’” (HR. Ahmad, II/312, Ibnu Hibban, 6229, Abdurrazzaq no. 20403 dan At-Tirmidzi no. 3977).

Pelajaran dari hadits di atas:

Bolehnya mandi dengan telanjang bila sendirian atau bersama istrinya.
Bolehnya seseorang berambisi untuk banyak memiliki yang halal kalau ia bisa bersyukur.
Keutamaan orang kaya yang bisa bersyukur.
Bolehnya memiliki emas untuk disimpan atau sebagai perhiasan wanita.
Bolehnya meberikan nama harta yang diperoleh dengan cara seperti ini dengan sebutan barakah.
Bolehnya memiliki sebagian anggota tubuh dari gambar yang memiliki ruh, sekalipun untuk perhiasan. Yang dilarang dalam syariat kita adalah gambar sempurna yang memiliki ruh.
Sumber: Kisah Shahih dari Nabi dan Sahabat, halaman 74, karya Syaikh Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Pustaka Elba.
Artikel: KisahMuslim.com

___________________________________________

Pernikahan Ali dan Fatimah

Ali dan Fatimah Radhiallahu 'Anhuma

Fatimah adalah putri termuda Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam dan bagian dari beliau dari ibu yang mulia wanita shalihah Khadijah binti Khuwailid, bersuamikan Ali bin Abu Thalib yang menikahinya dalam rentang waktu antara perang Badar dan Uhud tepatnya di bulan Ramadhan tahun kedua hijriyah, seorang pahlawan mujahid sepupu Rasulullah, orang pertama yang masuk Islam dari kalangan pemuda, seorang laki-laki yang menyintai Allah dan rasulNya dan dicintai oleh Allah dan rasulNya, Allah memberi kemenangan melaluinya, Amirul Mukminin salah seorang khulafa` rasyidin yang dijamin surga oleh mertuanya. Inilah sebagian dari keutamaan suami pilihan Fatimah putri Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam yang menjadi acuan baginya dalam memilihnya menjadi suaminya.

Ali bin Abu Thalib hidup sejak kecil dalam kafalah Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam, beliau melakukan ini sebagai ungkapan terima kasih kepada bapaknya Abu Thalib yang juga paman beliau atas pengasuhannya terhadap beliau sejak kecil dan pembelaannya terhadap beliau ketika dewasa di samping untuk meringankan Abu Thalib yang berharta minim tetapi berkeluarga besar. Dengan latar belakang demikian maka bisa dikatakan bahwa Ali bukan laki-laki berharta pada saat dia menikah dengan Fatimah, demi membayar maskawin kepada istrinya dia menyerahkan baju perang yang merupakan harta satu-satunya sekaligus senjatanya dalam menerjuni berbagai macam peperangan.

Imam Abu Dawud dan an-Nasa`i meriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata, ketika Ali menikah dengan Fatimah, Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya, "Berikanlah sesuatu kepadanya." Maksud beliau sebagai mahar pernikahan. Ali menjawab, "Aku tidak punya apa-apa." Nabi shallallohu 'alaihi wasallam bertanya, "Lalu di mana baju perang huthamiyah milikmu." Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim. Yang dimaksud baju perang huthamiyah adalah penisbatan kepada Huthamah bin Muharib, salah satu marga dalam Bani Abdul Qais pembuat baju perang. Ada yang berkata, baju perang disebut dengan huthamiyah karena ia tuhatthimu (mematahkan atau menghancurkan) pedang karena kekuatannya.

Selanjutnya bagaimana kehidupan pasangan suami istri ini? Imam al-Bukhari memaparkan dalam shahihnya sepenggal kisah dari kehidupan Ali dengan Fatimah. Silakan pembaca menilai dan menyimpulkan setelah membacanya.

Dari Ali bin Abu Thalib bahwa Fatimah mengadukan beratnya penggilingan kepada Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam yang meninggalkan bekas padanya, pada saat itu Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam sedang mendapatkan tawanan perang, Fatimah pergi kepada Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam tetapi dia tidak bertemu dengan beliau, dia bertemu Aisyah, Fatimah mengatakan hajatnya kepada Aisyah, ketika Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam pulang Aisyah mengabarkan kedatangan Fatimah kepada beliau. Ali berkata, "Nabi shallallohu 'alaihi wasallam datang kepada kami sementara kami sedang bersiap-siap untuk tidur, aku hendak berdiri, tetapi beliau bersabda, "Tetaplah kalian berdua di tempat." Lalu beliau duduk di antara kami, sampai aku merasakan dinginnya kedua kaki beliau di dadaku, beliau bersabda, "Maukah kalian berdua aku ajari apa yang lebih baik dari apa yang kalian berdua minta kepadaku, jika kalian berdua hendak tidur, bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, ia lebih baik bagi kalian berdua daripada pembantu."

Al-Bukhari meriwayatkan no. 3110, dari Miswar bin Makhramah bahwa Ali bin Abu Thalib melamar putri Abu Jahal sementara dia masih beristri Fatimah, Makhramah berkata, maka aku mendengar Rasulullah berkhutbah di atas minbarnya ini tentangg masalah tersebut, saat itu aku sudah dewasa, beliau bersabda, "Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dariku, aku mengkhawatirkannya difitnah pada agamanya." Kemudian Nabi menyebutkan hubungan pernikahan beliau dengan Bani Abdu Syams, beliau menyanjung mereka dalam hubungan pernikahan tersebut. Beliau bersabda, "Dia berbicara kepadaku dan dia berbicara benar kepadaku, dia berjanji padaku dan dia memenuhi janji itu. Sesungguhnya aku tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram, akan tetapi demi Allah anak Rasulullah tidak akan pernah berkumpul dengan anak musuh Allah selamanya."

Penulis menyimpulkan bahwa pilihan Fatimah menikah dengan Ali adalah tepat dengan mengacu kepada tiga perkara:

Pertama, kesetiaan yang diberikan oleh Ali kepada Fatimah, faktanya selama hidup Fatimah, Ali hanya beristrikan dia seorang.

Kedua, fadha`il (keutamaan-keutamaan) yang dimiliki Ali, istri shalihah mana yang tidak berbahagia dan berbangga dengan suami yang mempunyai fadha`il seperti yang dimiliki oleh Ali.

Ketiga, output (hasil) pernikahan dua orang mulia ini, empat anak shalih dan shalihah: Hasan, Husain, Zaenab dan Ummu Kultsum. Dua anak yang pertama adalah dua orang sayid para pemuda penduduk surga, dari keduanya lahir orang-orang mulia, para imam teladan.

Sumber:Alsofwah.or.id

Publish ulang dan edit tata bahasa oleh: KisahMuslim.com

___________________________________________

Anak Kecil Yang Takut Kepada Allah

Suatu hari Abu Yazid al-Busthami menunaikan shalat tahajud. Tiba-tiba anaknya yang masih kecil berdiri shalat di sampingnya. Abu Yazid merasa kasihan melihat anaknya yang masih kecil itu ikut shalat bersamanya, karena umumnya anak-anak kecil seusianya tidur di saat malam yang larut, apalagi malam itu udara terasa begitu dingin, orang-orang dewasa pun akan merasa berat meninggalkan tempat tidur mereka.

Abu Yazid berkata pada anaknya, "Tidurlah wahai anakku, malam masih panjang."

Anaknya menjawab, "Lalu mengapa ayah shalat?"

Abu Yazid mengatakan, "Anakku, aku memang dituntut untuk shalat malam."

Anaknya malah menjawab dengan hafalan ayat Alquran yang ia hafal, "Aku telah menghafal sebagian firman Allah yang berbunyi 'Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri shalat kurang dari dua pertiga malam atau seperdua malam atau sepertiganya dan demikian pula segolongan orang-orang yang bersama kamu (Nabi)'. Lalu siapa orang-orang yang berdiri shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam?

Abu Yazid menjawab, "Tentu saja para sahabat beliau."

Anak Abu Yazid kembali mengatakan, "Jangan menghalangiku untuk meraih kemuliaan menyertaimu dalam ketaatan kepada Allah."

Abu Yazid dengan penuh kekaguman berkata, "Anakku kamu masih bocah dan belum mencapai usia dewasa."

Anaknya menjawab, "Ayah, aku melihat ibu sewaktu menyalakan api dia memulai dengan potongan-potongan kayu kecil untuk menyalakan kayu-kayu yang besar. Maka aku takut Allah memulai dengan kami para anak kecil sebelum orang-orang dewasa pada hari kiamat nanti, jika kita lalai dari ketaatan kepada-Nya."

Abu Yazid pun tersentak dengan ucapa anaknya itu dan kagum dengan rasa takut kepada Allah yang dimiliki anaknya walaupun masih sangat kecil. Abu Yazid berkata, "Anakku berdirilah. Kamu lebih berhak dengan Allah daripada bapakmu."

Maha Suci Allah, yang mengubah keadaan. Hari ini anak-anak kita jauh dari Allah, mereka sibuk dengan hal-hal yang menjauhkan mereka dari Allah dan terbiasa dengan akhlak dan budi pekerti yang rendah. Kalau generasi dahulu sejak kecil mereka telah mengenal ketaatan, mungkin tidak berlebihan apabila kita katakan anak-anak sekarang sejak kecil telah mengenal kemaksiatan kecuali yang diselamatkan oleh Allah. Oleh karena itu, para orang tua hendaknya menjadi teladan bagi anak-anak mereka, mencontohkan perbuatan ketaatan, dan menjauhkan mereka dari acara-acara dan program yang memuat akhlak yang hina, karena anak-anak meniru apa yang mereka saksikan.

Mudah-mudahan Allah memberi taufik kepada kita dan keluarga kita untuk selalu menaatinya.

Sumber: Ensiklopedi Kisah Generasi Salaf

Ditulis oleh Nurfitri Hadi

Artikel: KisahMuslim.Com

___________________________________________

Anak Kecil Yang Takut Kepada Allah

Suatu hari Abu Yazid al-Busthami menunaikan shalat tahajud. Tiba-tiba anaknya yang masih kecil berdiri shalat di sampingnya. Abu Yazid merasa kasihan melihat anaknya yang masih kecil itu ikut shalat bersamanya, karena umumnya anak-anak kecil seusianya tidur di saat malam yang larut, apalagi malam itu udara terasa begitu dingin, orang-orang dewasa pun akan merasa berat meninggalkan tempat tidur mereka.

Abu Yazid berkata pada anaknya, "Tidurlah wahai anakku, malam masih panjang."

Anaknya menjawab, "Lalu mengapa ayah shalat?"

Abu Yazid mengatakan, "Anakku, aku memang dituntut untuk shalat malam."

Anaknya malah menjawab dengan hafalan ayat Alquran yang ia hafal, "Aku telah menghafal sebagian firman Allah yang berbunyi 'Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri shalat kurang dari dua pertiga malam atau seperdua malam atau sepertiganya dan demikian pula segolongan orang-orang yang bersama kamu (Nabi)'. Lalu siapa orang-orang yang berdiri shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam?

Abu Yazid menjawab, "Tentu saja para sahabat beliau."

Anak Abu Yazid kembali mengatakan, "Jangan menghalangiku untuk meraih kemuliaan menyertaimu dalam ketaatan kepada Allah."

Abu Yazid dengan penuh kekaguman berkata, "Anakku kamu masih bocah dan belum mencapai usia dewasa."

Anaknya menjawab, "Ayah, aku melihat ibu sewaktu menyalakan api dia memulai dengan potongan-potongan kayu kecil untuk menyalakan kayu-kayu yang besar. Maka aku takut Allah memulai dengan kami para anak kecil sebelum orang-orang dewasa pada hari kiamat nanti, jika kita lalai dari ketaatan kepada-Nya."

Abu Yazid pun tersentak dengan ucapa anaknya itu dan kagum dengan rasa takut kepada Allah yang dimiliki anaknya walaupun masih sangat kecil. Abu Yazid berkata, "Anakku berdirilah. Kamu lebih berhak dengan Allah daripada bapakmu."

Maha Suci Allah, yang mengubah keadaan. Hari ini anak-anak kita jauh dari Allah, mereka sibuk dengan hal-hal yang menjauhkan mereka dari Allah dan terbiasa dengan akhlak dan budi pekerti yang rendah. Kalau generasi dahulu sejak kecil mereka telah mengenal ketaatan, mungkin tidak berlebihan apabila kita katakan anak-anak sekarang sejak kecil telah mengenal kemaksiatan kecuali yang diselamatkan oleh Allah. Oleh karena itu, para orang tua hendaknya menjadi teladan bagi anak-anak mereka, mencontohkan perbuatan ketaatan, dan menjauhkan mereka dari acara-acara dan program yang memuat akhlak yang hina, karena anak-anak meniru apa yang mereka saksikan.

Mudah-mudahan Allah memberi taufik kepada kita dan keluarga kita untuk selalu menaatinya.

Sumber: Ensiklopedi Kisah Generasi Salaf

Ditulis oleh Nurfitri Hadi

Artikel: KisahMuslim.Com

___________________________________________

Zabidah: Model Istri Khalifah, Teladan Umat

Tolong diam sejenak, lalu simaklah dengan baik! Duhai, apa kiranya suara unik yang bersumber dari istana Amirul Mukminin (khalifah) Harun ar-Rasyid itu. Sungguh, ia adalah suara yang menyerupai dengungan lebah. Mari lebih mendekat lagi ke istana. Ya, inilah suaranya semakin jelas terdengar. Oh! Ternyata mereka adalah para dayang Zabidah, isteri sang khalifah. Mereka rupanya tengah menghafal dan membaca al-Qur`an secara tartil.

Sejak lama, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam terbersit angan-angan nan indah di kepala Zabidah untuk dapat dipersunting oleh sang pemuda gagah itu. Kini, angan-angan yang selama ini hanya mimpi telah menjadi kenyataan.

Putra pamannya, Harun ar-Rasyid itu baru saja kembali bersama ayahnya, khalifah al-Mahdi dari medan perang setelah berhasil menaklukkan pasukan Romawi. Yang pasti, tak berapa lama lagi akan tercetus dua kegembiraan; kegembiraan atas kemenangan melawan musuh, dan kegembiraan karena menikah dengan ar-Rasyid.

Berbagai dekorasi pun telah dihias, sebuah pesta pernikahan (walimah) yang belum pernah disaksikan siapa pun sebelumnya di negeri Arab sebentar lagi akan diadakan. Zabidah berhias dengan aneka perhiasaan, mutiara, kasturi dan 'anber. Aroma-aroma nan semerbak mewangi menyelimuti seantero pelaminan. Sementara khalayak bersuka cita dengan pernikahan yang diberkahi itu.

Akhirnya, Zabidah menikah dengan Harun ar-Rasyid. Rasa saling mencintai meliputi segenap hati keduanya. Ia dengan kecerdasan dan kelincahannya berhasil menambah rasa cinta sang suami terhadapnya. Ia berhasil membuat sang suami tak tahan untuk berpisah lama-lama dengannya dan tidak jenuh-jenuh mendampinginya serta yang lebih penting lagi, tak pernah menolak setiap permintaannya!

Hari-hari pun berlalu. Zabidah telah dikarunia seorang anak dari hasil perkawinannya dengan Harun ar-Rasyid. Bayi mungil itu diberi nama Muhammad al-Amin. Zabidah begitu menyayangi sang buah hatinya. Ia begitu belas kasih dan lembut terhadapnya. Salah satu buktinya, ia sampai-sampai mengutus budak perempuannya kepada al-Kisa`i, pengajar akhlak dan guru anaknya yang biasanya bersikap terlalu keras terhadap buah hatinya itu. Zabidah melalui pesannya mengatakan kepada sang guru, "Hendaknya kamu bersikap lembut terhadap al-Amin sebab ia adalah buah hati dan penyejuk mataku."

Tak berapa lama, Harun ar-Rasyid pun diangkat menjadi khalifah. Berkat kepiawaiannya, negeri yang dipimpinnya menjadi semakin baik, kekuasaannya semakin luas sehingga ia sampai-sampai pernah berkata kepada awan mendung ketika melintas di atas kepalanya, "Pergilah, lalu hujanilah di tanah mana saja yang engkau mau, sebab hasil kebaikannya akan datang kepadaku."

Zabidah, isteri khalifah umat Islam melihat perlunya ia ikut andil dalam menyebarkan kebaikan dan memakmurkan negeri Islam. Ketika berangkat menunaikan ibadah haji ke Baitullah tahun 186 H dan mendapati betapa kesulitan dan kesukaran yang dialami penduduk Mekkah untuk mendapatkan air minum, ia memanggil bendaharanya dan memerintahkannya agar mengumpulkan para insinyur dan pekerja dari seluruh negeri. Ia menuturkan kepadanya, "Tolong dikejarkan, sekalipun satu pukulan kampak dihargai satu dinar!" Lalu digalilah sumur sehingga penduduk Mekkah dan jemaah haji dapat meminum darinya. Setelah itu, sumur itu dikenal dengan sumur Zabidah.

Zabidah tak cukup hanya berbuat seperti itu. Ia malah banyak membangun sejumlah masjid dan bangunan yang berguna bagi umat Islam. Ia membangun banyak sumur dan rumah di sepanjang jalan menuju Baghdad. Hal itu agar dapat membuat para musafir nyaman beristirahat. Zabidah pun ingin mengangkat putranya, al-Amin sebagai khalifah menggantikan ayahandanya kelak. Akan tetapi Harun ar-Rasyid melihat al-Ma`mun, yang merupakan putra dari isterinya yang lain lebih berhak menduduki kekhilafahan karena lebih cerdas dan lebih lembut, sekalipun ia lebih muda usianya daripada al-Amin. Atas kebijakannya tersebut, Zabidah menemui suaminya, ar-Rasyid untuk menegur dan menyalahkannya. Lantas ar-Rasyid berkata kepadanya, "Celakalah kamu! Ini adalah urusan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjaga orang yang meminta pengayomanku di mana ia diikatkan ke leherku. Sedangkan kamu sudah mengetahui hubungan antara anakku (dari isteri yang lain, red) dan anakmu (dari hasil perkawinan dengannya, red), wahai Zabidah. Anakmu tidak berkompeten untuk menjadi khalifah. Ia demikian berharga di kedua matamu sebagaimana berharga bagi kedua orang tuanya. Takutlah engkau kepada Allah! Demi Allah, sesungguhnya anakmu itu amat aku cintai. Akan tetapi ini adalah masalah khilafah, yang tidak layak kecuali bagi orang yang benar-benar kompeten. Kita bertanggung jawab terhadap manusia. Tentu kita sangat tidak berharap bertemu dengan Allah sementara kita memikul dosa-dosa mereka, dan kembali kepada-Nya dengan membawa dosa mereka pula. Beri aku kesempatan untuk mempelajari masalah ini."

Sekalipun demikian, ar-Rasyid akhirnya menyerahkan jabatan putra mahkota (wakil khalifah) kepada putranya, Muhammad al-Amin, kemudian, al-Ma`mun.

Ketika al-Ma`mun memasuki kota Baghdad setelah kematian al-Amin di mana pada waktu itu terjadi perseteruan antara mereka berdua seputar kekhalifahan, Zabidah menemuinya dan berkata kepadanya, "Aku ucapkan selamat atas jabatan khalifah ini di mana hati saya telah lebih dulu memberikan selamat atasnya sebelum aku melihatmu. Sekalipun aku telah kehilangan khalifah untuk selamanya (atas kematian putranya, red.), namun aku telah diberi ganti dengan anak yang bukan aku lahirkan sebagai khalifah. Tidak akan merugi orang yang memiliki orang sepertimu, dan tidak akan berat bagi seorang ibu yang mengulurkan tangannya kepadamu. Aku memohon kepada Allah pahala atas apa yang telah diambil-Nya, dan pelipur lara dengan apa yang digantikannya untukku." Maka berkatalah al-Ma`mun, "Sungguh, kaum wanita tidak akan pernah lagi melahirkan wanita seperti ini. Dengan perkataannya ini, apa lagi yang masih tersisa bagi para ahli balaghah dari kalangan laki-laki?"

Zabidah wafat di Baghdad tahun 216 H setelah kehidupan yang penuh dengan kebaikan dan kebajikan. Semoga Allah merahmatinya, amin. (AH/AS)

Artikel kisahmuslim.com dari alsofwah.or.id

___________________________________________

Keistimewaan Para Nabi Yang Tidak Dimiliki Manusia Biasa

Para nabi dan rasul adalah manusia-manusia terbaik pilihan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mengemban risalahnya. Mereka Allah pilih sebagai penyambung antara Allah dan para hamba-Nya di muka bumi ini. Para nabi dan rasul ini juga memiliki keistimewaan tertentu dan diantaranya tidak dimiliki oleh manusia biasa.

Yang perlu kita ingat adalah, setiap Allah memuliakan para nabi dan rasul, berarti beban syariat mereka lebih banyak atau lebih besar dari manusia biasa. Demikianlah adanya, ketika kemuliaan bertambah maka beban syariat semakin besar. Sebagai contoh, seorang laki-laki secara jenisnya lebih utama disbanding wanita, maka beban syariat untuk laki-laki lebih besar disbanding wanita. Allah berfirman,

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (QS. An Nisa: 34)

Dalam ayat ini laki-laki memiliki beban syariat berupa kewajiban memberi nafkah bagi istrinya, sedangkan perempuan tidak dibebankan demikian. Laki-laki juga diwajibkan shalat 5 waktu secara berjamaah di masjid, sedangkan wanita tidak, berjihad, dll.

Demikian juga para nabi dan rasul, rasul lebih mulia daripada nabi, dan diantara para rasul ada ulul azmi yang lebih mulia dari rasul-rasul lainnya, maka semakin mulia, semakin bertambah beban syariat.

Diantara keistimewaan nabi dan rasul adalah:

Para nabi dan rasul memiliki fisik yang lebih baik dari manusia biasa. Sebagaimana Nabi Musa yang kuat, Nabi Yusuf memiliki setengah ketampanan, dan secara umum tidak ada nabi dan rasul yang cacat.
Allah anugerahkan mereka akhlak yang mulia. Para nabi dan rasul terjaga dari akhlak yang rendah, agar orang-orang tidak mencela mereka ketika mereka berdakwah dan menyeru kepada kebaikan saat diperintahkan berdakwah.
Memiliki nasab atau silsilah keturunan yang baik atau dari anak-anak keluarga yang dipandang di masyarakatnya.
Para nabi dan rasul adalah orang-orang yang cerdas. Sebagaiman kisah Nabi Ibrahim yang berdialog dengan ayahnya dengan cara yang santun, berdialog dengan kaumnya dan Raja Namrud dengan argumentasi yang tidak terbantahkan. Demikian juga nabi dan rasul lainnya.
Kesabaran mereka tidak tertandingi. Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun hanya dengan segelintir pengikut, yang tidak lebih dari 10 orang.
Para nabi menerima wahyu.
Terjaga dari dosa, apalagi sampai berbuat syirik. Oleh karena itu, tidak benar apa yang dikatakan oleh orang-orang filsafat bahwasanya Nabi Ibrahim sempat mengalami fase pencarian Tuhan.
Saat tidur, hati mereka tetap terjaga. Berbeda dengan kita manusia biasa seperti kita, ketika tidur maka hati kita pun tertidur; tidak berdzikir dan mengingat Allah atau aktivitas hati lainnya.
Ketika nyawa mereka hendak dicabut, maka Allah berikan pilihan; agar tetap kekal di dunia atau berjumpa dengan Allah. Sebagaimana Nabi Muhammad yang memilih ila rofiqul ala.
Jasad para Nabi tidak hancur di kubur-kubur mereka.
Ketika wafat, harta mereka tidak diwariskan akan tetapi menjadi sedekah. Oleh karena itu Abu Bakar tidak mengabulkan Fathimah radhiallahu 'anha tentang peninggalan Nabi Muhammad. Hal ini yang sering dijadikan orang Syiah untuk mencela Abu Bakar.
Dimakamkan di tempat mereka wafat. Sebagaiman Nabi Muhammad yang wafat di kamar ummul mukminin Aisyah radhiallahu 'anha, maka beliau di kubur di kamar sang istri tercinta.
Para nabi dan rasul khusus dari kalangan laki-laki, tidak dari wanita.
Para nabi dan rasul adalah orang-orang merdeka, tidak seorang pun di antara mereka adalah budak.
Para nabi didoakan, oleh karena itu sering disertai nama-nama Nabi dengan shallallahu alaihi wa sallam atau alaihissalam karena shalawat adalah diantara kekhususan para nabi.
Doa para nabi, doa yang mustajab.
Para nabi dan rasul memiliki telaga di akhirat kelak untuk umat-umat mereka. Walaupun hadis tentang ini diperselisihkan oleh para ulama, apakah selain Nabi Muhammad juga memiliki telaga. Adapun tentang telaga Nabi Muhammad para ulama sepakat tentang keshahihannya.
Para nabi dan rasul adalah orang yang tinggal di perkotaan, bukan dari kalangan badui atau desa.
Para nabi tidak mengalami mimpi "basah", karena mimpi yang demikian adalah mimpi yang berasal dari setan.
Mimpi para nabi dan rasul adalah sesuatu yang akan menjadi kenyataan. Ketika para nabi dan rasul melihat sesuatu dalam mimpi mereka, maka hal itu akan terjadi. Sebagaimana mimpi Nabi Yusuf di kala kecil, melihat matahari, bulan, dan bintang bersujud kepadanya.
Ditulis oleh Nurfitri Hadi, S.S., M.A.

Artikel: KisahMuslim.Com

___________________________________________








___________________________________________

Manusia Pertama Yang Terbang Melintasi Dua Benua

Salah satu ungkapan yang membuat sebagian umat Islam merasa ciut dengan hegemoni Barat saat ini adalah bahwasanya agama Islam tidak serasi dengan ilmu pengetahuan modern atau syariat Islam itu menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ungkapan-ungkapan seperti ini sering keluar dari para orientalis Barat dan orang-orang yang terpengaruh pemikiran mereka.

Sedikit membawa angin segar bagi saudara-saudara muslim, kami cuplikkan sejarah umat Islam yang menunjukkan bahwa agama yang mulia ini sama sekali tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern. Tentu saja pembahasan kali ini dari sudut pandang sejarah bukan sudut pandang ilmu syariat.

Salah satu contoh sejarah yang menarik untuk diangkat adalah umat Islam pernah berupaya menerbangkan manusia pada tahun 1600-an di Istanbul.

Percobaan Hezarafen Ahmed Celebi

Ide tentang bagaimana agar manusia bisa terbang melayang di udara seperti burung adalah suatu pemikiran yang fenomenal, apabila hal ini bisa diwujudkan maka hal akan menjadi penemuan yang spektakuler dalam sejarah manusia. Selama ribuan tahun, orang-orang mencoba bagaimana agar manusia bisa terbang dan melawan gravitasi bumi. Abbas bin Firnas, seorang ilmuan muslim Spanyol di abad IX, membuat rancangan sederhana, alat terbang tanpa mesin.

Percobaan ini ia lakukan pada tahun 800-an di Cordoba. Peralatan sederhana ini ia desain dengan bentuk dua sayap di sisi kanan dan kiri, dan keduanya dibungkus dengan bulu-bulu burung. Alat ini berhasil membuat manusia terbang melayang di udara, namun untuk mengontrol kecepatannya saat mendarat sangat sulit dilakukan, sehingga bisa menimbulkan bahaya.

Kemudian di tahun 1630, seorang ilmuan muslim lainnya yang bernama Hezarafen Ahmed Çelebi mencoba kembali apa yang pernah dilakukan oleh Abbas bin Firnas. Hezarafen membuat satu set sayap untuk terbang. Untuk menguji coba penemuannya ini, ia berniat melompat dari menara Galata di Istanbul. Ia pun benar-benar merealisasikan niatnya yang dinilai nekat oleh orang-orang saat itu.

Di tengah kerumunan orang, Hezarafen melompat dari menara Galata yang tingginya 66,9 m. Ia berhasil dalam percobaanya ini, sayapnya membawanya terbang sejauh 12 mil, dari menara Galata melintasi selat Bosporus hingga mendarat dengan selamat di lapangan Doğancılar. Dengan demikian Hezarafen menjadi orang pertama yang terbang melintasi dua benua (selat Bosporus memisahkan benua Asia dan Eropa). Ia pun mendapatkan penghargaan dari Sultan Murad IV dengan sejumlah koin emas.

Terbang dengan Roket

Setelah Hezarafen Ahmed Celebi berhasil melakukan eksperimennya, terbang melayang di udara melawan gravitasi, sang adik Laragi Hassan Celebi terinspirasi dengan pencapaian sang kakak. Ia berniat melakukan sesuatu yang lebih hebat dari saudaranya itu. Tiga tahun kemudian, tahun 1633, Laragi bereksperimen terbang dengan menggunakan roket. Berbeda dengan Hezarafen yang mengandalkan tempat yang tinggi untuk terbang, sang adik akan melawan gravitasi dari tempat dimana ia berpijak.

Ia membangun sebuah roket dengan bahan bakar lebih dari 300 pon mesiu. Percobaan tersebut   dilakukan di tepi Selat Bosporus, dekat dengan kediaman sultan, Istana Topkapi. Ada yang mengatakan upaya Laragi ini sebagai ucapan selamat terhadap Sultan Murad yang baru saja mendapatkan seorang putri.

Setelah bubuk mesiu dibakar, Laragi melesat ke udara dengan ketinggian 300 m dari tanah yang ia pijak. Setelah mencapai titik

Laragi meluncur dengan roketnya tahun 1633

tertingginya, bahan bakar yang ia sediakan habis, kemudian ia membuka sayap atau mungkin serupa parasut yang ia desain dan mendarat di Selat Bosporus. Atas pencapaiannya ini, ia dihadiahi satu kantong koin emas oleh sultan.

Dari kisah singkat ini, kita mengetahui bahwasanya Islam bukanlah penghambat pengetahuan dan teknologi. Çelebi bersaudara telah membuktikan walaupun dalam ukuran yang sangat sederhana dibanding dengan temuan di era modern ini. Namun setidaknya mereka telah membuktikan bahwa Islam tidak menghalangi manusia untuk maju, dan mereka juga membuktikan manusia bisa melawan gravitasi, yang perlu dilakukan adalah inovasi-inovasi, dan penyempurnaan dari temuan sebelumnya.

Sumber:

1001 Inventions: The Enduring Legacy of Muslim Civilization oleh Salim al-Hassani
Lost History oleh M. Morgan
Lostislamichistory.com

Ditulis oleh Nurfitri Hadi

Artikel: KisahMuslim.Com

 _________________________________________

Hidayah: Islam Menjawab Kegelisahanku

Aku ingin berbagi mengenai kisah perjalanan keislamanku, mengapa aku memilih Islam sebagai agamaku.

Di dunia ini terdapat banyak agama dan sebelum aku memeluk Islam, aku benar-benar merasakan dilemma antara Kristen dan Islam. Aku memiliki sebuah Bible (seseorang memaksaku untuk membacanya), ketika aku membacanya, masya Allah segalanya berkaitan dan sama dengan buku 25 Rasul yang aku baca ketika berumur 10 tahun. Teman-temanku mengatakan bahwa Kristen adalah agama yang berasal dari Allah, sama halnya dengan Islam, meskipun orang-orang Islam tidak mengikuti ajaran Krsiten karena menurut orang Islam Bible telah mengalami perubahan yang radikal. Betapa banyak orang-orang yang mengajakku menerima keyakinan Kristen, namun entahlah tidak terbesit dalam pikiranku untuk menerima sepatah kata pun dari mereka. Islam telah menyelami hati dan memenuhi pikiranku.

Akhirnya, ketika ada seseorang mendakwahiku melalui Skype, dengan tema Mengapa aku memilih Islam? ternyata jawabannya sangat sederhana.

Sebagai seorang non-muslim, aku tidak mencintai dunia ini. Aku sangat meyakini bahwa ketika aku mati, aku tidak akan membawa sesuatu pun di kuburanku: popularitas, kekayaan, bahkan keluarga, semuanya tidak akan kubawa bersamaku.

Aku terus bertanya pada diriku, bertanya tentang apa tujuan aku diciptakan? Apakah Tuhan hanya menyalurkan kesenagannya dengan menciptakanku? Mengapa terkadang aku merasa bahagia dan memiliki kehidupan yang menyenangkan dan terkadang aku merasa sedih dan merasakan getir dan pahitnya kehidupan? Apa hikmah dari ini semua?

Islam menjawab semua pertanyaanku tersebut dengan jawaban yang benar-benar logis dan bisa diterima.

- Percaya hanya kepada satu pencipta.

- Tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan-Nya.

- Dia-lah penguasa alam gaib.

- Dia mengutus para rasul agar manusia paham apa yang Dia inginkan.

Jika kalian bertanya, apakah aku mecintai Allah sebelum atau di awal-awal aku masuk Islam? Maka jawabku, aku tidak mencintai Allah pada saat itu.

Aku tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah satu-satunya yang menciptakan alam semesta dan tidak ada sekutu bagi-Nya, meski demikian rasa cintaku pada-Nya belum muncul. Cinta memang membuthkan waktu untuk bersemi.

Rasa cinta itu datang setelah suatu keajaiban terjadi dalam hidupku. Setelah beberapa bulan, pengetahuanku tentang Allah kian bertambah, semakin aku mempelajari-Nya, maka semakin aku mencintai-Nya.

Ketika rasa cinta itu telah muncul, secara otomatis aku langsung menaati-Nya tanpa ada rasa terpaksa sedikit pun. Aku merasakan kebahagiaan dan kegembiraan dalam beribadah kepada-Nya sesuai dengan petunjuk Alquran dan sunah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Alquran bahwa orang-orang yang menaati-Nya dan mengikuti sunah nabi-Nya akan merasakan kebahagian di kehidupan akhirat. Insya Allah, itulah tujuan hidupku sekarang, dan aku pun paham tujuan penciptaanku.

Aku diciptakan dengan tujuan belajar lalu menghadapi hisab amalku di hari kiamat. Apabila aku berhasil, maka insya Allah aku masuk ke dalam surga. Namun apabila gagal, maka aku pantas menemani setan di dalam neraka. Inilah alasan mengapa kita harus menaati Allah, agar kita bisa terhindar dari neraka. Alasan Allah menciptakan kita hanya satu, yaitu untuk beribadah kepada-Nya.

Berikut ini aku sampaikan kepada mereka yang masih ragu untuk memeluk Islam dengan berbagai alasan mereka. Islam bukanlah sebuah tradisi budaya tapi Islam adalah jalan hidup dan bagaimana seharusnya kita hidup di dunia berdasarkan tuntunan dan aturan yang menciptakan alam semesta ini.

Contohnya: ibumu akan selalu membimbingmu, selalu mengatakan lakukanlah itu atau jangan lakukan itu karena ibumulah yang melahirkanmu, ia mencintaimu. Sama halnya dengan Allah yang menciptakan alam semesta, memerintahkanmu melakukan sesuatu atau melarangmu untuk melakukan sesuatu di dalam Alquran.

Pertanyaanku: kalian bisa mencintai wanita yang melahirkan kalian, akan tetapi mengapa kalian tidak mampu mencintai Allah yang menciptakan kalian?

Oleh Dr. Raghib as-Sirjani

Artikel: KisahMuslim.Com

_________________________________________

Perjalanan Seorang Atheis Memeluk Islam

– Sederhananya ceritaku dimulai pada tahun pertama aku kuliah. Aku mengalami tahun dimana banyak masalah menerpaku, orang tuaku bercerai tahun itu, anjingku mati, itu merupakan hari menyedihkan, subhanallah. Aku mengalami dua kali kecelakaan mobil dalam angka dua minggu. Dan hal yang menyedihkan juga, temanku meninggal tahun itu.

Kupikir tahun itu membuatku berpikir “Kenapa aku disni? Apa tujuan kehidupan? Kenapa aku harus bangun di pagi hari? Kenapa aku peduli? Kenapa aku tidak duduk di sofa dan menonton TV saja?”

Dan kurasa aku mulai bertanya tentang hidup, dan hal itu menuntunku untuk memulai sedikit petualangan rohani.

Secara naluriah sebagai orang Australia, hal pertama yang kulakukan adalah meneliti Kristen. Aku punya beberapa teman yang memeluk Kristen dan aku ingat berpergian ke acara camping gereja. Itu salah satu camping terlucu yang pernah kuikuti sepanjang hidupku.

Setiap orang bernyanyi, aku tidak tahu kata-katanya, aku tidak tahu apa yang kuucapkan. Mereka punya suara yang indah tapi terasa aneh. Dan setiap orang berkata padaku bahwa betapa Tuhan mencintaiku, dan aku berpikir “Tuhan mencintaiku? Tapi kok anjingku mati.” Subhanallah.

Jadi aku terus meneliti Kristen dan aku meneliti aspek berbeda dari kekristenan, jadi kita beralih membicarakan tentang Katolik, kita membahas tentang Anglican, Baptist, pendeta, pastor, dan setiap kali aku pergi ke sana dan bertanya, aku perhatikan mereka tidak mengambil Bible dan mulai berkata “Inilah jawabannya saudaraku.” Mereka langsung menawabku saja. Mereka langsung menjawab dari pendapat mereka sendiri.

Dan aku mulai menyadari ada banyak tafsir dari kekristenan dan banyak orang mempunyai penjelasan masing-masing. Seorang pendeta dari suatu gereja percaya akan satu aspek kekristenan, sementara yang lain memiliki pendapat yang berbeda. Jadi aku mulai berpikir, Bible merupakan satu buku tapi begitu banyak perbedaan dan itu membingungkan.

Pada waktu itu aku berada di tahun pertama kuliah, aku juga bekerja di sebuah pom bensin, salah satu kerja paruh waktuku. Dan salah satu teman kuliahku seorang Hindu, orang Hindu dari India. Kita sering berganti shift dan pada saat itu aku sangat ingin tahu, lalu aku bertanya padanya, “Kawan, apa yang terjadi dengan manusia kepala gajah? Mengapa bisa begitu? Kenapa Tuhan itu mempunyai kepala gajah?” Dia menjawab, “Itu Ganesha.” Aku katakan, “Mestinya kau bisa ganti dengan kepala singa atau sesuatu yang sedikit lebih baik?” Ya, ini debat agama sambil melayani orang-orang membeli bensin.

Dan sekali lagi, kurasa doktrin ini susah untuk dipahami. Jadi kuputuskan untuk menganalisis lebih dalam.

Temanku adalah seorang Mormon. Agama ini sebenarnya lebih menarik bagiku daripada sekte-sekte Kristen yang lain. Gereja dari Latter Day Saints. Mereka cukup ketat. Mereka tidak minum alkohol dan tidak juga minum kafein. Tapi mereka suka minum cola, karena yang kutahu Leboz (orang Libanon) suka cola. Tetapi sekali lagi ada pengalaman rohani baru yang harus kujalani sebelum menganut agama ini dan aku tidak suka hanya mendapatkan pengalaman rohani, aku ingin bukti.

Aku juga meneliti Yudaismne, apakah kalian percaya? Namaku sebelum Abu Bakar adalah Ruben. Jadi jika kalian mungkin nonton film Hollywood, kalian melihat Rubenstein, dan mereka mungkin berpikir bahwa aku seorang Yahudi dan “Orang ini adalah salah satu dari kita.” Tapi sekali lagi, aku tidak menemukan apa yang sedang kucari di sini.

Terakhir, aku mencoba Budha dan kurasa ini adalah agama yang akan kupilih, kupikir ini hebat. Banyak orang-orang kulit putih menganut agama ini dan ini membuatku tertarik. Mereka juga tampak bersatu dengan alam dan itu menurutku paling menarik. Tapi semakin aku mendalaminya, kusadari itu bukanlah sebuah agama Tuhan, itu hanya sebauh gaya hidup yang baik.

Dan salah satu teman baikku yang menganut Kristen mengatakan, “Katakan padaku agama yang telah kau teliti.” Kukatakan semua, “Yudaisme, Kristen, Taosisme, Budha, Hindu.” Dia berkata, “Bagaimana dengan Islam?” Kujawab, “Islam?! Mereka teroris! Aku tak akan meneliti agama itu. Mereka gila! Kenapa juga aku harus meneliti agama itu?”

Tapi setelah beberapa waktu, aku berjalan ke sebuah masjid. Ini adalah perjalanan abadiku. Jadi aku berjalan lurus, masih pakai sepatu, terus melewati karpet untuk shalat. Ada saudara muslim yang sedang shalat, aku berjalan di depannya seiring dia bersujud, aku hampir menginjak kepalanya. Subhanallah, aku tak tahu apa yang sedang kulakukan.

Kulihat ke belakang dan kulihat orang ini, kalian mungkin mengenalnya, dia adalah Abu Hamza. Dia datang ke sini dan berceramah beberapa kali. Subhanallah, aku memanggilnya Abu Da’n, karena dia mempunyai jenggot yang sangat lebat, masya Allah.

Dia berjalan ke arahku dan aku berpikir “Hari ini aku akan mati. Ini adalah hari terakhir aku hidup. Aku akan mati. Aku seorang pria kulit putih di Leb-Land (Libanon). Apa yang harus kulakukan? Aku akan mati.

Dia terus berjalan bagaikan berjalan di Gurun Sahara, sebuah abaya (gamis) yang besar, enggot yang lebat. Tapi subhanallah, kata-kata pertama yang dia ucapkan adalah “Selamat siang kawan! Apa kabarmu?” Subhanallah, aku sangat terkejut dengan keramahannya.

Sebagai orang Australia -orang Australia jangan tersinggung- tapi didikanku berasal dari didikan negaraku. Orang tuaku membesarkanku sebagai seorang atheis. Mereka dibesarkan sebagai Kristiani. Mereka terpaksa pergi ke gereja tiap Minggu dan mereka sangat membenci hal itu. Jadi ketika aku dan saudara-saudaraku lahir, mereka menanamkan di otak kami bahwa “Ketika kau mati, selesai sudah. Itu saja. Tidak ada akhirat, tidak ada Tuhan, itu semua bohong. Jadi aku dibesarkan sebagai atheis.

Jadi, ketika aku beralan, aku melihat Abu Hamza dan dia berbicara kepadaku dengan sangat sopan, aku sangat bersyukur. Karena perasaanku aku telah melihatnya tadi di berita jam 5, ia sedang membajak sebauh pesawat di hari sebelumnya.

Orang Australia juga ramah, jangan salah paham, tapi Leboz (Orang Libanon) adalah orang yang ramah yang pernah kutemui. Seiring Abu Hamza berbicara, saudara-saudara muslim yang lainnya membuatkanku secangkir teh. Jujur saja, aku harus bolak-balik ke toilet setiap 5 menit. Mereka terus saja menyediakanku teh dan biskuit. Aku tak pernah dijamu seperti ini sebelumnya. Dan kupikir, di sisi lain, aku terus kembali karena biskuitnya, dan juga karena agamanya.

Jadi, ketika duduk bersama dengan saudara-saudara muslim ini, akupun bertanya. Kutanya segala pertanyaan yang pernah kuajukan kepada pendeta, pastor, dan teman-temanku. Subhanallah, hal yang paling menyentuhku adalah, setiap aku bertanya, mereka tidak hanya menjawab, mereka mengambil Alquran dan berkata, “Baca ini bro.” dan di sana ada jawabannya kapanpun aku bertanya.

Dan aku bertanya pertanyaan lainnya, pertanyaan yang sulit, bukan pertanyaan yang mudah, “Kenapa wanita harus mengenakan jilbab? Kenapa dengan jilbab? Bagaimana bisa aku boleh punya 4 istri tapi wanita tidak boleh punya 4 suami? Aku ingin tahu segala pertanyaan sulit yang merupakan pertanyaan yang akan kalian juga ajukan ketika kalian baru tahu tentang Islam.

Setelah sekian lama mereka terus menjawab pertanyaan dengan Alquran, bukan dari pendapat pribadi mereka dan aku jadi frustasi karenanya. Dan sebenarnya aku berkata pada salah satu saudara muslim. Dalam waktu ini, aku telah bolak-balik ke sana sekian minggu, di sana selalu ada beberapa saudara muslim ketika aku pergi. Dan aku bertanya kepada salah satu satu diantara mereka “Apa pendapatmu tentang masalah ini?” Kenapa kau tidak memberikan pendapatmu? Dan salah satu saudara muslim berkata kepadaku “Aku tidak boleh berpendapat dengan pendapatku, karena ini adalah firman Tuhan.”

Subhanallah, aku ingat hal itu sangat menyentuh hatiku. Aku bertanya, “Bolehkah aku membawa satu buah Alquran?” Dan aku tidak mengatakan bahwa aku akan meninggalkannya di sofa atau semisalnya. Aku akan menghormati kitab ini.

Aku membawa Alquran pulang dan mulai membacanya. Apa yang kutemukan saat membaca Alquran tidak seperti aku sedang membaca sebuah cerita. Itu terasa seperti seseorang memberiku perintah atau petunjuk.

Di suatu malam, aku memutuskan untuk mencoba dan membuat suasana rohaniah. Aku menyalakan lilin, membiarkan jendela dan gorden terbuka. Aku mencoba untuk benar-benar merasakan nuansa rohani. hari itu adalah malam musim panas di Melbourne. Dan aku duduk disana berpikir “Ini dia! Inilah malamnya.”

Aku telah menyelidiki semua bukti rohani, semua bukti ilmu pengetahuan tentang fakta bahwa gunung adalah penyangga bumi, tentang bagaimana embrio berkembang dalam janin wanita semuanya adalah bukti yang menakubkan tapi aku masih butuh sedikit motivasi lagi. Ini terasa seperti aku berada di pinggir sebuah tebing, aku siap melompat, aku hanya butuh sebuah dorongan.

Jadi, aku duduk di sana dan terasa sangat sunyi. Aku membaca Alquran dan berhenti. Aku mengatakan, “Allah, inilah saatnya. Inilah waktunya aku memasuki Islam, apa yang aku butuhkan hanyalah sedikit tanda kebesaran-Mu, sedikit saja, tidak usah yang besar, mungkin sebuah kilat, mungkin setengah rumahku ambruk, atau Kau tahu, yang kecil. Kecil untuk-Mu, Kaulah yang menciptakan bumi, ayolah.

Jadi aku duduk disana, aku sedang menunggu kemungkinan api lilinnya melompat 4 meter di udara seperti di film-film. Dan aku berkata, “Oke, ayolah!” Dan subhanallah, tidak teradi apa-apa. Benar-benar tidak terjadi apapun.

Seumurnya aku sangat kecewa. Aku masih duduk disana dan kuulangi perkataanku, “Allah, ini kesempatan-Mu. Aku di sini. Aku tidak pergi kemanapun. Aku akan memberi-Mu kesempatan kedua. Mungkin Kau sedang sibuk. Ini siang hari, mungkin Kau sedang mengatur dunia karena ada banyak hal yang terjadi. Kali ini mungkin hanya penampakan karpet terbang, Kau tahu sesuatu yang kecil., lupakan saja tentang rumah atau lilin tadi, seekor burung bisa kentut di luar, aku tak peduli, apapun itu. Oke, ayolah.

Dan subhanallah, benar-benar tidak ada apa pun yang terjadi, bahkan aku tidak dapat berkata “Oh itu dia, temboknya jadi retak, itu dia!” Benar-benar tidak ada yang terjadi. Aku sangat kecewa dan cemberut.

Aku duduk di sana berpikir, sudahlah, ini kesempatan terakhirku masuk Islam dan benar-benar belum menemukannya. Namun kuambil lagi Alquran dan kubaca lagi. Subhanallah, ayat berikutnya di halaman selanjutnya “Untuk kalian yang meminta petunjuk, tidakkah telah Kami tunjukkan? Lihatlah di sekitarmu., lihatlah bintang-bintang, lihatlah matahari, lihatlah air. Inilah tanda-tanda untuk orang yang mengetahui.” Subhanallah… Aku menutupi kepalaku dan berpura-pura aku sedang tertidur, setakut itulah aku.

Aku tak percaya betapa sombongnya aku menginginkan tanda yang ku-inginkan padahal sudah ada sekian lama tanda-tanda kebesaran Allah di sekelilingku. Fakta adanya dunia, adanya ciptaan, inilah tanda-tanda bagi kita.

Hari berikutnya aku memutuskan inilah saatnya aku menjadi muslim. Seumurnya aku telah meneliti Islam selama kurang lebih 6 bulan. Aku pergi ke Masjid dan berkata pada diriku sendiri “Inilah saatnya aku akan mengucapkan syahadat.” Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tak tahu apa kata-katanya. Hari itu dekat dengan shalat isya, mungkin saja, 7 atau jam 8 malam. Aku masuk ke dalam masjid dan aku tidak percaya ada sekitar 1000 orang di dalam masjid tersebut. Aku berpikir “Subhanallah, lihatlah ini, betapa kuatnya mereka!” Ternyata itu hari pertama Ramadhan.

Jadi aku duduk disana dan aku sangat gugup saat itu. Aku harus berdiri dan seseorang membimbingku “Kau harus mengucapkan kata-kata ini bro ‘asy-hadu‘” Aku katakan “Apa? Ash apa? Bisakah dalam bahasa Inggris saja?” Orang itu mengatakan, “Tidak, kau harus mengatakannya dalam bahasa Arab.”

Aku berpikir, lihatlah semua lautan jenggot ini dan aku harus mengatakannya di depan mereka semua?! Kalau aku mengucapkannya dengan salah, aku bisa mati. Sampai demikian rasa takutku karena image umat Islam. Dan mereka semua menyorotkan pandangan mereka padaku, padahal orang Australia tidak tahan dengan tatapan demikian.

Aku berdiri dan subhanallah, seiring aku mengucapkan kata-kata itu, semua ketakutan menghilang dari pikiranku. Terasa seperti sebuah shower ada dalam kepalaku dan seseorang menyalakan air dinginnya. Terasa seakan-akan aku telah dibasuh bersih. Aku ucapkan syahadat dan aku tak menduga begitu banyak saudara muslim menghampiri dan “Takbir! Allahu Akbar!!” Lalu mereka mulai menciumku dan memelukku. Aku tidak pernah dicium oleh begitu banyak pria dalam hidupku, tapi itu adalah hari yang indah, harus kuakui. Hari itu adalah hari dimana aku mendapat lebih banyak saudara daripada yang kubayangkan.

Keluargaku begitu khawatir bahwa aku akan menjadi sedikit aneh, bahwa aku akan menembakkan AK-47 dan meledakkan granat. Tapi akhirnya mereka menyadari bahwa agama ini membuatku menjadi orang yang lebih baik dan bisa diandalkan.

Artikel: KisahMuslim.Com

_________________________________________

Kisah Imam Masjid dan Supir Bus

Beberapa waktu yang lalu datanglah seorang imam yang baru di masjid London, salah satu kota di Inggris. Imam ini setiap harinya naik bis dari rumahnya menuju ke kota sehingga sering naik bis dengan supir yang sama.

Suatu hari beliau naik bis dan kemudian membayar harga karcisnya dan langsung duduk ! selang beberapa lama pak supir mengembalikan uang kembalianya, begitu beliau melihat uangnya, ternyata pak supir mengembalikan uang sisanya berlebih 20 pinis !

Sang Imam langsung berfikir untuk mengembalikan uang lebihnya karena bukan haknya. Tapi muncul dalam benaknya bisikan: lupakan urusan ini ! sisanya tidak seberapa, tidak ada seorangpun yang memperhatikannya, sebagaimana perusahaan bis mendapatkan pemasukan yang sangat banyak, uang segini tidak ada artinya bagi mereka dan tidak mengurangi sedikitpun pendapatannya!

Biar saya bawa, aku akan diam dan tidak akan aku kembalikan!

Berhentilah bis pada terminal yang dikehendaki sang Imam, sebelum keluar dari bis, Imam tersebut berhenti sejenak dan mengulurkan tangannya kepada sang supir dan berkata : ambillah ! anda memberikan kepada saya uang lebih dari yang semestinya aku terima !

Tersenyumlah sang supir seraya bertanya : bukankah anda Imam yang baru di masjid kota kami ini ? sejak beberapa waktu yang lalu aku berfikir hendak pergi ke masjid anda untuk mengenal agama Islam lebih dekat ! uang lebih tadi aku berikan kepada anda dengan sengaja untuk mengetahui bagaimana sikap anda !
Ketika sang Imam tadi turun dari bis, dia merasakan kedua lututnya menjadi lumpuh, tidak kuat menahan tubuhnya dan badannya hampir terjatuh merasakan beratnya peristiwa tersebut !

Kemudian berpegang dengan salah satu tiang di dekatnya, agar tidak terjatuh sambil memandang ke atas langit dan berdoa disertai tangisan : Ya Allah ! hampir saja aku menjual agama Islam dengan harga 20 pinis !

hikmahnya : janganlah sekali-kali meremehkan amanah sekecil apapun karena sekecil apapun amanah tersebut ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah!

Ditulis oleh Ustadz Abu Saad
Artikel: .KisahMuslim.com

 

_________________________________________

Ja far ash-Shadiq Imam Ahlussunnah

Tokoh dari kalangan ahlul bait Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ini dicatut oleh Syiah sebagai tokoh sekte mereka, sebagai imam keenam dalam keyakinan Syiah Itsna Ayriyah, padahal jauh panggang dari api. Akidahnya sangat berbeda jauh dengan akidah sekte Syiah.

Nasab dan Kepribadiannya

Ia adalah Ja'far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abu Thalib. Lahir di Madinah tahun 80 H dan wafat di kota yang sama pada tahun 148 H, dalam usia 68 tahun.

Ash-Shadiq merupakan gelar yang selalu tersemat kepadanya, karena ia terkenal dengan kejujurannya dalam hadis, ucapan, dan tindakan. Ia tidak dikenal berdusta. Tidak hanya pada Syiah, gelar ini juga masyhur di kalangan umat Islam. Syaikhul Islam sering menyebutnya dengan gelar ini.

Laqob lain yang menempel pada Ja'far adalah al-imam dan al-faqih, karena memang ia adalah seorang ulama dan tokoh panutan dari kalangan ahlul bait. Namun yang membedakan keyakinan umat Islam dengan keyakinan Syiah, bahwa menurut umat Islam Ja'far ash-Shadiq bukanlah imam yang ma'shum, bebas dari kesalahan dan dosa.

Imam Ja'far ash-Shadiq dikarunia beberapa orang anak, mereka adalah Isma'il (dijadikan imam oleh Syiah Ismailiyah), Ismail adalah putra tertuanya, wafat pada tahun 138 H, saat ayahnya masih hidup. Kemudia Abdullah, dari Abdullah inilah terambil kun-yah Ja'far, Abu Abdullah. Kemudian Musa, ia dijadikan oleh Syiah Itsna Asyriyah sebagai imam yang ketujuh setelah Ja'far. Kemudian Ishaq, Muhammad, Ali, dan Fatimah.

Ja'far dikenal sebagai seorang yang dermawan dan sangat murah hati. Sifat ini seakan warisan dan tradisi dari keluarga yang mulia ini. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang paling murah hati di antara keluarga ini.

Dalam hal kedermawanan, ia juga mewarisi sifat kakeknya Ali Zainal Abidin yang terkenal dengan bersedekah secara sembunyi-sembunyi. Kisah yang masyhur tentang Ali Zainal Abidin bahwa pada malam hari yang gelap, ia memanggul sekarung gandum, daging, dan membawa uang dirham di atas pundaknya, lalu ia bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan dari kalangan orang-orang fakir dan miskin di Kota Madinah. Keadaan demikian tidak diketahui oleh orang-orang yang mendapat pemberiannya sampai ia wafat dan penduduk Madinah merasa kehilangan dengan sosok misterius yang senantiasa membagi-bagikan uang dan makanan di malam hari.

Perjalanan Keilmuannya

Ja'far ash-Shadiq menempuh perjalanan ilmiahnya bersama dengan ulama-ulama besar. Ia sempat menjumpai sahabat-sahabat Nabi yang berumur panjang, seperti: Sahl bin Sa'id as-Sa'idi dan Anas bin Malik radhiallahu 'anhuma. Dia juga berguru kepada tokoh-tokoh utama tabi'in seperti Atha bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab az-Zuhri, Urwah bin Zubair, Muhammad bin al-Munkadir, Abdullah bin Rafi', dan Ikrimah maula Ibnu Abbas. Dia juga meriwayatkan dari kakeknya al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr.

Mayoritas ulama yang ia ambil hadisnya berasal dari Kota Madinah. Mereka adalah ulama-ulama tersohor, tsiqah, memiliki ketinggian dalam amanah dan kejujuran.

Adapun murid-muridnya yang paling terkenal adalah Yahya bin Sa'id al-Anshari, Aban bin Taghlib, Ayyub as-Sikhtiyani, Ibnu Juraij, dan Abu Amr bin al-'Ala. Demikian juga imam darul hijrah, Malik bin Anas al-Ashbahi, Sufyan ats-Tsauri, Syu'bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah, Muhammad bin Tsabit al-Bunani, Abu Hanifah, dan masih banyak lagi.

Para imam hadis - kecuali Imam Bukhari- meriwayatkan hadis melalui jalurnya di kitab-kitab mereka. Sementara Imam Bukhari meriwayatkan hadis melalui jalurnya pada kita selain ash-Shahih.

Berkat keilmuan dan kefaqihannya, sanjungan para ulama pun mengarah kepadanya:

Abu Hanifah mengatakan, "Tidak ada orang yang lebih faqih daripada Ja'far bin Muhammad."

Abu Hatim ar-Razi dalam al-Jarh wa at-Ta'dil, 2: 487 berkata, "(Dia) tsiqah, tidak perlu dipertanyakan kualitas orang sekaliber dia."

Ibnu Hibban berkomentar, "Dia termasuk tokoh dari kalangan ahlul bait, ahli ibadah dari kalangan atba' at-tabi'in, dan ulama Madinah."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memujinya dengan ungkapan, "Sesungguhnya Ja'far bin Muhammad termasuk imam, berdasarkan kesepakatan Ahlussunnah" (Minhaju as-Sunnah, 2:245).

Demikian sebagian kutipan dari para ulama yang meuji kedudukan Ja'far bin Muhammad ash-Shadiq.

Ja'far ash-Shadiq Tidak Mencela Abu Bakar dan Umar

Orang-orang Syiah bersikap berlebihan terhadap Ja'far ash-Shadiq. Mereka mendaulatnya sebagai imam keenam. Pengakuan mereka ini hanyalah klaim sepihak saja. Buktinya, apa yang Ja'far ash-Shadiq yakini dan ia katakan sangat jauh berbeda dengan keyakinan-keyakinan Syiah.

Misalnya sikap Ja'far ash-Shadiq terhadap Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar al-Faruq. Besarnya kecintaan Ja'far kepada kedua tokoh Islam ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Abdul Jabbar bin al-Abbas al-Hamdani berkatam "Sesungguhnya Ja'far bin Muhammad menghampiriku saat hendak meninggalkan Madinah. Ia berkata, 'Sesungguhnya kalian, insya Allah termasuk orang-orang shaleh di Madinah. Maka tolong sampaikan (kepada orang-orang), barangsiapa yang menganggapku sebagai imam ma'shum yang wajib ditaati, maka aku berlepas diri darinya. Barangsiapa yang menduga aku berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar, maka aku pun berlepas diri darinya',"

Ad-Daruquthni meriwayatkan dari Hanan bin Sudair, ia berkata, "Aku mendengar Ja'far bin Muhammad saat ditanya tentang Abu Bakar dan Umar, ia berkata, 'Engkau bertanya tentang orang yang telah menikmati buah-buahan surga?'"

Pernyataan Ja'far ini sangat jelas bertolak belakang dengan keyakinan orang-orang Syiah yang mencela dan memaki Abu Bakar dan Umar serta mayoritas sahabat lainnya dan menjadikan hal itu sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ja'far ash-Shadiq tidak mungkin mencela mereka. Ibunya, Ummu Farwa adalah putri al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq. Sementara neneknya dari jalur ibunya adalah Asma' binti Abdurrahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq. Apabila anak-anak Abu Bakar ini adalah paman-pamannya dan Abu Bakar sendiri adalah kakeknya dari dua sisi, maka sulit dibayangkan seorang Ja'far ash-Shadiq yang berilmu dan shaleh ini melontarkan cacian dan makian kepada kakeknya, Abu Bajar ash-Shiddiq.

Klaim Bohong Syiah

Pada masa Ja'far, bid'ah al-Ja'd bin Dirham dan pengaruh Jahm bin Shafwan telah menyebar. Sebagian kaum muslimin terpengaruh dengan akidah Alquran sebagai makhluk, akan tetapi Ja'far bin Muhammad mengatakan, "Bukan Khaliq (pencipta), bukan juga makhluk, tetapi kalamullah." Akidah dan pemahaman seperti ini bertentangan dengan golongan Syiah yang mengamini Mu'tazilah, dengan pemahaman akidahnya, Alquran adalah makhluk.

Artinya prinsip akidah yang dipegangi oleh Ja'far ash-Shadiq merupakan prinsip-prinsip yang diyakini para imam Ahlussunnah wal Jamaah, dalam penetapan sifat-sifat Allah. Yaitu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta menafikan sifat-sifat yang dinafikan Allah dan Rasul-Nya.

Ibnu Taimiyah berkata, "Syiah Imamiyah (Itsna Asyriyah), mereka berselisih dengan ahlul bait dalam kebanyakan pemahaman akidah mereka. Dari kalangan imam ahlul bait seperti Ali bin Husein, Muhammad bin Ali, Ja'far bin Muhammad ash-Shadiq, dll. tidak ada yang mengingkari keyakinan melihat Allah di hari kiamat, tidak ada yang meyakini Alquran adalah makhluk, atau mengingkari takdir, atau menyatakan Ali merupakan khalifah resmi (sepeninggal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam), tidak ada yang mengakui imam yang dua belas adalah ma'shum atau mencela Abu Bakar dan Umar."

Orang-orang Syiah juga berdusta dengan meyakini bahwa Ja'far ash-Shadiq adalah imam yang kekal abadi, tidak akan pernah mengalami kematian. Hingga saat ini, menurut mereka Ja'far ash-Shadiq telah menulis banyak karya untuk mendakwahkan ajaran Syiah. Di antara buku yang diklaim Syiah sebagai karya Imam Ja'far adalah Rasailu Ikhwani ash-Shafa, al-Jafr (buku yang memberitakan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi), 'Ilmu al-Bithaqah, Ikhtilaju al-A'dha, Qiraatu al-Quran fi al-Manam, dll.

Sebuah prinsip yang harus kita pegang adalah kita tidak menerima suatu perkataan pun dari Ja'far ash-Shadiq dan imam-imam yang lain, kecuali dengan sanad yang bersambung, diriwayatkan dari orang-orang yang terpercaya, dan didukung dalil, maka baru perkataan tersebut bisa kita terima. Dan yang perlu diketahui, pada masa hidup Ja'far ash-Shadiq adalah masa-masa yang kering dari karya tulis (80-148 H).

Ibnu Taimiyah mengatakan, "Syariat mereka (Syiah) tumpuannya berasal dari riwayat sebagian ahlul bait seperti Abu Ja'far al-Baqir, Ja'far bin Muhammad ash-Shadiq, dan lainnya. Tidak diragukan lagi, mereka (yang dijadikan Syiah sebagai tumpuan riwayat) adalah orang-orang pilihan milik kaum muslimin dan imam-imam umat ini. Ucapan-ucapan mereka mempunyai kemuliaan dan nilai yang pantas didapatkan oleh orang-orang seperti mereka. Namun sayang, banyak nukilan dusta banyak disematkan kepada mereka. Kaum Syiah tidak memiliki kapasitas dalam hal periwayatan. Mereka layaknya ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani), semua riwayat-riwayat yang mereka jumpai dalam buku-buku mereka, langsung mereka terima (tanpa selesksi). Berbeda dengan Ahlussunnah, mereka mempunyai kapasitas yang mumpuni dalam ilmu periwayatan, sebagai piranti untuk membedakan mana kabar yang benar dan kabar yang dusta." (Minhaj as-Sunnah, 5: 162).

Diadaptasi dari muqoddimah tahqiq kitab al-Munazharah (Munazharah Ja'far bin Muhammad ash-Shadiq ma'a ar-Rafidhi fi at-Tafdhili Baina Abi Bakr wa 'Ali) karya Imam al-Hujjah Ja'far bin Muhammad ash-Shadiq, tahqiq Ali bin Abdul Aziz al-Ali Alu Syibl.

Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 05/X/1427H/2006M

Artikel: KisahMuslim.Com

_________________________________________

Shalahuddin al-Ayyubi

Kali ini kita akan bercerita tentang seorang laki-laki mulia dan memiliki peranan yang besar dalam sejarah Islam, seorang panglima Islam, serta kebanggaan suku Kurdi, ia adalah Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub bin Syadi atau yang lebih dikenal dengan Shalahuddin al-Ayyubi atau juga Saladin. Ia adalah seorang laki-laki yang mungkin sebanding dengan seribu laki-laki lainnya.

Asal dan Masa Pertumbuhannya

Shalahuddin al-Ayyubi adalah laki-laki dari kalangan 'ajam (non-Arab), tidak seperti yang disangkakan oleh sebagian orang bahwa Shalahuddin adalah orang Arab, ia berasal dari suku Kurdi. Ia lahir pada tahun 1138 M di Kota Tikrit, Irak, kota yang terletak antara Baghdad dan Mosul. Ia melengkapi orang-orang besar dalam sejarah Islam yang bukan berasal dari bangsa Arab, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dan lain-lain.

Karena suatu alasan, kelahiran Shalahuddin memaksa ayahnya untuk meninggalkan Tikrit sehingga sang ayah merasa kelahiran anaknya ini menyusahkan dan merugikannya. Namun kala itu ada orang yang menasihatinya, "Engkau tidak pernah tahu, bisa jadi anakmu ini akan menjadi seorang raja yang reputasinya sangat cemerlang."

Dari Tikrit, keluarga Kurdi ini berpindah menuju Mosul. Sang ayah, Najmuddin Ayyub tinggal bersama seorang pemimpin besar lainnya yakni Imaduddin az-Zanki. Imaduddin az-Zanki memuliakan keluarga ini, dan Shalahuddin pun tumbuh di lingkungan yang penuh keberkahan dan kerabat yang terhormat. Di lingkungan barunya dia belajar menunggang kuda, menggunakan senjata, dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat mencintai jihad. Di tempat ini juga Shalahuddin kecil mulai mempelajari Alquran, menghafal hadis-hadis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, mempelajari bahasa dan sastra Arab, dan ilmu-ilmu lainnya.

Diangkat Menjadi Menteri di Mesir

Sebelum kedatangan Shalahuddin al-Ayyubi, Mesir merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Syiah, Daulah Fathimiyah. Kemudian pada masa berikutnya Dinasti Fathimiyah yang berjalan stabil mulai digoncang pergolakan di dalam negerinya. Orang-orang Turki, Sudan, dan Maroko menginginkan adanya revolusi. Saat itu Nuruddin Mahmud, paman Shalahuddin, melihat sebuah peluang untuk menaklukkan kerajaan Syiah ini, ia berpandangan penaklukkan Daulah Fathimiyyah adalah jalan lapang untuk membebaskan Jerusalem dari kekuasaan Pasukan Salib.

Nuruddin benar-benar merealisasikan cita-citanya, ia mengirim pasukan dari Damaskus yang dipimpin oleh Asaduddin Syirkuh untuk membantu keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi, di Mesir. Mengetahui kedatangan pasukan besar ini, sebagian Pasukan Salib yang berada di Mesir pun lari kocar-kacir sehingga yang dihadapi oleh Asaduddin dan Shalahuddin hanyalah orang-orang Fathimyah saja. Daulah Fathimiyah berhasil dihancurkan dan Shalahuddin diangkat menjadi mentri di wilayah Mesir. Namun tidak lama menjabat sebagai menteri di Mesir, dua bulan kemudian Shalahuddin diangkat sebagai wakil dari Khalifah Dinasti Ayyubiyah.

Selama dua bulan memerintah Mesir, Shalahuddin membuat kebijakan-kebijakan progresif yang visioner. Ia membangun dua sekolah besar berdasarkan madzhab Ahlussunnah wal Jamaah. Hal ini ia tujukan untuk memberantas pemikiran Syiah yang bercokol sekian lama di tanah Mesir. Hasilnya bisa kita rasakan hingga saat ini, Mesir menjadi salah satu negeri pilar dakwah Ahlussunnah wal Jamaah atau Sunni. Kebijakan lainnya yang ia lakukan adalah mengganti penyebutan nama-nama khalifah Fathimiyah dengan nama-nama khalifah Abbasiyah dalam khutbah Jumat.

Menaklukkan Jerusalem

Persiapan Shalahuddin untuk menggempur Pasukan Salib di Jerusalem benar-benar matang. Ia menggabungkan persiapan keimanan (non-materi) dan persiapan materi yang luar biasa. Persiapan keimanan ia bangun dengan membersihkan akidah Syiah bathiniyah dari dada-dada kaum muslimin dengan membangun madrasah dan menyemarakkakn dakwah, persatuan dan kesatuan umat ditanamkan dan dibangkitkan kesadaran mereka menghadapi Pasukan Salib. Dengan kampanyenya ini ia berhasil menyatukan penduduk Syam, Irak, Yaman, Hijaz, dan Maroko di bawah satu komando. Dari persiapan non-materi ini terbentuklah sebuah pasukan dengan cita-cita yang sama dan memiliki landasan keimanan yang kokoh.

crusade 300x445 Shalahuddin al AyyubiDari segi fisik Shalahuddin mengadakan pembangunan makas militer, benteng-benteng perbatasan, menambah jumlah pasukan, memperbaiki kapal-kapal perang, membangun rumah sakit, dll.

Pada tahun 580 H, Shalahuddin menderita penyakit yang cukup berat, namun dari situ tekadnya untuk membebaskan Jerusalem semakin membara. Ia bertekad apabila sembuh dari sakitnya, ia akan menaklukkan Pasukan Salib di Jerusalem, membersihkan tanah para nabi tersebut dari kesyirikan trinitas.

Dengan karunia Allah, Shalahuddin pun sembuh dari sakitnya. Ia mulai mewujudkan janjinya untuk membebaskan Jerusalem. Pembebasan Jerusalem bukanlah hal yang mudah, Shalahuddin dan pasukannya harus menghadapi Pasukan Salib di Hathin terlebih dahulu, perang ini dinamakan Perang Hathin, perang besar sebagai pembuka untuk menaklukkan Jerusalem. Dalam perang tersebut kaum muslimin berkekuatan 63.000 pasukan yang terdiri dari para ulama dan orang-orang shaleh, mereka berhasil membunuh 30000 Pasukan Salib dan menawan 30000 lainnya.

Setelah menguras energy di Hathin, akhirnya kaum muslimin tiba di al-Quds, Jerusalem, dengan jumlah pasukan yang besar tentara-tentara Allah ini mengepung kota suci itu. Perang pun berkecamuk, Pasukan Salib sekuat tenaga mempertahankan diri, beberapa pemimpin muslim pun menemui syahid mereka –insya Allah- dalam peperangan ini. Melihat keadaan ini, kaum muslimin semakin bertambah semangat untuk segera menaklukkan Pasukan Salib.

Untuk memancing emosi kaum muslimin, Pasukan Salib memancangkan salib besar di atas Kubatu Shakhrakh. Shalahuddin dan beberapa pasukannya segera bergerak cepat ke sisi terdekat dengan Kubbatu Shakhrakh untuk menghentikan kelancangan Pasukan Salib. Kemudian kaum muslimin berhasil menjatuhkan dan membakar salib tersebut. Setelah itu, jundullah menghancurkan menara-menara dan benteng-benteng al-Quds.

Pasukan Salib mulai terpojok, merek tercerai-berai, dan mengajak berunding untuk menyerah. Namun Shalahuddin menjawab, "Aku tidak akan menyisakan seorang pun dari kaum Nasrani, sebagaimana mereka dahulu tidak menyisakan seorang pun dari umat Islam (ketika menaklukkan Jerusalem)". Namun pimpinan Pasukan Salib, Balian bin Bazran, mengancam "Jika kaum muslimin tidak mau menjamin keamanan kami, maka kami akan bunuh semua tahanan dari kalangan umat Islam yang jumlahnya hampir mencapai 4000 orang, kami juga akan membunuh anak-anak dan istri-istri kami, menghancurkan bangunan-bangunan, membakar harta benda, menghancurkan Kubatu Shakhrakh, membakar apapun yang bisa kami bakar, dan setelah itu kami akan hadapi kalian sampai darah penghabisan! Satu orang dari kami akan membunuh satu orang dari kalian! Kebaikan apalagi yang bisa engkau harapkan!" Inilah ancaman yang diberikan Pasukan Salib kepada Shalahuddin dan pasukannya.

Shalahuddin pun mendengarkan dan menuruti kehendak Pasukan Salib dengan syarat setiap laki-laki dari mereka membayar 10 dinar, untuk perempuan 5 dinar, dan anak-anak 2 dinar. Pasukan Salib pergi meninggalkan Jerusalem dengan tertunduk dan hina. Kaum muslimin berhasil membebaskan kota suci ini untuk kedua kalinya.

Shalahuddin memasuki Jerusalem pada hari Jumat 27 Rajab 583 H / 2 Oktober 1187, kota tersebut kembali ke pangkuan umat Islam setelah selama 88 tahun dikuasai oleh orang-orang Nasrani. Kemudian ia mengeluarkan salib-salib yang terdapat di Masjid al-Aqsha, membersihkannya dari segala najis dan kotoran, dan mengembalikan kehormatan masjid tersebut.

Wafatnya Sang Pahlawan

Sebagaimana manusia sebelumnya, baik dari kalangan nabi, rasul, ulama, panglima perang dan yang lainnya, Shalahuddin pun wafat meninggalkan dunia yang fana ini. Ia wafat pada usia 55 tahun, pada 16 Shafar 589 H bertepatan dengan 21 Febuari 1193 di Kota Damaskus. Ia meninggal karena mengalami sakit demam selama 12 hari. Orang-orang ramai menyalati jenazahnya, anak-anaknya Ali, Utsman, dan Ghazi turut hadir menghantarkan sang ayah ke peristirahatannya. Semoga Allah meridhai, merahmati, dan membalas jasa-jasa engkau wahai pahlawan Islam, sang pembebas Jerusalem.

Sumber:

Shalahuddin al-Ayyubi Bathalu al-Hathin oleh Abdullah Nashir Unwan
Shalahuddin al-Ayyubi oleh Basim al-Usaili
Shalahuddin al-Ayyubi oleh Abu al-Hasan an-Nadawi
Islamstroy.com

Ditulis oleh Nurfitri Hadi
Artikel: KisahMuslim.com

_________________________________________

Istri Shalihah

Anas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, "Putra Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu sedang sakit, lalu Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu keluar rumah. Tak lama kemudian, sang anak meninggal dunia. Tatkala Abu Thalhah pulang, ia bertanya, "Apa yang dilakukan anakku?" Istrinya yang bernama Ummu Sulaim, menjawab, "Ia sudah sangat tenang (Ummu Sulaim bermaksud bahwa anaknya telah meninggal. Sedangkan Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu memahami bahwa ucapan Ummu Sulaim tersebut menggambarkan bahwa anaknya telah sembuh)."

Lalu Ummu Sulaim menyediakan makan malam untuk Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu, kemudian ia pun makan malam. Selanjutnya Ummu Sulaim merias diri dengan dandanan yang paling baik untuk melayani suaminya. Setelah perasaan Abu Thalhah tenang dan enak untuk diajak berbicara, Ummu Sulaim mengatakan, "Wahai Abu Thalhah! Bagaimana pendapatmu jika seseorang meminjam suatu pinjaman keapda keluarganya, lalu keluarganya meminta kembali pinjaman tersebut, apakah kaum tersebut berhak menolaknya?" Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu menjawab, "Tentu tidak." Ummu Sulaim melanjutkan, "Ikhlaskan putramu. (maksudnya, putramu telah meninggal dunia. Oleh karena itu, mohonlah pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala)." Abu Thalhah pun marah. Ia berkata, "Kamu tidak memberitahukan kepadaku dari tadi (maksudnya, telah melakukan jinabat lantaran telah bersenggama) baru kamu memberitahuku perihal anak kita?"

Kemudian Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu mengadu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu ia menceritakan apa yang telah ia lakukan. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam justru mengakui apa yang dilakukan oleh Ummu Sulaim, kemudian beliau bersabda, "Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberkahi malam kalian berdua." Di dalam riwayat lain disebutkan, "Ya Allah, berkahilah keduanya." Selanjutnya Ummu Sulaim melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Abdullah oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian seseorang dari kalangan Anshar berkata, "Saya melihat sembilan anak, kesemuanya hafal Alquran." Maksudnya, anak-anak dari Abdullah. Hal ini tidak terjadi kecualii lantaran dikabulkan doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika memanjatkan doa, "Ya Allah, berkahilah keduanya." (Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani).

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Artikel: KisahMuslim.com

_________________________________________

Kisah Nyata: Menabrak Polisi, Dapat Jodoh

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim... Aku tak tahu, apakah ini kesialanku atau keberuntunganku. Satu yang kutahu, inilah jalan yang diberikan Allah untuk bertemu jodohku. Meski awalnya, aku merasa sial karena kecelakaan itu dan aku harus mengganti rugi tidak sedikit. Toh akhirnya justru kesialanku itu membawaku ketemu jodoh.

Ceritanya begini, secara tak sengaja aku menabrak seorang polisi sepulang kuliah. Tak kusangka "motor butut"-ku bisa merusak total motornya yang bernilai puluhan juta. Perasaan, mataku sudah fokus ke jalan, tak jelalatan kemana-mana. Doa juga sudah kubaca saat aku menyalakan mesin motor di parkiran I kampus.

Memang sudah apes dan inilah yang dinamakan takdir. Nggak diminta dan meski sudah hati-hati eh... nabrak juga, ...polisi lagi.
Aku dan motorku sempat juga jungkir balik, Alhamdulillah lukaku tak seberapa parah, meski jidatku sempat berdarah-darah dan tanganku terkilir, serta luka lecet hamper diseluruh tubuh. Meski tak sampai membuatku pingsan, aku harus merasakan mondok tiga hari di rumah sakit.

Sementara polisi yang kutabrak tak separah aku. Tapi justru motornya yang parah, sempat aku ciut nyali saat temen-temen polisi dan orang-orang mengerumuniku. Di TKP teman-teman polisi itu justru yang marah-marah dan bersikap agak keras padaku, tapi mas polisi itu justru minta teman-temannya bersikap baik dan sabar padaku.

"Sudah, nggak papa namanya juga nggak sengaja, memang ada orang mau nabrak atau ditabrak? Jangan kasarlah aku baik saja kok. Kayaknya motor yang kena, nanti kan bisa diselesaikan baik-baik".

Aku dibuat kagum bahkan polisi yang kutabrak itu berbaik hati mengantarku ke rumah sakit dan mengabari keluarga dirumah. Selama tiga hari itu dia juga menyempatkan diri menjengukku di rumah sakit. Kami jadi akrab karenanya.

Nah, setelah keluar dari rumah sakit aku mulai disibukkan urusan ganti rugi onderdil motor senilai puluhan juta itu. Ganti rantai saja nilainya jutaan rupiah, itu pun belum spare part lain.

Makanya hampir seluruh tabungan hasil kerja sampinganku ludes semua. Tapi aku memang harus bertanggungjawab bukan? Aku tak mau menyusahkan orangtua soal ganti rugi, hingga aku bilang ke mas polisi cuma bisa mencicil sedikit demi sedikit.

Seperti biasa, kali ini aku ke rumah mas polisi untuk mencicil ganti rugi. Ini keempat kalinya aku kesana. Sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih dia menerima "setoranku". Dan seperti biasa pula kami ngobrol sejenak. Tak kusangka dia tiba-tiba bertanya, "sudah ada gambaran nikah belum?" tanyanya padaku sambil mesem-mesem.

"Ya kadang pingin juga mas, kerja kecil-kecilan insya Allah sudah ada, pinginnya nggak nunda-nunda, tapi jodohnya belum ada". Jawabku sambil cengar-cengir.

"Mau sama adikku? Serius nih, orangnya pake jilbab gedhe kamu carinya kan yang kayak gitu". Mas polisi bilang gitu mungkin karena celanaku yang "kayak orang kebanjiran" seperti temen-temen kampus yang suka meledekku.

"Bener kok, serius!" Ujarnya menegaskan.

Sore itu aku pulang dan berjanji memikirkan tawarannya. Setelah berkonsultasi dengan orang tua dua pekan kemudian kuberikan jawaban "Ya". Tentu saja, akhwat dan keluarganya sudah tahu keadaanku yang perbedaannya ibarat langit dan bumi dengan mereka yang dari keluarga berada. Meski awalnya minder, sikap bapak akhwat yang begitu baik membuatku percaya diri, pesannya padaku singkat.

"Laki-laki yang bisa menjadi imam dan tanggungjawab, satu lagi jaga anak perempuan saya, dia sepenuhnya saya titipkan ke kamu".

Meski diberi tanggungjawab yang tak ringan, hatiku serasa diguyur es, sejuk…. Rasanya. Aku segera pulang ke awang-awang sepulang nazhar. Mas Har, si mas polisi yang kutabrak itu mencegatku, ia menyerahkan amplop tebal padaku.

"Ini uang yang kamu titipkan padaku, ini hadiahku tapi bener ya cepet jemput bidadarimu! Ia memukul pundakku ringan dan pergi tanpa memberiku kesempatan bertanya lagi.

Masya Allah, di rumah, begitu kubuka amplop ternyata isinya uang sesuai ganti rugi motor yang kuberikan kepada mas Har. Segera kuhubungi mas Har lewat telepon, tapi ia tertawa ringan.

"Aku sudah bilang, itu untuk calon adikku".

Berkaca-kaca saat kututup telepon sambil tak henti-hentinya bersyukur. Sudah nabrak orang, dikasih adiknya, dipercaya orangtuanya, uang ganti ruginya masih dikembalikan padaku.

Semalaman aku tak bisa tidur entah karena senang atau bingung. Uang senilai hampir sepuluh juta itu, kuberikan sebagai mahar saat akad nikah buat istri. Tepat sebulan sebelum Ramadhan.

Kini kami sudah punya 2 momongan, insya Allah beberapa bulan lagi akan bertambah seorang lagi. Mas Har menikah 2 tahun kemudian, ia baru punya satu momongan, Alhamdulillah kami semua hidup bahagia. Mas har dan istrinya juga mulai tertarik manhaj mulia ini. Dan itu menambah kebahagiaan kami.

Wallahua'lam bish Shawwab....
Barakallahufikum...

...Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci...

Sumber : Majalah nikah sakinah volume 9 no 6 dengan sedikit perbaikan tulisan via AsliBumiAyu.wordpress.com

_________________________________________

Nasehat Indah untuk Wanita

Wasiat Seorang Ibu Kepada Anak Perempuannya

Anjuran Berwasiat Kepada Calon Isteri
Anas mengatakan bahwasanya para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam jika mempersembahkan (menikahkan) anak perempuan kepada calon suaminya, mereka memerintahkan kepadanya untuk berkhidmat kepada suami dan senantiasa menjaga hak suami.

Pesan Bapak Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan
Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib mewasiatkan anak perempuannya, seraya berkata, "Jauhilah olehmu perasaan cemburu, karena rasa cemburu adalah kunci jatuhnya thalak. Juga jauhilah olehmu banyak mengeluh, karena keluh kesah menimbulkan kemarahan, dan hendaklah kamu memakai celak mata karena itu adalah perhiasan yang paling indah dan wewangian yang paling harum".

Pesan Ibu Kepada Anak Perempuannya
Diriwayatkan bahwa Asma binti Kharijah Al-Farzari berpesan kepada anak perempuannya disaat pernikahannya, "Sesungguhnya engkau telah keluar dari sarang yang engkau tempati menuju hamparan yang tidak engkau ketahui, juga menuju teman yang engkau belum merasa rukun dengannya. Oleh karena itu jadilah engkau sebagai bumi baginya, maka dia akan menjadi langit untukmu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya ia akan menjadi tiang untukmu. Jadilah engkau hamba sahaya baginya, maka niscaya ia akan menjadi hamba untukmu. Janganlah engkau meremehkannya, karena niscaya dia akan membencimu dan janganlah menjauh darinya karena dia akan melupakanmu. Jika dia mendekat kepadamu maka dekatkanlah dirimu, dan jika dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya, dan matanya. Janganlah ia mencium sesuatu darimu kecuali wewangian dan janganlah ia melihatmu kecuali engkau dalam keadaan cantik. [1]

Pesan Amamah binti Harits Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan.
Amamah bin Harits berpesan kepda anak perempuannya tatkala membawanya kepada calon suaminya, "Wahai anak perempuanku! Bahwasanya jika wasiat ditinggalkan karena suatu keistimewaan atau keturunan maka aku menjauh darimu. Akan tetapi wasiat merupakan pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang yang berakal. Wahai anak perempuanku! Jika seorang perempuan merasa cukup terhadap suami lantaran kekayaan kedua orang tuanya dan hajat kedua orang tua kepadanya, maka aku adalah orang yang paling merasa cukup dari semua itu. Akan tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-lakai diciptakan untuk perempuan. Oleh karena itu, wahai anak perempuanku! Jagalah sepuluh perkara ini.

Pertama dan kedua : Perlakuan dengan sifat qana'ah dan mu'asyarah melalui perhatian yang baik dan ta'at, karena pada qan'aah terdapat kebahagiaan qalbu, dan pada ketaatan terdapat keridhaan Tuhan.

Ketiga dan keempat : Buatlah janji dihadapannya dan beritrospeksilah dihadapannya. Jangan sampai ia memandang jelek dirimu, dan jangan sampai ia mencium darimu kecuali wewangian.

Kelima dan keenam : Perhatikanlah waktu makan dan tenangkanlah ia tatkala tidur, karena panas kelaparan sangat menjengkelkan dan gangguan tidur menjengkelkan.

Ketujuh dan kedelapan : Jagalah harta dan keluarganya. Dikarenakan kekuasaan dalam harta artinya pengaturan keuangan yang bagus, dan kekuasaan dalam keluarga artinya perlakuan yang baik.

Kesembilan dan kesepuluh : Jangan engkau sebarluaskan rahasianya, serta jangan engkau langgar peraturannya. Jika engkau menyebarluaskan rahasianya berarti engkau tidak menjaga kehormatannya. Jika engkau melanggar perintahnya berarti engkau merobek dadanya. [2]

Bahwasanya keagungan baginya yang paling besar adalah kemuliaan yang engkau persembahkan untuknya, dan kedamaian yang paling besar baginya adalah perlakuanmu yang paling baik. Ketahuilah, bahwasanya engkau tidak merasakan hal tersebut, sehingga engkau mempengaruhi keinginannya terhadap keinginanmu dan keridhaannya terhadap keridhaanmu (baik terhadap hal yang engkau sukai atau yang engkau benci). Jauhilah menampakkan kebahagiaan dihadapannya jika ia sedang risau, atau menampakkan kesedihan tatkala ia sedang gembira.

Tatkala Ibnu Al-Ahwash membawa anak perempuannya kepada amirul mukminin Ustman bin Affan Radhiyallahu 'anhu, dan orang tuanya telah memberinya nasihat, Ustman berkata, "Pondasi mana saja, bahwasanya engkau mengutamakan perempuan dari suku Quraisy, karena mereka adalah perempuan yang paling pandai memakai wewangian daripada engkau. Oleh karena itu perliharalah dua perkataan : Nikahlah dan pakailah wewangian dengan menggunakan air hingga wangimu seperti bau yang ditimpa air hujan.

Ummu Mu'ashirah menasihati anak perempuannya dengan nasihat sebagai berikut (sungguh aku membuatnya tersenyum bercampur sedih): Wahai anakku.. engkau menerima untuk menempuh hidup baru… kehidupan yang mana ibu dan bapakmu tidak mempunyai tempat di dalamnya, atau salah seorang dari saudaramu. Dalam kehidupan tersebut engkau menjadi teman bagi suamimu, yang tidak menginginkan seorangpun ikut campur dalam urusanmu, bahkan juga daging darahmu. Jadilah istri untuknya wahai anakku, dan jadilah ibu untuknya. Kemudian jadikanlah ia merasakan bahwa engkau adalah segala-galanya dalam kehidupannya, dan segala-galanya di dunia.

Ingatlah selalu bahwasanaya laki-laki anak-anak atau dewasa memiliki kata-kata manis yang lebih sedikit, yang dapat membahagiankannya. Janganlah engkau membuatnya berperasaan bahwa dia menikahimu menyebabkanmu merasa jauh dari keluarga dan sanak kerabatmu. Sesungguhnya perasaan ini sama dengan yang ia rasakan, karena dia juga meninggalkan rumah orang tuanya, dan keluarga karena dirimu. Tetapi perbedaan antara dia dan kamu adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan perempuan selalu rindu kepada keluarga dan tempat ia dilahirkan, berkembang, besar dan menimba ilmu pengetahuan. Akan tetapi sebagai seorang isteri ia harus kembali kepada kehidupan baru. Dia harus membangun hidupnya bersama laki-laki yang menjadi suami dan perlindungannya, serta bapak dari anak-anaknya. Inilah duaniamu yang baru.

Wahai anakku, inilah kenyataan yang engkau hadapi dan inilah masa depanmu. Inilah keluargamu, dimana engkau dan suamimu bekerja sama dalam mengarungi bahtera rumah tannga. Adapun bapakmu, itu dulu. Sesungguhnya aku tidak memintamu untuk melupakan bapakmu, ibumu dan sanak saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu selamanya wahai buah hatiku. Bagaimana mungkin seorang ibu melupakan buah hatinya. Akan tetapi aku memintamu untuk mencintai suamimu dan hidup bersamanya, dan engkau bahagia dengan kehidupan berumu bersamanya.

Seorang perempuan berwasiat kepada anak perempuannya, seraya berkata, "Wahai anakku, jangan kamu lupa dengan kebersihan badanmu, karena kebersihan badanmu menambah kecintaan suamimu padamu. Kebersihan rumahmu dapat melapangkan dadamu, memperbaiki hubunganmu, menyinari wajahmu sehingga menjadikanmu selalu cantik, dicintai, serta dimuliakan di sisi suamimu. Selain itu disenangi keluargamu, kerabatmu, para tamu, dan setiap orang yang melihat kebersihan badan dan rumah akan merasakan ketentraman dan kesenangan jiwa".

[Disalin dari buku Risalah Ilal Arusain wa Fatawa Az-Zawaz wa Muasyaratu An-Nisaa, Edisi Indonesia Petunjuk Praktis dan Fatwa Pernikahan, Penulis Abu Abdurrahman Ash-Shahibi,Penerbit Najla Press]

FooteNote
[1]. Ahkamu An-Nisa karangan Ibnu Al-Jauzi hal.79
[2]. Ahkamu An-Nisa karangan Ibnu Al-Jauzi hal.80

Artikel: KisahMuslim.Com

_________________________________________

Keutamaan Ali bin Abi Thalib

Imam Ali bin Abi Thalib adalah khalifah rasyid yang keempat. Keutamaan dan keistimewaannya adalah sesuatu yang tidak diragukan lagi kecuali oleh orang-orang Khawarij (Ibnu Muljam dan komplotannya) yang lancang memerangi bahkan menumpahkan darahnya.

Berbeda dengan tiga khalifah sebelumnya, dimana sebagian orang terjebak dalam kesalahan dengan merendahkan kedudukan mereka, Ali bin Abi Thalib sebaliknya, orang-orang terjebak dalam kekeliruan, penyimpangan dan kesesatan bahkan kekufuran karena berlebih-lebihan dalam mengagungkannya. Sebagaimana Abdullah bin Saba dan orang-orang yang mengikutinya.

Suwaid bin Ghafalah datang menemui Ali radlhiallaahu 'anhu di masa kepemimpinannya. Lalu Suwaid berkata, "Aku melewati sekelompok orang menyebut-nyebut Abu Bakr dan Umar (dengan kejelekan). Mereka berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu kepada mereka berdua. Di antara mereka adalah Abdullah bin Saba dan dialah orang pertama yang mengampanyekan hal tersebut'. Ali menjawab, "Aku berlindung kepada Allah menyembunyikan sesuatu terhadap mereka berdua kecuali kebaikan". Kemudian beliau mengirim utusan kepada Abdullah bin Saba dan mengusirnya ke al-Madain. Ia juga berkata, "Jangan sampai engkau tinggal satu negeri bersamaku selamanya". Kemudian ia berdiri menuju mimbar dan orang-orang pun berkumpul... ...Ali berkata, "Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku dari seorang pun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku akan mencambuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta."

Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu menghalangi dapat seseorang dari kebenaran dan panjangan angan-angan dapat membuatnya lupa akhirat."

Nasabnya

Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah. Rasulullah memberinya kun-yah Abu Turab. Ia adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ibunya bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Qushay bin Kilab. Ali memiliki beberapa orang saudara laki-laki yang lebih tua darinya, mereka adalah: Thalib, Aqil, dan Ja'far. Dan dua orang saudara perempuan; Ummu Hani' dan Jumanah.

Ayahnya, Abu Thalib yang nama aslinya adalah Abdu Manaf. Abu Thalib adalah paman kandung Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang sangat menyayangi Nabi, namun ia wafat dalam agama jahiliyah.

Sifat Fisiknya

Ali bin Abi Thalib adalah laki-laki berkulit sawo matang, bola mata beliau besar dan agak kemerah-merahan. Untuk ukuran orang Arab, beliau termasuk pendek, tidak tinggi dan berjanggut lebat. Dada dan kedua pundaknya putih. Rambut di dada dan pundaknya cukup lebat, berwajah tampan, memiliki gigi yang rapi, dan ringan langkahnya (ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 25)

Keutamaan Ali bin Abi Thalib

- Termasuk Seseorang Yang Dijamin Surga

Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, az-Zubair di surga, Sa'ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa'id (bin Zaid) di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga." (HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Albani).

- Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali

Saat Perang Khaibar, Rasulullah hendak memberikan bendera komando perang kepada seseorang. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'adi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Demi Allah, akan aku serahkan bendera ini esok hari kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dia dicintai Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah memberikan kemenangan melalui dirinya." Maka semalam suntuk orang-orang (para sahabat) membicarakan tentang siapakah di antara mereka yang akan diberikan bendera tersebut. Keesokan harinya, para sahabat mendatangi Rasulullah, lalu beliau bersabda, "Dimanakah Ali bin Abi Thalib?" Dijawab, "Kedua matanya sedang sakit." Rasulullah memerintahkan, "Panggil dan bawa dia kemari." Dibawalah Ali ke hadapan Rasulullah, lalu beliau meludahi kedua matanya yang sakit seraya berdoa untuknya. Seketika Ali sembuh total seolah-olah tidak tertimpa sakit sebelumnya. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyerahkan bendera kepadanya. Lalu Ali berkata, "Wahai Rasulullah, aku memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita." Rasululah bersabda, "Majulah dengan tenang, sampai engkau tiba di tempat mereka. Kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan sampaikanlah hak-hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, sekiranya Allah member petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, sungguh lebih berharga bagimu daripada memiliki onta-onta merah." (HR. Muslim no. 4205).

- Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah

Ibrahim bin Saad bin Abi Waqqash meriwayatkan dari ayahnya, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada Ali, "Apakah engkau tidak ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa." (Muttafaq 'alaihi).

Hadis ini Rasulullah sampaikan kepada Ali saat beliau tidak menyertakan Ali bin Abi Thalib dalam pasukan Perang Tabuk. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkannya agar menjadi wakil beliau di kota Madinah. Ali yang merasa tidak nyaman hanya tinggal bersama wanita, anak-anak, dan orang tua yang udzur tidak ikut perang dihibur Rasulullah dengan sabda beliau di atas.

Sa'd bin Abi Waqqash radlhiallahu 'anhu membawakan hadits semisal dalam ash-Shahihain:

Dari Sa'ad bin Abi Waqqash ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memberi tugas Ali bin Abi Thalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). Ali pun berkata, 'Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah ?' Maka beliau menjawab, 'Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku ?" (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 4416 dan Muslim no. 2404).

Hadis ini dipakai oleh orang-orang yang berlebihan dalam mengagungkan Ali bin Abi Thalib sebagai legitimasi bahwa Ali lebih mulia dari Abu Bakar dan Umar. Padahal hadis ini adalah pembelaan Rasulullah terhadap Ali yang dituduh oleh orang-orang munafik bahwa dia merasa berat untuk berangkat perang.

Ali berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang munafik mengatakan bahwa engkau menugaskan aku karena engkau memandang aku berat untuk berangkat jihad dan kemudian memberikan keringanan". Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Mereka telah berdusta! Kembalilah, aku menugaskanmu untuk mengurus keluargaku dan keluargamu. 'Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?". Maka Ali pun akhirnya kembali ke Madinah (Taariikhul-Islaam, 1: 232).

Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga

Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu adalah ayah dari dua orang cucu kesayangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yakni Hasan dan Husein. Kedua cucu beliau ini adalah pemimpin para pemuda di surga.

Rasulullah bersabda,

"al-Hasan dan al-Husain adalah pemimpin pemuda ahli Surga." (HR. at-Tirmidzi, no. 3781)

Penutup

Ali bin Abi Thalib mengatakan,

"Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi telah berjanji kepadaku bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafik." (HR. Muslim, no. 249)

Tentu saja, mencintai Ali bukan hanya klaim semata. Mencintainya adalah dengan mengikuti perintahnya, tidak melebih-lebihkannya dari yang semestinya, dan mencintai orang-orang yang ia cintai. Ali mengutamakan Abu Bakar dan Umar atas dirinya, demikian juga semestinya orang-orang yang mengaku mencintainya, mengikuti keyakinannya.

Sumber: al-Bidayah wa an-Nihayah dll.

Disusun oleh Nurfitri Hadi

Artikel : KisahMuslim.Com

_________________________________________

Keutamaan Utsman bin Affan

"Orang yang paling penyayang di antara umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Muadz bin Jabal, yang paling hafal tentang Alquran adalah Ubay (bin Ka'ab), dan yang paling mengetahui ilmu waris adalah Zaid bin Tsabit. Setiap umat mempunyai seorang yang terpercaya, dan orang yang terpercaya di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah." (HR. Ahmad dalam Musnad-nya 3:184)

Utsman bin Affan, khalifah rasyid yang ketiga. Ia dianggap sosok paling kontroversial dibanding tiga khalifah rasyid yang lain. Mengapa dianggap kontroversial? Karena ia dituduh seorang yang nepotisme, mengedepankan nasab dalam politiknya bukan kapasitas dan kapabilitas. Tentu saja hal itu tuduhan yang keji terhadap dzu nurain, pemiliki dua cahaya, orang yang dinikahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan dua orang putrinya.

Pada kesempatan kali ini penulis tidak sedang menanggapi tuduhan-tuduhan terhadap beliau. Penulis akan memaparkan keutamaan-keutamaan beliau yang bersumber dari ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Tujuannya agar kita berhati-hati dan mawas diri ketika mendengar hal-hal negatif tentang Utsman, kita lebih bisa mengontrol lisan kita dan berprasangka baik di hati kita.

Nasab dan Sifat Fisikinya

Beliau adalah Utsman bin Affan bin Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdu asy-Syam bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luwai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'addu bin Adnan (ath-Thabaqat al-Kubra, 3: 53).

Amirul mukminin, dzu nurain, telah berhijrah dua kali, dan suami dari dua orang putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabiah bin Hubaib bin Abdu asy-Syams dan neneknya bernama Ummu Hakim, Bidha binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah. Dari sisi nasab, orang Quraisy satu ini memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Selain sebagai keponakan Rasulullah, Utsman juga menjadi menantu Rasulullah dengan menikahi dua orang putri beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan keutamaan ini saja, sulit bagi seseorang untuk mencelanya, kecuali bagi mereka yang memiliki kedengkian di hatinya. Seorang tokoh di masyarakat kita saja akan mencarikan orang yang terbaik menjadi suami anaknya, apalagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentulah beliau akan memilih orang yang terbaik untuk menjadi suami putrinya.

Utsman bin Affan termasuk di antara sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga, beliau juga menjadi enam orang anggota syura, dan salah seorang khalifah al-mahdiyin, yang diperintahkan untuk mengikuti sunahnya.

Utsman adalah seorang yang rupawan, lembut, mempunyai janggut yang lebat, berperawakan sedang, mempunyai tulang persendirian yang besar, berbahu bidang, rambutnya lebat, dan bentuk mulutnya bagus.

Az-Zuhri mengatakan, "Beliau berwajah rupawan, bentuk mulut bagus, berbahu bidang, berdahi lebar, dan mempunyai telapak kaki yang lebar."

Amirul mukminin Utsman bin Affan terkenal dengan akhlaknya yang mulia, sangat pemalu, dermawan, dan terhormat. Terlalu panjang untuk mengisahkan kedermawanan beliau pada kesempatan yang sempit ini. Untuk kehidupan akhirat, menolong orang lain, dan berderma seolah-olah hartanya seringan buah-buah kapuk yang terpecah lalu kapuknya terhembus angin yang kencang.

- Penduduk Surga Yang Hidup di Bumi

Dari Abu Musa al-Asy'ari bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke sebuah kebun dan memerintahkanku untuk menjaga pintu kebun tersebut. Kemudian datang seorang lelaki untuk masuk, beliau bersabda, "Izinkan dia masuk, kemudian beritakan kepadanya bahwa ia masuk surga." Ternyata laki-laki tersebut adalah Abu Bakar. Setelah itu datang laki-laki lain meminta diizinkan masuk, beliau bersabda, "Izinkan dia masuk, kemudian beritakan kepadanya bahwa ia masuk surga." Ternyata lelaki itu adalah Umar bin al-Khattab. Lalu datang lagi seorang lelaki meminta diizinkan masuk, beliau terdiam sejenak lalu bersabda, "Izinkan ia masuk, kemudian beritakan kepadanya bahwa ia masuk surga disertai dengan cobaan yang menimpanya." Ternyata lelaki tersebut adalah Utsman bin Affan.

- Kedudukan Utsman Dibanding Umat Islam Lainnya

Muadz bin Jabal radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya aku melihat bahwa aku di letakkan di sebuah daun timbangan dan umatku diletakkan di sisi daun timbangan lainnya, ternyata aku lebih berat dari mereka. Kemudian diletakkan Abu Bakar di satu daun timbangan dan umatku diletakkan di sisi yang lainnya, ternyata Abu Bakar lebih berat dari umatku. Setelah itu diletakkan Umar di sebuah daun timbangan dan umatku diletakkan di sisi yang lainnya, ternyata dia lebih berat dari mereka. Lalu diletakkan Utsman di sebuah daun timbangan dan umatku diletakkan di sisi lainnya, ternyata dia lebih berat dari mereka." (al-Ma'rifatu wa at-Tarikh, 3: 357).

Hadis yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalur Umar bin al-Khattab.

Hadis ini menunjukkan kedudukan Abu Bakar, Umar, dan Utsman dibandingkan seluruh umat Nabi Muhammad yang lain. Seandainya orang-orang terbaik dari umat ini dikumpulkan, lalu ditimbang dengan salah seorang dari tiga orang sahabat Nabi ini, niscaya timbangan mereka lebih berat dibanding seluruh orang-orang terbaik tersebut.

- Kabar Tentang Kekhalifahan dan Orang-orang Yang Akan Memberontaknya

Dari Aisyah radhiallahu 'anha, ia berkata, Rasulullah pernah mengutus seseorang untuk memanggil Utsman. Ketika Utsman sudah datang, Rasulullah menyambut kedatangannya. Setelah kami melihat Rasulullah menyambutnya, maka salah seorang dari kami menyambut kedatangan yang lain. Dan ucapan terakhir yang disampaikan Rasulullah sambil menepuk pundak Utsman adalah

"Wahai Utsman, mudah-mudahan Allah akan memakaikanmu sebuah pakaian (mengamanahimu jabatan khalifah), dan jika orang-orang munafik ingin melepaskan pakaian tersebut, jangalah engkau lepaskan sampai engkau bertemu denganku (meninggal)." Beliau mengulangi ucapan ini tiga kali. (HR. Ahmad).

Dan akhirnya perjumpaan yang disabdakan Rasulullah pun terjadi. Dari Abdullah bin Umar bahwa Utsman bin Affan berbicara di hadapan khalayak, "Aku berjumpa dengan Nabi shallallahu 'alahi wa sallam di dalam mimpi, lalu beliau mengatakan, 'Wahai Utsman, berbukalah bersama kami'." Maka pada pagi harinya beliau berpuasa dan di hari itulah beliau terbunuh. (HR. Hakim dalam Mustadrak, 3: 103).

Katsir bin ash-Shalat mendatangi Utsman bin Affan dan berkata, "Amirul mukminin, keluarlah dan duduklah di teras depan agar masyarakat melihatmu. Jika engkau lakukan itu masyarakat akan membelamu. Utsman tertawa lalu berkata, 'Wahai Katsir, semalam aku bermimpi seakan-akan aku berjumpa dengan Nabi Allah, Abu Bakar, dan Umar, lalu beliau bersabda, 'Kembalilah, karena besok engkau akan berbuka bersama kami'. Kemudian Utsman berkata, 'Demi Allah, tidaklah matahari terbenam esok hari, kecuali aku sudah menjadi penghuni akhirat'." (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat, 3: 75).

Demikianlah sedikit cuplikkan tentang keutamaan Utsman bin Affan yang mungkin tertutupi oleh orang-orang yang lebih senang memperhatikan aib-aibnya. Padahal aib itu sendiri adalah fitnah yang dituduhkan kepadanya. Semoga Allah meridhai Utsman bin Affan dan memasukkannya ke dalam surga yang penuh kedamaian.

Sumber: al-Bidayah wa an-Nihayah

Ditulis oleh Nurfitri Hadi
Artikel: KisahMuslim.com

_________________________________________

Keutamaan Umar bin al-Khattab

Setelah membahas tentang keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq, kiranya perlu juga kita membahas tentang kemualiaan Umar bin Khattab. Ia adalah seorang khalifah yang sangat terkenal, perjalanan hidupnya adalah teladan yang diikuti, dan kepemimpinannya adalah sesuatu yang diimpikan. Banyak orang saat ini memimpikan, kiranya Umar hidup di zaman ini dan memipin umat yang tengah kehilangan jati diri.

Ada beberapa gelintir orang yang tidak menyukai khalifah yang mulia ini, mereka mengatakan al-Faruq telah mencuri haknya Ali. Menurut mereka, Ali bin Abi Thalib lebih layak dan lebih pantas dibanding Umar untuk menjadi khalifah pengganti Nabi. Berangkat dari klaim tersebut, mulailah mereka melucuti kemuliaan dan keutamaan Umar. Mereka buat berita-berita palsu demi rusaknya citra amirul mukminin Umar bin Khattab. Mereka puja orang yang memusuhinya dan pembunuhnya pun digelari pahlawan bangsa.

Berikut ini kami cuplikkan kabar-kabar ilahi yang bercerita tentang keutamaan, kemuliaan, dan kedudukan Umar bin Khattab, karena seperti itulah ia layak untuk diceritakan.

Nasab dan Ciri Fisiknya

Ia adalah Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka'ab bin Luai, Abu Hafsh al-Adawi. Ia dijuluki al-Faruq.

Ibunya bernama Hantamah binti Hisyam bin al-Mughirah. Ibunya adalah saudari tua dari Abu Jahal bin Hisyam.

Ia adalah seseorang yang berperawakan tinggi, kepala bagian depannya plontos, selalu bekerja dengan kedua tangannya, matanya hitam, dan kulitnya kuning. Ada pula yang mengatakan kulitnya putih hingga kemerah-merahan. Giginya putih bersih dan mengkilat. Selalu mewarnai janggutnya dan merapikan rambutnya dengan inai (daun pacar) (Thabaqat Ibnu Saad, 3: 324).

Amirul mukminin Umar bin Khattab adalah seorang yang sangat rendah hati dan sederhana, namun ketegasannya dalam permasalahan agama adalah ciri khas yang kental melekat padanya. Ia suka menambal bajunya dengan kulit, dan terkadang membawa ember di pundaknya, akan tetapi sama sekali tak menghilangkan ketinggian wibawanya. Kendaraannya adalah keledai tak berpelana, hingga membuat heran pastur Jerusalem saat berjumpa dengannya. Umar jarang tertawa dan bercanda, di cincinnya terdapat tulisan "Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu hai Umar."

Keistimewaan dan Keutamaannya

- Umar adalah Penduduk Surga Yang Berjalan di Muka Bumi

Diriwayatkan dari Said bin al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata, ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,

"Sewaktu tidur aku bermimpi seolah-olah aku sedang berada di surga. Kemudian aku melihat seorang wanita sedang berwudhu di sebuah istana (surga), maka aku pun bertanya, 'Milik siapakah istana ini?' Wanita-wanita yang ada di sana menjawab, 'Milik Umar.' Lalu aku teringat dengan kecemburuan Umar, aku pun menjauh (tidak memasuki) istana itu." Umar radhiallahu 'anhu menangis dan berkata, "Mana mungkin aku akan cemburu kepadamu wahai Rasulullah."

Subhanallah! Kala Umar masih hidup di dunia bersama Rasulullah dan para sahabatnya, namun istana untuknya telah disiapkan di tanah surga.

- Mulianya Islam dengan Perantara Umar

Dalam sebuah hadisnya Rasulullah pernah mengabarkan betapa luasnya pengaruh Islam di masa Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu. Beliau bersabda,

"Aku bermimpi sedang mengulurkan timba ke dalam sebuah sumur yang ditarik dengan penggerek. Datanglah Abu Bakar mengambil air dari sumur tersebut satu atau dua timba dan dia terlihat begitu lemah menarik timba tersebut, -semoga Allah Ta'ala mengampuninya-. Setelah itu datanglah Umar bin al-Khattab mengambil air sebanyak-banyaknya. Aku tidak pernah melihat seorang pemimpin abqari (pemimpin yang begitu kuat) yang begitu gesit, sehingga setiap orang bisa minum sepuasnya dan juga memberikan minuman tersebut untuk onta-onta mereka."

Abdullah bin Mas'ud mengatakan, "Kami menjadi kuat setelah Umar memeluk Islam."

- Kesaksian Ali bin Abi Thalib Tentang Umar bin al-Khattab

Diriwayatkan dari Ibnu Mulaikah, dia pernah mendengar Abdullah bin Abbas berkata, "Umar radhiallahu 'anhu ditidurkan di atas kasurnya (menjelang wafatnya), dan orang-orang yang berkumpul di sekitarnya mendoakan sebelum dipindahkan –ketika itu aku hadir di tengah orang-orang tersebut-. Aku terkejut tatkala seseorang memegang kedua pundakku dan ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib. Kemudian Ali berkata (memuji dan mendoakan Umar seperti orang-orang lainnya), "Engkau tidak pernah meninggalkan seseorang yang dapat menyamai dirimu dan apa yang telah engkau lakukan. Aku berharap bisa menjadi sepertimu tatkala menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Demi Allah, aku sangat yakin bahwa Allah akan mengumpulkanmu bersama dua orang sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakar).

Aku sering mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Aku berangkat bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar."

- Umar adalah Seorang yang Mendapat Ilham

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapat ilham. Apabila salah seorang umatku mendapakannya, maka Umarlah orangnya."

Zakaria bin Abi Zaidah menambahkan dari Sa'ad dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Bani Israil ada yang diberikan ilham walaupun mereka bukan nabi. Jika salah seorang dari umatku mendapatkannya, maka Umarlah orangnya."

- Wibawa Umar

Dari Aisyah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar." (HR. Tirmidzi dalam al-Manaqib, hadits no. 3791)

Demikianlah di antara keutamaan Umar bin al-Khattab yang secara langsung diucapkan dan dilegitimasi oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Semoga Allah meridhai Umar bin al-Khattab.

Sumber: al-Bidayah wa an-Nihayah

Ditulis oleh Nurfitri Hadi

Artikel: KisahMuslim.Com

_________________________________________


Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang paling mulia, bahkan dikatakan ia adalah manusia termulia setelah para nabi dan rasul. Keutamannya adalah sesuatu yang melegenda, hal itu diketahui oleh kalangan awam sekalipun. Membaca kisah perjalanan hidupnya seakan-akan kita merasa hidup di dunia hayal, apa benar ada orang seperti ini pernah menginjakkan kaki di bumi? Apalagi di zaman kita saat ini, memang manusia teladan sudah sulit terlestari.

Namun seiring pergantian masa dan perjalanan hidup manusia, ada segelintir orang atau kelompok yang mulai mencoba mengkritik perjalanan hidup Abu Bakar ash-Shiddiq setelah Allah dan Rasul-Nya memuji pribadinya. Allah meridhainya dan menjanjikan surga untuknya, radhiallahu 'anhu.

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah: 100)

Kritik tersebut mulai berpengaruh pada jiwa-jiwa yang mudah tertipu, kepada hati yang lalai, dan kepada pribadi-pribadi yang memiliki hasad kepada generasi pertama.

Kali ini kita tidak sedang menceritakan kepribadian Abu Bakar secara utuh, karena hal itu sulit diceritakan di tulisan yang singkat ini. Tulisan ini akan menyuplikkan sebagian teks-teks syariat yang menjelaskan tentang kemuliaan Abu Bakar.

Nasab dan Karakter Fisiknya

Nama Abu Bakar adalah Abdullah bin Utsman at-Taimi, namun kun-yahnya (Abu Bakar) lebih populer dari nama aslinya sendiri. Ia adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Ta-im bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasyi at-Taimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada kakeknya Murrah bin Ka'ab bin Luai.

Ibunya adalah Ummu al-Khair, Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Ta-im. Dengan demikian ayah dan ibu Abu Bakar berasal dari bani Ta-im.

Ummul mukminin, Aisyah radhiallahu 'anhu menuturkan sifat fisik ayahnya, "Ia seorang yang berkulit putih, kurus, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggangnya, wajahnya selalu berkeringat, hitam matanya, dahinya lebar, tidak bisa bersaja', dan selalu mewarnai jenggotnya dengan memakai inai atau katam (Thabaqat Ibnu Sa'ad, 1: 188).

Adapun akhlak Abu Bakar, ia adalah seorang yang terkenal dengan kebaikan, keberanian, sangat kuat pendiriannya, mampu berpikir tenang dalam keadaan genting sekalipun, penyabar yang memiliki tekad yang kuat, dalam pemahamannya, paling mengerti garis keturunan Arab, orang yang bertawakal dengan janji-janji Allah, wara' dan jauh dari kerancuan pemikiran, zuhud, dan lemah lembut. Ia juga tidak pernah melakukan akhlak-akhlak tercela pada masa jahiliyah, semoga Allah meridhainya.

Sebagaimana yang telah masyhur, ia adalah termasuk orang yang pertama memeluk Islam.

Keutamaan Abu Bakar

- Orang yang Rasulullah Percaya Untuk Menemaninya Berhijrah ke Madinah

"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. (QS. At-Taubah: 40)

Dalam perjalanan hijrah ini, Abu Bakar menjaga, melayani, dan memuliakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia mempersilahkan Rasul untuk beristirahat sementara dirinya menjaganya seolah-olah tidak merasakan letih dan butuh untuk istirahat.

Anas bin Malik meriwayatkan dari Abu Bakar, Abu Bakar mengatakan, "Ketika berada di dalam gua, aku berkata kepada Rasulullah, 'Sekiranya orang-orang musyrik ini melihat ke bawah kaki mereka pastilah kita akan terlihat'. Rasulullah menjawab, 'Bagaimana pendapatmu wahai Abu Bakar dengan dua orang manusia sementara Allah menjadi yang ketiga (maksudnya Allah bersama dua orang tersebut)'. Rasulullah menenangkan hati Abu Bakar di saat-saat mereka dikepung oleh orang-orang musyrikin Mekah yang ingin menangkap mereka.

- Sebagai Sahabat Nabi yang Paling Dalam Ilmunya

Abu Said al-Khudri mengatakan, "Suatu ketika, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan para sahabatnya dengan mengatakan, 'Sesungguhnya Allah telah menyuruh seorang hamba untuk memilih dunia atau memilih ganjaran pahala dan apa yang ada di sisi-Nya, dan hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah'.

Kata Abu Sa'id, "(Mendengar hal itu) Abu Bakar menangis, kami heran mengapa ia menangis padahal Rasulullah hanya menceritakan seorang hamba yang memilih kebaikan. Akhirnya kami ketahui bahwa hamba tersebut tidak lain adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri. Abu Bakar-lah yang paling mengerti serta berilmu di antara kami. Kemudian Rasulullah melanjutkan khutbahnya,

"Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan memilih kekasih selain Rabbku, pasti aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih, namun cukuplah persaudaraan se-Islam dan kecintaan karenanya."

- Kedudukan Abu Bakar di Sisi Rasulullah

Dari Amr bin Ash, Rasulullah pernah mengutusku dalam Perang Dzatu as-Salasil, saat itu aku menemui Rasulullah dan bertanya kepadanya, "Siapakah orang yang paling Anda cintai?" Rasulullah menjawab, "Aisyah." Kemudian kutanyakan lagi, "Dari kalangan laki-laki?" Rasulullah menjawab, "Bapaknya (Abu Bakar)."

- Saat Masih Hidup di Dunia, Abu Bakar Sudah Dipastikan Masuk Surga

Abu Musa al-Asy'ari mengisahkan, suatu hari dia berwudhu di rumahnya lalu keluar menemani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Abu Musa berangkat ke masjid dan bertanya dimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dijawab bahwa Nabi keluar untuk suatu keperluan. Kata Abu Musa, "Aku pun segera pergi berusaha menysulunya sambil bertanya-tanya, hingga akhirnya beliau masuk ke sebuah kebun yang teradapat sumur yang dinamai sumur Aris. Aku duduk di depan pintu kebun, hingga beliau menunaikan keperluannya.

Setelah itu aku masuk ke kebun dan beliau sedang duduk-duduk di atas sumur tersebut sambil menyingkap kedua betisnya dan menjulur-julurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Aku mengucapkan salam kepada beliau, lalu kembali berjaga di depan pintu sambil bergumam "Hari ini aku harus menjadi penjaga pintu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Tak lama kemudian datanglah seseorang ingin masuk ke kebun, kutanyakan, "Siapa itu?" Dia menjawab, "Abu Bakar." Lalu kujawab, "Tunggu sebentar." Aku datang menemui Rasulullah dan bertanya padanya, "Wahai Rasulullah, ada Abu Bakar datang dan meminta izin masuk." Rasulullah menjawab, "Persilahkan dia masuk dan beritahukan padanya bahwa dia adalah penghuni surga."

Penutup

Demikianlah Abu Bakar ash-Shiddiq dengan keutamaan-keutamaan yang ada padanya. Sebuah keistimewaan yang mungkin tidak pernah terlintas di benak kita, kita dijamin surga, menjadi kekasih Rasul, orang kecintaan Rasulullah, dan sahabat dekatnya. Lalu bagaimana bisa di hari ini ada orang yang merendahkan kedudukan beliau, setelah Allah dan Rasul-Nya memuliakan dia?

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala menjauhkan kita dari sifat buruk yang merendahkan wali-Nya, menjadi musuh orang yang Dia cintai. Semoga Allah meridhai Abu Bakar ash-Shiddiq.

Sumber: al-Bidayah wa an-Nihayah

Ditulis oleh Nurfitri Hadi

Artikel: KisahMuslim.Com

_________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar