Kisah Rasulullah dan Sahabat
Perjalanan Rasulullah SAW Ke THAIF Selama sembilan tahun sejak kerasulan, Nabi Muhammad saw. telah berusaha menyampaikan ajaran agama islam dan mengusahakan hidayah serta perbaikan kaumnya di Makkah, namun sengat sedikit yang menerima ajakan beliau, kecuali orang-orang yang telah awal masuk islam selain mereka, ada orang-orang yang belum masuk islam, tetapi siap membantu Rasulullah Saw. dan kebanyakan orang-orang kafir Makkah selalu menyakiti dan mempermainkan beliau dan para sahabat beliau.
Abu Thalib termasuk orang yang belum memeluk islam, namun sangat mencintai Nabi Saw. ia akan melakukan apa saja yang dapat menolong Nabi Saw. pada tanggal sepuluh kenabian, ketika Abu Thalib meninggal dunia, kaum kuffar semakin berkesempatan untuk mencegah perkembangan islam dan menyakiti kaum muslimin.
Rasulullah SAW pun pergi ke Thaif dan di sana ada suatu kabilah bernama Tsaqif, yang sangat banyak anggotanya. beliau berpendapat, jika mereka memeluk islam, kaum muslimin akan terbebas dari siksaan orang-orang kafir tersebut, dan akan menjadikan kota itu. Sebagai pusat penyebaran islam. setibanya di Thaif, Nabi Saw. langsung menemui tiga orang tokoh masyarakat dan berbicara dengan mereka mengajak mereka kepada agama Allah, dan mengajak mereka agar membantu Rasulullah Saw.
Namun, mereka bukan saja menolak, bahkan sebagai bangsa Arab yang terkenal dengan adatnya yang sangat menghormati, itupun tidak mereka lakukan. bahkan, mereka menjawab dengan terang-terangan dan menerima beliau dengan sikap yang sangat buruk. mereka menunjukkan perasaan tidak suka dengan kedatangan Nabi Saw.. pada mulanya, beliau berharap agar kedatangan beliau kepada tokoh masyarakat itu akan disambut akan disambut dengan baik dan sopan. ternyata sebaliknya, diantara mereka ada yang berkata, "Wahai, kamukah orang yang di pilih oleh Allah sebagai Nabinya?" lain berkata, "Tidak adakah orang selain kamu yang lebih pantas dipilih Allah sebagai Nabi?" yang ketiga berkata, "Aku tidak mau berbicara denganmu, sebab jika kamu memang seorang Nabi seperti pengakuanmu, lalu aku menolakmu, tentu itu tidak akan mendatangkan bencana. dan jika kamu berbohong, aku tidak ingin berbicara dengan orang seperti itu." Selain itu, dengan perasaan kecewa terhadap mereka, Nabi Saw. berharap dapat berbicara dengan orang-orang selain mereka. inilah sifat Nabi Saw. yang selalu bersungguh-sungguh, teguh pendirian, dan tidak mudah putus asa. Ternyata, tidak seorangpun diantara mereka yang bersedia menerima beliau. Bahkan mereka membentak beliau dengan berkata, "Keluarlah kamu dari kampung ini! pergilah kemana saja yang kamu sukai!"
Ketika Nabi Saw. sudah tidak dapat mengharapkan mereka dan bersiap-siap akan meninggalkan mereka, mereka menyuruh anak-anak kota tersebut mengikuti Nabi Saw, lalu mengganggu, mencaci, serta melemparinya dengan batu, sehingga sandal beliau berlumuran darah.dalam keadaan seperti inilah Nabi saw .meningalkan Thaif.
Ketika beliau menjumpai sebuah tempat dianggap aman dari kejahatan mereka.Beliau berdoa kepada Allah.,
"Ya Allah, kepada-Mulah kuadukan lemahnya kekuatanku, kurangnya upayaku, dan kehinaanku dalam pandangan manusia. Wahai Yang Maharahim dari sekalian raahimin, Engkaulah Tuhanku, kepada siapakah Engkau serahkan diriku. Kepada orang asing yang akan memandangku dengan muka masam atau kepada musuh yang Engkau berikan segala urusanku, tiada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah kepadaku. Lindungan-Mu sudah cukup bagiku aku berlindung kepada-Mu dengan nur wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan, dan dengannya menjadi baik dunia dan akhirat, dari turunnya murka-Mu kepadaku atau turunnya ketidakridhaan-Mu kepadaku. Jauhkanlah murka-Mu hingga Engkau ridha. Tiada daya dan upaya melainkan dengan-Mu."
Allah swt. penguasa seluruh alam pun memperlihatkan keperkasaan-Nya Demikian sedih doa Nabi saw., sehingga Jibril a.s. datang untuk memberi salam kepada beliau dan berkata, "Allah mendengar perbincanganmu dengan kaummu, dan Allah pun mendengar jawaban mereka, dan dia mengutus kepadamu Malaikat penjaga gunung agar siap melaksanakan apapun perintahmu kepadanya."Malaikat itupun datang dan memberi salam kepada Nabi saw. seraya berkata, "Apapun yang engkau perintahkan akan ku laksanakan. bila engkau suka, akan kubenturkan kedua gunung disamping kota ini sehingga siapa saja yang tinggal diantara keduanya akan hancur binasa jika tidak apapun hukuman yang engkau inginkan aku siap melaksanakannya." Rasulullah saw. yang bersifat pengasih dan mulia ini menjawab, "Aku hanya berharap kepada Allah seandainya saat ini mereka tidak menerima islam, semoga kelak keturunan mereka akan menjadi orang-orang yang beribadah kepada Allah."
Pelajaran dari kisah diatas
Demikianlah, akhlak seorang Nabi yang paling mulia. Kita mengaku bahwa diri kita adalah pengikutnya namun jika kita mendapatkan sedikit kesulitan, kita akan mencela atau bahkan membalas dendam. Kezhaliman dibalas dengan kezhaliman, demikianlah perilaku kita saat ini. Padahal seharusnya, dengan pengakuan tersebut, segala tingkah laku kita haruslah mengikuti beliau. Rasulullah SAW sendiri jika mengalami kesulitan ataupun penderitaan yang pedih dari orang lain, beliau tidak pernah membalas keburukan dengan doa keburukan, dan tidak pernah berkeinginan untuk membalas dendam.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Syahidnya Anas Bin Nadhar RA. Anas bin Nadrah ra adalah seorang sahabat Nabi saw yang tidak sempat turut serta dalam perang Badar. Ia sangat menyesal karena tidak dapat menyertai peperangan yang pertama dan besar dalam sejarah Islam itu. Untuk itu, ia sangat berharap agar dalam pertempuran selanjutnya ia dapat menebusnya. Ternyata, kesempatan itu datang ketika perang Uhud. Dia turut serta didalamnya sebagai seorang pejuang yang berani dan bersemangat.
Dalam perang Uhud tersebut, pada mulanya kaum Muslimin telah memperoleh kemenangan lebih dahulu. Namun, di akhir peperangan, disebabkan kekhilafan sebagian pasukan kaum Muslimin, akhirnya kaum Muslimin mendapatkan kekalahan. Mereka telah khilaf bahwa Nabi Saw telah menentukan beberapa orang sahabat untuk berjaga-jaga di bukit Uhud. Rasulullah Saw menyuruh mereka agar jangan meninggalkan tempat tersebut, dalam keadaan bagaimanapun, karena musuh dapat menyerang dari arah belakang.
Sebenarnya ketika permulaan perang, pasukan kaum Muslimin telah memperoleh kemenangan, dan kaum kafir telah melarikan diri. Melihat kemenangan ini, orang-orang yang telah ditunjuk oleh Nabi Saw itu, segera meninggalkan tempat tugas mereka. Mereka menyangka bahwa kaum Muslimin telah menang, dan peperangan telah usai, karena orang-orang kafir telah melarikan diri.
Akhirnya, mereka menuju tempat bekas peperangan, dan meninggalkan bukit tersebut. Pada saat itulah, pasukan kafir yang sedang melarikan diri melihat bahwa tempat yang seharusnya dijaga oleh kaum Muslimin telah kosong ditinggalkan oleh para penjaganya, maka mereka telah kembali, dan menyerang kaum Muslimin dari arah belakang. Hal ini sama sekali tidak disangka oleh kaum Muslimin sehingga mereka kalah, dan terjepit dalam kepungan kaum kafir, dan pasukan muslimin menjadi kacau balau.
Dalam keadaan demikian, Anas ra melihat seorang sahabat, yaitu Sa'ad bin Mu'adz ra sedang menuju ke arahnya. Anas ra berkata, "Hai Sa'ad, mau kemana engkau? Sungguh demi Allah, saya mencium harumnya surga datang dari arah Uhud". Setelah berkata demikian, beliau mengacungkan pedang yang saat itu berada di tangannya, dan terus menyerbu kaum kafir sehingga ia syahid dalam perang Uhud. Ketika tubuh beliau diperiksa, tubuhnya begitu rusak karena luka-luka senjata tajam. Kira-kira terdapat delapan puluh luka akibat tebasan pedang dan panah di tubuhnya. Hanya saudari perempuannya saja yang masih dapat mengenalinya melalui jari-jari tangannya.
Pelajaran dari kisah diatas
Demikianlah, jika seseorang dengan ikhlas dan kesungguhan hati menunaikan perintah ALLAH SWT., ketika masih hidup di dunia pun, Allah memberinya kesempatan untuk merasakan nikmatnya surga. Inilah kisah kehidupan Anas Bin Nadhar RA yang telah mencium harumnya surga saat ia masih hidup di dunia.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Abu Jandal & Abu Bashir RA di Perjanjian Hudaibiyah Pada tahun ke-6 Hijriah, Nabi Muhammad SAW ingin berumrah dan berziarah ke Makkah. Kabar ini diketahui oleh orang-orang kafir Makkah dan membuat mereka merasa terhina, sehingga mereka berencana akan menghalangi perjalanan Muhammad SAW pergi bersama para sahabat yang telah siap mengorbankan jiwa raga mereka di jalan Allah SWT. Namun, demi kebaikan penduduk Makkah, Rasulullah SAW tidak menghendaki perang. Beliau berusaha mengadakan perjanjian dengan mereka. Walaupun para sahabat telah siap berperang, Rasulullah SAW tetap memperhatikan orang-orang kafir dan menerima syarat yang mereka ajukan. Sebenarnya para sahabat sangat tertekan dengan perjanjian ini, tetapi mereka tidak dapat berbuat apapun terhadap keputusan Rasulullah SAW. Bahkan seorang pemberani seperti Umar r.a. pun merasa tertekan dengan perjanjian ini.
Adapun salah satu isi keputusan perjanjian tersebut adalah:
Orang-orang kafir yang telah masuk Islam dan berhijrah, harus dikembalikan ke Makkah, dan orang Islam yang murtad dari Islam (Na’udzubillah) tidak dikembalikan ke kaum muslimin.
Belum selesai perjanjian itu, seorang sahabat bernama Abu Jandal r.a.; yang telah ditahan, disiksa, dan dirantai oleh kaum kafir karena keislamannya, jatuh bangun mendatangi mereka. Ia berharap dapat bergabung dengan kaum muslimin dan terbebas dari musibah yang dialaminya. Ayahnya, Suhail, yang pada saat itu belum masuk Islam (ia masuk Islam pada saat Fatal Makkah. Dan ia adalah wakil orang kafir dalam perjanjian Hudaibiyah), menampar anaknya dan memaksanya kembali ke Makkah.
Sabda Rasulullah SAW, “Perjanjian belum diputuskan, maka belum ada peraturan yang berlaku.” Namun Suhail terus memaksa. Rasulullah SAW menjawab, “Aku meminta agar ada satu orang yang diserahkan kepadaku.” Namun mereka menolak pertukaran itu.
Abu Jandal r.a. berkata kepada kaum muslimin, “Aku datang untuk islam, banyak penderitaan yang telah aku alami. Sayang, sekarang aku akan dikembalikan lagi.”. Hanya Allah Yang mengetahui betapa sedihnya para sahabat ketika itu. Atas nasihat Rasulullah SAW , Abu Jandal r.a. bersedia kembali ke Makkah. Rasulullah SAW berusaha menghibur hatinya dan menyuruhnya tetap bersabar.
Beliau bersabda, “Dalam waktu dekat, Allah akan membukakan jalan bagimu.”
Setelah selesai perjanjian Hudaibiyah, seorang sahabat yang bernama Abu Bashir r.a. melarikan diri ke Madinah setelah keislamannya. Kaum kuffar mengutus dua orang untuk membawanya kembali ke Makkah. Dan sesuai dengan perjanjian, Rasulullah SAW mengembalikan AbuBashir kepada mereka.
Abu Bashir berkata, “Ya Rasulullah, aku datang setelah menjadi muslim, dan engkau kembalikan aku kepada kaum kuffar?”
Rasulullah SAW menasihatinya agar bersabar dan beliau bersabda, “Insya Allah, sebentar lagi Allah akan membukakan jalan bagimu.” Akhirnya, Abu Bashir r.a. dikembalikan ke Makkah bersama kedua utusan tadi.
Di tengah perjalanan, Abu Bashir r.a. berkata kepada seorang penjaganya, “Hai kawan, pedangmu bagus sekali.” Karena merasa pedangnya dipuji, orang itu dengan bangga mengeluarkan pedangnya, “Ya, aku telah menebas banyak orang dengan pedang ini.”
Sambil berkata demikian, ia memberikan pedangnya kepada Abu Bashir r.a. Begitu berada di tangannya, Abu Bashir r.a. langsung mencoba pedang itu kepada pemiliknya. Ketika orang kafir lainnya melihat temannya tewas, ia merasa bahwa sekarang adalah gilirannya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung melarikan diri ke Madinah. Setibanya di hadapan Rasulullah SAW, ia berkata, “Temanku telah dibunuh dan sekarang giliranku.”
Pada saat itu, Abu Bashir r.a. pun tiba di hadapan Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, engkau telah memenuhi janjimu dengan mereka, dan aku pun telah dipulangkan, namun aku tidak memiliki janji apa pun yang menjadi tanggung jawabku atas mereka. Kulakukan semua ini karena mereka berusaha mencabut agama dari diriku.”
Rasulullah SAW menjawab, “Kamu telah menyulut api perang. Seandainya ada yang dapat menolongmu.”
Atas sabda itu, Abu Bashir r.a. memahami bahwa jika ada kaum kafir yang memintanya kembali, maka ia akan dikembalikan lagi kepada mereka. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat di dekat pantai. Berita ini telah diketahui oleh orang-orang di Makkah. Abu Jandal r.a., yang telah diceritakan dalam kisah sebelumnya pun melarikan diri dan bergabung dengan Abu Bashir r.a. Demikian juga orang-orang yang telah masuk Islam, banyak yang bergabung dengan Abu Bashir r.a.
Dalam beberapa hari, mereka menjadi sebuah gerombolan kecil. Mereka sampai di sebuah hutan yang di dalamnya tidak ada makanan atau kebun sedikitpun, juga tidak ada penduduk. Hanya Allah Yang mengetahui keadaan mereka. Namun, mereka telah mencekik leher para penzhalim yang kezhalimannya membuat mereka melarikan diri. Jika ada kafilah yang melewati tempat tersebut, mereka akan melawannya atau menyerangnya.
Kaum kuffar di Makkah pun merasa ketakutan sehingga mereka terpaksa menjumpai Rasulullah SAW dan merayunya dengan membawa nama Allah, alasan kekeluargaan, dan sebagainya aga mereka dipanggil, dan kelak dapat diikat dengan perjanjianyang telah disepakati sebagaimana orang-orang muslim lainnya dan perjalanan mereka pun lancer kembali. Akhirnya, Rasulullah SAW menulis surat kepada mereka dan mengizinkan mereka kembali. Ketika surat itu tiba di tangan Abu Bashir r.a., ia sedang menderita sakit yang sangat parah. Dan ia wafat ketika tangannya sedang memegang surat Rasulullah SAW. (Bukhari-Fathul Bari).
Pelajaran dari kisah diatas
Jika agama yang kuat terdapat pada diri seseorang, dangan syarat agamanya benar, maka kekuatan apa pun tidak akan dapat melepaskan agam yang ada pada dirinya. Dan Allah SWT berjanji akan menolong setiap muslim dengan syarat ia benar-benar muslim.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Islamnya BILAL Bin RABAH dan Penderitaannya Bilal bin Rabah al Habsy r.a adalah seorang sahabat Nabi yang terkenal. Dia adalah seorang mu’adzdzin (juru adzan) di masjid Nabawi. Sebelumnya, ia seorang hamba sahaya milik salah seorang kafir Quraisy, kemudian memeluk Islam.
Keislamannya telah menyebabkan Bilal r.a mengalami banyak penderitaan dan kesengsaraan akibat perbuatan orang-orang kafir. Umayah bin Khalaf adalah seorang kafir yang paling keras memusuhi orang Islam, dia telah membaringkan Bilal r.a di atas padang pasir yang panas membakar ketika matahari sedang terik sambil menindihkan batu besar di atas dadanya, sehingga Bilal r.a tidak dapat menggerakkan badannya sedikitpun. Umayah berkata, “Apakah kamu bersedia mati dalam keadaan seperti ini? Ataukah kamu mau terus hidup, dengan syarat kamu tinggalkan agama Islam?”. Walaupun Bilal r.a disiksa seperti itu, namun dia berkata, “Ahad! Ahad!” (maksudnya, Allah Maha Esa).
Pada malam harinya, Bilal r.a diikat dengan rantai, kemudian dicampuk terus menerus hingga badannya luka-luka. Pada siang harinya, dia dibaringkan kembali di atas padang pasir yang panas. Tuannya berharap Bilal r.a akan mati dalam keadaan seperti itu. Orang kafir yang menyiksa Bilal r.a silih berganti, suatu kali Abu Jahal yang menyiksanya, terkadang Umayah bin Khalaf, bahkan orang lain pun turut menyiksanya juga. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menyiksa Bilal r.a dengan siksaan yang lebih berat lagi. Ketika Abu Bakar r.a melihat penderitaan Bilal r.a, beliau segera membebaskannya.
Pelajaran dari kisah diatas
Orang Arab jahiliyah, ketika itu menyembah berhala. Karena itulah, Islam mengajarkan ketauhidan untuk mengubah keyakinan mereka, yaitu hanya menyembah Allah swt. Inilah yang menyebabkan Bilal r.a mengucapkan, “Ahad. Ahad.” Hal ini disebabkan karena keimanannya yang begitu kuat. Sekarang, seberapa besar keimanan dan kecintaan kita kepada Allah? Kecintaan inilah yang menyebabkan Bilal r.a rela disiksa demi mempertahankan agama. Walaupun orang-orang kafir di Makkah terus menyiksanya, namun dia tetap mengucapkan, “Ahad, Ahad”.
Inilah contoh kehidupan yang pernah dialaminya. Sebelum Rasulullah saw wafat, dia bertugas sebagai juru adzan di masjid Nabi. Setelah Rasulullah saw wafat, pada mulanya dia tetap tinggal di Madinah Thayyibah. Tetapi karena tidak kuat menahan kesedihan setiap kali melewati makam Rasulullah saw, akhirnya dia meninggalkan Madinah dan pergi bersama pasukan jihad fii sabilillah. Sampai beberapa waktu lamanya dia tidak kembali ke Madinah.
Pada suatu hari, dia bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya itu Nabi saw berkata kepadanya, “Wahai Bilal, apa yang menghalangimu sehingga engkau tidak pernah berziarah kepadaku?” Setelah bangun dari tidurnya, Bilal r.a pun segera pergi ke Madinah. Setibanya di Madinah, Hasan dan Husain r.a meminta Bilal r.a agar mengumandangkan adzan. Dia tidak dapat menolak permintaan orang-orang yang dicintainya itu. Ketika dia mulai beradzan, maka terdengarlah suara adzan seperti zaman Rasulullah saw. Hal ini sangat menyentuh hati penduduk Madinah, sehingga kaum wanita pun keluar dari rumah masing-masing sambil menangis untuk mendengarkan suara adzan Bilal r.a. Setelah beberapa hari lamanya Bilal r.a tinggal di Madinah, akhirnya dia meninggalkan kota Madinah dan kembali ke Damaskus dan wafat di sana pada tahun kedua puluh Hijriyah.
© 2013 - RizzStudio
Kisah ABU DZAR Al Ghifari RA Memeluk Islam
Abu Dzar al-Ghifari merupakan seorang sahabat Nabi SAW yang terkenal dengan perbendaharaan ilmu pengetahuannya dan kesolehannya. Ali RA berkata mengenai Abu Dzar RA: “Abu Dzar ialah penyimpan jenis-jenis ilmu pengetahuan yang tidak dapat diperolehi dari orang lain.”
Ketika dia mulai mendengar khabar tentang kerasulan Nabi SAW, dia telah mengutus saudara lelakinya menyelidiki lebih lanjut mengenai orang yang mengaku menerima berita dari langit. Setelah puas menyelidiki, saudaranya pun melaporkan kepada Abu Dzar bahawa Nabi Muhammad SAW itu seorang yang sopan santun dan baik budi pekertinya. Ayat-ayat yang dibacakan kepada manusia bukannya puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair.
Laporan yang disampaikan itu masih belum memuaskan hati Abu Dzar. Dia sendiri keluar untuk mencari kenyataan. Setibanya di Makkah, dia terus ke Baitul Haram. Pada waktu itu dia tidak kenal Nabi SAW, dan melihat keadaan pada waktu itu dia merasa takut hendak bertanya mengenai Nabi SAW. Ketika menjelang malam, dia dilihat oleh Ali RA. Oleh kerana ia seorang musafir, Ali terpaksa membawa Abu Dzar ke rumahnya dan melayani Abu Dzar sebaik-baiknya sebagai tamu. Ali tidak bertanya apa pun dan Abu Dzar tidak pula memberitahu Ali tentang maksud kedatangannya ke Makkah. Pada keesokkan harinya, Abu Dzar pergi sekali lagi ke Baitul Haram untuk mengetahui siapa dia Muhammad. Sekali lagi Abu Dzar gagal menemui Nabi kerana pada waktu itu orang-orang Islam sedang diganggu hebat oleh orang-orang kafir musyrikin. Pada malam yang keduanya, Ali membawa Abu Dzar ke rumahnya.
Pada malam itu Ali bertanya: “Saudara, apakah sebabnya saudara datang ke kota ini?”
Sebelum menjawab Abu Dzar meminta Ali berjanji untuk berkata benar. Kemudian dia pun bertanya kepada Ali tentang Nabi SAW. Ali berkata: “Sesungguhnya dia lah pesuruh Allah. Esok engkau ikut aku dan aku akan membawamu menemuinya. Tetapi awas, bencana yang buruk akan menimpa kamu kalau hubungan kita diketahui orang. Ketika berjalan esok, kalau aku dapati bahaya mengancam kita, aku akan berpisah agak jauh sedikit dari kamu dan berpura-pura membetulkan sepatuku. Tetapi engkau terus berjalan supaya orang tidak curiga hubungan kita.”
Pada keesokkan harinya, Ali pun membawa Abu Dzar bertemu dengan Nabi SAW. Tanpa banyak tanya jawab, dia telah memeluk agama Islam. Kerana takut dia diapa-apakan oleh musuh, Nabi SAW menasihatkan supaya cepat-cepat balik dan jangan mengkhabarkan keislamannya di khalayak ramai. Tetapi Abu Dzar menjawab dengan berani: “Ya Rasullulah, aku bersumpah dengan nama Allah yang jiwaku di dalam tanganNya, bahawa aku akan mengucap dua kalimah syahadah di hadapan kafir-kafir musyrikin itu.”
Janjinya kepada Rasulullah SAW ditepatinya. Selepas ia meninggalkan baginda, dia mengarah langkah kakinya ke Baitul Haram di hadapan kaum musyrikin dan dengan suara lantang dia mengucapkan dua kalimah syahadah.
“Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa Muhammad itu pesuruh Allah.”
Tatkala mendengar ucapan Abu Dzar itu, orang-orang kafir pun menyerbunya lalu memukulnya. Kalau tidak kerana Abbas, bapa saudara Nabi yang ketika itu belum Islam, tentulah Abu Dzar menemui ajalnya di situ.
Kata Abbas kepada orang-orang kafir musyrikin yang menyerang Abu Dzar: “Tahukah kamu siapa orang ini? Dia adalah keturunan Al Ghifar. Khafilah-khafilah kita yang pulang pergi ke Syam terpaksa melalui perkampungan mereka. Kalaulah ia dibunuh, sudah tentu mereka menghalangi perniagaan kita dengan Syam.”
Pada hari berikutnya, Abu Dzar sekali lagi mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan orang-orang kafir Quraisy dan pada kali ini juga ia telah diselamatkan oleh Abbas.
Keghairahan Abu Dzar mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan kafir Quraisy sungguh-sungguh luar biasa jika dikaji dalam konteks larangan Nabi SAW kepadanya. Apakah dia boleh dituduh telah mengingkari perintah Nabi? Jawabannya tidak. Dia tahu bahawa Nabi SAW sedang mengalami penderitaan yang berbentuk gangguan dalam usahanya ke arah menyebarkan agama Islam. Dia hanya hendak menunjukkan Nabi SAW walaupun ia mengetahui, dengan berbuat demikian dia melibatkan dirinya dalam bahaya. Semangat keislamannya yang beginilah yang telah menjadikan para sahabat mencapai puncak keimanan dalam alam lahiriyah serta batiniyah.
Pelajaran dari kisah diatas
Keberanian Abu Dzar ini selayaknya menjadi contoh kepada umat Islam dewasa ini dalam rangka usaha mereka menjalankan dakwah Islamiyah. Kekejaman, penganiyaan serta penindasan tidak semestinya boleh melemahkan semangat mereka yang telah mengucapkan dua kalimah syahadah.
Inilah contoh kehidupan yang pernah dialaminya. Sebelum Rasulullah saw wafat, dia bertugas sebagai juru adzan di masjid Nabi. Setelah Rasulullah saw wafat, pada mulanya dia tetap tinggal di Madinah Thayyibah. Tetapi karena tidak kuat menahan kesedihan setiap kali melewati makam Rasulullah saw, akhirnya dia meninggalkan Madinah dan pergi bersama pasukan jihad fii sabilillah. Sampai beberapa waktu lamanya dia tidak kembali ke Madinah.
Pada suatu hari, dia bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya itu Nabi saw berkata kepadanya, “Wahai Bilal, apa yang menghalangimu sehingga engkau tidak pernah berziarah kepadaku?” Setelah bangun dari tidurnya, Bilal r.a pun segera pergi ke Madinah. Setibanya di Madinah, Hasan dan Husain r.a meminta Bilal r.a agar mengumandangkan adzan. Dia tidak dapat menolak permintaan orang-orang yang dicintainya itu. Ketika dia mulai beradzan, maka terdengarlah suara adzan seperti zaman Rasulullah saw. Hal ini sangat menyentuh hati penduduk Madinah, sehingga kaum wanita pun keluar dari rumah masing-masing sambil menangis untuk mendengarkan suara adzan Bilal r.a. Setelah beberapa hari lamanya Bilal r.a tinggal di Madinah, akhirnya dia meninggalkan kota Madinah dan kembali ke Damaskus dan wafat di sana pada tahun kedua puluh Hijriyah.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Penderitaan KHABAB Bin AL ARAT RA
Khabab bin Al Arat ra adalah salah seorang sahabat yang tubuhnya telah dipenuhi keberkahan karena telah mengalami berbagai ujian dan cobaan. Pada awal memeluk Islam, ia telah menerima berbagai penderitaan di jalan Allah. Ketika itu baru lima hingga enam orang yang telah menerima Islam. Karena itulah, ia telah cukup lama menanggung penderitaan tersebut. Ia pernah dipaksa memakai baju dari besi, lalu dibaringkan di atas padang pasir di bawah terik matahari yang sangat panas. Keringat banyak bercucuran dari tubuhnya karena panasnya terik matahari. Begitu lamanya disiksa di bawah terik matahari, lama kelamaan kulitnya mengelupas karena sedemikian panas.
Sebelumnya, Khabab bin Al Arat ra adalah hamba sahaya milik seorang wanita. Ketika tuannya mendapatkan kabar bahwa Khabab ra sering menjumpai Nabi SAW, maka ia menghukumnya dengan memanaskan batang besi, lalu di tusukkan ke kepala Khabab ra.
Fatimah Binti Khattab Bin Naufal Al-Quraisyi adalah saudara perempuan Al-Faruq Umar Bin Khattab. Ia termasuk wanita angkatan pertama yang berbaiat kepada Rasulullah. Ia memeluk Islam sebelum saudara lelakinya masuk Islam. Tapi ia selalu menyembunyikan keIslamannya dari saudara lakinya yang bengis waktu itu. Ia hidup berkhidmat kepada dakwah Islam, dan dalam berkhidmat dia mengalami banyak peristiwa. Khabab Bin Al-Arat adalah orang yang berungkali mengajari Fatimah dan Sa’ad Bin Zaid (suaminya) membaca al-Qur’an. Dengan tekun Khabab memberikan hafal-hafalan ayat-ayat Allah. Ia bacakan, lalu mereka menirukan , hingga kemudioan hafal.
Pada masa khalifah Umar bin Khattab ra, beliau meminta Khabab Al Arat ra untuk menceritakan kembali bagaimana penderitaannya dulu pada saat-saat awal masuk Islam. Ia menjawab, “Lihatlah punggungku ini!” Lalu Umar bin Khattab ra pun melihatnya. Begitu beliau melihat, beliau berkata, “Saya belum pernah melihat punggung seperti ini.” Khabab ra meneruskan ceritanya, “Saya telah diseret ke atas timbunan bara api menyala,sampai lemak dan darah yang mengalir di punggungku telah memadamkan api tersebut.” Pada masa khalifah Umar ra, Islam telah berjaya dengan pesat dan pintu-pintu kemenangan telah banyak diraih. Ketika semua ini terjadi, Khabab ra berkata,“Tampaknya Allah telah membalas penderitaan yang kita alami, saya khawatir di akherat nanti kita tidak akan mendapatkan balasan apapun”.
Khabab ra bercerita, “Suatu ketika Rasulullah SAW melakukan shalat dengan sangat lama, tidak seperti biasanya. Setelah selesai shalat, seorang sahabat ra bertanya kepada beliau tentang rakaat yang tadi. Jawab Nabi SAW,”Ini adalah shalat yang penuh dengan harapan dan rasa takut. Aku telah ajukan tiga permintaan kepada Allah SWT. Dua diantaranya telah dikabulkan oleh-Nya dan yang satu permohonan ditolak oleh-Nya. Aku telah memohon, agar umatku jangan musnah karena kelaparan, do’a ini telah dikabulkan oleh-Nya. Yang kedua, aku meminta agar umatku tidak dihancurkan oleh oleh musuh, dan doa ini pun telah dikabulkan-Nya. Sedangkan yang ketiga aku meminta agar jangan terjadi perpecahan diantara umatku. Tetapi do’a ini tidak dikabulkan-Nya. “
Khabab bin Al Arat ra wafat pada usia yang ketiga puluh tujuh tahun. Ia adalah sahabat yang pertama kali dikuburkan di Kuffah. Suatu ketika, setelah wafatnya, Ali ra melewati kuburnya dan berkata, “Ya Allah, rahmatillah Khabab. Dengan semangatnya ia telah memeluk Islam dan dengan rela menghabiskan waktunya dengan berhijrah, berjihad dan menerima segala penderitaan, serta musibah. Penuh berkahlah, orang yang selalu mengingat hari kiamat dan selalu bersiap-siap untuk menerima kitab amalnya pada hari hisab dan ia jalani kehidupan ini dengan penuh qana’ah, menerima apa adanya dan sangat ridha kepada Tuhannya.”
Pelajaran dari kisah diatas
Sesungguhnya Keridhaan Ilahi adalah tujuan utama kehidupan sahabat RA.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Ammar r.a dan Kedua Orang Tuanya
Ammar r.a. Dan kedua orang tuanya telah mengalami penyiksaan yang sangat pedih. Mereka disiksa dengan cara diletakkan diatas tanah yang panas dibawah terik matahari yang panas pula. Setiap Rasulullah s.a.w. melewatinya, Rasulullah s.a.w. menasehatinya agar ia tetap sabar dan diberinya kabar gembira mengenai surga. Akhirnya, bapak Ammar r.a. yaitu Yasir r.a. meninggal dunia akibat penyiksaan tersebut.
Bahkan, penyiksaan yang dilakukan oleh para pezhalim tersebut tidak berhenti sampai disitu saja. Setelah wafatnya Yasir r.a. ibu Ammar, yakni Summayah r.ha telah ditikam kemaluannya dengan tombak oleh Abu jahal.
Tetapi, mereka tetap tidak bisa dihalangi dari islam. Padahal, penganut islam pada saat itu adalah orang-orang tua dan lemah. Tetapi, mereka seolah-olah tidak memperdulikan akibat buruk dari perbuatan mereka.
Dalam sejarah islam, merekalah (orang tua amar) yang pertama kali mati syahid. Sedangkan orang yang membangun masjid pertama kali adalah Ammar r.a., yakni ketika Rasulullah mengusulkan agar dibuat sebuah tempat untuk bernaung Rasulullah s.a.w. sebagai tempat istirahat sementara bagi beliau. Sehingga beliau dapat beristirahat pada waktu siang dan mendirikan shalat dengan tenang ditempatnya.
Maka di Kuba, Ammar r.a. telah mengumpulkan bebatuan untuk pertama kalinya, kemudian didirikan masjid di tempat tersebut.
Dalam menyertai peperangan, Ammar r.a selalu menjalankannya dengan penuh semangat dan tekad yang tinggi. Pernah dalam suatu peperangan ia berkata, ”sebentar lagi aku akan berjumpa dengan kawan-kawanku, berjumpa dengan Nabi Muhammad s.a.w., dan berjumpa dengan jama’ah beliau.” ketika ia merasa sangat haus dan meminta air, tetapi kepadanya disodorkan susu. Ia pun meminumnya, setelah itu ia berkata, “saya telah mendengar bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, “didunia ini yang terakhir kamu minum alah susu. ” Setelah berkata demikian, ia pun mati syahid.
© 2013 - RizzStudio
Kisah SHUHAIB RA Memeluk Islam
Sayyidina Shuhaib,RA dan Sayyidina 'Ammar ,RA memeluk Islam dalam waktu yang sama.Pada waktu itu Baginda Nabi Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasalam sedang berada di rumah Sayyidina Arqam,RA. Kedua orang ini berangkat dari tempat yang berbeda untuk menemui Baginda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Secara kebetulan mereka berdua bertemu di depan pintu rumah Sayyidina Arqam ,RA. Keduanya saling menanyakan maksud kedatangan masing-masing. Ternyata maksud kedatangan mereka berdua sama ,yakni untuk memeluk Islam dan berusaha mengambil keberkahan dari Baginda Nabi Rasulullah sallallahu Alaihi Wasallam.
Sayyidina Shuhaib,RA pun masuk Islam. Setelah ia masuk Islam ,ia juga mengalami penderitaan seperti kaum muslimin yang jumlahnya masih sangat sedikit dan lemah. Ia di sakiti dengan berbagai macam cara. Akhirnya,karena tidak tahan menanggung penderitaan itu,ia berniat untuk hijrah. Namun kaum kafir Quraisy sangat tidak suka bila orang-orang islam pergi ke tempat lain dan hidup dengan tenang. Apabila orang-orang kafir itu mendengar ada orang islam yang akan hijrah, mereka akan berusaha menghalang-halanginya.
Orang-orang kafir Quraisy pun mengirim serombongan orang untuk mengejar dan menangkap Sayyidina Shuhaib,RA . Sayyidina Shuhaib,RA membawa satu wadah yang penuh dengan anak panah.
Ia berseruh kepada kaum kafir Quraisy, "Dengarkanlah !,kalian tahu aku pemanah yang paling mahir di antara kalian. Selama masih tersisa satu anak panah padaku, kalian tidak akan dapat mendekatiku. Jika anak-anak panah ini habis,akan kugunakan pedangku untuk melawan kalian sehingga pedang ini terlepas dari tanganku. Setelah itu ,berbuatlah semampumu. Tetapi, jika kalian mau, sebagai ganti nyawaku,kalian akan ku beri tahu tempat hartaku di Makkah dan akan aku berikan kepada kalian kedua budak perempuanku. Ambillah semuanya." kaum kafir menyetujui usul tersebut ,Sayyidina Shuhaib ,RA menyerahkan hartanya kemudian melepaskan diri.
Terhadap kejadian ini,maka turunlah ayat AL QUR'AN Surah Al Baqarah ayat : 207
Yang artinya :
"DAN DI ANTARA MANUSIA ADA YANG MENJUAL DIRINYA DEMI MENCARI RIDHA ALLAH swt DAN ALLAH SANGAT PENYAYANG KEPADA HAMBA-HAMBA-NYA."
Ketika itu, Baginda Nabi, saw sedang berada di Quba. Saat melihat kedatangan Sayyidina Shuhaib RA beliau bersabda, "sangat beruntung perniagaanmu ,wahai Shuhaib."
Sayyidina Shuhaib RA bercerita, "suatu ketika Baginda Nabi,saw sedang makan kurma dan aku menyertai beliau makan. Ketika itu mataku sedang sakit, lalu Baginda Nabi saw bersabda, "Hai Shuhaib, matamu sakit, tetapi kamu memakan kurma ?" Aku menjawab, Ya, Rasulullah, aku makan dengan sebelah mataku yang sehat ini. "Baginda Nabi saw tertawa mendengar jawabanku."
Sayyidina Shuhaib banyak membelanjakan hartanya di jalan ALLAH sehingga Sayyidina Umar RA pernah berkata, "Engkau telah berlebih-lebihan,wahai Shuhaib !" Sayyidina Shuhaib RA menjawab, "aku tidak menggunakannya untuk hal yang sia-sia," Ketika Sayyidina Umar RA hampir wafat, Ia berwasiat agar Sayyidina Shuhaib RA mengimami Shalat jenazahnya.(dari kitab Usudul Ghabah).
© 2013 - RizzStudio
Kisah UMAR RA Mendapatkan Hidayah
Umar ra. adalah seorang sahabat yang namanya telah menjadi suatu kebanggaan bagi kaum muslimin hingga hari ini. Nama itu meningkatkan gairah keimanan dan menggentarkan hati-hati orang kafir selama 1 .300 tahun yang lahi hingga kini. Dahulu sebelum Islam, ia sering mengganggu, dan menyakiti orang-orang yang masuk Islam. Bahkan, ia pernah akan membunuh Rasulullah saw.
Suatu ketika, orang-orang kafir telah bermusyawarah diantara mereka, apakah ada orang yang berani membunuh Muhammad (saw.). Umar segera menyahut, "Sayalah yang akan membunuhnya!" Mereka berkata, "Ya! kamulah yang layak melakukannya!" Umar langsung menghunus pedangnya dan pergi untuk membunuh Rasulullah saw.. Di tengah perjalanan, ia berjumpa dengan seorang sahabat dari kabilah Zuhrah bernama Sa'ad bin Abi Waqqas. (riwayat lain menyebutkan nama lain). Sa'ad ra. bertanya, "Mau pergi ke mana, wahai Umar?" Jawab Umar ra., "Saya akan membunuh Muhammad saw. (Na'udzubillahi). Sa'ad menjawab, "Jika demikian, Banu Hasyim, Banu Zuhrah, dan Banu Abdi Manaf tentu tidak akan berdiam diri, mereka pasti akan membalas dengan membunuhmu!" Umar terkejut dengan ancaman itu. Umar berkata, "Nampaknya kamu pun telah meninggalkan agama nenek moyang kita. Jika demikian, kamulah yang akan kubunuh lebih dahulu!" Setelah berkata demikian, Umar segera menarik pedangnya. Sa'ad ra. menyahut, "Ya, saya memang telah Islam!" Umar langsung menghunuskan pedangnya. Namun sebelum bertarung, Sa'ad ra. berkata, "Hai Umar, dengarlah dulu kabar mengenai rumahmu! Saudara perempuanmu dan iparmu, juga telah masuk Islam." Mendengar itu, Umar sangat marah dan langsung pergi ke rumah saudarinya.
Ketika itu, di rumah saudari perempuan Umar ada Khabbab ra.. Dengan menutup pintu dan jendela, suami istri itu sedang membaca Al-Quran. Tiba-tiba, Umar ra. datang dan berteriak agar dibukakan pintu. Mendengar suara Umar, Khabbab ra. segera bersembunyi, dan meninggalkan lembaran-lembaran ayat suci Al-Qur'an. Lalu saudari perempuannya membukakan pintu. Tangan Umar ra. langsung memukul kepala saudari perempuannya hingga berdarah. Umar ra. berkata, "Kamu telah mengkhianati dirimu sendiri, kamu telah ikuti agama yang jelek itu!" Kemudian, Umar masuk ke dalam rumah dan bertanya kepada saudarinya, "Apa yang kamu lakukan? Dan suara siapakah yang telah kudengar tadi?" Saudarinya menjawab, "Kami sedang membicarakan hal biasa."JJmar bertanya, "Apakah kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu dan masuk ke agama baru?" Jawab saudara iparnya, "Bagaimana jika agama baru itu ternyata lebih baik?" Mendengar itu, Umar langsung menarik janggutnya, dan mendorongnya hingga terjatuh, lalu Umar memukulinya sampai puas di atas tanah. Saudarinya berusaha memisahkan mereka. Tetapi, mukanya ditampar keras oleh Umar sampai bibirnya berdarah, padahal ia adalah saudarinya sendiri.
Saudarinya berkata, "Hai Umar! apakah kami dipukuli hanya karena kami telah masuk Islam? Memang benar, kami sudah masuk Islam, apa yang ingin engkau lakukan kepada kami, lakukanlah!"
Setelah itu, pandangan mata Umar tertuju kepada lembaran-lembaran ayat-ayat Al-Quran yang tergeletak, karena tertinggal begitu saja. Dan kemarahannya mulai sedikit mereda. Dan ia merasa malu atas perlakuannya terhadap saudarinya yang telah menyebabkan darah menetes dari wajah saudarinya sendiri. Umar berkata, "Bagus, sekarang katakan apa ini?" Saudarinya menjawab, "Kamu tidak suci, dan lembaran ini tidak boleh tersentuh oleh tangan yang tidak suci." Umar mendesaknya, namun saudarinya enggan memberikannya jika tanpa mandi dan berwudhu. Setelah Umar mandi, ia mengambil lembaran-lembaran tersebut, lalu membacanya. Ternyata, di dalamnya berisi surat Thaha ayat 14, ia terus membacanya hingga ayat;
"Akulah Allah. Tiada Tuhan selain-Ku. Maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. "(Thaha: 14)
Selesai membaca ayat-ayat di atas, Umar langsung berubah. la berkata, "Sekarang temukanlah aku dengan Muhammad saw." Mendengar hal itu, Khabbab ra. segera keluar dari tempat persembunyiannya, dan berkata, "Hai Umar, aku sampaikan kabar gembira untukmu; Kemarin, pada malam Jum'at, aku mendengar Rasulullah saw. berdoa, "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar atau Abu Jahal, siapa saja dari keduanya yang lebih Engkau sukai. (Karena kekuatan keduanya sangat terkenal). Dan sekarang telah diketahui bahwa doa Nabi saw. telah dikabulkan padamu." Setelah kejadian itu, beliau dipertemukan dengan Rasulullah saw., dan beliau masuk Islam pada Jum'at Shubuh. (Khashoish)
Islamnya Umar ra. adalah suatu pukulan berat bagi kafir Quraisy. Walaupun demikian, kaum muslimin masih sangat sedikit jumlahnya, apalagi jika dibandingkan dengan orang-orang kafir di seluruh Arab. Namun, keislamannya telah menimbulkan semangat baru bagi kaum muslimin, sehingga kaum musyrikin telah lebih berupaya untuk menghentikannya. Berbagai cana telah dicoba, tetapi kaum muslimin semakin berani, bahkan mereka berani mendirikan shalat di Masjidil Haram. Abdullah bin Mas'ud ra. berkata, "Islamnya Umar ra. adalah kemenangan kaum muslimin, dan hijrah Umar ra. adalah pertolongan bagi kaum muslimin, dan kekhalifahannya adalah rahmat bagi kaum muslimin." (Asadul Ghabah)
© 2013 - RizzStudio
Kisah Kaum Muslimin Hijrah Ke Habasyah Dan Pemboikotan Banu Abi Thalib
Ketika penyiksaan kaum kafir teifaadap kaum muslimin dan Nabi saw. tidak semakin berkurang bahkan semakin bertambah, Nabi saw.
mulai mengijinkan para sahabat untuk berhijrah ke tempat lain. Banyak diantara sahabat yang berhijrah ke Habasyah. Meskipun Raja Habasyah adalah seorang Nasrani, dan sampai saat itu belum memeluk Islam, namun ia terkenal dengan kelembutan hatinya juga keadilannya.
Pada tahun kelima kenabian, dalarn bulan Rajab, diberangkatkan jamaah pertama ke negeri Habasyah sebanyak sebelas atau dua belas orang laki-laki dan empat atau lima orang wanita. Para kafirin Mekkah berusaha menghalangi kepergian mereka. Setibanya di negeri Habasyah, kaum muslimin mendapat kabar bahwa seluruh penduduk Mekkah telah masuk Islam, dan Islam mendapat kemenangan. Mereka demikian senang atas berita tersebut, sehingga mereka memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka. Tetapi, ketika hampir memasuki Mekkah, mereka baru mengetahui bahwa kabar tersebut tidak benar. Bahkan, bukannya lebih baik, tetapi semakin bertambah memusuhi, dan menyakiti kaum muslimin. Sebagian kaum muslimin ada yang kembali, dan ada yang terus memasuki Mekkah dengan jaminan seseorang. Peristiwa ini disebut hijrah ke Habasyah yang pertama.
Setelah peristiwa itu, ada rombongan sahabat yang lebih banyak jumlahnya, yaitu 83 orang lelaki dan 18 wanita hijrah ke Habasyah. Perjalanan ini disebut hijrah ke Habasyah yang kedua. Sebagian sahabat ada yang mengikuti kedua hijrah ini dan ada yang mengikuti satu saja.
Ketika kaum kafirin mengetahui bahwa kaum muslimin telah hidup tenang di Habasyah, maka mereka bertambah marah. Mereka mengirim satu rombongan ke Habasyah untuk menemui raja Najasyi sambil membawa banyak hadiah. Mereka juga membawa banyak hadiah untuk kalangan penting istana serta untuk para pendeta di sana. Setibanya di Habasyah, pertama kali mereka menjumpai para pembesar kerajaan dan para pendeta kristen. Setelah menyuap mereka dengan hadiah, maka dengan perlindungan mereka, utusan kafirin itu dapat berjumpa dengan Raja Najasyi. Mereka langsung bersujud di hadapan Raja, dan menyerahkan berbagai hadiah kepada beliau. Lalu, mereka mengemukakan maksud mereka dengan diperkuat oleh para pembesar kerajaan yang telah disuap itu. Mereka berkata, "Wahai raja, ada sebagian kecil kaum kami yang bodoh telah meninggalkan agama. nenek moyang mereka dan masuk ke dalarn agama baru, yang kami pun tidak mengenalnya. Begitu juga denganmu. Mereka telah datang dan tinggal di negerimu. Tokoh-tokoh Mekkah yang mulia dan orang tua mereka, serta keluarga mereka, telah mengutus kami untuk membawa mereka pulang. Kami memohon kepadamu untuk menyerahkan mereka kepada kami." Jawab Najasyi, "Kami tidak dapat menyerahkan orang yang telah meminta perlindungan kepada kami, tanpa memeriksa lebih dahulu masalah mereka. Akan kupanggil mereka dan kutanyai mereka. Jika ceritamu benar, maka akan kukembalikan mereka kepadamu." Kaum muslimin pun dipanggil oleh Naj asy i untuk menghadap kepadanya.
Pada mulanya kaum muslimin sangat khawatir apa yang harus mereka lakukan. Tetapi, Allah dengan segala karunia-Nya, telah menolong dan membantu mereka, sehingga mereka dapat memenuhi panggilan raja dan dapat berbicara dengan lancar dan tenang. Mereka memulai perjumpaannya dengan raja dengan ucapan salam. Seseorang menegur mereka, "Kalian tidak beradab kepada raja dengan tidak bersujud di hadapannya!" Jawab mereka, "Kami telah dilarang oleh Nabi kami untuk bersujud kepada selain Allah." Lalu, raja meminta mereka untuk menjelaskan keadaan mereka yang sebenarnya.
Ja'far ra., mewakili yang lainnya maju ke depan dan berkata, "Dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah, kami tidak mengenal Allah, juga tidak mengenal Rasul-Nya. Dulu kami menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat jahat, dan memutuskan kekeluargaan, yang kuat diantara kami menindas yang lemah. Demikianlah keadaan kami dahulu. Ketika kami dalam keadaan seperti itu, Allah mengutus Rasul-Nya, yang keturunannya, kejujurannya, sifat amanahnya, kesucian hidupnya, sangat kami kenal. Beliau mengajak kami untuk menyembah Allah yang Esa yang tiada sekutu bagi-Nya, dan melarang kami dari menyebah berhala. Beliau menyuruh kami untuk berbuat baik, dan melarang kami dari perbuatan jahat. Beliau menyuruh kami berkata jujur, bersifat amanat dan menjaga silaturrahmi. Juga menyuruh agar berbuat baik terhadap tetangga, mengerjakan shalat, berpuasa dan bersedekah. Beliau mengajar kami dengan akhlak yang terpuji, melarang kami dari zina, dusta, memakan harta anak yatim, mencaci orang lain, dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya. Beliau mengajarkan kami Al-Quran yang mulia, dan kami beriman atasnya, serta mengamalkan segala firman-Nya. Atas hal ini, kerabat kami telah memusuhi kami dan menyiksa kami dengan berbagai penyiksaan. Kami adalah orang-orang yang tertindas, dan Nabi kami telah menyuruh kami untuk hijrah memohon perlindungan di negerimu ini."
Raja Najasyi bertanya lagi, "Sekarang, coba perdengarkanlah kepadaku Al-Quran yang telah dibawa oleh Nabimu itu." Maka Ja'far ra. membacakan sebagian ayat di permulaan swat Maryam. Bacaannya tersebut membuat raja dan para pendeta serta hadirin lainnya menangis, sehingga janggut-janggut mereka basah kuyup oleh air mata. Setelah itu, Raja berkata, "Demi Tuhan, ayat-ayat ini sama dengan ayat-ayat yang telah diturunkan kepada Musa, yang bersumber dari Nur yang sama." Kemudian dengan tegas Raja Najasyi menolak permintaan kaum kafir Qurasy itu, "Saya tidak dapat memenuhi permintaan kalian!" Para utusan itu merasa khawatir dan merasa terhina, sehingga mereka berembuk kembali. Salah seorang dari mereka berkata, "Besok saya akan mengatur sesuatu, sehingga raja akan mengusir mereka." Tetapi, teman-temannya tidak menyetujui usulannya. Teman-temannya berkata, "Walaupun mereka telah menjadi muslim, mereka tetap kaum kerabat kita." Namun temannya itu tidak mau menurutinya.
Pada hari kedua, mereka kembali menemui raja, dan berkata, "Orang-orang Islam itu tidak menerima Nabi Isa as., juga tidak mengakui bahwa Nabi Isa as. adalah anak Allah." Maka raja memanggil kembali kaum muslimin. Sahabat ra. bercerita, "Pada hari kedua, kami dipanggil lagi, dan hal itu membuat kami bertambah cemas. Walaupun demikian, kami tetap menghadap raja. Raja bertanya, "Bagaimana menurut kalian tentang Isa as.?" Kami menjawab, "Kami katakan seperti apa yang diturunkan kepada Nabi kami mengenainya. Bahwa Isa adalah Hamba Allah, Nabi Allah, dan Ruh-Nya. Kami percaya atas kalimah yang diturunkan kepadanya, yang Allah turunkan melalui Maryam yang suci." Najasyi berkata, "Demikianlah pengakuan Isa as. tentang dirinya sendiri, tiada yang berbeda." Para pendeta ketika itu saling berbisik dan gaduh atas jawaban raja. Raja berkata kepada mereka, "Apa yang kalian kehendaki katakanlah!" Kemudian, Raja Najasyi mengembalikan semua hadiah-hadiah yang sudah diberikan kepadanya, lalu berkata kepada kaum muslimin, "Tinggallah kalian di sini dengan aman, orang-orang yang menyakiti kalian akan menerima hukuman yang berat." Kemudian beliau mengumumkan: "Barangsiapa menyakiti kaum muslimin, maka akan dihukum berat. Karena itulah, kaum muslimin di negeri itu sangat dimuliakan dan dilayani dengan baik." (Khamis)
Orang-orang musyrik itu kembali ke Mekkah dengan penuh malu dan kesal. Kaum kuffar di Mekkah pun bertambah marah dan memperlihatkan kemarahan mereka atas hal ini. Bersamaan dengan itu, Umar ra. memeluk Islam, sehingga menambah kekesalan mereka terhadap kaum muslimin. Mereka setiap saat berpikir, bagaimana caranya agar orang-orang tidak dapat bertemu dengan kaum muslimin, dan bagaimana caranya menghancurkan Islam. Untuk itu, para tokoh kafir Mekkah segera mengadakan perundingan besar untuk membunuh Muhammad saw. Membunuh Muhammad saw. bukanlah mudah, karena Bani Hasyim adalah kaum yang sangat besar jumlahnya. Mereka termasuk kaum yang terhormat di Mekkah. Walaupun sebagian besar belum masuk Islam, tetapi mereka tidak akan tinggal diam jika Nabi Muhammad saw dibunuh.
Akhirnya, di pertemuan itu diputuskan suatu ketentuan agar memboikot Banu Hasyim dan Banu Muraallib. Orang-orang dilarang bertemu dengan anggota Banu Hasyim dan Banu Muthallib, ataupun sebaliknya. Juga tidak diperbolehkan jual beli, berbicara dengan mereka, bahkan tidak boleh berkunjung ke rumah-rumah mereka. Ketentuan ini akan terus berlaku, selama mereka tidak menyerahkan Muhammad saw. untuk dibunuh. Keputusan tersebut tidak cukup dengan kata-kata saja, mereka membuat perjanjian tertulis pada tanggal satu Muharram tahun ketujuh kenabian. Dan kertas perjanjian itu digantungkan di Baitullah, agar semua orang dapat menghormatinya dan dapat menunaikan isi perjanjian tersebut. Akibat perjanjian itu, keluarga Banu Hasyim dan Banu Muthallib terkepung diantara dua buah gunung yang menghimpit. Tiada seorang pun yang dapat menemui mereka, dan mereka pun tidak dapat menemui siapapun. Mereka tidak dapat membeli sesuatu dari orang Mekkah dan tiada pedagang pun dari luar yang dapat datang ke tempat mereka. Jika ada seseorang dari mereka yang keluar dari daerah tersebut, maka orang itu akan disiksa. Jika ada yang memerlukan sesuatu dari orang lain, maka jawabannya telah jelas, bahwa barang-barang yang biasa pun sulit didapatkan. Mereka menjalani kehidupan dengan kelaparan ~dan penderitaan. Sehingga kaum wanita pun sudah tidak memiliki air susu lagi untuk disusukan kepada bayinya, dan anak-anak mereka menangis menjerit-jerit kelaparan. Anak-anak itu lebih merasa lapar dari-pada kelaparan yang diderita oleh ibu-ibu dan orang tua mereka.
Setelah tiga tahun berlalu, dengan kemurahan Allah, kertas perjanjian itu hancur dimakan rayap. Dengan ini, penderitaan Banu Hasyim dan keluarganya pun berakhir. Tiga tahun mereka diboikot dan ditutup jalur perhubungan serta perdagangannya, dan selama itulah mereka mengalami penderitaan yang sangat berat. Namun, walau demikian berat penderitaan para sahabat ra., mereka tetap berpegang teguh atas agama ini, bahkan terus menyebarkannya.
Pelajaran dari kisah diatas
Penderitaan dan kesusahan *yang demikian berat telah dijalani para sahabat ra.. Sekarang, kita hanya menyandang nama serta mengaku sebagai pengikut mereka. Namun, kita baru memahami bahwa kemajuan kita, dibandingkan dengan keunggulan para sahabat ra., hanyalah seperti melihat mimpi. Yang jelas, kita perlu merenungkan; bagaimana para sahabat ra. dapat berkorban begitu tinggi untuk agama ini? Sedangkan kita? Apa yang telah kita lakukan untuk agama dan untuk kebangkitan Islam? Sesungguhnya, keberhasilan itu senantiasa diperoleh melahii kesungguhan dan usaha.
Kita menginginkan suatu kehidupan yang damai, sedangkan orang-orang kafir semakin giat merusak agama dan dunia kita. Kemajuan Islam tergantung pada diri kita. Lalu, bagaimanakah kita membuktikannya?
Sebuah syair berbunyi,
Aku khawatir tak dapat mencapai Ka 'bah karena jalan yang kutempuh jalan lain yang menuju Turkistan.
© 2013 - RizzStudio
Amalan Rasulullah saw Ketika Terjadi Angin Topan
Aisyah r.ha bercerita , jika terjadi awan gelap, angin topan dan sebagainya, wajah Rasulullah SAW yg penuh nur akan berubah pucat. Karena takut, beliau keluar masjid sambil terus membaca doa :
Allahumma inni as aluka khoyroha wa khoyroma fiyha wakhoyroma ursilat bihi Waauwzubikamin syarriha wasyarrima fiyha wasyarrima ursilatbihi
“ Ya Allah, sesungguhnya Aku memohon kepadaMu kebaikan angin ini dan kebaikan yg berada di dalamnya, dan kebaikan yang dikirim dengannya.”
Jika hujan mulai turun, Wajah Rasulullah Saw mulai cerah. Saya (Aisyah r.ha ) bertanya,’’ Ya Rasulullah, semua orang suka jika melihat awan karena pertanda hujan akan turun, tetapi mengapa engkau seperti ketakutan ?’’ Jawab Nabi saw,’’ Aisyah, bagaimana aku akan tenang jika belum pasti di dalamnya tidak akan turun adzab? Kaum Ad telah di adzab oleh Allah swt dengan keadaan seperti ini. Ketika melihat awan hitam, mereka senang. Mereka menganggap awan itu akan turun hujan. Padahal itu pertanda adzab Allah swt kepada mereka.’’
Allah Swt berfirman disurat Al Ahqaf : 24-25 :
Falamma roawhu aridho mustaqbila awdiyatihim qholuwhaza aridhun mumthiruna bilhuwamas Taqjiltum biiriyhun fiyha azabun aliymin . tudamirrukulla syain biamri robbiha faashbihuw Layuro illa masakinuhum kazaalika najzi qowma mujrimiyn
“Ketika orang2 itu (yaitu kaum ‘Ad) melihat bahwa awan tersebut menuju ke arah lembah-lembah mereka , maka mereka berkata ,’’ Inlah awan yg akan menurunkan hujan keatas kita’ (Allah swt menjawab perkataan mereka ) ‘Bukan, itulah Ancaman yg kamu minta untuk disegerakan ( Karena kalian telah berkata kepada Nabi as,’ Jika kalian memang benar seorang Nabi maka kirimkanlah adzab kepada kami’) Angin yg terdpt di dalam adzab yg sangat pedih. Menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya Sehingga mereka tidak kelihatan, kecuali bekas-bekas rumah-rumah mereka.Demikianlah, kami membalas kaum yg durhaka.’’ ( Al-Ahqaf : 24-25 ).
Pelajaran dari kisah diatas
Demikianlah perasaan takut kepada Allah yang Maha Suci yang telah ditunjukkan oleh Sayyidul Awwalin wal Akhirin Rasulullah Saw. Semua itu dapat diketahui melalui sabda2 beliau Saw. Allah swt berfirman bahwa Allah Swt tidak akan mengadzab suatu kaum selagi Nabi Saw berada di dalamnya. Walaupun Allah swt telah berjanji demikian, Nabi Saw tetap sangat takut kepada Rabbnya.Jika terjadi awan gelap atau angin Topan, beliau teringat kaum-kaum terdahulu yg telah di adzab oleh Allah Swt.
Hendaknya kita juga melihat diri kita yg selalu bergelimang dosa. Tetapi, kita tetap tidak terkesan terhadap gempa dan berbagai adzab lainnya. Bukannya segera menyibukkan diri dengan bertaubat, beristigfar dan shalat, bahkan kita tetap sibuk dengan berbagai jenis kelalaian.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Amalan Anas r.a. Saat Terjadi Angin Topan
Nadhr bin Abdullah r.a. bercerita, “Pada masa hidup Anas r.a., tiba-tiba pernah terjadi hari menjadi gelap. Maka segera aku jumpai Anas dan bertanya kepadanya, “Apakah ini pernah terjadi pada zaman Nabi saw.?” Jawabnya, “Aku berlindung kepada Allah , jika angin terjadi sedikit kencang pada zaman nabi saw., kami segera pergi ke mesjid karena takut akan terjadi Kiamat.” Abu Darda’r.a. juga bercerita, “Jika terjadi angin ribut, Rasulullah saw. akan cemas dan segera pergi ke masjid.”
Pelajaran dari kisah diatas
Dewasa ini, walaupun berbagai musibah besar melanda kita, siapakah yang mengingat masjid? Jangankan masyarakat awam, bahkan para tokoh hanya sedikit yang memperdulikannya. Silahkan menjawab masalah ini dengan merenungkannya di dalam hati kita masing-masing.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Tangisan Rasulullah SAW Sepanjang Malam
Suatu malam Rasulullah saw menangis semalam suntuk. Beliau terus dalam keadaan shalat hingga waktu Shubuh sambil terus menerus membaca Quran surat Al Maidah ayat 118berikut ini :
“Jika Engkau siksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Perkasa lagi Bijaksana”
“Ya Allah, jika Engkau mengazab mereka, maka Engkaulah penentunya, mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan Engkaulah adalah pemiliknya. Sedangkan pemilik berhak menghukum hambanya yang bersalah. Tetapi jika Engkau memaafkan mereka, maka sesungguhnya Engkau pulalah penentunya. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka Engkau pun berkuasa untuk memberi maaf. Engkau pun Maha Bijaksana, maka memaafkan mereka juga sesuai dengan kebijaksanaan-Mu “ (Bayanul Qur’an)
Imam Adham rah.a diriwayatkan pernah pada suatu malam terus menerus membaca ayat :
“Dan berpisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berdosa.” (QS. Yasin 59)
Pelajaran dari kisah diatas
Ayat ini mengandung makna bahwa pada hari kiamat orang-orang yang durhaka diperintahkan untuk berpisah dari orang-orang yang berbakti kepada Allah dan tidak diperbolehkan bergaul dengan para shalihin sebagaimana yang pernah dilakukan mereka ketika di dunia.
Membayangkan peristiwa yang akan terjadi, maka mereka yang bertaqwa sering menangis karena takut dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang ingkar kepada Allah pada hari hisab kelak.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Perasaan Takut Abu Bakar RA Kepada Allah
Sesuai kesepakatan ahli sunnah, Abu Bakar r.a adalah seorang yang paling utama diantara seluruh manusia di dunia ini selain Anbiya a.s. Keyakinannya demikian tinggi, sehingga Rasulullah SAW sendiri telah memberi kabar gembira bahwa ia akan menjadi pemimpin satu jemaah di surga kelak. Semua pintu surga akan memanggil namanya dan menyampaikan kabar gembira kepadanya. Nabi SAW bersabda,”Orang yang paling dahulu masuk surga dikalangan ummatku adalah Abu Bakar r.a.” Walaupun demikian, Abu Bakar r.a justru berkata,”Seandainya aku menjadi sebatang pohon yang akhirnya ditebang.” Ia juga berkata,”Seandainya aku menjadi rumput yang dimakan hewan.” Kadangkala ia berkata,” Seandainya aku hanya menjadi rambut seorang mukmin.” Suatu ketika, ia pernah berada di dalam sebuah taman, sedangkan didekatnya ada seekor hewan yang sedang duduk. Sambil menarik nafas dingin, Abu Bakar r.a berkata,”Wahai, alangkah nikmatnya hidupmu, kamu makan, minum dan berkeliaran dibawah pepohonan, tetapi di akherat tidak ada hisab bagimu. Andaikan Abu Bakar menjadi sepertimu.” (Tharikhul-Khulafa).
Rabi’ah Aslami r.a bercerita,”Suatu ketika, pernah terjadi kesalahpahaman antara aku dengan Abu Bakar. Ia telah berbicara kata kata kasar kepadaku, tetapi aku diamkan saja. Ketika ia menyadari kesalahannya, ia berkata kepadaku,“Ucapkanlah kata kata kasar kepadaku, sehingga menjadi balasan bagiku.“ Namun aku menolaknya. Ia berkata,“Kamu harus mengucapkannya. Jika tidak, akan kuadukan kepada Rasulullah SAW.“ Aku tetap tidak menjawab apapun. Lalu ia bangun dan pergi meninggalkanku. Ketika itu, beberapa orang Banu Aslam yang menyaksikan kejadian tersebut berkata.“Orang ini aneh sekali, ia sendiri yang memulai dan ia sendiri yang mengadukannya kepada Rasulullah SAW.“ Kataku.“Tahukah kamu siapa dia? Dialah Abu Bakar r.a. Jika ia marah, Rasulullah SAW kekasih Allah, tentu ia akan marah kepada ku dan murka beliau adalah murka Allah. Jika demikian, siapakah yang dapat menyelamatkan kehancuran Rabi’ah?“ Lalu aku pergi menemui Nabi SAW dan menceritakan kejadian tersebut. Sabda beliau,“Baik, benar kamu tidak membalas dan tidak menjawabnya, tatapi sebaiknya kamu berkata, : Semoga Allah memaafkanmu wahai Abu Bakar.“
Pelajaran dari kisah diatas
Inilah keteladanan rasa takut kepada Allah. Hanya karena sepotong kalimat yang sepele, Abu Bakar r.a demikian takut akan balasannya di akherat. Ia sangat cemas dan khawatir sehingga ia sendiri yang minta dibalas, lalu mengadukannya kepada Nabi SAW agar Rabi’ah r.a membalas perbuatannya.
Pada hari ini, kita mudah untuk saling mencaci tanpa rasa khawatir sedikitpun akan balasan perbuatan kita kelak di akherat atau hari Hisab.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Perasaan Takut UMAR RA Kepada Allah
Kadangkala Umar r.a memegang sebatang kayu dan berkata, ” Seandainya aku menjadi sebatang kayu ini.” Terkadang ia berkata, ” Seandainya ibuku tidak melahirkanku.” Suatu ketika, saat ia sibuk dengan pekerjaannya, seseorang mendatanginya dan berkata, ” Si fulan telah menzhalimiku. Engkau hendaknya menuntut balas untukku.” Umar r.a. segera mengambil sebatang cambuk dan memukul orang itu sambil berkata, “Ketika kusediakan waktuku untukmu, kamu tidak datang. Sekarang, aku sedang sibuk dengan urusan lain, kamu datang dan memintaku untuk menuntutkan balas.” Orang itu pun pergi. Lalu Umar r.a. menyuruh sesorang untuk memanggil kembali orang tersebut. setelah datang, Umar r.a. memberikan cambuk kepadanya dan berkata, ” Balaslah aku.” Jawab orang itu, ” Aku telah memaafkanmu karena Allah.”
Umar r.a. segera pulang ke rumahnya dan mengerjakan shalat dua rakaat. Lalu ia berbicara kepada dirinya sendiri, “Hai Umar, dahulu kamu rendah, sekarang Allah meninggikan derajatmu. Dahulu kamu sesat, lalu Allah memberimu hidayah. Dahulu kamu hina, lalu Allah memuliakanmu, dan Dia telah menjadikanmu sebagai raja bagi manusia. Sekarang telah datang seorang laki-laki yang mengadukan nasibnya dan berkata, ” Aku telah dizhalimi, balaskanlah untukku, tetapi kamu telah memukulnya. Kelak pada hari Kiamat, apa jawabanmu di hadapan Rabbmu?” Lama sekali Umar menghukumi dirinya sendiri.
Pelayan Umar r.a., Aslam r.a.a, berkata, “Suatu ketika aku bersama Umar pergi ke Harrah (salah satu kota dekat Madinah). Lalu terlihat nyala api di atas gunung. Umar berkata, “Itu mungkin kafilah yang kemalaman yang tidak sampai ke kota, mereka terpaksa menunggu di luar kota. Marilah kita lihat keadaan mereka, bagaimana penjagaan malamnya!” Seibanya di sana, tampak seorang wanita dengan beberapa anak kecil menangis di sekelilingnya. Wanita itu sedang merebus air dalam kuali di atas tungku yang menyala. Umar r.a. memberi salam kepada wanita tersebut dan meminta izin untuk mendekat. Ia berkata, “Mengapa anak-anak ini menangis?” Jawab wanita itu, “Mereka kelaparan.” Umar r.a. bertanya, “Apa yang sedang engkau masak dalam panci itu?” Jawabnya, “Panci ini berisi air, hanya untuk menghibur anak-anak agar mereka senang dengan menyangka aku sedang memasak makanan untuk mereka, sehingga mereka tertidur. Semoga Allah menghukum Amirul-Mukminin Umar yang tak mau tahu kesusuhanku ini.” Umar r.a. menangis dan berkata, “Semoga Allah merahmatimu, tetapi bagaimana mungkin Umar mengetahui keadaanmu?” Jawabnya, “Dia pemimpin kami, tetapi tidak memperhatikan keadaan kami.”
Aslam r.a. melanjutkan ceritanya, “Lalu Umar mengajakku kembali ke Madinah. Ia pun mengeluarkan sekarung gandum, kurma, minyak lemak, dan beberapa helai pakaian, juga beberapa dirham dari Baitul-Mal. Setelah karung penuh, ia berkata kepadaku, “Wahai Aslam, letakkan karung ini di pundakku.” Aku menjawab, “Biarkan aku yang membawanya, ya Amirul-Mukminin.” Sahut Umar r.a., “Tidak, letakkan saja di pundakku.” Dua tiga kali aku menawarkan diri dengan sedikit memaksa. Ia berkata, “Apakah kamu akan memikul dosa-dosaku pada hari Kiamat? Tidak, aku sendiri yang akan meikulnya, dan aku yang bertanggung jawab terhadap hal ini.” Aku pun terpaksa meletakkan karung itu dibahunya. Lalu ia bawa karung itu ke rumah tadi dan aku ikut bersamanya. Setibanya di sana, ia langsung memasukkan tepung dan sedikit lemak, ditambah kurma lalu diaduk, dan ia sendiri yang menyalakan tungkunya.”
Aslam bercerita, “Kulihat asap mengenai janggutnya yang lebat, ia memasak sampai matang. Lalu, ia sendiri yang menghidangkan makanan itu dengan tangannya yang penuh berkah kepada keluarga itu. Selesai makan, anak-anak itu bermain denagn riangnya. Wanita itu pun sangat senang, ia berkata “Semoga Allah memberimu balasan yang baik, seharusnya engkau lebih berhak menjadi khalifah dari pada Umar.” Untuk menyenangkan hati ibu tadi, Umar r.a. berkata, “Jika engaku menjumpai khalifah, engkau akan menjumpaiku di sana.” Kemudian Umar r.a. meletakkan kedua tangannya di bawah dan duduk di atas tanah. Beberapa saat kemudian ia meninggalkan mereka. Umar r.a. berkata kepada Aslam r.a., “Aku tadi duduk di situ karena aku telah melihat mereka menangis, dan hatiku ingin duduk sebentar menyaksikan mereka tertawa.” (Asyharu Masyahir).
Dalam shalat -shalat Subuhnya, Umar r.a. selalu membaca surat-surat Al-Qur’an yang panjang. Kadangkala ia membaca surat Al-Kahfi, Thaha, dan surat lainnya sambil menangis terisak-isak, sehingga suara tangisnya terdengar hingga beberapa shaf ke belakang. Suatu ketika, Umar r.a. membaca surat Yusuf dalam Shubuhnya. Ketika sampai di ayat:
yang artinya : “Ya’qub menjawab, “Sesungguhya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Yusuf : 86)
Ia menangis terisak-isak sampai tidak terdengar suaranya. Terkadang ia terus membaca Al-Qur’an sambil menangis di dalam shalat Tahajjudnya hingga terjatuh dan sakit.
Pelajaran dari kisah diatas
Inilah keteladanan rasa takut seseorang kepada Allah, yang namanya sangat ditakuti oleh raja-raja. Setelah 1300 tahun yang lalu, adakah hari ini seorang raja, pejabat, atau pemimpin biasa yang memiliki tanggung jawab dan kasih sayang terhadap rakyatnya sedemikian rupa seperti umar r.a.?
© 2013 - RizzStudio
Kisah IBNU ABBAS RA Memberi Nasehat
Wahab bin Munabbih rah.a. Bercerita, "pada masa tuanya, Abdullah bin Abbas r.huma matanya buta. Aku pernah membawanya ke Masjidil-Haram. Setibanya disana, terdengar suara orang bertengkar. Ia berkata kepadaku, "bawa aku kesitu." kubawa ia ke perkumpulan itu. Ia langsung memberi salam dan mereka mempersilahkan duduk, namun ia menolak. Ia berkata, "kalian tidak mengetahui bahwa hamba-hamba Allah yang istimewa ialah mereka yang rasa takutnya kepada Allah mendiamkan mereka. Padahal ia tidak udzur atau bisu, bahkan ia fasih dan pandai berbicara, tetapi karena sibuk mengingat keagungan Allah, menjadikan akal mereka dan hati mereka dibiarkan hancur, dan lisan mereka dibiarkan bisu. Jika mereka terus dalam keadaan seperti itu, mereka segera beramal shalih. Lalu mengapa kalian lari dari teladan tersebut?" Wahab bin Munabbih rah.a. Berkata, "Setelah kejadian tersebut, aku tidak pernah lagi melihat dua orang berkumpul di suatu tempat."
Karena ketinggian rasa takut Ibnu Abbas r.huma kepada Allah swt., dan karena ia sering menangis, terbentuklah dua aliran air mata di wajahnya. Dan dalam kisah di atas, Abdullah bin Abbas r.huma telah memberikan suatu cara yang mudah untuk beramal shalih, yaitu dengan mengingat kebesaran dan keagungan Allah swt. Tentu akan memudahkan kita beramal shalih dengan keiklasan hati. Apa sulitnya jika kita mencoba meluangkan sebagian kecil waktu kita dalam 24 jam sehari semalam untuk memikirkannya?
© 2013 - RizzStudio
Kisah KAAB BIN MALIK RA Bertaubat Karena Tidak Ikut Perang Tabuk
Diriwayatkan dari Ibnu Syihab, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat ke perang Tabuk untuk menghadapi orang-orang Romawi dan orang-orang Nashrani Arab di Syam.”
Ibnu Syihab melanjutkan, Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’ab bin Malik mengabarkan kepadaku, bahwa Abdullah bin Ka’ab adalah salah satu putra Ka’ab yang menuntunnya ketika ia mengalami kebutaan di masa tua, ia mengatakan, “Aku pernah mendengar Ka’ab bin Malik Radhiyallahu Anhu memberitahukan hadits yang diriwayatkan ketika ia tidak ikut serta bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam perang tabuk.” Ka’ab bin Malik bercerita, “Aku tidak pernah sama sekali tertinggal untuk menyertai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam perang yang beliau pimpin kecuali perang Tabuk. Namun aku juga pernah tidak ikut serta dalam perang Badar, akan tetapi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mencela seorang muslim yang tidak turut dalam perang Badar. Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kaum muslimin (dalam perang Badar) tujuan awalnya hanyalah ingin menyerang rombongan kafilah dagang beberapa orang dari Quraisy, sehingga Allah mempertemukan kaum muslimin dengan musuh mereka tanpa waktu ya ngtelah disepakati sebelumnya. Saat itu aku turut bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada malam perjanjian Aqabah ketika kami berjanji membela Islam. Bagiku, turut serta dalam perang Badar tidak sebanding dengan turut dalam malam perjanjian Aqabah, meskipun perang Badar lebih populer bagi kebanyakan orang. Di antara kisah ketika aku tidak turut bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam perang Tabuk adalah sebagai berikut,
“Aku benar-benar tidak berdaya dan tidak ada orang yang lebih banyak mempunyai keluasan daripada aku ketika tidak turut dalam perang Tabuk tersebut. Demi Allah, sebelumnya aku tidak pernah sama sekali menyiapkan dua ekor hewan tunggangan di pelbagai peperangan, namun pada perang Tabuk tersebut aku menyiapkan dua ekor hewan tunggangan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat ke lokasi perang Tabuk pada cuaca yang sangat panas, beliau menempuh perjalanan yang sangat jauh dan penuh resiko serta menghadapi musuh dalam jumlah besar. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan kepada kaum muslimin apa yang akan mereka hadapi bersama beliau. Oleh karena itu, beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh mereka untuk mempersiapkan perbekalan perang yang cukup. Pada saat itu, kaum muslimin yang menyertai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam banyak sekali tanpa ditunjuk melalui surat tugas untuk berperang.”
Ka’ab melanjutkan, “Ada seorang laki-laki yang tidak muncul karena tidak ingin turut berperang. Dia mendunga bahwa tindakannya yang tidak ikut serta tersebut tidak akan diketahui oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selama tidak ada wahyu yang turun dari Allah Azza wa Jalla mengenai dirinya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat ke perang Tabuk ketika hasil panen buah sangat memuaskan, sehingga aku memalingkan perhatian kepada hasil panen. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kaum muslimin yang menyertai beliau sudah bersiap-siap, dan aku pun segera pergi mencari perbekalan bersama mereka, namun aku pulang tanpa memperoleh perbekalan sama sekali. Aku berkata dalam hati, “Aku sebenarnya bisa memperoleh perbekalan jika aku mau, aku selalu dalam teka-teki antara ya dan tidak sedangkan yang lainnya semakin siap.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat bersama pasukan kaum muslimin, sementara aku belum mempersiapkan perbekalan sama sekali, lalu aku pergi kemudian pulang tanpa mempersiapkan sesuatu. Aku senantiasa dalam kebimbangan seperti itu antara turut berperang atau tidak, sehingga pasukan kaum muslimin sudah bergegas dan perang pun telah berkecamuk. Lalu aku ingin menyusul mereka ke medan perang –duhai kiranya aku benar-benar melakukannya- dan akhirnya aku ditakdirkan untuk tidak ikut serta dalam medan tempur. Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pergi ke perang Tabuk, maka mulailah rasa sedih menyelimuti diriku. Pada saat keluar ke tengah-tengah masyarakat sekitar, aku menyadari bahwa tidak ada yang dapat aku temui selain orang-orang dicap bergelimang dalam kemunafikan atau aku termasuk orang yang lemah yang diberi udzur oleh Allah Azza wa Jalla.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mengingat diriku hingga beliau sampai di Tabuk. Ketika beliau sedang duduk di tengah para shahabat di Tabuk, beliau bertanya, “Mengapa Ka’ab bin Malik tidak turut berperang?” Seorang laki-laki dari Bani Salimah menjawab, “Wahai Rasulullah, Ka’ab bin Malik disibukkan oleh pakaiannya dan lebih mementingkan urusan pribadinya dari pada perjuangan ini.” Mendengar ucapan shahabat itu Mu’adz bin Jabal berkata, “Ucapanmu ini sungguh jelek wahai shahabat, demi Allah, wahai Rasulullah, kami tahu bahwa Ka’ab bin Malik adalah orang yang baik.” Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diam. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terdiam seperti itu tiba-tiba beliau melihat seorang laki-laki yang memakai pakaian putih dan hitam yang bergerak-gerak, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Kamu pasti Abu Khaitsamah.” Ternyata dia memang Abu Khaitsamah Al-Anshari, seorang shahabat yang pernah menyedekahkan satu sha’ kurma ketika ia dicaci maki oleh orang-orang munafik.
Ka’ab bin Malik melanjutkan ceritanya, “Ketika aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersiap-siap kembali dari Tabuk, aku diliputi kesedihan, lalu aku mulai menggagas alasan untuk berdusta, aku berkata dalam hatiku, “Alasan apa yang besok bisa menyelamatkanku dari amarah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?” Untuk menghadapi itu aku berniat untuk meminta bantuan kepada keluargaku yang bisa memberi jalan keluar. Ketika ada seseorang memberitakan kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah hampir tiba di kota Madinah, maka semua keinginan untuk berdusta telah hilang dari benakku. Akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak akan pernah dapat berbohong sedikitpun kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, oleh karena itu aku harus berkata jujur kepada beliau.
Akhirnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sampai di Madinah pada pagi hari. Seperti biasa, beliau langsung menuju masjid sebagaimana kebiasaan beliau setiap kali tiba dari bepergian ke suatu daerah. Lalu beliau melaksanakan shalat sunnah dua raka’at, setelah itu beliau duduk bercengkerama bersama para shahabat. Beberapa saat kemudian, beliau didatangi oleh orang-orang yang tidak turut berperang. Mereka segera menyampaikan alasan kepada beliau dengan bersumpah. Diperkirakan mereka yang tidak ikut bertempur itu berjumlah 80 orang lebih. Ternyata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menerima alasan mereka yang tidak ikut berperang, membai’at mereka, memohonkan ampunan untuk mereka dan menyerahkan apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka kepada Allah Ta’ala. Tak setelah itu, aku pun datang menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Setelah mengucapkan salam, beliau tersenyum seperti senyuman orang yang marah, kemudian beliau mengatakan, “Kemarilah!” Lalu aku berjalan mendekat, sehingga aku duduk tepat di hadapan beliau. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya, “Mengapa kamu tidak turut berperang? Tidakkah kamu telah berjanji untuk menyerahkan jiwa ragamu demi Islam?” Aku menjawab, “Ya Rasulullah, demi Allah, seandainya aku duduk di sisi orang selain engkau, aku yakin bahwa aku terbebaskan dari kemurkaannya dengan alasan dan argumentasi yang aku sampaikan. Tetapi, demi Allah, aku tahu bahwa jika sekarang ini aku menyampaikan kepadamu alasan yang dusta agar membuatmu tidak memarahiku, tentu dengan cepat Allah yang membuatmu marah kepadaku. Jika aku berkata benar dan jujur kepadamu yang dengan kejujuran itu engkau akan memarahiku, maka aku pun menerimanya dengan senang hati. Biarkanlah Allah memberiku hukuman dengan ucapanku yang jujur itu. Demi Allah, sungguh tidak ada udzur yang membuatku tidak turut berperang. Demi Allah, aku tidak pernah berdaya sama sekali ketika itu meskipun punya waktu yang sangat longgar sekali, namun aku tidak turut berperang bersamamu.” Mendengar pengakuan tulsu itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang ini telah berkata jujur, berdirilah sampai Allah memberikan keputusan tentangmu.” Akhirnya aku pun berdiri dan beranjak dari sisi beliau. Lalu beberapa orang Bani Salimah beramai-ramai mengikutiku. Mereka berkata kepadaku, “Demi Allah, kami tidak pernah mengetahui kamu berbuat dosa sebelum ini, Kamu benar-benar tidak mampu engkau mengemukakan alasan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagaimana alasan yang disampaikan oleh orang-orang yang tidak turut berperang itu, sungguh istighfar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untukmu yang akan menghapus dosamu.”
Ka’ab bin Malik berkata, “Demi Allah, mereka tidak berhenti mencercaku sampai-sampai aku ingin kembali lagi kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu aku dustakan diriku.” Selanjutnya aku bertanya kepada mereka, “Apakah ada orang lain yang menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seperti aku?” Mereka menjawab, “Ya, ada dua orang lain seperti dirimu. Kedua orang itu mengatakan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seperti apa yang kamu katakan, dan dijawab oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seperti apa yang jawaban beliau kepadamu.” Aku bertanya, “Siapa dua orang itu?” Mereka menjawab, “Murarah bin Rabi’ah Al-Amiri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi. ” Mereka menyebutkan dua orang shalih yang pernah ikut serta dalam perang Badar, dan mereka bisa menjadi teladan. Aku pun berlalu ketika mereka menyebutkan dua orang tersebut kepadaku.
Tak dinayana, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga yang tidak turut dalam perang Tabuk. Kaum muslimin manjauhi kami dan berubah sikap kepada kami bertiga sehingga bumi ini terasa asing bagi kami. Sepertinya bumi ini bukan bumi yang kami kenal sebelumnya, itu berlangsung selama 50 malam. Dua orang temanku yang tidak turut dalam perang Tabuk itu duduk bersedih di rumah mereka sambil terus menangis, sedangkan aku masih muda tetap tegar. Aku tetap beraktifitas seperti sedia kala, aku tetap berani keluar dari rumah, menghadiri shalat berjama’ah dan berjalan-jalan di pasar meskipun tak seorang pun yang mau berbicara denganku. Hingga suatu ketika aku menghampiri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu aku ucapkan salam kepada beliau ketika beliau berada di tempat duduknya seusai shalat. Aku bertanya-tanya dalam hati, “Apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak?” Kemudian aku shalat di dekat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan mencuri pandang kepada beliau. Ketika aku sudah bersiap hendak shalat, beliau memandangku dan ketika aku menoleh kepada beliau, beliau mengalihkan pandangannya dariku.
Setelah terisolir dari pergaulan kaum muslimin, aku berjalan-jalan sehingga sampai di pagar kebun Abu Qatadah, dia adalah sepupuku dan dia merupakan orang yang paling aku senangi. Aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah, dia tidak menjawab salamku. Lalu aku tanyakan kepadanya, “Hai Abu Qatadah, aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apakah kamu mengetahui bahwa aku sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya?” Ternyata Abu Qatadah diam saja. Lalu aku ulangi lagi dengan bersumpah seperti itu, tetapi dia tetap diam. Kemudian aku ulangi sekali lagi, lalu dia menjawab, “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui hal itu.” Mendengar ucapannya itu, berlinanglah air mataku dan aku pun kembali ke rumah sambil menyusuri pagar kebun tersebut.
Pada hari lain, ketika aku berjalan di pasar Madinah, ada seorang dari negeri Syam yang berjualan makanan di kota Madinah bertanya, “Siapakah yang sudi menunjukkan di mana Ka’ab bin Malik?’ Maka orang-orang pun menunjukkannya kepadaku. Lalu dia datang kepadaku sambil menyerahkan sepucuk surat untukku dari raja Ghassan. Karena saya bisa menulis dan membaca, maka aku bisa memahami surat itu, ternyata isinya sebagai berikut,
“Kami mendengar bahwa temanmu (yakni Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) mengucilkanmu dari pergaulan umum, sedangkan Allah tidak menyia-nyiakanmu, karena itu bergabunglah dengan kami, kami akan menolongmu.”
Selesai membaca surat itu aku pun berkata, “Surat ini juga merupakan bencana bagiku.” Lalu aku memasukkannya ke pembakaran dan membakarnya hingga musnah.” Setelah berlalu 40 hari dari 50 hari masa pengucilanku dan wahyu pun tidak turun, tiba-tiba utusan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatangiku untuk menyampaikan pesan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar kamu menjauhi istrimu.” Aku bertanya, “Aku harus menceraikannya atau bagaimana?” Dia menjawab, “Tidak, tapi jauhi dia dan janganlah kamu mendekatinya.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga mengutus orang kepada dua orang temanku yang tidak ikut serta dalam perang Tabuk dengan pesan seperti yang disampaikan kepadaku. Aku katakan kepada isteriku, “Pulanglah ke keluargamu dan tinggallah bersama mereka sampai Allah memberi keputusan dalam masalah ini.”
Setelah itu, istri Hilal bin Umayyah mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah, Hilal bin Umayyah sudah tua, lemah dan tidak memiliki pembantu, apa engkau juga tidak suka kalau aku yang merawatnya?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Tidak, dengan syarat jangan sampai dia mendekatimu.” Perempuan itu berkata lagi, “Demi Allah, dia sudah tidak berhasrat sama sekali, dan demi Allah dia tidak putus menangis semenjak dia mendapatkan ujian tersebut sampai hari ini.”
Ka’ab bin Malik berkata, “Salah seorang keluargaku memberi saran, “Sebaiknya kamu meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam persoalan istrimu; sebab Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberi izin kepada istri Hilal bin Umayyah untuk merawat suaminya.” Aku berkata, “Aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam perihal istriku, aku tidak tahu bagaimana jawaban Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika aku minta izin kepada beliau tentang istriku; karena aku masih muda.” Hal itu berlangsung sepuluh malam, sehingga genaplah 50 malam bagi kami, terhitung sejak kaum muslimin dilarang berbicara dengan kami. Kemudian aku melakukan shalat subuh pada pagi hari setelah melewati malam yang ke-50 di bagian belakang rumahku. Ketika aku sedang duduk dalam keadaan seperti yang Allah sebutkan tentang kami, yaitu diriku diliputi kesedihan yang sangat serta bumi yang luas ini terasa sempit bagiku. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak dengan suara keras yang menembus cakrawala, “Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!” Lalu aku sujud dan aku tahu bahwa aku telah bebas dari persoalan ini.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengumumkan kepada kaum muslimin seusai shalat shubuh, bahwa Allah telah menerima taubat kami. Orang-orang pun segera memberitahu kami dan mendatangi dua orang temanku untuk memberitahu mereka berdua. Orang-orang dari Bani Aslam datang kepadaku dengan berkuda dan berjalan kaki menyusuri gunung, dan suara mereka lebih cepat daripada suara kuda mereka. Ketika orang yang telah aku dengar suaranya memberi kabar gembira datang, maka aku melepaskan pakaian luarku, lalu aku pakaikan kepadanya sebagai balasan kabar gembiranya kepadaku. Demi Allah, pada saat itu yang aku milikinya hanyalah dua pakaian tersebut. Kemudian aku meminjam dua pakaian, lalu aku pakai. Setelah itu aku menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sementara orang-orang berduyun-duyun menemuiku untuk mengucapkan selamat atas terkabulnya taubatku. Lalu aku masuk ke mesjid. Ketika itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk di tengah orang banyak. Thalhah bin Ubaidullah berdiri dan berjalan cepat mendekatiku, lalu menjabat tanganku dan mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak ada orang-orang muhajirin yang berdiri selain Thalhah.
Periwayat hadits mengatakan “Ka’ab tidak pernah melupakan penyambutan Thalhah tersebut.”
Ka’ab berkata, “Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang ketika itu wajah beliau berseri-seri, beliau mengatakan, “Bergembiralah, karena kamu mendapati sebaik-baik hari yang telah kamu lalui semenjak kamu dilahirkan oleh ibumu.” Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan untukku ini darimu ataukah dari Allah?” Beliau menjawab, “Dari Allah.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau merasa senang, maka wajah beliau bersinar bagai bulan purnama, kami pun sudah memahami hal itu.
Ketika duduk di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, aku berkata, “Wahai Rasulullah, di antara bentuk taubatku adalah aku serahkan hartaku sebagai sedekah untuk Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Sisakan sebagian hartamu, yang demikian itu lebih baik bagimu.” Lalu aku katakan, “Aku sisakan hartaku yang menjadi bagianku pada perang Khaibar. Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku hanyalah karena kejujuranku, dan di antara bentuk taubatku adalah aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur pada sisa umurku.”
Ka’ab mengatkaan, “Demi Allah, aku tidak mengetahui bahwa seorang muslim diuji oleh Allah karena kejujuran bicaranya sejak aku tuturkan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sampai sekarang ini, yang lebih baik daripada apa yang telah diujikan oleh Allah Azza wa Jalla kepadaku. Demi Allah, aku tidak lagi ingin berbohong semenjak aku katakan itu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sampai sekarang ini, dan aku berharap semoga Allah menjagaku dari kedustaan dalam sisa umurku.
Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Sungguh, Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka. Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang. Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 117-119).
Ka’ab mengatakan, “Demi Allah, tidak ada nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepadaku setelah Allah menunjukkanku kepada Islam yang aku anggap lebih besar daripada kejujuranku kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seandainya aku berdusta, maka aku akan celaka sebagaimana orang-orang yang berdusta. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyebutkan kejelekan orang-orang yang berdusta ketika Allah menurunkan ayat, “Mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, ketika kamu kembali kepada mereka, agar kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu berjiwa kotor dan tempat mereka neraka Jahanam, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu bersedia menerima mereka. Tetapi sekalipun kamu menerima mereka, Allah tidak akan ridha kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 95-96).
Ka’ab berkata kepada kedua orang temannya, “Kita bertiga adalah orang-orang yang tertinggal dari kelompok yang telah diterima oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika mereka bersumpah, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membai’at mereka dan memohonkan ampunan untuk mereka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menangguhkan persoalan kita sampai ada keputusan dari Allah Azza wa Jalla tentang persoalan kita; maka dalam hal tersebut Allah Ta’ala berfirman, “Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas…” (At-Taubah: 118). Apa yang difirmankan Allah dalam ayat itu bukanlah tentang sikap kita yang tidak ikut serta dalam perang, melainkan tentang tertinggalnya kita untuk menyampaikan alasan kita dari kelompok orang-orang yang bersumpah dan memberikan alasan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau pun menerima alasan mereka.”
HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’i.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Rasulullah SAW Mengingatkan Sahabat Dengan Alam Kubur
Suatu ketika, Nabi Saw.datang untuk shalat. Lalu beliau melihat sekumpulan Sahabat r.hum sedang tertawa-tawa sampai gigi mereka terlihat jelas. Nabi Saw. bersabda, "Apabila kalian banyak mengingat maut, kalian tidak akan seperti yang kulihat saat ini. Perbanyaklah mengingat maut. Di kubur tiada seharipun terlewati kecuali kubur akan berkata, 'aku rumah yang tidak mengenal persahabatan, aku rumah kesendirian, aku rumah penuh dengan tanah, aku rumah ulat-ulat.' Apabila seorang mukmin diletakan didalam kubur, kubur kan berkata, 'Selamat datang. Bagus engkau datang, diantara orang yang tinggal diatas bumi ini, Engkaulah yang paling kusukai. Sekarang telah tiba, maka aku akan berbuat yang terbaik untukmu.' Lalu kubur akan melebar seluas pandangan mayit, dan akan dibukakan baginya salah satu pintu surga, sehingga berhembus angin surga kepadanya, dan akan tercium harumnya surga.
Dan jika seseorang yang berakhlak buruk dimasukkan ke kubur, kubur berkata, 'Tiada ucapan selamat datang bagimu. Sangat buruk kedatanganmu ini. Dari semua orang yang berada diatas bmi ini, kamulah yang paling kubenci. Sekarang kamu datang kepadaku. Maka lihatlah bagaimana aku memperlakukan dirimu.' Kemudian kubur akan merapat dan terus menghimpitnya, sehingga tulang rusuk saling menikam. Lalu datanglah tujuh puluh ekor ular untuk menyiksanya. Jika satu saja dari bisa itu menetes kebumi, tidak sehelai rumputpun yang dapat tumbuh diatasnya. Ular-ular itu terus mematuknya sampai hari kiamat." Sabda Nabi Saw, "Kubur adalah taman dari taman-taman surga, atau jurang dari jurang-jurang neraka."
Pelajaran dari kisah diatas
Takwa kepada Allah SWT. adalah bekal yang terpenting. Sehingga Nabi Saw. selalu memikirkan dan merenungkannya. Selain itu mengingat maut sangat bermanfaat, sehingga Nabi Saw. saat menerangkan keadaan kubur, beliau bersabda bahwa mengingat kubur itu sangat penting dan bermanfaat.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Penolakan Rasulullah SAW Terhadap Gunung Emas
Rasulullah saw. bersabda,"Tuhanku telah menawarkan kepadaku untuk mengubah bukit-bukit di Makkah menjadi emas. Tetapi aku menadahkan tangan kepada-Nya, sambil berkata, "Ya Allah, saya lebih suka sehari kenyang dan lapar pada hari berikutnya agar saya dapat mengingat-Mu apabila kenyang." (HR. Tirmidzi)
Pelajaran dari kisah diatas
Inilah kehidupan dari jiwa yang suci, yang namanya sering kita sebut, dan kita juga bangga menjadi umatnya. Oleh karena itu, kita harus menjadikan beliau sebagai ittiba' bagi kehidupan kita.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Peringatan Rasulullah SAW Kepada UMAR RA
Suatu ketika Nabi saw. telah bersumpah akan berpisah dengan istri-istrinya selama satu bulan sebagai peringatan bagi mereka. Selama sebulan beliau tinggal seoang diri dalam sebuah kamar yang sederhana yang letaknya agak tinggi. Terdengar kabar dikalangan para sahabat bahwa Nabi saw. telah meneceraikan semua istrinya. Ketika Umar bin Khaththab r.a. mendengar kabar ini, ia segera berlari ke mesjid. Setibanya disana, dia melihat para sahabat sedang duduk termenung, mereka bersedih dan menangis. Juga kaum wanita menangis di rumah-rumah mereka. Kemudian Umar r.a. pergi menemui putrinya, Hafshah r.a. yang telah dinikahi oleh Nabi saw.
Umar r.a. mendapati Hafshah r.a. sedang menangis dalam kamarnya. Umar r.a. bertanya, ”Mengapa engkau menangis? Bukankah selama ini saya telah melarangmu melakukan sesuatu yang dapat menyinggung perasaan Nabi?”
Kemudian dia kembali ke mesjid, terlihat olehnya beberapa orang sahabat sedang menangis di dekat mimbar. Kemudian ia duduk bersama para sahabat beberapa saat, lalu berjalan kearah kamar Nabi saw. yang terletak ditingkat atas mesjid. Dia mendapati Rabah r.a. seorang hamba sahaya sedang duduk di tangga kamar itu. Melalui Rabah r.a. dia minta ijin untuk menemui Nabi saw. Rabah r.a. pergi menjmpai Nabi saw. kemudian kembali dan memberitahukan bahwa dia telah menyampaikan keinginannya, namun Rasulullah saw. hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya. Permntaannya untuk menjumpai Nabi saw. diulang beberapa kali, hingga yang ketiga kalinya barulah Nabi saw. mengizinkan naik. Ketika Umar r.a. masuk, dia menjumpai Nabi saw. sedang berbaring diatas sehelai tikar yang terbuat dari pelepah daun kurma, sehingga di badan Nabi saw. yang putih bersih dan indah itu terlihat bekas-bekas daun kurma. Di tempat kepala beliau ada sebuah bantal yang dibuat dari kulit binatang yang dipenuhi oleh daun dan kulit pohon kurma.
Umar r.a. bercerita, “Saya mengucapkan salam kepada beliau kemudian bertanya, “Apakah engkau telah menceraikan istri-istri engkau?”. Nabi saw. menjawab, “Tidak.”
Saya merasa sedikit lega. Sambil bercanda saya mengatakan,”Ya Rasulullah, kita adalah kaum Quraisy yang selamanya telah menguasai wanita-wanita kita. Tetapi setelah kita hijrah ke Madinah, keadaan sungguh berbeda dengan orang-orang Anshar, mereka dikuasai oleh wanita-wanita mereka sehingga wanita-wanita kita terpengaruh oleh kebiasaan mereka.”
Nabi saw. tersenyum mendengar perkataan saya. Saya memperhatikan keadaan kemar Nabi saw., terllihat tiga lembar kulit binatang yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut kamar itu, selain itu tidak terdapat apapun, saya menangis melihat keadaan itu.
Rasulullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?’
Saya menjawab, “Bagaimana saya tidak menangis, ya Rasulullah. Saya sedih melihat tanda tikar yang engkau tiduri di badan engkau yang mulia dan saya prihatin melihat keadaan kamar ini. Semoga Allah mengaruniakan kepada tuan bekal yang lebih banyak. Orang-orang Persia dan Romawi yang tidak beragama dan tidak menyembah Allah, tetapi raja mereka hidup mewah. Mereka hidup dikelilingi taman yang ditengahnya mengalir sungai, sedangkan engkau adalah pesuruh Allah, tetapi engkau hidup dalam keadaan miskin.”
Ketka saya berkata demikian, Rasulullah sedang bersandar di bantalnya, beliau bangun lalu berkata,”Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu mengenai hal ini. Dengarlah, kehidupan di alam akhirat, tentu akan lebih baik daripada kesenangan hidup dan kemewahan di dunia ini. Jika orang-orang kafir itu dapat hidup mewah di dunia ini, kitapun akan memperoleh segala kenikmatan itu di akhirat nanti. Di sana kita akan mendapatkan segala-galanya.”
Mendengar sabda Nabi saw. itu saya menyesal, lalu berkata,”Ya Rasulullah, memohon ampunlah kepada Allah untuk saya. Saya telah bersalah dalam hal ini.”
Pelajaran dari kisah diatas
Rasulullah saw. adalah pemimpin agama dan dunia, sekaligus kekasih Allah Swt., namun beliau tidur di atas sehelai tikar yang tidak dilapisi apapun, sehingga menimbulkan goresan bekas tikar itu di badan beliau yang putih. Kita dapat mengetahui bagaimana keadaan ekonomi Rasulullah saw. ketika Umar r.a. mengajurkan beliau agar berdoa kepada Allah supaya diberi harta, beliau malah memperingatkannya.
Seseorang bertanya kepada Aisyah r.a. mengenai tempat tidur Rasulullah saw. Aisyah r.a. menjawab, “Bantalnya itu tebuat dari kulit binatang yang diisi dengan kulit pohon kurma.”
Pertanyaan yang sama dikemukakan kepada Hafshah r.a. Dia menjawab, “ Tikarnya terbuat dari sehelai kain yang dilipat dua. Pada suatu hari untuk memberi kenyamanan kepada Nabi saw., saya telah menghamparkan kain itu berlipat empat. Keesokan harinya Nabi saw. bertanya, “Apakah yang telah engkau hamparkan tadi malam sehingga terasa lebih empuk?” Saya menjawab,” Kain yang sama, tetapi saya melipatnya empat lipatan.” Beliau saw. bersabda,”Lipatlah seperti semula, kenyamanan seperti tadi malam akan menghalangi shalat tahajjudku.”(Syamail Tirmidzi)
Keadaan kita saat ini selalu ingin tidur nyaman diatas kasur yang empuk. Lihatlah Rasulullah saw. padahal Allah Swt. pernah menawarkan harta kekayaan yang banyak kepada beliau, namun beliau menolaknya. Beliau tidak mengeluh sedikitpun.
© 2013 - RizzStudio
Kisah ABU HURAIRAH RA Pada Masa Kelaparan
Suatu ketika, Abu Hurairah r.a. membersihkan hidungnya dengan sehelai sapu tangan yang bagus. Kemudian ia berkata seorang diri, “Ah, lihatlah Abu Hurairah! Sekarang ia membersihkan hidungnya dengan sapu tangan yang bagus. Padahal saya masih ingat keadaan saya dahulu, ketika saya jatuh pingsan dianara mimbar dan rumah Nabi saw. Orang-orang menyangka saya menderita penyakt gila, sehingga mereka memijat-mijat kaki saya. Padahal saya tidak menderita penyakit gila, tetapi sebenarnya saya sedang menderita kelaparan.”
Pelajaran dari kisah diatas
Karena tidak makan selama beberapa hari, Abu Hurairah r.a. sering mengalami kelaparan yang luar biasa berhari-hari lamanya. Bahkan terkadang ia jatuh pingsan karena laparnya. Orang-orang menyangka dia terkena penyakit gila. Pada masa itu penderita penyakit gila diobati dengan diinjak kaki dan kepalanya. Penderitaan Abu Hurairah ini terjadi ketika Islam mulai tersebar di jazirah Arab. Setelah zaman Rasulullah saw., Islam telah menaklukkan banyak wilayah, maka keadaan hidupnya sedikit membaik. Abu Hurairah r.a. adalah seorang ahli ibadah dan rajin menunaikan shalat-shalat sunnat. Dia mempunya kantung yang terbuat dari kain yang diisi dengan biji-biji kurma sebagai alat untuk menghitung dzikir dengan cara mengeluarkan biji kurma tersebut satu per satu. Jika biji-biji dalam kantung tersebut habis, maka ia akan mengisi kantung itu lagi dan mulai berdzikir dari awal. Sudah menjadi amalan istiqomah, Abu Hurairah, istrinya dan pelayannya, yaitu membagi malam menjadi tiga bagian. Mereka beramal setiap malam dengan tiga giliran, sehingga setiap malam selalu penuh dengan amal ibadah. (Tadzkiratul Huffazh)
Saya (Muhammad Zakariyya) mendengar dari orangtua saya, bahwa kebiasaan kakek saya juga kurang lebih seperti itu. Pada malam hari hingga pukul 01.00 dini hari, ayah saya menyibukkan diri dengan muthala’ah kitab. Pukul 01.00 kakek saya bangun untuk shalat Tahajjud dan menyuruh ayah saya tidur. Setelah menyibukkan diri dengan shalat Tahajjud, 45 menit sebelum adzan Shubuh, dia membangunkan bibi saya untuk shalat Tahajjud, setelah itu dia sendiri tidur karena ini adalah sunnah
© 2013 - RizzStudio
Kisah ABU HURAIRAH RA Dan Setan Pencuri Zakat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan kepadaku menjaga harta zakat pada bulan Ramadhan. Ternyata ada seseorang datang dan mengambil sebagian makanan, lalu saya menangkapnya. Saya berkata kepadanya, ‘Sungguh, saya akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dia berkata, ‘Sungguh, saya orang yang membutuhkan. Saya mempunyai keluarga dan saya mempunyai kebutuhan yang mendesak.’ Lantas saya melepasnya.
Pagi harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Abu Hurairah! Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhannya dan keluarganya, maka saya kasihan padanya dan saya melepasnya.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ingatlah! Sesungguhnya dia berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.’ Saya yakin bahwa dia akan kembali lagi berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makanya, saya mengintainya.
Ternyata dia datang dan mengambil sebagian makanan, lantas saya berkata kepadanya, ‘Sungguh, saya akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dia berkata, ‘Biarkanlah aku. Sungguh, saya orang yang membutuhkan. Saya mempunyai keluarga. Saya tidak akan mengulangi lagi.’ Saya pun iba kepadanya. Lantas saya melepasnya. Di pagi hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, ‘Wahai Abu Hurairah! Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhannya dan keluarganya, maka saya iba kepadanya dan saya melepasnya.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya dia berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.’ Saya pun mengintainya untuk kali ketiga.
Ternyata dia datang dan mengambil sebagian makanan, lalu saya menangkapnya dan saya berkata, ‘Sungguh, saya akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini yang terakhir –sebanyak tiga kali- kamu telah mengatakan bahwa kamu tidak akan mengulangi lagi, ternyata kamu mengulangi lagi.’ Lalu dia berkata, ‘Biarkanlah aku. Sungguh, aku akan mengajarimu beberapa kalimat, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi manfaat kepadamu berkat kalimat-kalimat tersebut.’ Saya bertanya, ‘Apa kalimat-kalimat tersebut?’ Dia berkata, ‘Apabila kamu telah berbaring di tempat tidur, bacalah ayat kursi, niscaya engkau senantiasa mendapat perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.’
Selanjutnya saya melepasnya. Pagi harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku. ‘Apa yang telah dilakukan oleh tawananmu tadi malam?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Dia mengatakan bahwa dia akan mengajariku beberapa kalimat yang bermanfaat bagiku, lantas saya melepaskannya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa kalimat-kalimat itu?’ Saya menjawab, ‘Dia berkata kepadaku, ‘Apabila kamu telah berbaring di tempat tidur, bacalah ayat kursi dari awal sampai akhir.’ Dia menambahkan, ‘Niscaya engkau senantiasa mendapat perlindungan dari Allah. Setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.’ Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ketahuilah! Sungguh, dia berkata benar kepadamu padahal dia pendusta. Tahukah kamu siapa yang engkau ajak bicara semenjak tiga hari yang lalu, wahai Abu Hurairah?’ Aku menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Dia adalah setan’.” (HR. Al-Bukhari).
© 2013 - RizzStudio
Kisah ABU BAKAR RA Dan Uang Baitul Mal
Sebelum menjadi khalifah, Abu Bakar r.a adalah seorang pedagang kain. Ia banyak menyibukkan diri dengan perdagangannya tersebut. Setelah dilantikmenjadi khalifah, pada keesokan harinya dengan membawa beberapa helai kain ditangannya, ia berjalan menuju ke pasar untuk berjualan seperti biasanya. Dalam perjalanan itu ia bertemu dengan sahabat Umar bin Khattab r.a. Umar r.a bertanya kemana ia akan pergi. Abu Bakar menjawab, ”Saya akan pergi ke pasar.”. Umar menyahut , “Kalau engkau sibuk berjualan dipasar, siapa yang akan menjalankan tugas-tugas kekhalifahan?” Abu Bakar r.a menyahut lagi,” Lalu bagaimana saya harus membiayai keluarga saya?”. Umar berkata ,”Marilah kita menjumpai Abu Ubaidah (yang dijuluki Rasulullahs.a.w sebagai penjaga baitu mal) supaya ia menetapkan gaji untukmu. Kemudian keduanya menjumpai Abu Ubaidah r.a dan ia menetapkan uangtunjangan gaji bagi Abu Bakar r.a yang jumlahnya sama dengan yang biasa diberikan untuk seorang muhajirin, tidak kurang dan tidak lebih daripada itu.
Pada suatu hari istrinya berkata kepada Abu Bakar r.a ” Saya ingin membeli sedikit manisan”. Abu Bakar menjawab,”Saya tidak memiliki cukup uang untuk membelinya”. Istrinya berkata,”Kalau engkau mengizinkan, saya aka mencoba menghemat uang perbelanjaan kita sehari-hari sehingga saya bisa membeli masakan itu.” Abu Bakar menyetujuinya. Kemudian setiap hari istri Abu Bakar r.a mengumpulkan sedikit demi sedikit uang perbelanjaan mereka. Beberapa hari kemudian, uang itu pun terkumpul untuk membeli masakan yang diinginkan oleh istrinya. Setelah uang itu terkumpul, istrinya menyerahkan kepada suaminya agar dibelikanbahan-bahan masakan itu.
Abu Bakar r.a. berkata, ” Berdasarkan pengalaman ini, ternyata tunjangan yang saya peroleh dari Baitul Mal melebihi keperluan kita”. Maka Abu Bakar pun mengembalikan uang yang sudah dikumpulkan oleh istrinya itu ke Baitul Mal. Sejak hari itu , tunjangannya dikurangi dengan sejumlah uang yang dihemat oleh istrinya.
Pelajaran dari kisah diatas
Meskipun Abu Bakar r.a. seorang khalifah dan raja, namun ia tetap berdagang untuk mencukupi segala kebutuhan rumah tangganya dari pekerjaannya itu, sebagaimana yang telah ia umumkan sendiri ketika diangkat menjadi khalifah. Seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Aisyah r.ha, ketika Abu Bakar dilantik menjadi khalifah, ia mengatakan pada orang banyak, ” Wahai kaumku, kalian telah mengetahui bahwa saya mencari nafkah dengan berdagang. Keuntungan yang saya peroleh cukup untuk memenuhi keperluan keluarga saya.Tetapi sekarang saya telah disibukkan dengan urusan kaum Muslimin seluruhnya, sehingga untuk keperluan saya beserta keluarga saya terpaksa dipenuhi dari Baitul Mal”
Meskipun demikian, ketika Abu Bakar r.a wafat, ia telah berwasiat kepada putrinya Aisyah r.ha. agar seluruh uang tunjangan yang telah dikeluarkan oleh Baitul Mal untuk keperluan Abu Bakar selama menjadi Khalifah dikembalikan kepada Baitul Mal.
Anas r.a meriwayatkan bahwa ketika wafat, ia tidak meninggalkan apapun, baik dirham maupun dinar. Ia hanya meninggalkan seekor Unta betina untuk diperah susunya, sebuah mangkok dan seorang pelayan. Menurut sahabat-sahabatnya yang lain, ia meninggalkan kain hamparan. Barang-barang ini telah diserahkan kepada Umar r.a ketika ia menggantikannya sebagai khalifah. Umar r.a berkat, ” Semoga Allah mencucuri rahmat kepada Abu Bakar. ia telah menunjukkan jalan yang sukar diikuti oleh penggantinya.”
© 2013 - RizzStudio
Kisah Pengaduan ABU HURAIRAH RA Mengenai Kelaparannya
Abu Hurairah r.a. bercerita, “ Seandainya kalian memperhatikan keadaan kami waktu dulu, kalian akan menjumpai sebagian dari kami tidak dapat berdiri akibat kelaparan selama beberapa hari akibat tidak makan sedikitpun. Karena sangat lapar, tekadang saya berbaring sambil menekan perut saya ke tanah, bahkan terkadang saya mengikatkan batu ke perut saya.”
Suatu ketika, saya sengaja duduk-duduk di pinggir jalan. Saya berharap kalau-kalau ada orang yang saya kenal lewat di depan saya. Ternyata benar, tak lama kemudian datanglah Abu bakar r.a., sayapun berbincang-bincang dengannya. Saya berharap dia mengajak saya ke rumahnya. Seperti kebiasaannya yang mulia, dia akan menyuguhkan makanan kepada tamunya. Tetapi malam itu Abu Bakar tdak mengajak saya ke rumahnya. Dia tidak berbicara banyak dengan saya, sehingga harapan saya itu tidak terlaksana. Mungkin, tidak terpikir olehnya untuk mengajak saya ke rumahnya, atau mungkin di rumahnya sedang tidak ada makanan.
Tidak lama kemudian, Umar al Faruq berjalan melewati saya. Namun pada kali ini harapan sayapun tidak terjadi. Pada akhirnya datanglah Nabi saw., beliau tersenyum lebar ketika melihat keadaan saya, karena Nabi telah menagkap dengan cepat keinginan saya yang tersembunyi. Katanya, “ Mari, ikutlah dengan saya, Abu Hurairah.” Saya segera mengikutinya ke rumah beliau. Ketika kami masuk ke rumahnya, semangkuk susu telah dihidangkan kepada Nabi saw. lalu beliau bertanya, “Siapa yang telah memberi susu ini?” Jawabnya, bahwa susu itu adalah hadiah dari seorang hamba Allah. Kemudian beliau berkata, “Abu Hurairah, panggillah para akhli shuffah agar datang kesini.” Akhli shuffah adalah fakir miskin yang tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak memiliki pekerjaan. Tidak tersedia makanan tetap bagi mereka, dan biasanya mereka menjadi tamu kaum Muslimin. Beliau sendiri akan menerima dua orang akhli shuffah sebagai tamu. Jumlah akhli shuffah ini tidak menentu, terkadang banyak, terkadang sedikit. Dan pada hari itu mereka ada tujuh orang.
Telah menjadi kebiasaan Nabi saw. beliau akan mengundang dua-dua atau empat-empat orang shuffah untuk datang ke rumah-rumah sahabat agar diberi makan. Kebiasaan beliau yang lain, jika diberi makanan oleh seseorang, misalnya dari sedekah, beliau akan memberikan makanan itu kepada mereka, dan beliau sendiri tidak ikut makan bersama mereka. Jika makanan itu berasal dari hadiah seseorang, maka beliau akan mengundang para sahabat dan makan bersama mereka.
Saat itu, Rasulullah saw. meminta saya untuk menyuruh mereka minum bersama. Melihat jumlah susu yang sedikit, saya merasa ragu, apakah susu itu akan mencukupi semua orang? Setelah saya memanggil para akhli shuffah, Rasulullah saw. memerintahkan saya agar membagikan susu itu kepada mereka. Saya berpikir, mungkin saya akan mendapat giliran terakhir, atau tidak mendapatkan susu sama sekali. Tapi saya harus menaati perintah Nabi saw. Setelah akhli shuffah berkumpul, Nabi saw. berkata kepada saya, “Hidangkan susu itu dan bagikanlah.” Saya segera berkeliling sambil memegang mangkuk itu dan menyuguhkan susu kepada setiap orang yang hadir. Setelah mereka puas, mangkuk itu dikembalikan kepada saya.
Sambil tersenyum, Rasulullah saw bersabda kepada saya, “Sekarang tinggal kita berdua.”
“Benar, ya Rasulullah.” Jawab saya.
Beliau bersabda, “Sekarang minumlah.” Segera saya meminumnya.
Setelah berhenti, beliau bersabda, “Minumlah lagi.”
Kata saya, “Sudah, ya Rasulullah.”
Beliau bersabda, “Minumlah lagi.”
Saya terus meminumnya sampai berkata, “ Ya Rasulullah, rasanya sekaang perut saya sudah terisi penuh.” Akhirnya, beliau meminum susu yang masih tersisa di mangkuk.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Nabi SAW Susah Tidur Karena Sebuah Kurma
Suatu ketika Nabi Saw. tidak dapat memejamkan matanya sepanjang malam. Berkali-kali beliau mengubah posisi tidurnya sihingga istri beliau bertanya, “Mengapa engkau tidak dapat tidur ya Rasulullah?” Jawab beliau,” Tadi tergeletak sebutir kurma, kemudian aku memakannya karena khawatir kurma itu terbuang sia-sia. Sekarang aku cemas,mungkin kurma itu dikirim kesini untuk disedekahkan.”
Pelajaran dari kisah diatas
Kemungkinan besar kurma itu milik Rasulullah. Tetapi, karena sedekah biasanya diberikan melalui Nabi Saw. Keraguan itulah yang membuat beliau tidak bisa tidur semalam, khawatir kurma itu harta sedekah, berarti ada harta sedekah yang termakan olehnya.
Demikianlah akhlak pemimpin kita.Hanya karena perasaan ragu,beliau berkali-kali mengubah posisi tidurnya karena cemas dan tidak bisa tidur sepanjang malam. Lalu, bagaimanakah dengan diri kita sebagai pengikutnya? Ada yang memakan suap, korupsi, riba, merampok, dan perbuatan-perbuatan lain yang dilarang agama, tanpa merasa takut dan cemas, sedangkan kita mengaku sebagai umat Nabi Muhammad Saw.??? Mari kita renungkan bersama.
© 2013 - RizzStudio
Kisah ABU BAKAR RA Memuntahkan Makanan
dari Hasil Perdukunan
Abu Bakar r.a. memiliki seorang budak yang selalu memberikan sebagian pendapatnnya kepada beliau. Pada suatu hari, ia menghidangkan sedikit makanan kepada Abu bakar R.a., lalu dicicipilah sedikit makanan itu. Hamba sahayanya berkata , ” Biasanya engkau selalu bertanya kepadaku dari mana penghasilanku ini. Namun pada hari ini engakau tidak menanyakannya.’ Jawab Abu Bakar R.a., ” Aku sangat lapar sehingga tidak sempat menanyakannya. Sekarang jelaskanlah tentang makanan ini. ” Hamba sahayanya menjawab, ” Dulu pada zaman jahiliyah, aku bertemu suatu kaum dan membacakan mantera. Mereka berjanji kepadaku akan memberi imbalan terhadap jasaku. Dan pada hari ini, aku melewati perkampungan mereka. kebetulan mereka sedang melangsungkan pernikahan, jadi mereka memberiku makanan ini. ” Abu Bakar R.a. langsung berteriak, ” Kamu nyaris membunuhku! “
Kemudian ia berusaha memuntahkan makanan yang telah ditelannya itu dengan memasukkan tangannya ke dalam tenggorokan. Namun karena ia memakannya pada saat sangat lapar, makanan itu sulit dikeluarkan. Kemudian seseorang memberitahu bahwa ia dapat muntah jika minum air sebanyak-banyaknya. Maka ia minta dibawakan segelas besar air minum. Ia langsung meminumnya. Ternyata dengan cara itu ia dapat muntah.
Seseorang berkata kepadanya, ” Semoga Allah merahmati engkau . Engkau telah susah payah mengeluarkan isi perut engkau hanya karena sesuap makanan. ‘ Jawab Abu bakar R.a., ‘ Walaupun aku harus kehilangan nyawa untuk mengeluarkan makanan itu, aku tetap mengeluarkannya. Aku mendengar Nabi Saw. bersabda : Badan yang tumbuh dengan makanan haram. apai neraka pantas untuknya. Aku khawatir, jika sebagian dari badanku ini tumbuh dari makanan ini. ‘
© 2013 - RizzStudio
Kisah Ali R.a. Melewati Tanah Pemakaman
Kumail r.a. bercerita,” Pada suatu hari, aku berjalan bersama Ali r.a. hingga tiba di sebuah hutan. Lalu Ali r.a. mendekati sebuah kuburan sambil berkata.
”Wahai penghuni kubur, wahai penghuni tempat sunyi, wahai yang berbau busuk, wahai yang penuh ketakutan. Bagaimanakah kabarmu?” Kemudian ia berkata, ”Adapun kabar kami disini, hartamu telah dibagi-bagikan, anak-anakmu telah menjadi yatim, dan istri-istrimu telah menikah lagi. Inilah berita kami, ceritakanlah sedikit tentang kalian.”
Seraya menoleh kepadaku, ia berkata, ”Wahai Kumail, seandainya mereka boleh dan dapat berbicara, mereka akan berkata bahwa sebaik-baik bekal ialah taqwa.” setelah berkata demikian, ia menangis. ”Wahai Kumail, kubur adalah tempat menyimpan amal, dan kita akan menyadarinya setelah maut menjemput kita.” (Muntakhab, Kanzul-Ummal)
Pelajaran dari kisah diatas
Amal baik atau buruk seseorang akan tersimpan di dalam kubur bagaikan tersimpan di dalam kotak. Banyak hadits yang menjelaskan bahwa amal baik akan datang berupa seseorang yang tampan.Ia akan menjadi sahabat dan penghibur si mayit. Sebaliknya, amal buruk akan datang berupa sesuatu yang buruk rupa, busuk, dan hanya akan lebih menyengsarakan mayit.
Sebuah hadits menyebutkan, ” Tiga hal yang mengiringi manusia sampai kekuburnya, yaitu hartanya (sebagaimana kebiasaan orang Arab), keluarganya, dan perbuatannya. Harta dan keluarganya akan kembali setelah penguburan. Dan tinggal bersamanya hanyalah amal perbuatannya.”
Suatu ketika, Nabi saw. bertanya kepada para sahabatnya, ”Tahukah kalian bagaimana perumpamaan kalian dengan sanak saudara kalian, harta kalian, dan amal perbuatan kalian?” Atas keinginan para sahabat, Nabi saw. Bersabda, ”Perumpamaannya bagaikan seseorang yang memiliki tiga saudara.
Menjelang kematiannya, ia memanggil saudara-saudaranya dan berkata, ”Saudara-saudaraku, kalian telah mengetahui bagaimana keadaanku ini, maka bantuan apakah yang dapat kalian berikan kepadaku?” Saudaranya yang pertama menjawab, ”Aku akan menyayangimu, aku akan mengobatimu, dan aku akan melayani segala keperluanmu.
Jika kamu meninggal dunia, aku akan memandikanmu, mengkafanimu, dan menguburkanmu. Lalu aku akan senantiasa mengingat kebaikanmu.” Sabda Nabi saw. , saudara yang seperti ini adalah sanak saudara dan keluarganya.”
Kemudian pertanyaan yang sama diajukan kepada saudara yang kedua. Lalu dijawab, ”Aku akan bersamamu selama engkau masih hidup. Jika kamu meninggal dunia, aku akan pergi kepada yang lain.” Saudaranya ini adalah hartanya. Kemudian ia memanggil saudaranya yang ketiga dan menanyakan hal yang sama.
Maka dijawab, ”Walaupun di dalam kubur, aku akan bersamamu. Akan kutenangkan hatimu jika akan dihisab,dan aku akan beratkan amal baikmu.” Saudaranya yang ketiga ini adalah amal shalihnya.” Sabda Nabi saw., ”sekarang sebutlah, manakah yang menjadi pilihanmu?” Para sahabat r.hum menjawab, ” Ya Rasulullah, jelas saudara yang terakhir itulah yang kami pilih, yang pertama dan kedua kurang bermanfaat.” (Muntakhab,Kanzul-Ummal).
© 2013 - RizzStudio
kisah Nabi SAW Shalat Sepanjang Malam
Seseorang bertanya kepada Aisyah r.h.a, "Beritahukanlah kepadaku sesuatu yang luar biasa pada diri Rasulullah SAW. yang pernah engkau lihat." Jawab Aisyah r.ha., "Manakah perbuatan beliau yang tidak luar biasa ? Pernah pada suatu malam beliau berbaring bersamaku, lalu beliau berkata ,"Sekarang biarkanlah aku beribadah kepada Allah." Beliau bangun dari tempat tidurnya, lalu mengerjakan Shalat. Baru saja selesai shalat, beliau langsung menangis bercucuran air mata sehingga membasahi dada beliau. Kemudian beliau Ruku' sambil menangis . Ketika sujud, beliaupun menangis dan bangun dari sujud pun masih menangis, hingga Bilal r.a datang mengumandangkan adzan subuh. Aku berkata, "Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis seperti itu, bukanlah engkau orang yang ma'sum, dan Allah telah berjanji akan mengampuni dosa-dosamu, baik yang akan datang dan yang telah lalu (Jika ada)?" Jawab Nabi SAW., "Tidaklah sepatutnya aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur ?" Lalu Beliau bersabda, "Mengapa aku tudak berbuat demikian ? Padahal Allah SWT telah berfirman:
"Sesungguhnya dalam penciptaann langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi mereka yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk ataupun pada waktu berbaring dan memikirkan tentang kejadian langit dan bumi lalu berkata, "Ya Rabb kami, tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau , maka lindungilah kami dari adzab neraka." (Q.S. Ali Imran : 190-191)
© 2013 - RizzStudio
Kisah Abu Thalhah RA Mewakafkan kebunnya
Suatu ketika, Abu Thalhah r.a.sedang shalat di kebunnya. Tiba-tiba seekor burung terbang di antara pepohonan. Burung itu terbang kesana kemari, lalu masuk ke dalam rerimbunan daun yang lebat, dan ia tidak dapat keluar dari rerimbunan itu. Melihat kejadian ini, perhatian Abu Thalhah r.a. terarah pada tingkah laku burung itu sehingga ia lupa jumlah rakaat yang telah dilakukannya. Ia merasa sangat panik terhadap perbuatannyaini. Ia sadar bahwa musibah telah menimpanya disebabkan kebunnya, sehingga terlupa dalam sholat. Setelah sholat, ia langsung menjumpai Nabi Muhammad SAW, dan menyampaikan semua kejadian itu. Ia berkata, “Rasulullah, kebunku ini telah membuatku lalai dalam sholat. Oleh sebab itu, aku sedekahkan kebun ini fi sabilillah, gunakanlah sekehendakmu.”
Peristiwa seperti ini juga pernah terjadi pada masa khalifah Utsman r.a. Ketika seorang Anshar sedang sholat di kebunnya, kebetulan pada saat sedang musim kurma masak. Matanya terus memandang dengan senangnya ke arah buah-buah tersebut. Hatinya gembira melihat kurma-kurma yang masak itu, berarti hasil panennya akan bagus. Perhatiannya terhadap kurma itu menyebabkan ia lupa jumlah rakaat yang telah dikerjakannya dalam sholat. Menyadari hal ini, hatinya merasa sangat sedih dan kecewa sehingga ia memutuskan tidak akan membiarkan kebunnya yang menyebabkan musibah itu. Ia pun segera menemui Utsman r.a dan berkata, “Amirul-Mukminin, aku infakkan kebun ini fi sabilillah. Gunakanlah sekehendakmu.”Kebun itu akhirnya dijual seharga 50.000 dirham, dan hasilnya digunakan untuk kepentingan agama.
Pelajaran dari Kisah diatas
Demikianlah semangat keimanan para sahabat r.hum. Karena sholat sangat berharga bagi mereka, mereka dengan mudahnya menginfakkan kebun seharga 50.000 dirham di jalan ALLAH. Syaikh Waliyullah rah.a. menulis dalam Qaulul-Jamil tentang tingkat hubungan dalam tasawuf, “Tidak ada hubungan yang harus didahulukan kecuali untuk mentaati Allah dan bersemangat terhadapnya. Para sahabat r.hum bersemangat dalam menjaga ketaatan kepada Allah SWT.. Lalu mengapa harus memperhatikan hal-hal lainnya?.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Keinginan Rabi'ah RA Bersama Rasulullah di Surga
Rabiah r.a. bercerita, “Aku selalu melayani Rasulullah SAW pada malam hari,. Akulah yang menyedikan air wudhunya, siwaknya, sajadahnya, dan keperluan lainny. Suatu ketika, karena senang dengan pelayananku, beliau bertanya,”Katakanlah, apakah yang kamu minta?” Jawabku,”Ya Rasulullah, aku hanya ingin bersamamu di surga.” Beliau bertanya lagi, “Apakah permintaanmu selain itu?” Jawabku, “Tidak ada, hanya itulah yang aku inginkan.” Sabda beliau,”Baiklah, kamu harus membantuku dengan sering bersujud kepada Allah,” (Abu Dawud)
Pelajaran dari Kisah diatas
Kisah di atas mengandung peringatan bahwa segala keinginan kita tidak akan tercapai hanya dengan berdoa kepada Allah SWT. Doa harus diiringi dengan perbuatan dan usaha ke arahnya. Dan sebaik-baik amalan yang terpenting adalah sholat. Lebih sering kita sholat, maka akan lebih banyak bersujud kepada Allah SWT. Seseorang yang hanya duduk-duduk sambil berkata, “Aku telah minta doa dari ulama anu, ulama anu.” Ini suatu kesalahan besar. Allah SWT menjalankan dunia ini melalui sebab. Memang terkadang Allah SWT menjalankan sesuatu hannya dengan kodratNya, untuk menunjukkan bahwa Allah tidak bergantung pada sebab. Namun secara umum, dunia dan segala isinya ini berjalan dengan sebab.
Sungguh mengherankan jika untuk urusan keduniaan, kita tidak hanya bersandar pada takdir sambil berdoa kepada Allah SWT dan seribu satu macam usaha tetntu kita lakukan, tetapi untuk agama, kiyta hanya bergantung pada taqdir dan doa. Tidak diragukan lagi bahwa doa para wali Allah memang penting, tetapi Nabi Muahammad SAW,bersabda,”Bantulah doaku dengan memperbanyak sujud.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Rasulullah saw. Menerima Undangan Seorang Wanita
Ketika Nabi saw. sedang berjalan pulang dari acara jenazah, ada seorang wanita mengundang beliau saw. makan di rumahnya. Maka Nabi saw. dan para sahabatnya mengunjungi rumah wanita itu. Ketika makanan telah dihidangkan, Nabi saw. kesulitan menelan makanan itu. Sabda Beliau saw., "Nampaknya daging ini telah disembelih tanpa ijin pemiliknya." Jawab wanita itu, "Ya Rasulullah, saya telah menyuruh seorang lelaki untuk membeli kambing di pasar, tetapi tidak ia dapatkan. Sedangkan tetangga saya telah membeli seekor kambing. Maka saya suruh seseorang ke sana untuk membelinya dan menanyakan harganya. Namun, pemiliknya sedang tidak ada di tempat. Jadi istrinyalah yang menjual kambing itu kepada saya." Lalu Nabi saw. bersabda "Bagikanlah daging itu kepada para tawanan." (AbuDawud)
Faedah:
Tidak ada yang dapat menandingi akhlak Rasulullah saw., sampai kepada budak pun Rasulullah saw. selalu memperlihatkan akhlak yang terpuji.
© 2013 - RizzStudio
Umar ra. Memuntahkan Susu Yang la Minum Dari Harta Sedekah
Suatu ketika Umar ra. mencicipi susu. Ternyata rasa susu itu lain dari biasanya. Umar ra. langsung bertanya kepada pembawa susu tersebut, dari mana dan bagaimana mendapatkannya. Orang itu berkata, "Ada beberapa ekor unta hasil sedekah sedang memakan rumput di hutan. Lalu para penggembala unta itu memerah sedikit susu dari unta-unta itu, dan memberi saya sedikit." Mendengar itu, Umar ra. segera memasukkan jarinya ke mulut, lalu memuntahkan semua yang telah ia minum tadi.
Faedah:
Mereka selalu cemas jangan sampai ada sesuatu yang syubhat masuk ke dalam tubuh mereka. Tidak seperti kita, barang haram pun kita tidak mempedulikannya.
© 2013 - RizzStudio
Abu Bakar ra. Mewakafkan Kebunnya Karena Kehati-hatiannya
Ibnu Sirrin rah.a. bercerita, Ketika menjelang ajalnya, Abu Bakar ra. telah berkata kepada Aisyah r.ha., "Saya tidak suka menerima apapun dari Baitul Mai, tetapi Umar telah mendesak saya untuk menerima gaji, agar saya tidak diganggu oleh perniagaanku dalam mengurus kaum Muslimin. Saya terpaksa menerimanya. Untuk itu, wakafkanlah kebunku itu sebagai ganti gaji saya selama ini."
Setelah Abu Bakar ra. wafat, 'Aisyah r.ha. segera mengutus seseorang kepada Umar ra.. Dan sesuai wasiat ayahnya, kebun itu diserahkan kepada Umar ra.. Kata Umar ra., "Semoga Allah swt. merahmati ayahmu. Dia tidak memberi peluang kepada siapapun untuk mengikutinya." (Kitabul Amwal)
Faedah:
Kisah ini perlu kita renungkan. Pertama; Abu Bakar ra. menerima gaji sekedarnya. Hal itu semata-mata karena terpaksa dan agar lebih bermanfaat bagi kaum Muslimin. Dan kehati-hatian beliau itu, telah kita perhatikan dalam Bab III kisah keempat. Dimana istrinya (karena selalu kekurangan) telah berusaha menabung sebagian gaji Abu Bakar ra.. Tetapi oleh Abu Bakar ra. uang hasil tabungan istrinya itu ia kembalikan ke Baitul Mal. Lalu beliau mengurangi uang gajinya. Sehingga, yang beliau terima benar-benar hanya yang diperlukan saja.
© 2013 - RizzStudio
Umar ra. Melarang Istrinya Menimbang Minyak Kasturi
Suatu ketika, Umar ra. menerima minyak Kasturi dari Bahrain. Beliau berkata, "Adakah orang yang bersedia menimbangnya untuk dibagikan kepada kaum Muslimin." Maka istri beliau, Atikah r.ha. berkata, "Saya akan menimbangnya." Umar ra. diam. Kemudian bertanya lagi, "Siapakah yang akan menakar minyak kasturi ini untuk dibagikan?" Sekali lagi istrinya menjawab dengan jawaban yang sama. Umar ra. diam. Pada kali ketiga barulah Umar ra. berkata, "Aku tidak suka jika kamu menyentuh kasturi itu dengan tanganmu ketika kamu menakarnya, karena minyak itu akan melekat di tanganmu lalu kamu akan menyapukannya ke badanmu. Berarti aku memperoleh bagian lebih dari hakku."
Faedah:
Ini adalah sikap hati-hati yang sempurna. Berusaha agar mendapatkan posisi yang menyelamatkan. Padahal, siapapun yang menakarnya, tentu akan menyentuh tangannya, lalu akan menyapukannya ke badannya. Tidak ada yang dapat menolak hal itu. Walaupun demikian Umar ra. melarang istrinya berbuat demikian.
Hal ini pun terj adi pada Umar bin Abdul Aziz rah. a yang terkenal disebut Umar Kedua. Suatu ketika, beliau menakar minyak wangi misk sambil menutup hidungnya rapat-rapat. Beliau berkata, "Manfaat minyak wangi adalah baunya, dan ini bukan milik saya." Demikianlah ketelitian dan kehati-hatian para sahabat ra., para tabiin rah.a., serta alim ulama kita.
© 2013 - RizzStudio
Firman Allah Mengenai Hak Orang Yang Mengerjakan Shalat Nawafil
Allah swt. berfirman, "Barangsiapa membenci para kekasih-Ku, maka Aku nyatakan perang dengannya. Dan siapapun tidak dapat mendekatiku kecuali dengan menunaikan amalan wajib yang telah Aku berikan. Dan Aku akan bertambah dekat, jika menunaikan amalan sunnah. Aku akan menjadikannya sebagai kekasih-Ku. Kemudian Aku akan menjadi telinganya, yang ia mendengar; menjadi matanya, yang ia melihat; menjadi tangannya yang ia memegang; menjadi kakinya yang ia berjalan. Jika ia berdo'a meminta sesuatu, maka Aku akan mengabulkannya. Jika ia meminta perlindungan, maka Aku akan melindunginya." (Hadits Qudsi-Jam'ul Fawaid)
Faedah:
Menjadi mata dan telinga, maksudnya bahwa seluruh penglihatan, pendengaran, gerakan kaki, berjalan sesuai dengan ridha Allah swt., tanpa menentang Allah swt.. Sungguh beruntunglah, orang yang dapat menunaikan amalan fardhu, juga dapat memperbanyak amal sunnah dan nafilnya. Semoga Allah dengan kemurahan-Nya memberi saya dan anda taufik untuk mengamalkannya.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Nabi saw. Shalat Sepanjang Malam
Seseorang bertanya kepada Aisyah r.ha., "Beritahukanlah kepadaku sesuatu yang luar biasa pada diri Rasulullah saw. yang pernah engkau lihat?" Jawab Aisyah r.ha., "Manakah perbuatan beliau yang tidak luar biasa? Pernah pada suatu malam, beliau berbaring bersamaku, lalu beliau saw. berkata, "Biarkanlah saya beribadah kepada Allah sekarang." Beliau bangun dari tempat tidurnya, lalu mengerjakan shalat. Baru saja memulai shalat, beliau langsung menangis bercucuran air mata, sehingga membasahi dada. Kemudian beliau ruku', pun sambil menangis. Juga ketika sujud, beliau menangis. Dan ketika bangun dari sujud pun beliau masih menangis. Sampailah terdengar adzan Fajar Bilal ra.. Saya berkata, "Ya
Rasulullah, mengapa engkau menangis, bukankah engkau maksum, dan Allah telah berjanji mengampuni segala dosamu, baik yang akan datang maupun yang lalu?" Jawab Nabi saw., "Apakah tidak sepatutnya saya menjadi hamba-Nya yang bersyukur?" Sabda beliau selanjutnya, "Mengapa saya tidak demikian? Padahal Allah swt. telah berfirman;
"Sesungguhnya mengenai penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi mereka yang berakal. Yaitu, orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri dan duduk atau pun di waktu berbaring dan memikirkan tentang kejadian langit dan bumi lalu berkata, "Ya Tuhan kami, Tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka lindungilah kami dari adzab neraka. " (Ali Imran: 190-191)
Masih banyak lagi riwayat mengenai panjangnya shalat malam Nabi saw.. Demikian lama beliau berdiri shalat, sampai kaki-kaki beliau menjadi bengkak. Sebagian sahabat berkata,
"Ya Rasulullah, mengapa engkau demikian bersusah payah mendirikan shalat, padahal Allah telah mengampuni seluruh dosamu?" Nabi saw. selalu menjawab, "Apakah tidak sepatutnya saya menjadi hamba yang bersyukur?" (Bukhari)
© 2013 - RizzStudio
Kisah Nabi saw. Membaca Enam Juz AI-Qur'an Dalam Empat Rakaat
'Aufra. bercerita, "Suatu ketika, saya berdua bersama Nabi saw.. Setelah bersiwak dan berwudhu, beliau berdiri untuk shalat. Saya menyertai beliau shalat. Pada rakaat pertama, beliau saw. membaca Al-Baqarah. Bila menemui ayat-ayat rahmat, beliau akan berdo'a sejenak memohon rahmat Allah. Jika menemui ayat-ayat tentang siksa Allah, maka beliau akan berhenti sejenak berdo'a memohon perlindungan dari siksa Allah swt.. Selesai membaca Al-Baqarah, beliau ruku' dengan ruku' yang sama panjangnya dengan bacaan Al-Baqarah tadi. Dalam ruku' beliau membaca;
"Maha suci Tuhan yang mempunyai kekerasan, kekuasaan, kebesaran dan kemuliaan."
Lalu beliau sujud, dan sujudnya pun sangat lama. Setelah itu beliau berdiri raka'at kedua, lalu membaca Ali Imran. Demikian seterusnya, beliau membaca satu surat dalam setiap raka'at. Jadi, dalam empat raka'at, beliau telah membaca empat surat Al-Qur'an. Dapat dibayangkan, betapa lama shalat Nabi saw.. Ditambah dengan setiap ayat rahmat dan ayat adzab beliau berhenti untuk berdo'a kepada Allah swt., ditambah dengan ruku' dan sujud yang lama.
Ada kisah lainnya, yang dialami oleh Hudzaifah ra. ketika menyertai shalat bersama Nabi saw.. Ia berkata, "Rasulullah saw. shalat empat raka'at dengan membaca empat surat, yaitu dari Al-Baqarah sampai akhir Al-Maidah."
Faedah:
Empat surat tersebut berarti enam juz Al-Qur'an. Rasulullah membacanya dalam empat raka'at. Dan Rasulullah saw. biasa membaca Al-Qur'an dengan tajwid dan tartil, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits. Ditambah lagi, di setiap ayat rahmat dan adzab, beliau saw. akan berhenti sejenak untuk berdo'a kepada Allah swt., ditambah lagi ruku' dan sujud yang panjang. Terbayang oleh kita, betapa lama Nabi saw. mengerjakan shalat empat raka'at ini. Bahkan Nabi saw. pernah membaca dalam satu rakaat surat Al-Baqarah, Al-Imran sampai Al-Maidah yang kurang lebih sebanyak lima juz. Hal ini dapat dikerjakan bila shalat adalah kepuasan dan kebahagiaan batin kita. Nabi saw. bersabda, "Kenikmatan mataku pada shalat."
'Ya Allah berilah kami kekuatan untuk mengikuti mereka'
© 2013 - RizzStudio
Kisah Shalat Beberapa Orang Sahabat ra.
Mujahid rah.a. menceritakan shalatnya Abu Bakar dan Abdullah bin Zubair ra., "Jika mereka telah berdiri tegak untuk shalat, maka mereka seolah-olah kayu yang terpaku ke bumi." Mereka tidak bergerak sedikit pun di luar gerakan shalat. Menurut alim ulama, Ibnu Zubair ra. telah belajar shalat dari Abu Bakar ra., dan Abu Bakar ra. telah mempelajarinya langsung dari Nabi saw.. Apa yang dilakukan Nabi saw. dalam shalatnya, diikuti oleh Abu Bakar ra., dan shalat beliau diikuti Ibnu Zubair ra..
Tsabit ra. berkata, "Jika Abdullah bin Zubair ra. berdiri untuk shalat, maka ia laksana sebatang kayu yang ditancapkan ke bumi." Seseorang bercerita, "Demikian lama Ibnu Zubair ra. bersujud, tanpa bergerak sedikit pun, sehingga burung-burung hinggap dengan tenang di atas punggungnya. Pernah, beliau ruku' demikian lama dari awal malam hingga Shubuh tiba. Kadang-kadang beliau menghabiskan malamnya hanya dengan bersujud."
Dalam suatu pertempuran, Ibnu Zubair ra. shalat di masjid. Tiba-tiba, salah satu dinding masjid terkena serangan musuh dan runtuh. Sebagian bongkahan dinding itu telah menimpa leher beliau.
Meskipun demikian, beliau tetap shalat tanpa memendekkan shalatnya, baik ketika sujud ataupun ruku'. Pada saat yang lain, ketika beliau sedang shalat dan anaknya Hasyim sedang tidur di sisi beliau, tiba-tiba ada seekor ular terjatuh dari atap dan membelit anaknya. Anak itu menjerit ketakutan, seisi rumah pun panik sehingga ribut. Akhirnya, mereka berhasil membunuh ular itu. Tetapi, Ibnu Zubair ra. tetap tenang dalam shalatnya. Setelah salam, beliau bertanya, "Sepertinya ada keributan, ada apa?" Isterinya menjawab, "Semoga Allah merahmatimu. Anak ini hampir mati dan kamu tidak mengetahuinya." Jawab Beliau, "Pikirkanlah olehmu, jika saya memalingkan perhatian dari shalat, maka bagaimana jadinya shalatku?" (Kxtzb Al-Bidayah dan lainnya).
Ketika Umar bin Khattab ra. ditikam pisau, yang menyebabkan ia meninggal dunia, darah terus mengalir dari lukanya sehingga beliau sering tidak sadarkan diri. Walaupun demikian keadaannya, jika disampaikan kepadanya waktu shalat tiba, maka beliau segera mengerjakannya. Beliau berkata, "Tiada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat."
Utsman bin Affan ra., sering mendirikan shalat sepanjang malam dan menghatamkan Al-Qur' an hanya dalam satu raka'at. (Muntakhab)
Sedangkan, kebiasaan Ali ra. adalah jika tiba waktu shalat, tubuhnya akan bergetar dan pucat wajahnya. Seseorang bertanya, "Mengapa keadaanmu seperti ini?" Jawab beliau, "Telah tiba saatnya bagi saya untuk menunaikan amanat yang Allah Ta'ala berikan kepada saya, yang enggan diterima oleh langit, bumi, dan gunung."
Seseorang bertanya kepada Khalaf bin Ayub ra., "Apakah lalat-lalat tidak mengganggumu ketika shalat?" Jawabnya, "Seorang pendosa yang tertangkap polisi, ketika dihukum, ia akan berusaha sabar tanpa bergerak sedikit pun. Dan itu ia banggakan. Ia berkata, "Walaupun saya dipukuli saya tetap sabar dan tabah." Lalu, bagaimana dengan diriku, jika aku berdiri di hadapan Rabb-ku, dan terganggu hanya karena lalat?"
Muslim bin Yasar rah.a. ketika akan shalat, ia berkata kepada keluarganya, "Teruskanlah perbincangan kalian, aku tak akan terpengaruh sedikit pun dengan obrolan kalian." Suatu ketika, beliau shalat di Masjid Jami' Basrah. Tiba-tiba, sebagian tembok masjid runtuh. Orang-orang berkumpul dan ribut. Namun beliau tetap shalat, seolah-olah tidak mendengar apapun.
Hatim Asham rah.a. ditanya, bagaimana caranya beliau shalat. Beliau menjawab, "Jika waktu shalat telah tiba, maka setelah berwudhu aku berjalan ke tempat shalat. Lalu, aku duduk sejenak sehingga seluruh tubuhku mulai tenang, kemudian aku berdiri memulai shalat. Saat itu, aku membayangkan bahwa*"Baitullah Ka'bah berada di depanku, dan kakiku seolah-olah berada di atas Shirat, surga berada di sebelah kananku, dan neraka berada di sebelah kiriku, dan membayangkan malaikat pencabut nyawa, berada di belakangku; Aku merasa inilah shalatku yang terakhir. Setelah itu, aku berusaha shalat dengan penuh khusyu' dan khudhu', dan aku berada diantara dua perasaan, yaitu takut dan harap; apakah shalatku ini diterima ataukah tidak." (Ihya)
© 2013 - RizzStudio
Kisah Shalat Dua Sahabat Muhajirin Dan Anshar
Setibanya Nabi saw. dari suatu peperangan, beliau bangun mendirikan shalat malam. Beliau bersabda, "Siapakah yang siap menjadi penjaga pada malam ini?" Maka, Ammar bin Yasir ra. dari Muhajirin dan Abbad bin Bashar dari Anshar berkata, "Kami siap berjaga malam." Nabi saw. memerintahkan mereka agar berjaga-jaga di sebuah bukit yang terdapat jalan bagi musuh untuk menyerang. Keduanya pergi ke bukit tersebut. Sesampainya di sana, pemuda Anshar itu berkata kepada saudaranya dari Muhajirin, "Mari, kita bagi malam ini menjadi dua bagian, bagian malam pertama, aku yang berjaga dan kamu beristirahat. Dan bagian kedua, kamu yang berjaga dan saya yang beristirahat. Maka, malam ini dapat dijaga bergantian. Jika terasa ada musuh yang datang, maka yang berjaga dapat membangunkan kawannya yang sedang tidur. Jika langsung kita berdua berjaga, bisa-bisa kita berdua mengantuk." Maka, pemuda Anshar mendapatkan jaga bagian pertama, dan pemuda Muhajirin tidur. Sambil bertugas, Abbad ra. mendirikan shalat. Ternyata, seorang musuh mengintainya. Kemudian, dari jarak jauh ia membidikkan anak panahnya ke arah Abbad ra.. Tetapi, Abbad ra. masih berdiri tegak, tidak bergoyang sedikit pun.
Melihat hal ini, musuh pun melepaskan lagi anak panahnya. Tetapi ia tetap berdiri tegak. Musuh kembali melepaskan anak panahnya yang ketiga. Ketiga-tiganya menancap di badan Abbad ra.. Kemudian Abbad ra. mencabut ketiga anak panah itu dengan tangannya. Setelah tercabut, ia meneruskan shalat, ruku' dan sujud dengan tenangnya. Selesai shalat, Abbad ra. membangunkan kawannya. Ketika musuh melihat Abbad ra. membangunkan kawannya, ia segera melarikan diri dan ia tidak tahu berapa banyak lagi tentara Islam di situ. Ketika Ammar ra. bangun, dilihatnya badan Abbad ra. penuh darah, dengan bekas tiga anak panah tertancap di tubuhnya. Ammar ra. berkata kepada Abbad ra, "Subhanallah, kenapa engkau tidak membangunkanku dari tadi?" Jawab Abbad ra., "Ketika aku shalat tadi, aku mulai membaca surat Al-Kahfi, dan hatiku enggan untuk ruku' sebelum menyelesaikan surat ini. Tetapi, aku pun memperkirakan bahwa, jika aku dipanah terus menerus, aku bisa mati, dan tugas dari Rasulullah saw. untuk menjaga beliau tidak dapat ditunaikan. Saya mengkhawatirkan keselamatan Nabi saw.. Jika tidak, aku akan menyelesaikan bacaan surat itu, sebelum ruku', walaupun aku terpaksa harus mati dipanah musuh." (Baihaqi, AbuDaud)
Faedah:
Demikianlah shalat para sahabat ra., dan keasyikan shalat mereka. Walaupun panah demi panah menancap di tubuhnya, dan darah mengalir dari lukanya, ia tetap asyik shalat tanpa sedikit pun berubah. Sedangkan shalat kita, hanya karena nyamuk, pikiran kita menjadi kacau.
Ada perbedaan pendapat Fiqhiyah, mengenai darah yang mengalir dalam shalat. Imam Hanafi berpendapat membatalkan wudhu, sedangkan menurut madzhab Syafi'i tidak membatalkan. Mungkin, pendapat para sahabat ra. demikian, atau hal itu belum menjadi suatu perbedaan karena Nabi saw. masih hidup, atau karena belum adanya hukum atas hal itu.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Abu Thalhah ra. Mewakafkan Kebunnya
Suatu ketika, Abu Thalhah ra. sedang shalat di kebunnya. Tiba-tiba, seekor burung terbang di antara pepohonan. Burung itu terbang kesana-kemari, lalu masuk ke dalam rimbunan daun yang lebat, dan ia tidak bisa keluar dari rimbunan tersebut. Melihat kejadian ini, perhatian Abu Thalhah terarah pada tingkah laku burung itu, sehingga ia terlupa jumlah rakaat yang telah ia lakukan. Ia sangat kesal atas hal ini. Beliau sadar, karena kebunnya ini, musibah telah menimpanya. Ia terlupa dalam shalat. Setelah shalat, beliau langsung menjumpai Nabi saw.. Dan ia sampaikan semua kejadian tersebut, lalu berkata, "Ya Rasulullah, kebunku ini telah menyebabkan saya lalai dalam shalat. Oleh karena itu, saya sedekahkan kebun ini fi sabilillah. Gunakanlah sekehendakmu."
Peristiwa seperti ini pun pernah terjadi pada masa khalifah Utsman ra.. Ketika seorang Anshar sedang shalat di kebunnya. Kebetulan ketika itu sedang musim kurma berbuah. Matanya terus memandang senang ke arah buah-buah tersebut. Hatinya bergembira melihat kurma-kurma itu telah masak. Berarti panennya akan bagus. Perhatiannya kepada kurma-kurma itu, membuat ia lupa berapa rakaat yang telah ia kerjakan. Mengetahui hal ini, hatinya sangat sedih dan kecewa. Ia menyadari bahwa karena kebunnya, ia telah ditimpa musibah dalam shalatnya. Ia segera menemui khalifah Utsman ra., dan berkata, "Ya Amirul Mukminin, saya infakkan kebun ini fi sabilillah. Gunakanlah sekehendakmu." Kebun itu akhirnya dijual seharga 50.000 dirham, dan hasilnya digunakan fi sabilillah.
Faedah:
Demikianlah gairah keimanan sahabat ra.. Karena shalat adalah sesuatu yang sangat berharga bagi mereka, maka mereka mudah menyedekahkan kebunnya serharga 50.000 dirham di jalan Allah. Syekh Waliyullah rah.a. dalam kitab 'Qaulul Jamil' menukilkan tentang tingkat hubungan dalam tasawuf, beliau menulis; 'Tiada hubungan yang harus didahulukan kecuali untuk mentaati Allah, dan bergairah atasnya. Para sahabat ra. bersemangat untuk menjaga ketaatan kepada Allah, mangapa harus memperhatikan ke lainnya?
© 2013 - RizzStudio
Kisah Ibnu Abbas Tidak Mempedulikan Matanya Karena Shalat
Suatu ketika, sebelah mata Ibnu Abbas ra. selalu berair, ada seorang tabib datang mengobatinya. Tabib itu berkata, "Saya akan mengobati tuan, tetapi tuan harus berhati-hati selama lima hari, tuan jangan bersujud di tanah. Tuan boleh bersujud di atas kayu yang lebih tinggi." Ibnu Abbas ra. menjawab, "Tidak mungkin. Demi Allah, saya tidak akan melakukannya walaupun satu raka'at. Saya mendengar Nabi saw. bersabda, "Barangsiapa meninggalkan satu shalat dengan sengaja, maka ia akan menjumpai Allah swt. dalam keadaan Allah murka kepadanya." (Durrul Mantsur)
Faedah:
Secara syariat, agama membolehkan shalat seperti itu jika terpaksa. Perbuatan itu tidak termasuk meninggalkan shalat. Tetapi karena demikian kuat semangat para sahabat ra. dalam inengikuti shalat Nabi saw., sehingga Ibnu Abbas ra. merasa lebih baik matanya tidak sembuh daripada harus meninggalkan cara shalat Rasulullah saw.. Para sahabat ra. sanggup mengorbankan dunia dan isinya untuk dapat menjalankan shalat sesuai contoh Nabi saw.. Sedangkan kita sekarang, tanpa malu kita selalu beralasan agar dapat memudahkan shalat kita.
Padahal ketika dihadapkan di medan Mahsyar barulah akan diketahui hakekat yang sebenarnya dari ucapannya. Dan apa yang dapat kita perbuat?
© 2013 - RizzStudio
Para Sahabat ra. Meninggalkan Tokonya Ketika Waktu Shalat
Suatu hari, Ibnu Umar ra. pergi ke pasar. Kemudian tibalah waktu shalat berjamaah. Setiap pemilik toko langsung menutup tokonya dan segera pergi ke masjid. Ibnu Umar ra. berkata, "Merekalah orang-orang yang telah Allah firmankan dalam ayat;
"Laki-laki yang perdagangan dan jual beli mereka tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah, dan dari mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang hati dan penglihatan menjadi goncang. " (An-Nur :3 7)
Ibnu Abbas ra. berkata, "Mereka sangat sibuk dengan perniagaan dan jual beli, tetapi jika terdengar suara adzan shalat, maka mereka segera meninggalkan perniagaannya segera pergi ke masjid." Beliau juga berkata, "Demi Allah, mereka adalah para pedagang, namun perdagangan mereka tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah swt.."
Suatu ketika, Abdullah bin Mas'ud ra. pergi ke pasar. Lalu terdengar adzan, ia melihat setiap orang meninggalkan tokonya dan segera pergi ke masjid. Dia berkata, "Mereka inilah orang yang Allah swt. telah berfirman;
"Laki-laki yang perdagangan dan jual beli mereka tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah, dan dari mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. " (An-Nur: 37)
Nabi saw. bersabda, "Pada hari Hisab, ketika seluruh manusia dikumpulkan dalam satu tempat, maka Allah berfirman, "Siapakah orang yang selalu memuji Allah ketika senang dan susah?" Maka, sekumpulan manusia akan bangkit dan masuk ke surga tanpa hisab. Lalu diumumkan lagi, "Siapakah orang-orang yang meninggalkan tempat tidurnya dan menghabiskan waktu malamnya dengan beribadah kepada Allah dengan rasa takut dan harap?" Maka, sekumpulan manusia bangkit dan masuk surga tanpa hisab. Lalu diumumkan lagi, "Siapakah orang-orang yang perniagaannya tidak menghalangi mereka dari mengingat Allah?" Maka, sekumpulan manusia bangun dan masuk surga tanpa hisab. Setelah ketiga kumpulan itu masuk surga, barulah dimulai hisab atas manusia lainnya. (Durrul Mantsur)
© 2013 - RizzStudio
Kisah Shalat Khubaib ra. Dan Kesyahidannya
Terbunuhnya orang-orang kafir pada perang Uhud, telah menyalakan api dendam di hati para pemuka kafir Quraisy. Sulafah, yang kedua putranya telah terbunuh dalam perang tersebut, telah bersumpah, jika ia menjumpai Ashim ra. (sahabat yang telah membunuh kedua anaknya), ia akan membunuhnya dan akan meminum darah dari tempurung kepalanya. Untuk itu, ia mengumumkan akan memberi hadiah 100 ekor unta kepada siapapun yang dapat membawa kepala Ashim ra. kepadanya. Mendengar sayembara itu, Sufyan bin Khalid sangat bergairah dan berkeyakinan bahwa ia akan dapat membawa kepala Ashim ra. kepada Sulafah. Lalu, la mengirim beberapa lelaki dari kaum Adhal Waqarah ke Madinah, berpura-pura memeluk Islam. Lalu mereka meminta Nabi saw. agar mengirim beberapa orang sahabat untuk memberikan ta'lim dan tabligh di kampung mereka. Juga memohon agar Ashim ra. turut serta dalam rombongan tersebut. Alasan mereka, nasehat Ashim ra. disukai orang-orang. Nabi saw. mengirim sepuluh orang sahabat ra., (riwayat lain enam sahabat) untuk menyertai kaum Adhal Waqarah, termasuk Ashim ra..
Dalam perjalanan pulang, ternyata orang-orang Adhal Waqarah ingkar janji. Mereka menyuruh musuh agar menyerang para sahabat, sehingga para sahabat ra. itu telah diserang oleh 200 orang yang diantara mereka ada seratus pemanah handal yang terkenal. Suatu riwayat menyebutkan, bahwa Nabi saw. mengirim beberapa orang Mekkah untuk mencari berita tentang mereka. Di tengah perjalanan, kaum Muslimin yang berjumlah enam atau sepuluh orang itu di serang oleh musuh dari Bani Lihyan sejumlah 200 orang. Melihat musuh demikian banyak, mereka lari ke arah bukit Fadfad. Kaum kafir itu berkata, "Kami tidak ingin menumpahkan darah kalian, kami hanya ingin menukar kalian dengan harta penduduk Mekkah. Kemarilah, kami tidak akan membunuh kalian!" "Kami tidak mempercayai janji orang kafir," sahut para sahabat sambil melepaskan anak-anak panah mereka dan mulailah pertempuran terjadi. Ketika anak panah telah habis, maka mereka menyerang dengan lembing. Ashim ra. berkata menyemangati kawan-kawannya, "Mereka telah menipu kita. Jangan panik. Yakinlah, bahwa syahid adalah ghanimah. Allah kekasih kita bersama-sama kita dan para bidadari surga sedang menunggu kita." Sambil berkata demikian, ia menyerang musuh dengan gagah berani, sampai lembingnya patah. Lalu ia gunakan pedangnya, namun musuh sangat banyak, sehingga ia gugur sebagai syahid. Di akhir hayatnya, beliau berdo'a, "Ya Allah, sampaikanlah berita kami kepada Rasulullah saw.." Dan do'a ini langsung dikabulkan oleh Allah swt.. Ketika itu juga Nabi saw. mengetahui kejadian tersebut. Dan ketika Ashim ra. mengetahui bahwa Sulafah berniat akan meminum darah dari tengkoraknya, maka ia berdo'a," Ya Allah, telah kukorbankan kepalaku di jalan-Mu, maka, selamatkanlah kepalaku." Allah menunaikan doa Ashim ra.. Ketika kaum kafir berniat akan memenggal kepalanya, Allah swt. mengirimkan sekumpulan lebah untuk melindungi mayat Ashim ra. dari berbagai arah, sehingga musuh gagal memenggal kepalanya. Akhirnya, mereka membiarkan mayat Ashim ketika itu, dan mayat itu akan diambil pada malam hari, jika lebah-lebah sudah tiada. Tetapi, pada malam itu turun hujan lebat, sehingga banjir telah menghanyutkan mayat Ashim ra..
Sementara itu, Tujuh atau tiga orang Muslimin telah syahid, yang tinggal adalah Khubaib, Zaid bin Datsanah, dan Abdullah bin Thariq ra.. Mereka bertiga tetap bertahan di atas bukit. Kafirin itu terus membujuk mereka, "Turunlah kemari, kami tidak akan ingkar janji." Akhirnya, mereka mempercayai janji musuh itu. Mereka turun dari bukit, dan seketika itu juga mereka diserang oleh musuh kafir. Abdullah bin Thariq ra. berteriak, "Kalian mengingkari janji. Aku tidak akan pernah mempercayai kalian-lagi. Aku lebih menyukai mati syahid bersama teman-temanku. Musuh memaksanya berjalan, tetapi ia tidak bergerak. Akhirnya, mereka menjadikannya syahid.
Tinggallah dua sahabat yang tersisa. Keduanya dibawa ke Mekkah dan dijual sebagai budak Zaid bin Datsanah ra. telah dibeli oleh Sofwan bin Umayah seharga lima puluh ekor unta, sebagai balas dendam atas kematian ayahnya. Sedangkan, Khubaib ra. telah dibeli oleh Hujair bin Abu Ahab seharga 100 ekor unta, untuk balas dendam atas kematian ayahnya. Dalam Bukhari diriwayatkan, ia telah dibeli oleh anak-anak Harits bin Amir karena ia telah membunuh Harits dalam perang Badar.
Zaid langsung dibawa Sofwan ke luar tanah Haram, dan ia serahkan Zaid ra. kepada budaknya, sambil berkata, "Bunuhlah ia." Dan ia sendiri hanya menyaksikan saja bersama orang-orang yang berkumpul menyaksikan pembunuhan tersebut, termasuk Abu Sofyan. Ketika algojo siap membunuh Zaid ra., Abu Sofyan bertanya, "Hai Zaid, Demi Tuhan, aku bertanya kepadamu, apakah kamu suka jika lehermu yang akan dipenggal ini digantikan dengan kepala Muhammad saw. dan kamu dibebaskan dapat berkumpul dengan keluargamu?" Zaid ra. menjawab, "Demi Allah! Sedikit pun aku tidak akan rela jika ada duri kecil menusuk kaki Nabi saw., walaupun aku dapat bersenang-senang dengan keluargaku." Jawaban ini menakjubkan kaum Quraisy. Abu Sufyan berkata, "Aku belum pernah melihat kasih sayang yang demikian tinggi seperti kasih sayang para sahabat ra. kepada Nabi saw.." Setelah itu Zaid dipenggal hingga syahid.
Sedangkan, Khubaib ra. ditawan oleh Hujair beberapa hari. Seorang budak perempuan Hujair, yang di kemudian hari memeluk Islam berkata, "Ketika Khubaib ditahan oleh kami, kami pernah melihatnya sedang memakan anggur sebesar kepala manusia. Padahal, ketika itu di Mekkah tidak ada anggur, sama sekali." Ia bercerita, ketika hari kematian Khubaib ra. telah dekat, ia telah meminta pisau cukur untuk membersihkan kumisnya. Permintaannya itu dipenuhi. Diberikan sebuah gunting kepadanya. Kebetulan ada seorang anak kecil bermain-main di dekatnya. Semua penghuni rumah itu langsung ketakutan, karena di tangan Khubaib ra. ada sebuah gunting dan anak itu berada di dekatnya. Khubaib ra. berkata, "Kalian tidak paham, apakah kalian pikir aku sanggup membunuh anak kecil yang tidak berdosa? Aku tidak mungkin melakukannya." Kemudian ia dibawa keluar tanah Haram. Sebelum dilaksanakan hukuman mati atasnya, ia ditanya, "Jika kamu menginginkan sesuatu sebutkanlah." Jawabnya, "Ijinkan aku shalat dua rakaat, karena tidak lama lagi aku akan meninggalkan dunia fana ini dan akan menemui Allah swt." Permintaannya itu dikabulkan. Ia laksanakan shalat dua raka'at dengan tenang. Setelah selesai, ia berkata, "Seandainya aku tidak khawatir, kalian menyangka aku takut mati sehingga shalatku ini lama, niscaya aku akan menambah lagi shalat dua raka'at." Dia pun diikat, lalu dia berdo'a, "Ya Allah, adakah seseorang yang akan menyampaikan salamku yang terakhir kepada Rasulullah saw.?" Ternyata, salamnya itu telah sampai kepada Nabi saw. melalui wahyu Allah swt.. Nabi saw. menjawab, "Waalaikum salam ya Khubaib." Lalu Nabi saw. bersabda kepada para sahabatnya, "Khubaib telah mati syahid di tangan kaum Quraisy."
Pembunuhan Khubaib ra. dilakukan oleh empat puluh orang Quraisy yang menikam dengan lembing dari empat arah, sehingga badannya hancur. Diantara mereka ada yang berkata, "Katakan, apakah kamu suka jika Muhammad saw. menggantikan tempatmu pada saat ini, dan kamu kami bebaskan?" Jawab Khubaib ra., "Demi Allah yang Maha Agung, aku tidak suka nyawaku ini ditebus dengan penderitaan Nabi saw. walaupun hanya duri kecil yang menancap di badan Rasulullah saw.."
Faedah:
Setiap lafadz dalam kisah-kisah di atas mengandung pelajaran bagi kita. Namun, ada dua pelajaran istimewa dalam kisah di atas. Pertama, para sahabat sangat mencintai Nabi saw. melebihi kecintaan pada diri mereka sendiri. Mereka bersumpah lebih rela kehilangan nyawa mereka daripada harus melihat Rasulullah saw. menderita, walaupun sepele. Walau pun hanya ucapan Khubaib ra. namun ia sangat tidak rela jika penderitaannya itu digantikan oleh Rasulullah saw.. Memang orang-orang kafir senantiasa menyakiti Nabi saw.. Kedua, Bagaimana keagungan dan kecintaan mereka pada shalat.
Biasanya, jika seseorang akan meninggal dunia, maka yang diingat adalah istri, anak, dan keluarganya. Sedangkan para sahabat, selain ingin mendirikan shalat pada saat-saat terakhir, mereka juga ingin memberi salam kepada Rasulullah saw..
© 2013 - RizzStudio
Seorang Sahabat Memadamkan Lampu Untuk Menjamu Tamunya
Seorang sahabat ra. menjumpai Nabi saw. dan mengadukan kelaparan dan penderitaannya kepada beliau saw.. Lalu Nabi saw. menyuruh seseorang untuk bertanya kepada istri-istri beliau, apakah di rumah ada sisa makanan atau tidak. Ternyata, tidak ada. Lalu Nabi saw. bertanya kepada para sahabatnya, "Adakah diantara kalian yang bersedia satu malam ini melayani tamu ini?" Seorang Anshar menyahut, "Ya Rasulullah, saya bersedia menerimanya sebagai tamu saya." Sahabat Anshar itu membawa pulang tamu tadi ke rumahnya, dan berkata kepada istrinya, "Ia adalah tamu Rasulullah saw.. Jangan sampai kita mengecewakannya dan jangan sampai kita menyembunyikan makanan kita." Jawab istrinya, "Demi Allah! Saya tidak menyimpan makanan kecuali sedikit, itupun hanya cukup untuk anak-anak kita." Jawab suaminya, "Hibur dulu anak-anak kita sampai mereka tidur. Jika sudah tidur, hidangkanlah makanan itu untuk tamu kita. Saya akan mengobrol dengannya. Jika kami akan mulai makan, padamkanlah lampu itu, sambil berpura-pura hendak membetulkannya kembali." Istrinya melaksanakan hal tersebut dengan baik. Malam itu, suami istri, juga anak-anaknya, terpaksa menahan lapar. Dan atas peristiwa ini, Allah swt. berfirman,
"Dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. "(Al Hasyr: 9)
Dan masih banyak lagi kisah para sahabat ra. seperti kisah di atas.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Tsabit Al-Anshari ra Menjamu Seseorang Berbuka Puasa
Ada seorang sahabat yang senantiasa puasa. Ia sering tidak mempunyai makanan untuk berbuka. Ketika Tsabit Al-Anshari ra. mengetahui keadaan sahabat itu, maka ia berkata kepada istrinya,
"Aku akan membawa seorang tamu malam ini, jika kami mulai makan, padamkanlah lampu dan berpura-puralah memperbaikinya. Selama perut tamu kita belum kenyang, kita jangan makan sedikit pun dari makanan itu."
Rencana mereka berjalan lancar. Keesokan paginya, ketika Tsabit ra. hadir di majelis Rasulullah saw., beliau saw. bersabda, "Wahai Tsabit! Allah sangat menghargai pelayananmu kepada tamumu tadi malam." (Durrul Mantsur)
© 2013 - RizzStudio
Kisah Seorang Sahabat Membayar Zakat Unta
Ubay bin Kaab ra. bercerita, "Suatu ketika, Rasulullah saw. menyuruhku untuk mengumpulkan zakat mal. Saya menjumpai seseorang, yang setelah ia jelaskan hartanya, ternyata ia wajib membayar zakat seekor anak unta berusia setahun. Saya pun menagih pembayaran tersebut. Dia berkata, "Apa gunanya seekor anak unta berusia setahun? Ia tidak dapat menyusui atau ditunggangi." Lalu, ia membawa seekor unta betina dewasa, dan berkata, "Ambillah unta ini." Sahut saya, "Saya tidak dapat menerima unta yang melebihi kadarnya. Namun, jika kamu bersikeras ingin memberikannya, kebetulan Nabi saw. akan mengunjungi suatu daerah di dekat sini hari ini. Sampaikanlah tawaranmu ini kepada beliau. Jika beliau tidak keberatan, saya tidak menolaknya. Sebaliknya, jika beliau keberatan, saya pun menolak."
Kemudian orang itu membawa unta betinanya kepada Nabi saw. bersama saya. Sesampainya di hadapan Nabi saw., ia berkata, "Ya Rasulullah! Utusanmu telah datang menemuiku untuk memungut zakat dariku. Demi Allah! Sebelumnya aku belum pernah memperoleh kesempatan yang sangat berbahagia ini, yaitu menunaikan zakat kepada Rasulullah ataupun wakilnya. Oleh karena itu, aku telah memberitahukan kepada wakilmu segala apa yang kumiliki. Setelah dihitung olehnya, ia telah memutuskan bahwa aku wajib memberikan seekor anak unta berusia setahun. Ya Rasulullah! Anak unta seumur itu belum dapat mengeluarkan susu atau memikul barang. Aku ingin menggantinya dengan seekor unta betina dewasa, tetapi ia tidak mau menerimanya. Untuk itulah, aku menemui tuan dengan membawa unta betina ini." Nabi saw. bersabda, "Memang benar, hanya itu saja yang wajib kamu keluarkan. Jika kamu sanggup memberi lebih dari kewajibanmu, itu pun akan diterima. Semoga Allah membalas kebaikanmu." Orang itu pun menyerahkan unta betinanya kepada Nabi saw. dan beliau menerimanya serta mendoakan keberkahan untuk orang itu."
Faedah:
Demikianlah contoh sahabat ra. menunaikan zakat harta mereka. Hari ini banyak yang mengaku sebagai pengikut dan pecinta Nabi saw.. Namun, jangankan menambah nilai zakat wajib kita, menunaikannya dengan kadar yang betul pun masih sangat sulit. Sebagian besar orang yang mampu hartanya, tidak memahami hal ini. Sedangkan kalangan menengah, memahami bahwa mereka adalah orang yang beragama. Zakat mereka, hanya ditunaikan untuk sanak saudara serta kaum kerabat saja. Kecuali jika terdesak, maka akan diberikan ke tempat lain. Dengan niat sebatas berzakat.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Perlombaan Bersedekah Antara Umar ra. Dengan Abu Bakar ra
Umar ra. berkata, "Suatu ketika Rasulullah saw. menyuruh kami agar berinfak di jalan Allah. Kebetulan, ketika itu ada sedikit harta pada saya, maka saya berkata dalam hati, 'Saat ini saya ada harta, saya akan korbankan harta saya melebihi pengorbanan Abu Bakar ra..' Saya pun pulang ke rumah dengan gembira. Lalu, saya membagi dua seluruh harta di rumah saya. Setengahnya saya tinggalkan untuk keluarga, dan setengahnya lagi saya serahkan kepada Nabi saw.. Beliau bertanya, "Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, wahai Umar?" Jawab saya, "Ada, ya Rasulullah." Beliau saw. bertanya lagi, "Apa yang kamu tinggalkan?" Jawab saya, "Saya tinggalkan untuk mereka setengah hartaku." Lalu, datanglah Abu Bakar ra. dengan membawa seluruh hartanya.
Nabi saw. bertanya kepadanya, "Wahai Abu Bakar, apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?" Sahut beliau, "Saya tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya." (maksudnya; Saya tinggalkan mereka dengan keberkahan dari Allah swt. dan Rasul-Nya, juga dengan ridha serta kerelaan keduanya). Melihat hal ini, Umar ra. berkata, "Aku tidak akan pernah dapat mengalahkan Abu Bakar ra.."
Faedah:
Berlomba-lomba dalam amal shaleh dan kebaikan satu sama lain, adalah sangat baik dan disukai. Al-Qu'an pun telah menganjurkannya. Kisah di atas terjadi menjelang perang Tabuk. Saat itu Rasulullah saw. memberi anjuran khusus untuk bersedekah. Dan para sahabat ra. dengan kemampuan masing-masing telah mengorbankan harta mereka fi sabilillah dengan penuh gairah dan semangat, sebagaimana dalam kisah kesembilan bab II. Semoga Allah swt. membalas kebaikan mereka, kita, dan seluruh kaum Muslimin.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Para Sahabat ra. Yang Syahid Kehausan
Abu Jahm bin Hudzaifah ra. berkata, "Ketika berlangsung perang Yarmuk, saya mencari keponakan saya yang menyertai pertempuran itu. Saya membawa sebuah kendi berisi air. Mungkin ia kehausan. Ketika saya menjumpainya dan akan memberinya minuman yang saya bawa, tiba-tiba terdengar suara rintihan seseorang. Keponakan saya menyuruh saya dengan isyarat, agar memberikan minuman itu kepada orang yang merintih itu.
Ternyata, orang itu adalah Hisyam bin Abil Ash ra.. Ketika saya mendatanginya, ternyata di dekatnya pun ada seseorang yang kehausan meminta air. Hisyam memberi saya isyarat agar saya mendekati orang itu. Ketika saya mendekatinya, ternyata ia telah meninggal dunia. Akhirnya, saya membawa kembali air itu kepada Hisyam ra., ternyata Hisyam ra. pun telah meninggal dunia. Saya langsung ke tempat keponakan saya tadi, rupanya ia pun telah meninggal dunia. 'Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun'. (Diroyah)
Faedah:
Sangat banyak kisah-kisah mengenai sifat itsar para sahabat yang tertulis dalam kitab-kitab hadits. Walaupun, saudaranya sendiri sedang kehausan, ia tetap mendahulukan kepentingan orang lain, yang juga dalam kesulitan. Ia tidak hanya berpikir untuk dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan saudaranya yang kedua, dan yang kedua pun memikirkan saudaranya yang ketiga, sehingga ketiga-tiganya meninggal dunia.
Allah swt. tentu akan melimpahkan kasih sayang dan kemuliaan bagi mereka, karena mereka mampu mencurahkan kasih sayang mereka, dengan mengorbankan nyawa mereka sendiri.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Pengkafanan Hamzah ra.
Paman Nabi saw., yaitu Hamzah ra. telah syahid pada perang Uhud. Orang-orang kafir itu telah memotong telinga, hidung, dan anggota-anggota tubuh Hamzah ra.. Dadanya dirobek dan hatinya dikeluarkan dengan sangat zhalim. Setelah pertempuran selesai, Nabi saw. bersama para sahabat ra. mencari para syuhada dalam pertempuran itu dan menyiapkan kain-kain kafan untuk mereka. Nabi saw. sangat bersedih ketika melihat keadaan mayat Hamzah ra.. Lalu, dengan sehelai kafan ditutupilah mayat Hamzah ra..
Kemudian, datanglah saudari Hamzah ra.; Shafiyah r.ha.. Melihat mayat saudaranya yang telah rusak, sebagai seorang wanita, hatinya kurang tabah melihat kezhaliman tersebut. Sebab itu, Rasulullah saw. segera menyuruh Zubair ra., putra Shafiyah ra. agar melarang ibunya mendekati mayat Hamzah ra.. Zubair ra. pun melarang ibunya agar tidak mendekati jenazah. Ibunya berkata, "Saya sudah mengetahui keadaan saudara saya, yang syahid dengan hidung, telinga dan anggota-anggota tubuhnya yang terpotong-potong. Karena ia sedang berjuang di jalan Allah, maka hal itu bukanlah masalah. Saya rela. Saya hanya mengharap pahala dari Allah swt., dan hry" Allah saya dapat bersabar." Lalu Zubair ra. menyampaikan hal itu kepada Nabi saw.. Mendengar itu, Shafiyah r.ha. diijinkan menengok kakaknya. Lalu Shafiyah r.ha. mendatangi mayat saudaranya itu, ia membaca, "Inna lillahi wa inna ilaihi ra ji'un." dan memohonkan istighfar baginya kepada Allah swt..
Dalam riwayat lain diceritakan; Ketika berlangsung perang Uhud, banyak bertebaran mayat para syuhada. Lalu ada seorang wanita yang melihat ke sana. Rasulullah saw. segera bersabda, "Lihat, cegahlah wanita itu." Zubair ra. bercerita, "Saya mengenalinya. Ternyata ia ibuku. Saya segera melarangnya, tetapi ia menolak keras, sehingga saya jatuh terpukul ibuku." Ibuku berkata, "Minggirlah." Kata saya, "Rasulullah saw. telah melarangmu." Ibuku langsung berhenti. Ia tidak jadi melihat mayat saudaranya. Lalu ia mengeluarkan dua helai kain kafan, seraya berkata, "Saya datang dengan membawa kain kafan untuk saudara saya. Saya telah mendengar kabar kematiannya, maka kafanilah ia dengan kain ini." Kami mengambil kain kafan tersebut dan bersiap mengkafani mayat Hamzah ra.. Ternyata di sisi mayat Hamzah ra., ada mayat seorang Anshar, yaitu Suhail yang keadaannya sama dengan Hamzah ra.. Kami merasa tidak enak hati, jika Hamzah ra. mendapatkan dua kain kafan sedangkan Suhail tidak mendapatkan kafan sehelai pun.
Akhirnya kami membagi dua kain kafan itu. Sehelai berukuran besar dan lainnya kecil. Kami pun mengundinya. Dan hasilnya, Suhail mendapatkan kain kafan panjang, sedangkan Hamzah mendapatkan kain pendek. Yang jika ditutupkan ke kakinya kepalanya akan terbuka. Dan jika ditutupkan ke kepalanya kakinya terbuka. Akhirnya Nabi saw. menyuruh agar kepalanya ditutup kain, dan kakinya ditutupi dedaunan. (Khamis)
Ibnu Sa'ad ra. menceritakan dalam riwayat lain; bahwa ketika Shafiyah r.ha. datang membawa dua helai kafan untuk mengkafani Hamzah ra. Ternyata di dekatnya ada mayat seorang Anshar dalam keadaan sama. Maka kain yang besar tadi diberikan kepada Hamzah ra.. Ini adalah riwayat yang singkat, sedangkan riwayat Khamis lebih terperinci.
Faedah:
Demikianlah kisah pengkafanan paman Rasulullah saw., raj a dua alam. Ketika pamannya syahid, dan ada seorang wanita yang membawakan kain kafan untuknya, tetapi karena ada mayat seorang Anshar tergeletak di sisinya tanpa kafan, maka beliau merasa tidak enak, sehingga kain itu dibagi menjadi dua. Bahkan pamannya mendapatkan bagian yang lebih pendek daripada orang Anshar itu. Padahal pamannya lebih berhak atas kain itu, namun rasa persamaan lebih diutamakan.
Orang-orang yang mendakwahkan persamaan, jika dakwaan mereka benar, maka seharusnya mereka mengikuti contoh di atas. Dan seharusnya kita merasa malu atas tingkah laku dan ucapan kita. Yang mengaku pengikut Nabi, tapi tidak mengikuti teladan mereka.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Pemberian Kepala Kambing Yang Kembali Lagi
Ibnu Umar ra. bercerita; Ada seorang sahabat ra. memberi kepala kambing kepada sahabatnya. Sahabat yang menerima itu berpikir, "Nampaknya, kawanku si fulan lebih memerlukan ini daripada saya." maka, ia berikan kepala kambing itu kepada tetangganya. Dan tetangganya itu pun berpikiran sama, bahwa tetangganya yang sebelah lebih memerlukan lagi, maka kepala kambing itu diberikan ke rumah sebelahnya. Demikianlah pikiran setiap sahabat yang mendapat kepala kambing itu, sehingga kepala kambing itu telah berkeliling ke tujuh rumah sampai akhirnya kembali ke rumah sahabat yang pertama. (Durr Mantsur).
Faedah:
Dari kisah ini, dapat kita ketahui bahwa semua sahabat itu memerlukannya. Dan dapat diketahui pula, bahwa mereka lebih mementingkan keperluan orang lain daripada keperluannya sendiri.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Istri Umar Yang Menolong Wanita Yang Akan Melahirkan
Ketika Amirul Mukminin, Umar ra. menjabat khalifah, pada malam hari ia sering berkeliling dari rumah ke rumah untuk menjaga kotanya. Suatu saat, ketika sedang meronda, ia melihat di sebuah tanah lapang ada sebuah kemah dari kulit yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ketika didekati, ia jumpai seorang lelaki sedang duduk di depan kemah, dan terdengar suara rintihan seseorang dari dalam kemah. Setelah memberi salam, Umar ra. duduk di dekat lelaki tadi sambil bertanya, "Siapakah kalian?" Jawab lelaki itu, "Kami adalah rombongan musafir yang tinggal di hutan." Lalu Umar ra. berkata, "Jika ada suatu keperluan, saya bersedia membantu Anda." Lanjut beliau, "Mengapa ada suara rintihan dari dalam?" Lelaki itu menjawab, "Silakan pergi, dan urus saja pekerjaanmu sendiri!" Setengah memaksa, Umar ra. tetap bertanya, "Mengapa seperti ada suara orang kesakitan?" Lelaki itu ter-paksa menjawab bahwa istrinya hampir melahirkan, sedang kesakitan. Tanya Umar ra., "Apakah ada wanita lain yang membantunya?" Jawab lelaki itu, "Tidak ada." Maka, Umar ra. segera kembali ke rumahnya, dan berkata kepada istrinya, Ummi Kultsum r.ha., "Ada pekerjaan berpahala besar datang untukmu." Istrinya bertanya, "Pekerjaan apa?" Kata Umar ra., "Ada istri seorang penduduk kampung sedang kesakitan karena hampir melahirkan, tanpa ada yang membantunya." Istrinya langsung menjawab, "Ya, untuk suatu kebaikan saya selalu siap." Bagaimana tidak bersedia, sedangkan ia adalah anak Fatimah r.ha. (cucu Rasulullah saw.).
Lalu Umar ra. menyuruhnya agar segera mempersiapkan keperluan melahirkan, seperti minyak, ketel, dan lain-lainnya. Juga dibawa serta mentega, gandum dan sebuah panci, lalu mereka pergi. Umar ra. berjalan di belakang. Setibanya di sana, Ummi Kultsum r.ha. segera masuk ke dalam kemah. Sedangkan Umar ra. langsung menyalakan tungku, memasukkan biji-biji gandum ke dalam panci. Setelah persalinan selesai, dari dalam Ummi Kultsum r.ha. berteriak, "Wahai Amirul Mukminin!, saudaramu telah dikarunia kegembiraan dengan kelahiran anak lelaki." Ketika kata 'Amirul Mukminin' terdengar oleh lelaki pemilik kemah itu, ia langsung gemetar. Umar ra. berkata, "Tidak perlu khawatir." Lalu panci masakan tadi dimasukkan ke dalam kemah. Ummi Kultsum r.ha. memberi makan kepada ibu yang baru melahirkan tadi. Setelah itu, panci dikeluarkan. Umar ra. berkata kepada lelaki itu," Ambillah, kamu pun mesti makan, karena malam ini kamu akan berjaga semalaman." Setelah semuanya selesai, Umar ra. dan istrinya pulang ke rumah. Sebelum pulang, Umar berkata kepada lelaki tadi, "Datanglah kepadaku esok, ada sesuatu yang akan saya berikanuntukmu." (Asyhar)
Faedah:
Adakah seorang raja, pemimpin atau orang kaya di jaman ini, yang peduli tentang keperluan orang miskin yang sepele, apalagi bersedia mengajak istrinya pada malam hari memasuki hutan atau perkampungan membantu orang-orang miskin, apalagi dengan tangannya sendiri mau memasakkan makanan untuk mereka. Jangankan orang kaya, ahli agama pun sangat sulit ditemui.
Inilah yang harus kita renungkan. Kita mengaku pengikut mereka. Kita berharap, semoga dengan berkah kisah tersebut, dapat mendorong kita untuk mengamalkannya. Mudah-mudahan, jika kita menemukan seperti keadaan di atas, kita siap melaksanakannya.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Abu Dzar ra. memperingatkan Pelayannya
Abu Dzar Al-Ghifari ra. adalah seorang sahabat yang masyhur, dan termasuk ahli zuhud. Kisah ke-Islamannya telah diceritakan dalam Bab I kisah ke-5. Ia tidak pemah mengumpulkan harta, juga tidak menyukai orang yang menumpuk harta. Ia sering mengecam para hartawan. Sehingga, khalifah Utsman ra. menyuruhnya agar menyendiri di Rabzah, yaitu suatu hutan yang sangat sedikit penduduknya.
Abu Dzar ra. memiliki beberapa ekor unta yang digembalakan oleh seorang lelaki tua dan lemah. Suatu ketika, ada seorang lelaki Banu Salim yang datang kepadanya dan menyampaikan keinginannya, "Saya ingin berkhidmat kepadamu, sehingga dapat mengambil manfaat dan pelajaran darimu. Saya siap menggembalakan unta-untamu, agar saya dapat mengambil berkah darimu." Abu Dzar ra. menjawab, "Kawanku adalah yang mau mentaatiku. Jika kamu bersedia mentaatiku, maka tinggallah bersamaku. Jika kamu tidak mendengar ucapanku, maka aku tidak memerlukanmu." Lelaki Banu Salim tadi bertanya, "Ketaatan manakah yang engkau maksud?" Beliau berkata, "Jika aku menyuruhmu untuk menyedekahkan hartaku, maka hendaknya kamu langsung memilih hartaku yang paling baik." Jawab pemuda itu, "Saya siap menerimanya." Maka, tinggallah pemuda itu bersama beliau.
Suatu hari, ada seseorang memberitahu bahwa ada beberapa orang yang sangat kelaparan dan kehausan. Beliau pun menyuruhku, "Ambilkan seekor unta." Selanjutnya, saya pergi melihat unta yang terbaik. Ternyata, ada seekor unta yang sangat bagus, harganya mahal, dan sangat menurut jika ditunggangi. Sesuai dengan janji saya untuk memilihkan pemberian yang terbaik, maka saya membawa unta tadi kepadanya. Namun, hati saya berpikir; unta ini terlalu bagus untuk diberikan kepada orang-orang miskin itu. Segera saya mengembalikan unta itu, dan saya ambil seekor unta betina yang derajatnya di bawah unta tadi. Lalu saya menghadapnya. Setelah melihat unta yang saya bawa, beliau berkata kepadaku, "Kamu telah mengkhianatiku!" Saya memahami maksudnya, maka saya segera kembali dan mengambil unta yang terbaik tadi. Kemudian beliau bertanya kepada orang-orang di sampingnya, "Apakah ada dua orang diantara kalian yang siap bekerja karena Allah?" Dua orang berdiri siap. Abu Dzar ra. berkata kepada mereka, "Sembelihlah unta ini, dan potong-potonglah, lalu bagikan ke setiap rumah! Rumah Abu Dzar ra. termasuk dalam hitungan yang memerlukan, dengan bagian yang sama dengan yang lain." Setelah memberi petunjuk pembagian daging tersebut, beliau memanggil saya, "Saya telah menyuruhmu agar memilih benda yang terbaik untuk disedekahkan, lalu kamu sengaja atau karena lalai telah mengingkarinya. Jika kamu lupa, tidak mengapa." Jawab saya, "Sebenarnya, saya tidak lupa. Mula-mula, saya telah memilih unta yang terbaik tadi, namun hati saya berkata bahwa unta itu paling bagus dalam kerja, dan sangat diperlukan, sedangkan unta-unta yang lain masih banyak. Engkau pun masih memerlukannya. Karena itulah saya tinggalkan unta itu." Beliau berkata, "Engkau justr tidak memenuhi keperluanku." Saya menjawab, "Saya telah memenuhi keperluanmu." Beliau menyahut, "Apakah kamu ingin tahu apa itu keperluanku? Keperluanku adalah pada hari di mana aku akan diletakkan di dalam kubur sendirian. Hari itulah hari keperluan dan kepentinganku yang sebenarnya. Harta itu ada tiga bagian; Yang pertama, adalah yang sudah ditakdirkan pasti akan dibawa, yang baik atau buruk. Kedua, adalah harta warisan yang akan dibagi-bagikan. Jika kamu mati, maka orang lain akan memilikinya. Dan ketiga adalah harta untuk dirimu sendiri, yaitu amal shaleh. Jika dapat, usahakanlah kita dapatkan ketiganya. Tetapi, setidaknya kita berusaha sekuat tenaga untuk mendapatlzan harta yang ketiga, karena itulah harta yang ucimanfaat bagi kita di hadapan Allah swt.. Allah swt. berfirman;
"Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu nafkahkan sebagian harta yang paling kamu cintai. "(Ali Imran: 92)
Oleh sebab itu, saya menginfakkan harta yang paling saya sukai, sehingga akan menjadi tabungan saya di akherat. Dan itulah yang sedang saya kumpulkan.
Faedah:
Maksud 'harta yang paling bermanfaat diantara tiga bagian' adalah; Usahakan semampu kita untuk menyimpan harta kita di akherat. Jangan sampai keterlaluan mengumpulkan harta sehingga akan sia-sia, atau ketika meninggal dunia, harta itu akan berpindah ke tangan orang lain, dimana kitalah yang kelak akan ditanya. Dalam beberapa hari, anak, keluarga, istri akan melupakan kepergian pemilik harta. Sangat sedikit ahli waris orang yang meninggal dunia, menyedekahkan hartanya lalu menghadiahkan pahalanya bagi si mayit dan mengingatnya. Rasulullah saw. bersabda, "Orang selalu mengatakan, "Hartaku, hartaku." Padahal hartanya hanyalah yang telah ia makan, yang telah ia pakai, yang telah ia usangkan, yang telah dihabiskan olehnya, yang telah dirusak ataupun yang telah dibelanjakan di jalan Allah swt.. Dan harta yang telah ia kumpulkan selain digunakan untuk tadi, sebenarnya telah ia kumpulkan untuk orang lain."
Nabi saw. bersabda, "Siapakah diantara kalian yang menjadikan harta waris itu lebih baik daripada hartanya?" Sahut para sahabat ra., "Ya Rasulullah saw., siapakah yang lebih menyukai harta orang lain daripada hartanya sendiri?" Jawab Beliau saw., "Harta miliknya ialah harta yang telah ia infakkan, dan yang kamu tinggalkan adalah milik ahli warismu." (Misykat)
© 2013 - RizzStudio
Kisah Ja'far ra.
Ja'far Thayyar ra. adalah keponakan Rasulullah saw., kakak kandung Ali ra.. Pada mulanya, keluarganya terkenal sebagai keluarga yang sangat dermawan, pemberani, dan pahlawan di kalangan Quraisy. Namun Ja'far ra., mempunyai pergaulan khusus dengan orang-orang miskin. Ia banyak bergaul dengan orang-orang miskin.
Disebabkan kezhaliman kafir Quraisy, kaum Muslimin berhijrah pertama kaliny a ke Habsy ah. Dan Ja'far ra. ikut rombongan itu. Namun kaum kafir Quraisy tidak membiarkan kaum Muslimin begitu saja.
Mereka mengirim beberapa orang Quraisy, menghadap ke raja Najasyi, yang kisahnya telah diceritakan dalam Bab I, kisah ke-10 yang lalu. Setelah hijrah ke Habsyah, Ja'far pulang dan berhijrah ke Madinah, dan syahid dalam perang Mu'tah, yang kisahnya akan dikisahkan pada lembaran mendatang.
Ketika ia wafat, Rasulullah saw. menziarahi keluarganya dan memanggil anak-anaknya, yaitu; Abdulllah, Aun, dan Muhammad ra.. mereka masih kecil-kecil. Rambut mereka dibelai dan dido'akan keberkahan oleh Nabi saw.. Anak-anaknya memiliki warna sifat yang sama seperti ayahnya. Namun sifat kedermawanan Abdullah ra. lebih menonjol.. Sehingga, ia digelari 'Qutubus Sakho' ketua para dermawan. Pada usia tujuh tahunia telah dibaiat oleh Rasulullah saw..
Suatu ketika, Abdullah bin Ja'far ra. meminta perlindungan bagi seseorang kepada Ali ra., dan Ali ra. mengabulkannya. Setelah orang itu bebas, maka sebagai tanda terima kasihnya, ia memberi 40.000 dirham kepada Abdullah bin Ja'far ra.. Namun Abdullah menolaknya, sambil berkata, "Kami tidak menjual kebaikan kami." Dan juga pernah, ada seseorang datang di majelisnya dan memberinya hadiah 2000 dirham. Langsung ia bagikan uang tersebut kepada ahli majelis itu sampai habis. Pada kesempatan lain, ada seorang pedagang menjual gula dalam jumlah banyak di pasar. Tetapi tiada seorang pun yang membelinya. Ia sangat bersedih. Lalu lewatlah Abdullah bin Ja'far ra.. Melihat keadaannya, Abdullah menyuruh pelayannya agar membeli semua gula tadi dan membagi-bagikannya ke semua orang dengan cuma-cuma. Ia pun akan menjamu makan minum setiap kabilah atau tamu yang mengunjunginya, juga keperluannya, walaupun pada malam hari. (Al-Ishabah)
Suatu ketika, Zubair ra. menyertai suatu peperangan. Sebelum berangkat, ia berwasiat kepada anaknya, Abdullah bin Zubair ra., "Saya merasa, bahwa pada hari ini saya akan mati sy?' .id, maka kamu hendaknya melunasi utang-utang saya, dan selesaikan pekerjaan saya pada fulan dan fulan." Ia berwasiat demikian, dan syahid pada hari itu. Ketika Ibnu Zubair ra. menghitung seluruh utang ayahnya, ternyata berjumlah 2.200.000 dirham. Padahal sebenarnya beliau ini terkenal sifat amanahnya. Banyak orang menitipkan amanah kepada Zubair ra.. Tetapi Zubair ra. senantiasa berkata kepada orang yang menitipkan itu, "Saya ini bukan tempat penyimpanan amanah. Jadi titipan kalian akan saya anggap sebagai utang saya kepada kalian. Jika kalian memerlukannya, maka ambillah dari saya." Kemudian uang itu ia gunakan untuk bersedekah kepada fakir miskin.
Beliau berwasiat kepada Ibnu Zubair ra., "Jika kamu ada kesulitan, mintalah kepada tuan saya." Ibnu Zubair ra. merasa tidak paham, maka ia bertanya, "Siapakah tuanmu, ayah?" Dijawab, "Allah." Akhirnya, Ibnu Zubair ra. dapat melunasi utang-utangnya.
Abdullah bin Zubair ra. bercerita, "Jika ada kesulitan, maka saya akan berkata, "Wahai Tuannya Zubair! pekerjaan si fulan belum diselesaikan." Dan pekerjaan-pekerjaan tersebut menjadi mudah diselesaikan. Selanjutnya ia bercerita, "Suatu ketika, saya berkata kepada Abdullah bin Ja'far ra., "Dalam daftar utang ayahku, kamu berutang sejuta dirham kepada ayahku." Abdullah bin Ja'far ra. menjawab, "Jika demikian, ambillah bayarannya." Namun, setelah saya teliti kembali catatannya, ternyata saya telah melakukan kesalahan. Saya segera kembali ke Abdullah bin Ja'far ra.. Saya berkata, "Ternyata ada kesalahan dalam catatan saya." Abdullah bin Ja'far ra. menjawab, "Saya telah memaafkannya." Saya berkata, "Tidak, tidak cukup dengan memaafkan, saya mesti membayarnya." Abdullah bin Ja'far menjawab, "Jika demikian, bayarlah sesuai kemampuanmu." Saya katakan, "Ambillah sebidang tanah saya sebagai pembayarannya." Saat itu banyak tanah yang saya dapatkan dari rampasan perang. Abdullah bin Ja'far ra. berkata, "Bagus, saya menerimanya." Padahal saya telah memberinya tanah gersang. Bahkan, air pun tidak ada. Tetapi beliau langsung menerimanya dan berkata kepada budaknya, "Hamparkanlah sajadah di atas tanah ini." Setelah dihamparkan sajadahnya, ia shalat dua rakaat dengan sujud yang sangat lama. Selesai shalat, beliau menyuruh hambanya agar menggali sebuah tempat di atas tanah tersebut. Beberapa lama setelah hambanya menggali, terpancarlah sebuah mata air yang sangat deras dari tempat itu. (Asadul Ghobah)
Faedah:
Demikian perilaku para sahabat ra.. Dan masih banyak lagi kejadian seperti itu. Hal itu bukan suatu hal luar biasa bagi mereka. Sifat tersebut, secara umum dimiliki oleh seluruh sahabat ra..
© 2013 - RizzStudio
Keadaan Lapar Rasulullah SAW
Muslim dan Tarmidzi telah meriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir ra. dia berkata: Bukankah kamu sekarang mewah dari makan dan minum, apa saja yang kamu mau kamu mendapatkannya? Aku pernah melihat Nabi kamu Muhammad SAW hanya mendapat korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya!
Dalam riwayat Muslim pula dari An-Nu’man bin Basyir ra. katanya, bahwa pada suatu ketika Umar ra. menyebut apa yang dinikmati manusia sekarang dari dunia! Maka dia berkata, aku pernah melihat Rasulullah SAW seharian menanggung lapar, karena tidak ada makanan, kemudian tidak ada yang didapatinya pula selain dari korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya.
Suatu riwayat yang diberitakan oleh Abu Nu’aim, Khatib, Ibnu Asakir dan Ibnun-Najjar dari Abu Hurairah ra. dia berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika dia sedang bersembahyang duduk, maka aku pun bertanya kepadanya: Ya Rasulullah! Mengapa aku melihatmu bersembahyang duduk, apakah engkau sakit? jawab beliau: Aku lapar, wahai Abu Hurairah! Mendengar jawaban beliau itu, aku terus menangis sedih melihatkan keadaan beliau itu. Beliau merasa kasihan melihat aku menangis, lalu berkata: Wahai Abu Hurairah! jangan menangis, karena beratnya penghisaban nanti di hari kiamat tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia. (Kanzul Ummal 4:41)
Ahmad meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Sekali peristiwa keluarga Abu Bakar ra. (yakni ayahnya) mengirim (sop) kaki kambing kepada kami malam hari, lalu aku tidak makan, tetapi Nabi SAW memakannya – ataupun katanya, beliau yang tidak makan, tetapi Aisyah makan, lalu Aisyah ra. berkata kepada orang yang berbicara dengannya: Ini karena tidak punya lampu. Dalam riwayat Thabarani dengan tambahan ini: Lalu orang bertanya: Hai Ummul Mukminin! Apakah ketika itu ada lampu? Jawab Aisyah: Jika kami ada minyak ketika itu, tentu kami utamakan untuk dimakan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:155; Kanzul Ummal 5:155)
Abu Ya’la memberitakan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Ada kalanya sampai berbulan-bulan berlalu, namun di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak ada satu hari pun yang berlampu, dan dapurnya pun tidak berasap. Jika ada minyak dipakainya untuk dijadikan makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:154; Majma’uz Zawatid 10:325)
Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Urwah dari Aisyah ra. dia berkata: Demi Allah, hai anak saudaraku (Urwah anak Asma, saudara perempuan Aisyah), kami senantiasa memandang kepada anak bulan, bulan demi bulan, padahal di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak pernah berasap. Berkata Urwah: Wahai bibiku, jadi apalah makanan kamu? Jawab Aisyah: Korma dan air sajalah, melainkan jika ada tetangga-tetangga Rasulullah SAW dari kaum Anshar yang membawakan buat kami makanan. Dan memanglah kadang-kadang mereka membawakan kami susu, maka kami minum susu itu sebagai makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:155)
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Aisyah ra. katanya: sering kali kita duduk sampai empat puluh hari, sedang di rumah kami tidak pernah punya lampu atau dapur kami berasap. Maka orang yang mendengar bertanya: Jadi apa makanan kamu untuk hidup? Jawab Aisyah: Korma dan air saja, itu pun jika dapat. (Kanzul Ummal 4:3
Tarmidzi memberitakan dari Masruq, katanya: Aku pernah datang menziarahi Aisyah ra. lalu dia minta dibawakan untukku makanan, kemudian dia mengeluh: Aku mengenangkan masa lamaku dahulu. Aku tidak pernah kenyang dan bila aku ingin menangis, aku menangis sepuas-puasnya! Tanya Masruq: Mengapa begitu, wahai Ummul Mukminin?! Aisyah menjawab: Aku teringat keadaan di mana Rasulullah SAW telah meninggalkan dunia ini! Demi Allah, tidak pernah beliau kenyang dari roti, atau daging dua kali sehari. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:14)
Dalam riwayat Ibnu Jarir lagi tersebut: Tidak pernah Rasulullah SAW kenyang dari roti gandum tiga hari berturut-turut sejak beliau datang di Madinah sehingga beliau meninggal dunia. Di lain lain versi: Tidak pernah kenyang keluarga Rasulullah SAW dari roti dua hari berturut-turut sehingga beliau wafat. Dalam versi lain lagi: Rasulullah SAW telah meninggal dunia, dan beliau tidak pernah kenyang dari korma dan air. (Kanzul Ummal 4:3)
Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi telah berkata Aisyah ra.: Rasulullah SAW tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut, dan sebenarnya jika kita mau kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar dari dirinya sendiri. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)
Ibnu Abid-Dunia memberitakan dari Al-Hasan ra. secara mursal, katanya: Rasulullah SAW selalu membantu orang dengan tangannya sendiri, beliau menampal bajunya pun dengan tangannya sendiri, dan tidak pernah makan siang dan malam secara teratur selama tiga hari berturut-turut, sehingga beliau kembali ke rahmatullah. Bukhari meriwayatkan dari Anas ra. katanya: Tidak pernah Rasulullah SAW makan di atas piring, tidak pernah memakan roti yang halus hingga beliau meninggal dunia. Dalam riwayat lain: Tidak pernah melihat daging yang sedang dipanggang (maksudnya tidak pernah puas makan daging panggang). (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)
Tarmidzi memberitakan dari Ibnu Abbas ra. katanya: Rasulullah SAW sering tidur malam demi malam sedang keluarganya berbalik-balik di atas tempat tidur karena kelaparan, karena tidak makan malam. Dan makanan mereka biasanya dari roti syair yang kasar. Bukhari pula meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. katanya: Pernah Rasulullah SAW mendatangi suatu kaum yang sedang makan daging bakar, mereka mengajak beliau makan sama, tetapi beliau menolak dan tidak makan. Dan Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW meninggal dunia, dan beliau belum pernah kenyang dari roti syair yang kasar keras itu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148 dan 151)
Pernah Fathimah binti Rasulullah SAW datang kepada Nabi SAW membawa sepotong roti syair yang kasar untuk dimakannya. Maka ujar beliau kepada Fathimah ra: Inilah makanan pertama yang dimakan ayahmu sejak tiga hari yang lalu! Dalam periwayatan Thabarani ada tambahan ini, yaitu: Maka Rasulullah SAW pun bertanya kepada Fathimah: Apa itu yang engkau bawa, wahai Fathimah?! Fathimah menjawab: Aku membakar roti tadi, dan rasanya tidak termakan roti itu, sehingga aku bawakan untukmu satu potong darinya agar engkau memakannya dulu! (Majma’uz Zawa’id 10:312)
Ibnu Majah dan Baihaqi meriwayatkan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Sekali peristiwa ada orang yang membawa makanan panas kepada Rasulullah SAW maka beliau pun memakannya. Selesai makan, beliau mengucapkan: Alhamdulillah! Inilah makanan panas yang pertama memasuki perutku sejak beberapa hari yang lalu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)
Bukhari meriwayatkan dari Sahel bin Sa’ad ra. dia berkata: Tidak pernah Rasulullah SAW melihat roti yang halus dari sejak beliau dibangkitkan menjadi Utusan Allah hingga beliau meninggal dunia. Ada orang bertanya: Apakah tidak ada pada zaman Nabi SAW ayak yang dapat mengayak tepung? Jawabnya: Rasulullah SAW tidak pernah melihat ayak tepung dari sejak beliau diutus menjadi Rasul sehingga beliau wafat. Tanya orang itu lagi: Jadi, bagaimana kamu memakan roti syair yang tidak diayak terlebih dahulu? Jawabnya: Mula-mula kami menumbuk gandum itu, kemudian kami meniupnya sehingga keluar kulit-kulitnya, dan yang mana tinggal itulah yang kami campurkan dengan air, lalu kami mengulinya. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)
Tarmidzi memberitakan daripada Abu Talhah ra. katanya: Sekali peristiwa kami datang mengadukan kelaparan kepada Rasulullah SAW lalu kami mengangkat kain kami, di mana padanya terikat batu demi batu pada perut kami. Maka Rasulullah SAW pun mengangkat kainnya, lalu kami lihat pada perutnya terikat dua batu demi dua batu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:156)
Ibnu Abid Dunia memberitakan dari Ibnu Bujair ra. dan dia ini dari para sahabat Nabi SAW Ibnu Bujair berkata: Pernah Nabi SAW merasa terlalu lapar pada suatu hari, lalu beliau mengambil batu dan diikatkannya pada perutnya. Kemudian beliau bersabda: Betapa banyak orang yang memilih makanan yang halus-halus di dunia ini kelak dia akan menjadi lapar dan telanjang di hari kiamat! Dan betapa banyak lagi orang yang memuliakan dirinya di sini, kelak dia akan dihinakan di akhirat. Dan betapa banyak orang yang menghinakan dirinya di sini, kelak dia akan dimuliakan di akhirat.’
Bukhari dan Ibnu Abid Dunia meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Bala yang pertama-tama sekali berlaku kepada ummat ini sesudah kepergian Nabi SAW ialah kekenyangan perut! Sebab apabila sesuatu kaum kenyang perutnya, gemuk badannya, lalu akan lemahlah hatinya dan akan merajalelalah syahwatnya!
(At-Targhib Wat-Tarhib 3:420).
© 2013 - RizzStudio
Keadaan Rumah Istri-Istri Nabi SAW
Ketika rombongan keluarga Nabi SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. sampai di Madinah, ketika itu Rasulullah SAW sedang membangun masjid dan ruangan-ruangan di sekeliling masjid itu. Lalu Nabi SAW menempatkan mereka di sebuah rumah milik Haritsah bin Nu'man ra. Rasulullah SAW menyempurnakan pernikahannya dengan 'Aisyah di ruangan itu. Dan Rasulullah SAW pun dikuburkan di tempat yang sama. Haritsah bin Nu'man memiliki beberapa rumah di sekitar masjid Nabawi. Apabila Rasulullah SAW menikahi seseorang, maka Haritsah akan pindah dari rumahnya demi beliau, sehingga akhirnya semua rumahnya digunakan untuk Rasulullah SAW dan istri-istri beliau. Nabi SAW membuat pintu masuk ke masjid meialui pintu kamar 'Aisyah. Sehingga diriwayatkan bahwa ketika beliau sedang beri'tikaf, beliau nienjengukkan kepalanya dari masjid lewat pintu 'Aisyah. lalu 'Aisyah mencuci kepala beliau sementara dia sedang haid.
Setelah perombakan demi perombakan, akhirnya rumah para istri Nabi SAW harus digusur pada masa Walid bin Abdul Malik. Abdullah bin Yazid berkata tentang kejadian penggusuran itu, "Aku melihat rumah-rumah istri Rasulullah SAW ketika dihancurkan oleh Umar bin Abdul Aziz pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik. Rumah-rumah itu disatukan dengan masjid. Rumah-rumah itu terbuat dari bata kering, dan ruangan-ruangannya dibuat dari batang pohon kurma yang disatukan dengan lumpur. Ada sembilan rumah dengan kamar-kamarnya. Rumah itu dimulai dari rumah 'Aisyah dengan pintu yang berhadapan dengan pintu kamar Rasulullah SAW, sampai rumah Asma' binti Hasan. Aku melihat rumah Ummu Salamah dan ruangan-ruangannya terbuat dari bata. Cucu laki-lakinya berkata, "Ketika Rasulullah SAW menyerang Dumatut jandal, Ummu Salamah membangun ruangan dengan bata. Ketika Rasulullah SAW datang dan melihat bata itu, beliau masuk menemui Ummu Salamah rha. dan bertanya, bangunan apa ini?' Dia menjawab, 'Ya Rasulullah SAW, aku ingin menghalangi pandangan orang'. Beliau SAW berkata, 'Wahai Ummu Salamah, hal terburuk bagi seorang Muslim dalam membelanjakan uangnya adalah untuk bangunan.'
Di antara makam dan mimbar, terdapat kamar-kamar istri Rasulullah SAW yang terbuat dari batang pohon kurma dengan pintu-pintunya yang ditutupi dengan kain wol hitam. Dan pada hari surat Walid bin Abdul Malik dibacakan, yang memerintahkan agar kamar, kamar istri-istri Rasulullah SAW tersebut disatukan dengan masjid Nabi, banyak orang yang menangis kehilangan. Sa'id bin Musayab rah.a. juga bercerita tentang hari itu, 'Demi Allah, aku berharap bahwa kamar-kamar itu dibiarkan sebagaimana adanya, sehingga orang-orang Madinah dan para pengunjung dari jauh bisa melihat seolah-olah Rasulullah SAW masih hidup. Hal itu termasuk bagian dari hal-hal yang akan memberi semangat kepada umat untuk menahan diri dari mencari dan menyibukkan diri atas sesuatu yang tidak berguna di dunia ini'.
lmran bin Abi Anas berkata, 'Di antara rumah-rumah itu ada empat buah rumah yang terbuat dari bata dengan kamar-kamar dari pohon kurma. Ada lima rumah dari batang pohon kurma dilapisi lumpur tanpa bata. Aku mengukur gordennya dan mendapati ukurannya tiga kali satu cubit, dan areanya itu sedemikian, lebih atau kurang. Sedangkan mengenai tangisan, aku bisa mengingat kembali diriku pada sebuah perkumpulan yang dihadiri sebagian sahabat Rasulullah SAW, termasuk Abu Salamah bin Abdurrahman, Abu Umamah bin Sahal, dan Kharijah bin Zaid. Mereka menangis sampai janggut mereka basah oleh air mata. Tentang hari itu Abu Umamah berkata, 'Seandainya mereka membiarkan dan tidak menghancurkannya sehingga orang-orang bisa menahan diri dari membangun bangunan dan mencukupkan dengan apa yang Allah ridhai pada Rasul-Nya walaupun kunci harta dunia di tangan beliau.'
© 2013 - RizzStudio
Penderitaan Nabi SAW (1)
Baihaqi memberitakan dari Abdullah bin Ja'far ra. katanya: Saat Abu Thalib telah meninggal dunia, mulailah Nabi SAW diganggu dan ditentang secara terang-terangan. Satu peristiwa, beliau telah dihadang di jalanan oleh salah seorang pemuda jahat Quraisy, diraupnya tanah dan dilemparkan ke muka beliau, namun beliau tidak membalas apa pun.
Apabila beliau tiba di rumah, datang salah seorang puterinya, lalu membersihkan muka beliau dari tanah itu sambil menangis sedih melihat ayahnya diperlakukan orang seperti itu. Maka berkatalah Rasulullah SAW kepada puterinya itu: 'Wahai puteriku! Jangan engkau menangis begitu, Allah akan melindungi ayahmu!' beliau membujuk puterinya itu.
Beliau pernah berkata: Sebelum ini memang kaum Quraisy tidak berani membuat sesuatu seperti ini kepadaku, sehinggalah selepas Abu Thalib meninggal dunia, mulailah mereka menggangguku dan mengacau ketenteramanku. Dalam riwayat yang lain, beliau berkata kepadanya karena menyesali perbuatan jahat kaum Quraisy itu: Wahai paman! Alangkah segeranya mereka menggangguku sesudah engkau hilang dari mataku! (Hilyatul Auliya 8:308; Al-Bidayah Wan-Nihayah 3:134)
Thabarani telah memberitakan dari Al-Harits bin Al-Harits yang menceritakan peristiwa ini, katanya: Apabila aku melihat orang ramai berkumpul di situ, aku pun tergesa-gesa datang ke situ, menarik tangan ayahku yang menuntunku ketika itu, lalu aku bertanya kepada ayahku: 'Apa sebab orang ramai berkumpul di sini, ayah?' 'Mereka itu berkumpul untuk mengganggu si pemuda Quraisy yang menukar agama nenek-moyangnya!' jawab ayahku. Kami pun berhenti di situ melihat apa yang terjadi. Aku lihat Rasulullah SAW mengajak orang ramai untuk mengesakan Allah azzawajaila dan mempercayai dirinya sebagai Utusan Allah, tetapi aku lihat orang ramai mengejek-ngejek seruannya itu dan mengganggunya dengan berbagai cara sehinggalah sampai waktu tengah hari, maka mulailah orang bubar dari situ.
Kemudian aku lihat seorang wanita datang kepada beliau membawa air dan sehelai kain, lalu beliau menyambut tempat air itu dan minum darinya. Kemudian beliau mengambil wudhuk dari air itu, sedang wanita itu menuang air untuknya, dan ketika itu agak terbuka sedikit pangkal dada wanita itu. Sesudah selesai berwudhuk, beliau lalu mengangkat kepalanya seraya berkata kepada wanita itu: Puteriku! lain kali tutup rapat semua dadamu, dan jangan bimbang tentang ayahmu! Ada orang bertanya: Siapa dia wanita itu? jawab mereka: Itu Zainab, puterinya - radhiallahu anha. (Majma'uz-Zawa'id 6:21)
Dalam riwayat yang sama dari Manbat Al-Azdi, katanya: Pernah aku melihat Rasulullah SAW di zaman jahiliah, sedang beliau menyeru orang kepada Islam, katanya: 'Wahai manusia sekaliani Ucapkanlah 'Laa llaaha lliallaah!' nanti kamu akan terselamat!' beliau menyeru berkali-kali kepada siapa saja yang beliau temui. Malangnya aku lihat, ada orang yang meludahi mukanya, ada yang melempar tanah dan kerikil ke mukanya, ada yang mencaci-makinya, sehingga ke waktu tengah hari.
Kemudian aku lihat ada seorang wanita datang kepadanya membawa sebuah kendi air, maka beliau lalu membasuh wajahnya dan tangannya seraya menenangkan perasaan wanita itu dengan berkata: Hai puteriku! Janganlah engkau bimbangkan ayahmu untuk diculik dan dibunuh ... ! Berkata Manbat: Aku bertanya: Siapa wanita itu? Jawab orang orang di situ: Dia itu Zainab, puteri Rasuluilah SAW dan wajahnya sungguh cantik. (Majma'uz Zawa'id 6:21)
© 2013 - RizzStudio
Penderitaan Nabi SAW (2)
Bukhari meriwayatkan dari Urwah r.a. katanya: Aku bertanya Amru bin Al-Ash ra. mengenai apa yang dideritai Nabi SAW ketika beliau berdakwah mengajak orang masuk Islam, kataku: 'Beritahu aku tentang perbuatan yang paling kejam yang pernah dibuat oleh kaum musyrikin terhadap Rasulullah SAW? Maka Amru berkata: Ketika Nabi berada di Hijir Ka'bah, tiba-tiba datang Uqbah bin Abu Mu'aith, lalu dibelitkan seutas kain pada tengkuk beliau dan dicekiknya dengan kuat sekali. Maka seketika itu pula datang Abu Bakar ra. lalu dipautnya bahu Uqbah dan ditariknyanya dengan kuat hingga terlepas tangannya dari tengkuk Nabi SAW itu. Abu Bakar berkata kepada Uqbah: 'Apakah engkau hendak membunuh orang yang mengatakan 'Tuhanku ialah Allah!' padahal dia telah membawa keterangan dari Tuhan kamu?!' (Al-Bidayah Wan-Nihayah 3:46)
Suatu riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Amru bin Al-Ash ra. katanya: Aku tidak pemah lihat kaum Quraisy yang hendak membunuh Nabi SAW seperti yang aku lihat pada suatu hari di bawah lindungan Ka'bah. Mereka bersepakat merencanakan pembunuhan beliau sedang mereka duduk di sisi Ka'bah. Apabila Rasulullah SAW datang dan bersembahyang di Maqam, lalu bangunlah Uqbah bin Abu Mu'aith menuju kepada Rasulullah SAW dan membelitkan kain ridaknya ke tengkuk beliau, lalu disentaknya dengan kuat sekali, sehingga beliau jatuh tersungkur di atas kedua lututnya. Orang ramai yang berada di situ menjerit, menyangka beliau telah mati karena cekikan keras dari Uqbah itu. Maka ketika itu segeralah Abu Bakar ra. datang dan melepaskan cekikan Uqbah dari Rasulullah SAW itu dari belakangnya, seraya berkata: Apa ini? Adakah engkau hendak membunuh orang yang mengatakan 'Tuhanku ialah Allah!' Uqbah pun segera berundur dari tempat Rasuluilah SAW itu kembali ke perkumpulan teman-temannya para pemuka Quraisy itu. Rasulullah SAW hanya bersabar saja, tidak mengatakan apa pun. Beliau lalu berdiri bersembahyang, dan sesudah selesai sembahyangnya dan ketika hendak kembali ke rumahnya, beliau berhenti sebentar di hadapan para pemuka Quraisy itu sambil berkata: 'Hai kaum Quraisy! Demi jiwa Muhammad yang berada di dalam genggaman Tuhan! Aku diutus kepada kamu ini untuk menyembelih kamu!' beliau lalu mengisyaratkan tangannya pada tenggorokannya, yakni beliau rnenjanjikan mereka bahwa mereka akan mati terbunuh. 'Ah, ini semua omong kosong!' kata Abu jahal menafikan ancaman Nabi SAW itu. 'Ingatlah kataku ini, bahwa engkau salah seorang dari yang akan terbunuh!' sambil menunjukkan jarinya ke muka Abu jahal. (Kanzul Ummal 2:327)
© 2013 - RizzStudio
Perjuangan Meninggikan Kalimatullah
Abu Nu'aim telah memberitakan dari Jubair bin Nufair dari ayahnya, katanya: Ketika sedang kami duduk-duduk dengan Al-Miqdad bin Al-Aswad r.a. pada suatu hari, tiba-tiba datang kepadanya seorang lelaki, lalu berkata: Beruntunglah kedua belah mata yang telah melihat Rasulullah SAW. Demi Allah, kami sungguh bercita-cita jika dapat melihat apa yang engkau lihat, dan menyaksikan apa yang engkau saksikan, engkau telah mendengar, lalu engkau merasa kagum dari kebaikan yang dikatakan kepadamu!
Mendengar itu, Al-Miqdad bin Al-Aswad pun menghadapinya seraya berkata: Mengapa sampai ada seseorang di antara kamu yang bercita-cita untuk berada dalam sesuatu zaman yang telah dilewatkan oleh Allah azzawajalla, padahal dia sendiri masih tidak yakin apa yang terjadi ke atas dirinya sekiranya dia hadir pada zaman itu! Demi Allah, telah hadir di zaman Rasulullah SAW itu beberapa kaum, yang akan ditelungkupkan muka mereka menghujam neraka jahannam, karena mereka tidak menyambut seruannya dan tidak mempercayainya sama sekali. Bukan sebaiknya kamu bersyukur kepada Allah, karena Dia tiada melahirkan kamu, melainkan kamu telah mengenal Tuhan kamu serta mempercayai apa yang dibawa oleh Nabi kamu 'alaihis-salam, sedang kamu terhindar dari azab yang ditimpakan ke atas selain kamu itu? Demi Allah, sungguh Nabi SAW telah dibangkitkan pada suatu zaman yang sangat berat yang pernah dibangkitkan dari para Nabi yang sebelumnya. Beliau dibangkitkan pada masa yang penuh kerusakan dan jahiliah, yang mana manusia memandang agama itu tiada yang lebih baik dari menyembah berhala sebagai tuhan. Lalu beliau didatangkan membawa Al-Quran yang membedakan antara yang hak dengan yang batil, memisahkan antara ayah dan anaknya, sehingga ada orang yang mendapati ayahnya, atau anaknya, atau saudaranya sendiri kafir, sedang Allah telah membuka kunci hatinya untuk menampung iman, dan dia mengetahui akan binasalah siapa yang memasuki api neraka itu, sehingga tidak betah lagi pemikirannya karena dia mengetahui bahwa ada orang yang paling dekat kekerabatnya berada di dalam api neraka! Dan hal itu tepat sekali dengan apa yang disebutkan Allah azzawajalla 'Tuhan kami! jadikanlah anak isteri kami penyelamat bagi kami!' (Hilyatul Auliya' 1:175)
Ibnu Ishak memberitakan dari Muhammad bin Ka'ab Al-Qurazhi, katanya:pernah suatu kali telah datang seorang dari penduduk Kufah, lalu berkata kepada Huzaifah bin Al-Yaman ra.: 'Hai Abu Abdullah!' kata orang ahli Kufah itu. 'Apakah engkau telah melihat Rasulullah dan bersahabat dengannya?' 'Ya, wahai saudaraku! ' jawab Huzaifah. 'Apakah yang sudah kamu lakukan terhadap beliau, coba ceritakan!' pinta orang dari Kufah itu. 'Kami lakukan apa yang semampu kami saja,'jawab Huzaifah.
'Demi Allah,'kata orang itu,'jika kita yang menemuinya pada zaman itu, niscaya kami tidak membiarkannya berjalan di atas bumi sama sekali, niscaya kami memikulnya di atas punggung kami!'
'Apa katamu, wahai saudaraku?!'tanya Huzaifah.'Demi Allah, aku masih ingat ketika hari menggali parit (Khandak) itu, aku dapati betapa susah-payahnya Rasulullah menanggung lapar dan dahaga, menanggung udara yang dingin dan merasa takut sekali!'
Dalam riwayat Muslim, maka berkata Huzaifah: "Engkau mengatakan yang engkau akan berbuat begitu kepada Rasulullah SAW? Aku pernah menyaksikan mereka bersama Rasulullah SAW pada malam perang Ahzab, pada suatu malam yang berangin sangat kencang dengan udaranya yang sangat dingin, betapa mereka menanggung semua itu. Kemudian Huzaifah melarang mereka mengatakan seperti itu terhadap para sahabat.
© 2013 - RizzStudio
Kecintaan Para Sahabat kepada Rasulullah SAW
Dari 'Aisyah r.a katanya, "Ada seorang lelaki datang kepada Nabi SAW seraya berkata, "Wahai Rasulullah engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri dan engkau lebih aku cintai daripada orang tuaku. Jika aku berada di rumah, aku senantiasa merindukan dan tak sabar untuk secepatnya dapat bertemu dan melihatmu. dan apabila aku teringat kematianku dan kematianmu, tetapi aku tahu engkau kelak dimasukan ke dalam surga, tentunya engkau akan ditempatkan di surga yang paling tinggi beserta para Nabi. Sedangkan jika aku dimasukkan ke dalam surga, aku takut jika kelak tidak dapat melihatmu lagi". Nabi SAW tidak menjawab ucapan orang tersebut sampai Jibril menurunkan firman Allah,
Artinya: Dan barang siapa mencintai Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu Nabi-nabi, para Shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan merekalah teman yang sebaik-baiknva. (An Nisaa': 69)
(Thabrani, Abu Nuaim. Al-Hilyah. 4/240)
Dari Ibnu Abbas ra. dikatakan ada seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata. "Wahai Rasulullah aku sangat mencintaimu dan selalu mengingatimu. tapi vang aku takutkan jika kelak engkau dimasukkan ke dalam surga di tingkat yang paling tinggi sedangkan aku dimasukkan di tempat yang tidak sama denganmu, maka aku takut tidak dapat lagi melihatinu kelak di akhirat". Rasulullah SAW tidak menjawab ucapan lelaki itu sampai Allah menurunkan fimian-Nya. Wa man yutiillah war Raszila fa ulaika ma'al ladzina...(An Nisaa': 69). Setelah itu Rasulullah SAW membacakan ayat tersebut di hadapan lelaki itu dan mendoakanya."
(Thabrani, Al-Haitsami. 4/7)
Kecintaan Sa'ad bin Mu'adz ra.
Dari Abdullah bin Abu Bakar ra., '.Sesungguhnya Sa'ad bin Muadz ra, berkata kepada Nabi SAW . "Ya Rasulullah. maukah engkau kami buatkan sebuah benteng dan kami siapkan di sisimu sebuah kendaraan. Kemudian kami maju berhadapan dengan musuh, jika kami diberi kemenangan oleh Allah maka itulah yang kami harapkan. tapi jika terjadi sebaliknya, maka engkau dapat segera pergi dengan kendaraan ini. menemui pasukan kita yang masih ada di belakang kita. sebab di belakang kami tertinggal sejuklah kaum yang sangat mencintaimu. Sungguh andaikata mereka tahu bahwa engkau akan berperang pasti mereka akan ikut semuanya. Akan tetapi di karenakan mereka tidak tahu bahwa engkau akan menemui pasukan musuh seperti ini. maka tidaklah heran jika sebagian orang tidak ikut bersama engkau."Maka Rasullah SAW menyatakan terimakasihnya dan mendoakan kebaikan baginva, kemudian mereka membangunkan sebuah benteng bagi Nabi
© 2013 - RizzStudio
Perilaku Abu Ayyub ra. Terhadap Nabi SAW.
Dari Abu Ayyub ra. "Ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah. maka Beliau tinggal di rumah Abu Ayyub ra. Rasulullah SAW tinggal di bagian bawah sedangkan Abu Ayyub di bagian atas rumah. Ketika malam tiba. Abu Ayyub tersadar bahwa ia tinggal di atas Nabi SAW berarti dirinya berada di antara Rasulullah SAW dan wahyu. Hal itu membuat ia susah untuk tidur. la pun khawatir jikalau ia menggerakkan kakinya dapat merontohkan debu-debu sehingga menyusahkan Nabi SAW.
Ketika pagi hari tiba maka ia berkata kepada Nabi SAW "Wahai Rasulullah, saya baru tersadar bahwa saya berada diatasmu Dan engkau berada di bawahku. sehingga saya takut bergerak yang menyebabkan jatuhnya debu-debu kepadamu Dan saya pun berada di antara engkau dan wahyu." Jawab Nabi SAW, "Wahai Abu Ayyub jangan kamu berlebihan, maukah aku ajarkan kepadamu suatu ucapan yang jika kamu mengucapkannya setiap pagi dan sore, sebanyak sepuluh kali. maka Allah akan memberikan sepuluh kebaikan. menghapuskan sepuluh dosa dan mengangkatmu sepuluh derajat dan kelak padi hari Kiamat engkau akan digolongkan sebagai seorang yang telah mcmbebaskan sepuluh budak.
Ucapan itu ialah:
Laa ilaaha illallaahu wahdahulaa syarikalahu ...
(Thabrani, Kanzul Ummal, 1/294)
Dari Abu Ayyub katanya,"Ketika beliau tinggal di rumahku maka aku berkata kepadanya, "Demi ayah dan ibuku, sesungguhnya daku merasa tidak enak jika tinggal di atasmu dan engkau berada di bawahku." Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya lebih mudah bagi kami untuk tinggal di bawah saja, agar memudahkan kami ketika menerima tamu." (Thabrani)
Suatu ketika tempat airku pecah maka airnya tumpah ke lantai. maka aku bersama istriku (Ummu Ayyub) segera mengeringkanya dengan kain milik kami padahal kami tidak memiliki lagi selimut lain kecuali itu. dengan perasaan takut dan khawatir air tersebut akan mengenai beliau dan menyusahkannva. Dan setiap hari kami menghidangkan makanan bagi Rasulullah SAW dan jika ada sisa dari makanan tersebut maka kami makan pada bagian bekas-bekas tangan Rasulullah SAW agar kami mendapat berkat dengan hal itu.
Pada suatu malam ketika kami hidangkan makan malam. kami bubuhkan di dalam masakan tersebut bawang. Beliau mengembalikannya kepada kami. Dan kami melihat tidak ada sedikit pun bekas tangan beliau. Maka hal ini kami ceritakan kepada Rasulullah SAW, mengenai makanan kami dan apa sebab beliau tidak mau menyentuh makanan kami sedikit pun Kata Beliau, "Aku dapatkan pada makanan ini bau bawang putih, di karenakan aku adalah seorang lelaki vang senantiasa berdzikir kepada Allah. maka aku tidak senang bila mulutku tercium bau yang tidak enak. Sedangkan untuk kalian maka silahkan kalian memakannya."
(Kanzul Ummal. 5/50)
© 2013 - RizzStudio
Wasiat Abu Bakar r.a. Sebelum Kematiannya
Abul-Malih meriwayatkan, bahwa tatkala Abu Bakar Radhiyallahu'anhu hendak meninggal dunia, dia mengirim utusan kepada Umar bin Al-Khatab ra, untuk menyampaikan,
"Sesungguhnya aku menyampaikan wasiat kepadamu, dan engkau harus menerimanya dariku, bahwa Allah Azza wa Jalla mempunyai hak pada malam hari yang tidak diterima-Nya pada siang hari, dan Allah mempunyai hak pada siang hari yang tidak diterima-Nya pada malam hari.
Sesungguhnya Dia tidak menerima nafilah (sunat) sebelum yang wajib dilaksanakan. Orang-orang yang timbangannya berat di akhirat menjadi berat, karena mereka mengikuti kebenaran di dunia, sehingga timbangan mereka pun menjadi berat. Sudah selayaknya timbangan yang diatasnya diletakkan kebenaran menjadi berat.
Orang-orang yang timbangannya ringan di akhirat menjadi ringan, Karena mereka mengikuti kebatilan, sehingga timbangan mereka pun ringan pula di dunia. Sudah selayaknya timbangan yang di atasnya diletakkan kebatilan menjadi ringan, Apakah engkau tidak melihat bahwa Allah menurunkan ayat yang ada harapan di dalam ayat yang ada kepedihan, dan ayat yang ada kepedihan di dalam ayat yang ada harapan? Hal ini dimaksudkan agar manusia takut dan sekaligus berharap, tidak menyeret dirinya kepada kebinasaan dan tidak berharap kepada Allah secara tidak benar.
Jika engkau menjaga wasiatku ini, maka tidak ada sesuatu yang tidak tampak namun paling engkau sukai selain dari kematian, dan memang begitulah seharusnya. Jika engkau menyia-nyiakan wasiatku ini, maka tidak ada sesuatu yang tidak tampak namun paling engkau benci selain kematian, dan memang begitulah seharusnya yang engkau lakukan. Engkau tentu mampu melakukannya".
Ada yang menuturkan, bahwa sebelum ajal menghampiri Abu Bakar Ash-Shidiq ra, Aisyah rha putri beliau menemuinya lalu melantunkan syair,
"Tiada artinya harta kekayaan bagi pemuda, Jika sekarat menghampiri dan menyesakkan dada".
Abu Bakar ra. menyingkap kain yang menutupi kepalanya, lalu dia berkata, "Bukan begitu. Tetapi ucapkan firman Allah,"
"Dan, datanglah sekaratul-maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya". (QS. Qaf:19)
Lalu dia berkata lagi. "Periksalah dua lembar pakaianku ini, cucilah ia dan kafanilah jasadku dengan kain ini. Sesungguhnya orang yang masih hidup lebih memerlukan kain yang baru daripada orang yang sudah meninggal".
Ibnu Qudamah, Mukhtashor Minhajul Qoshidin, Pustaka Al-Kautsar, 1997, hal 499-500
© 2013 - RizzStudio
Kisah Sa'id bin Amir bin Huzaim Al-Jumahy
Abu Nu'aim mengeluarkan dari Khalid bin Ma'dan, dia berkata, "Umar bin Al-Kbaththab ra. mengangkat Sa'id bin Amir bin Huzaim ra. sebagai amir kami di Himsh. Ketika Umar datang ke sana, dia bertanya, "Wahai penduduk Himsh, apa pendapat kalian tentang Sa'id bin Amir, amir kalian?" Maka banyak orang yang mengadu kepada Umar ra. Mereka berkata, "Kami mengadukan empat perkara. Yang pertama karena dia selalu keluar rumah untuk menemui kami setelah hari sudah siang.' Umar ra. berkomentar, "Itu yang paling besar. Lalu apa lagi?' Mereka menjawab, "Dia tidak mau menemui seseorang jika malam hari." "Itu urusan yang cukup besar," komentar Umar ra. Lalu dia bertanya, "Lalu apa lagi?" Mereka menjawab, "Sehari dalam satu bulan dia tidak keluar dari rumahnya untuk menemui kami." "Itu urusan yang cukup besar," komentar Umar ra. Lalu dia bertanya, "Lain apa lagi?" Mereka menjawab, "Beberapa hari ini dia seperti orang yang akan meninggal dunia."
Kemudian Umar bin Al-Khaththab ra. mengkonfirmasi di antara Sa'id bin Amir ra. dan orang-orang yang mengadukan beberapa masalah tersebut. Saat itu Umar ra. berkata kepada dirinya sendiri, "Ya Allah, jangan sampai anggapanku tentang dirinya keliru pada hari ini." Lalu dia bertanya kepada orang-orang yang mengadu, "Sekarang sampaikan apa yang kalian keluhkan tentang diri Sa'id bin Amir ra.!'
"Dia selalu keluar rumah untuk menemui kami setelah hari sudah siang,' kata mereka. Sa'id menanggapi, "Demi Allah, sebenamya aku tidak suka untuk mengungkapkan hal ini. Harap diketahui, keluargaku tidak mempunyai pembantu, sehingga aku sendiri yang harus menggiling adonan roti. Aku duduk sebentar hingga adonan itu menjadi lumat, lalu membuat roti, mengambil wudhu', baru kemudian aku keluar rumah untuk menemui mereka."
Umar bertanya kepada mereka, "Apa keluhan kalian yang lain?" Mereka menjawab, 'Dia tidak mau menemui seorangpun pada malam hari." 'Lalu apa alasanmu?' tanya Umar ra. kepada Sa'id bin Amir ra. "Sebenarnya aku tidak suka untuk mengungkapkan hal ini. Aku menjadikan siang hari bagi mereka, dan menjadikan malam hari bagi Allah."
"Apa keluhan kalian yang lain?" tanya Umar kepada mereka. Mereka menjawab, "Sehari dalam satu bulan dia tidak mau keluar dari rumahnya untuk menemui kami." "Apa alasanmu? tanya Umar ra. kepada Said ra. "Aku tidak mempunyai seorang pembantu yang mencuci pakaianku, di samping itu, aku pun tidak mempunyai pakaian pengganti yang lain." Maksudnya, hari itu dia mencuci pakaian satu-satunya.
"Apa keluhan kalian yang lain?" tanya Umar kepada mereka. Mereka menjawab, "Beberapa hari ini dia seperti orang yang akan meninggal dunia." "Apa alasanmu?" tanya Umar ra. kepada Sa'id ra. Sa'id ra. menjawab,
"Dulu aku menyaksikan terbunuhnya Hubaib Al-Anshary di Makkah. Aku lihat bagaimana orang-orang Quraish mengiris-iris kulit dan daging Hubaib ra. lalu mereka membawa tubuhnya ke tiang gantungan. Orang-orang Quraisy itu bertanya kepada Hubaib, 'Sukakah engkau jika Muhammad menggantikan dirimu saat ini?' Hubaib menjawab, 'Demi Allah, sekalipun aku berada di tengah keluarga dan anak-anakku, aku tidak ingin Muhamrnad Shallallahu Alaihi wa Sallam terkena duri sekalipun'. Kemudian dia berseru, 'Hai Muhammad, aku tidak ingat lagi apa yang terjadi pada hari itu'.
Sementara saat itu aku yang masih musyrik dan belum beriman kepada Allah Yang Maha Agung, tidak berusaha untuk menolongnya, sehingga aku beranggapan bahwa Allah ta'ala sama sekali tidak akan mengampuni dosaku. Karena itulah barangkali keadaanku akhir-akhir ini seperti orang yang akan meninggal dunia."
Umar bin Al-Khaththab ra. berkata, "Segala puji bagi Allah, karena firasatku tentang dirinya tidak meleset." Setelah itu Umar memberinya seribu dinar, seraya berkata, "Pergunakanlah uang ini untak menunjang tugas-tugasmu." Istri Sa'id ra. berkata kegirangan setelah menerima uang itu, 'Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kecukupan kepada kita atas tugas yang engkau emban ini." Sa'id bertanya kepada istrinya, "Apakah engkau mau yang lebih baik lagi? Kita akan memberikan uang ini kepada orang yang lebih membutuhkannya daripada kita. "Boleh," jawab istrinya. Lalu Sa'id memanggil salah seorang anggota keluarganya yang dapat dipercaya, dan dia memasukkan uang ke dalam beberapa bungkusan, seraya berkata, "Bawalah bungkusan ini dan berikan kepada janda keluarga Fulan, orang miskin keluarga Fulan, orang yang terkena musibah keluarga Fulan. Selebihnya disimpan, Istrinya bertanya, "Mengapa engkau tidak membeli seorang pembantu? Lalu untuk apa sisa uang itu?" Sa'id ra. menjawab, "Sewaktu-waktu tentu akan datang orang yang lebih membutuhkan uang itu.
(Al-Hilyah, 1:245)
© 2013 - RizzStudio
Wasiat Abu Bakar kepada Umar RA
Ibnu Asakir mengeluarkan dari Salim bin Abdullah bin Umar, dia berkata, "Ketika Abu Bakar menghadapi ajalnya, maka dia menulis wasiat, yang isinya:
'Bismillahir-rahmanir-rahim. Ini adalah surat wasiat dari Abu Bakar pada akhir hayatnya di dunia, yang bersiap-siap hendak keluar dari dunia, yang merupakan awal masanya menuju ke akhirat dan yang bersiap-siap untuk memasuki akhirat, yang pada saat-saat seperti inilah orang kafir mau beriman, orang durhaka mau bertakwa dan pendusta mau menjadi jujur, aku telah memilih pengganti sesudahku, yaitu Umar bin Al-Khaththab. Kalau dia berbuat adil, maka memang itulah yang kuharapkan darinya. Namun jika dia semena-mena dan berubah, maka kebaikanlah yang kuinginkan dan aku tidak mengetahui yang gaib. Adapun orang-orang yang berbuat aniaya akan mengetahui di mana mereka akan dibalikkan.'
Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Kanzu, 3:146. Ibnul-Mubarak, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Jarir dan Abu Nu'aim meneluarkan dari Abdurrahman bin Sabith, dia berkata, Sebelum ajal tiba, Abu Bakar memanggil Umar, lalu dia berkata kepadanya,
"Wahai Umar, bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah telah menetapkan amalan yang harus dikerjakan pada siang hari, dan Dia tidak menerimanya jika dikerjakan malam hari, dan Allah telah menetapkan amalan yang harus dikeriakan pada malam hari, dan Dia tidak menerimanya jika dikerjakan pada siang hari. Sesungguhnya Allah juga tidak nienerima yang sunat sebelum yang wajib dikerjakan."
Begitulah yang disebutkan di dalarn Al-Kanzu, 4:363. Ibnu Sa'd mentakhrij dari AI-Muththalib bin As-Sa'ib bin Abu Wada'ah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Abu Bakar menulis surat kepada Arw bin Al-Ash, yang isinya: 'Aku sudah menulis surat kepada Khalid bin AI-Walid agar dia bergabung ke pasukanmu dan mernbantumu. Jika dia sudah datang, inaka hergaullah yang baik, jangan merasa lebih tinggi darinya, jangan memutuskan perkara sendirian karena engkau merasa lebih tinggi darinya dan dari yang lain, berrnusyawarahlah dan janganlah berselisih dengan mereka. Begitulah yang disebutkan di dalam AI-Kanzu, 31133.
© 2013 - RizzStudio
Wasiat Umar ra. kepada Khalifah Sesudahnya
Ibnu Abi Syaibah, Abu Ubaidah, An-Nasa'y, Abu Ya'la, Al-Baihaqy dan Ibnu Hibban mentakhrij dari Umar bin Al-Khaththab ra., dia berkata,
"Aku berwasiat kepada khalifah sesudahku agar mengetahui hak orang-orang Muhajirin golongan yang pertama dan agar menjaga kehormatan mereka. Aku juga berwasiat kepadanya untuk memperhatikan orang-orang Anshar yang telah menyediakan tempat tinggal dan beriman sejak sebelum kedatangan orang-orang Muhajirin, hendaklah dia menerima kebaikan mereka dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.
Aku juga berwasiat kepadanya untuk berbuat baik kepada penduduk berbagai kota, karena mereka merupakan penolong bagi Islam, penyokong dana dan penghadang musuh. Janganlah dia mengambil harta pun dari mereka kecuali harta yang berlebih dan menurut kerelaan mereka. Aku juga berwasiat agar dia berbuat baik kepada orang-orang badui, karena mereka meruipakan asal mula bangsa Arab dan sumber Islam. Dia harus mengambil shadaqah dari orang-orang yang kaya dan membagikannya kepada orang-orang yang miskin.
Aku juga berwasiat kepadanya agar memenuhi hak Ahli Dzhimmi seperti yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, sesuai dengan perjanjian dengan mereka. Dia boleh memerangi orang-orang selain mereka, dan tidak membebankan kepada mereka kecuali menurut kesanggupan mereka."
Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Muntakhab, 4:439.
© 2013 - RizzStudio
Keperibadian Abu Bakar RA
Ibnu Sa'd mengeluarkan dari Aisyah, bahwa Abu Bakar adalah seorang pedagang, yang setiap hari pergi ke pasar untuk melakukan jual beli. Dia mempunyai sekumpulan domba yang dia urus sendiri dan terkadang menggembalakannya atau dia serahkan kepada orang lain. Dia juga memerah air susunya untuk diberikan kepada orang-orang kampung. Ketika dia sudah dibaiat sebagai khalifah, ada seorang gadis perempuan yang berkata,
"Tentunya sekarang dia tidak mau lagi memerah air susu untuk diberikan kepada kami". Abu Bakar ra. sempat mendengar perkataan gadis itu. Maka dia berkata, 'Aku bersumpah untuk tetap memerah air susu bagi kalian, dan aku berharap agar tugasku yang baru ini tidak merubah kebiasaanku yang lalu.'
Maka dia tetap memerah susu seperti biasanya dan diberikan kepada mereka. Namun kemudian dia perlu mempertimbangkan lagi tugas-tugasnya sebagai khalifah. Maka dia berkata,
"Tidak demi Allah, urusan berdagang bisa mengganggu tugas-tugas ini, dan tugas ini tidak bisa berjalan lancar kecuali jika aku memusatkan perhatian terhadap urusan manusia. Tidak selayaknya aku hanya menyibukkan diri dengan urusan keluargaku." Maka dia pun meninggalkan usaha dagangnya.
Untuk keperluan diri dan keluarga dia mengambil gaji dari Baitul-mal milik umat, sekedar untuk mencukupi keperluannya setiap hari, juga untuk keperluan haji dan umrah. Gajinya untuk satu tahun sebanyak enam ribu dirham. Menjelang kematiannya, dia berkata,
"Kembalikan sisa gaji yang ada di tangan kita ke Baitul-mal milik orang-orang Muslim, karena aku tidak ingin mengambil sedikit pun dari harta tersebut. Tanahku yang ada di tempat ini dan itu juga bagi orang-orang Muslim."
Dia menyerahkan kepada Umar seekor unta yang air susunya biasa diperah, seorang budak dan selembar permadani seharga lima dirham. Umar sempat berkata,
"Dia menyebabkan kesusahan kepada khalifah sesudahnya."
© 2013 - RizzStudio
Kezuhudan Sebahagian Sahabat RA
- Kezuhudan Abu Bakar
Ahmad meriwayatkan dari Aisyah r.ha, dia berkata, "Abu Bakar meninggal dunia tanpa meninggalkan satu dinar maupun satu dirham pun. Sebelum itu dia masih memilikinya, namun kemudian dia mengambilnya dan menyerahkannya ke Baitul-mal." Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Kanzu, 3/132.
- Kezuhudan Umar bin Al-Khaththab
Ahmad meriwayatkan di dalam Az-Zuhud, Ibnu Jarir dan Abu Nu'aim dari Al-Hasan, dia berkata, "Ketika Umar bin Al-Khaththab sudah menjadi khalifah, di kain mantelnya ada dua belas tambalan. Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Kanzu, 4/405.
- Kezuhudan Utsman bin Affan
Abu Nu'aiin meriwayatkan di dalam Al-Hilyah, 1/60, dari Abdul-Malik bin Syaddad, dia berkata, "Aku pernah melihat Utsman bin Affan berkhutbab di atas mimbar pada hari Jum'at, sambil mengenakan kain mantel yang tebal (kasar), harganya berkisar empat atau lima dirham. Kain ikat kepalanya juga ada yang robek. Diriwayatkan dari Al-Hasan, dia berkata, "Aku pernah melihat Utsman bin Affan yang datang ke masjid dalam keadaan seperti itu, pada saat dia sudah menjadi khalifah." Ahmad meriwayatkan di dalam Shifatush-Shafwah, 1/116.
- Kezuhudan Ali Bin Abu Thalib
Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Ruzain, dia berkata, "Aku pernah masuk ke rumah Ali bin Abu Thalib pada hari Idul-Adhha. Dia menyuguhkan daging angsa kepadaku. Aku berkata, "Semoga Allah mlimpahkan kebaikan kepadamu. Karena engkau bisa menyuguhkan makanan ini, berarti Allah memang telah melimpahkan kebaikan kepadamu, " Dia berkata, "Wahai Ibnu Ruzain, aku pernah mendengar Rasuluilah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Tidak diperkenankan harta Allah bagi seorang khalifah kecuali sebanyak dua takaran saja, satu takaran yang dia makan bersama keluarganya, dan satu takaran lagi yang harus dia berikan kepada orang-orang." Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Bidayah, 8/3.
- Kezuhudan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah
Abu Nu'airn meriwayatkan dari Abu Ma'mar, bahwa tatkala Umar mengadakan lawatan ke Syam, maka disambut para pemuka dan pemimpin masyarakat di sana. "Mana saudaraku?" tanya Umar. "Siapa yang engkau maksudkan?' tanya orang-orang. "Abu Ubaidah. " "Sekarang dia baru menuju ke sini. Ketika Abu Ubaidah sudah tiba, Umar turun dari kendaraannya lalu memeluknya. Kemudian Umar masuk ke rumah Abu Ubaidah dan tidak melihat perkakas apa pun kecuali pedang, perisai dan kudanya. Ahmad meriwayatkan hadits yang serupa seperti yang disebutkan di dalam Shifatush-Shafwah, 1/143. Ibnul-Mubarak juga meriwayatkannya di dalam Az-Zuhd, dari jalan Ma'mar, serupa dengan ini, seperti yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 2/253.
- Kezuhudan Mush'ab bin Umair
Al-Bukhary meriwayatkan di dalam Shahih-nya, dari Hibban, bahwa Mush'ab bin Umair meninggal dan hanya meninggalkan selembar kain. Jika orang-orang menutupkan kain itu ke kepalanya, maka kedua kakinya menyembul, dan jika ditutupkan ke kedua kakinya, maka kepalanya yang menyembul. Lalu Rasulullah SAW bersabda, "tutupkan dedaunan ke bagian kakinya." Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 3/421.
- Kezuhudan Salman Al-Farisy
Abu Nu'aim meriwayatkan dari Athiyah bin Amir, dia berkata, "Aku pernah melihat Salman Al-Farisy ra. menolak makanan yang disuguhkan kepadanya, lalu dia berkata, "Tidak, tldak. Karena aku pemah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
'Sesungguhnya orang yang lebih sering kenyang di dunia akan lebih lama laparnya di akhirat. Wahai Salman, dunia ini hanyalah penjara orang Mukmin dan surga orang kafir'.
Di dalam Al-Hilyah, 1/198, Bagian terakhir dari hadits di atas, "Dunia ini hanyalah penjara orang Mukmin", merupakan riwayat Muslim.
- Kezuhudan Abu Dzarr Al-Ghifary
Ahmad meriwayatkan dari Abu Asma', bahwa dia pernah masuk ke rumah Abu Dzarr di Rabadzah. Dia mempunyai seorang istri berkulit hitam yang sama sekali tidak memakai hiasan macam apa pun dan tidak pula mengenakan minyak wangi. Abu Dzarr berkata, "Apakah kalian tidak rnelihat apa yang disuruh para wanita berkulit hitam ini? Mereka menyuruhku unluk pergi ke Irak. Namun ketika kami tiba di Irak, mereka justru lebih senang kepada dunia. Padahal kekasihku (Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam) memberitahukan kepadaku bahwa di atas jembatan neraka ada rintangan dan halangannya. Kita akan menyeberangi jembatan itu sambil membawa beban kita. Maka lebih baik bagiku untuk menyeberang dengan selamat tanpa mernbawa beban apa pun." Begitulah yang disebutkan di dalain At-Targhib Wat-Tarhib, 3/93. Ahmad juga meriwayatkannya dan rawi-rawinya shahih.
- Kezuhudan Abud-Darda'
Ath-Thabrany meriwayatkan dari Abud-Darda' Radhiyallahu Anhu, dia berkata, 'Dahulu sebelum Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi rasul, kami adalah para pedagang. Namun setelah beliau diutus sebagai rasul, aku ingin terjun kembali dalam perniagaan dan sekaligus rajin beribadah. Tapi nyatanya aku tidak bisa mantap dalam ibadah. Akhirnya kutinggalkan perniagaan dan mengkhususkan diri dalam ibadah.' Menurut Al-Haitsainy, 9/367, rijalnya shahih.
- Kezuhudan Al-Lajlaj Al-Ghathafany
Ath-Thabrany meriwayatkan dengan isnad yang tidak diragukan, dari Al-Lajlaj Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Sejak aku masuk Islam di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, aku tidak pernah makan dan minum kecuali sekedar secukupnya." Begitulah yang disebutkan di dalarn At-Targhib, 31423. Abul-Abbas As-Siraj di dalam Tarikh-nya dan Al-Khathib di dalam Al-Muttafaq, seperti yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 2/328.
- Kezuhudan Abdullah bin Umar
Abul-Abbas As-Siraj meriwayatkan di dalam Tarikh-nya dengan sanad hasan, dari As-Sary, dia berkata, "Aku pernah melihat sekumpulan orang dari kalangan shahabat, bahwa tak seorang pun di antara mereka yang keadaannya senantiasa mirip dengan keadaan Rasuluilah Shallallahu Alaihi wa Sallam selain dari Ibnu Umar. "Abu Sa'id Al-Mraby meriwayatkan dengan sanad yang shahih, dari Jabir ra., dia berkata, 'Tidak ada seseorang di antara kami yang mendapatkan kekayaan dunia melainkan dia justru meninggalkannya selain dari Abdullah bin Umar.' Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Ishabah, 21347
© 2013 - RizzStudio
Kisah Abu Ubaidah bin Jarah ra
Kelahiran dan perkembangannya:
Abu Ubaidah bin Jarah ra. lahir di Mekah, di sebuah rumah keluarga suku Quraisy terhormat. Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah bin Jarah yang dijuluki dengan Abu Ubaidah. Abu Ubaidah adalah seorang yang berperawakan tinggi, kurus, berwibawa, bermuka ceria, rendah diri dan sangat pemalu. Beliau termasuk orang yang berani ketika dalam kesulitan, dia disenangi oleh semua orang yang melihatnya, siapa yang mengikutinya akan merasa tenang.
Masuk Islam dari sejak dini:
Abu Ubaidah termasuk orang yang masuk Islam dari sejak dini, dia memeluk Islam satu hari setelah Abu Bakar sidik r.a. memeluk Islam. Dia masuk Islam bersama Abdurrahman bin Auf, Usman bin Mazun dan Arqom bin Abil Arqom di tangan Abu Bakar Sidik. Abu Bakar lah yang membawakan mereka menemui Rasulullah saw. untuk menyatakan syahadat di depan beliau.
Abu Ubaidah sempat mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah saw. Dia lah yang membunuh ayahnya yang berada di pasukan musyrikin dalam perang Badar, sehingga ayat Alquran turun mengenai dia seperti tertera dalam suarah Al Mujadilah ayat 22.
Artinya, "Engkau tidak menemukan kaum yang beriman kepada Allah dan hari kiamat yang mengasihi orang-orang yang menentang Allah swt. dan Rasulullah, walaupun orang tersebut ayah kandung, anak, saudara atau keluarganya sendiri. Allah telah mematri keimanan di dalam hati mereka dan Dia bekali pula dengan semangat. Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, mereka akan kekal di dalamnya. Akan menyenangi mereka, di pihak lain mereka pun senang dengan Allah. Mereka itulah perajurit Allah, ketahuilah bahwa perajurit Allah pasti akan sukses. (Al-Mujadilah, 22)
Gagah dan Jujur:
Rasulullah saw. menjulukinya dengan seorang yang "Gagah dan Jujur". Suatu ketika datang sebuah delegasi dari kaum Kristen menemui Rasulullah saw. Mereka mengatakan, "Ya Ayah Kasim! Kirimkanlah bersama kami seorang sahabatmu yang engkau percayai untuk menyelesaikan perkara kebendaan yang sedang kami pertengkarkan, karena kaum muslimin di pandangan kami adalah orang yang disenangi." Rasulullah saw. bersabda kepada mereka, "Datanglah ke sini nanti sore, saya akan kirimkan bersama kamu seorang yang 'gagah dan jujur'."
Dalam kaitan ini, Umar bin Khatab r.a. mengatakan, "Saya berangkat mau salat Zuhur agak cepat, sama sekali bukan karena ingin ditunjuk sebagai delegasi, tetapi karena memang saya senang pergi salat cepat-cepat. Setelah Rasulullah selesai mengimami salat Zuhur bersama kami, beliau melihat ke kiri dan ke kanan. Saya sengaja meninggikan kepala saya agar beliau melihat saya, namun beliau masih terus membalik-balik pandangannya kepada kami. Akhirnya beliau melihat Abu Ubaidah bin Jarah, lalu beliau memanggilnya sambil bersabada, 'Pergilah bersama mereka, selesaikanlah kasus yang menjadi perselisihan di antara mereka dengan adil.' Lalu Abu Ubaidah pun berangkat bersama mereka."
Sikapnya Dalam Peristiwa Saqifah:
Sepeninggal Rasulullah saw. Umar bin Khatab r.a. mengatakan kepada Abu Ubaidah bin Jarah di hari Saqifah, "Ulurkan tanganmu! Agar saya baiat kamu, karena saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Sungguh di setiap kaum terdapat orang jang jujur. Orang yang jujur di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah.' Lalu Abu Ubaidah menjawab, 'Saya tidak mungkin berani mendahului orang yang dipercayai oleh Rasulullah saw. menjadi imam kita di waktu salat, oleh sebab itu kita seyogianya membuatnya jadi imam sepeninggal Rasulullah saw.
Jihadnya:
Abu Ubaidah bin Jarah r.a. ikut partisipasi dalam semua peperangan Islam, bahkan selalu mempunyai andil besar dalam setiap peperangan tersebut. Dia berangkat membawa pasukan menuju negeri Syam, dengan izin Allah dia berhasil menaklukkan semua negeri tersebut.
Ketika wabah penyakit Taun merajalela di negari Syam, Khalifah Umar bin Khatab r.a. mengirim surat untuk memanggil kembali Abu Ubaidah. Namun Abu Ubaidah menyatakan keberatannya sesuai dengan isi surat yang dikirimkannya kepada khalifah yang berbunyi, "Hai Amirul Mukminin! Sebenarnya saya tahu, kalau kamu memerlukan saya, akan tetapi seperti kamu ketahui saya sedang berada di tengah-tengah serdadu muslimin. Saya tidak ingin menyelamatkan diri sendiri dari musibah yang menimpa mereka dan saya tidak ingin berpisah dari mereka sampai Allah sendiri menetapkan keputusannya terhadap saya dan mereka. Oleh sebab itu, sesampainya surat saya ini, tolonglah saya dibebaskan dari rencana baginda dan izinkanlah saya tinggal di sini." Setelah Umar r.a. membaca surat itu, dia menangis, sehingga para hadirin bertanya, "Apakah Abu Ubaidah sudah meninggal?" Umar menjawabnya, "Belum, akan tetapi kematiannya sudah di ambang pintu."
Biografinya:
Sepeninggal Abu Ubaidah r.a. Muaz bin Jabal berpidato di hadapan kaum muslimin yang berisi, "Hai sekalian kaum muslimin! Kalian sudah dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada semua orang dari dia. Oleh sebab itu kasihanilah dia, semoga kamu akan dikasihani Allah."
Wafatnya:
Menjelang kematian Abu Ubaidah r.a. dia memesankan kepada serdadunya sbb., "Saya pesankan kepada kalian sebuah pesan, jika kalian terima, kalian akan baik, 'Dirikanlah salat, bayar zakat, puasalah bulan Ramadan, berdermalah, tunaikan ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah kalian, sampaikanlah nasihat kepada pimpinan kalian, jangan suka menipunya, janganlah kalian terpesona dengan keduniaan, karena betapapun seorang melakukan seribu upaya, dia pasti akan menemukan kematiannya seperti saya ini. Sungguh Allah telah menetapkan kematian untuk setiap pribadi manusia, oleh sebab itu semua mereka pasti akan mati. Orang yang paling beruntung adalah orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk akhirat...Assalamu alaikum warahmatullah'."
Kemudian beliau melihat kepada Muaz bin Jabal r.a. dan mengatakan, "Ya Muaz! Imamilah salat mereka." Setelah itu, Abu Ubaidah r.a. pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.
© 2013 - RizzStudio
Menginfakkan Harta dalam Jihad Fii Sabilillaah
Muslim telah mengeluarkan dari Abu Mas'ud Al-Anshari ra. dia berkata: Sekali peristiwa telah datang kepada Nabi SAW seorang lelaki menarik seekor unta yang terikat tali di hidungnya, Ialu menyerahkannya kepada beliau, katanya: Ini untuk sabilillah! Maka berkata Rasulullah SAW: Gantinya nanti di hari kiamat 700 ekor unta semuanya dengan bertali di hidungnya. (Shahih Muslim 2:37; jam'ul Fawa'id 2:3)
Imam Ahmad telah mengeluarkan dari Abdullah bin As-Shamit, dia berkata: Pernah pada suatu peristiwa, aku berjihad bersama-sama Abu Dzar ra. Maka setelah dibagi-bagi ghanimah, yakni rampasan perang, dia mendapat bagiannya termasuk seorang jariah. Lalu dia pun membeli segala keperluannya, dan masih ada lagi banyak yang tersisa. Lalu dia menyuruh jariah tadi menukarkannya dengan mata uang untuk dibagi-bagikan kepada semua orang yang memerlukannya. Aku berkata kepada Abu Dzar: Biarlah jariah itu menahan dulu uang itu untuk keperluan di lain hari, ataupun mana tahu jika datang tamu, maka engkau tentu memerlukannya?! Abu Dzar menjawab: Temanku, yakni Rasulullah SAW sudah membuat perjanjian kepadaku, bahwa apa saja emas atau perak yang disimpan, maka itu sama dengan gumpalan api neraka disimpan oleh tuannya, sehinggalah diberikan kesemuanya pada jalan Allah azzawajalla. Dalam riwayat Ahmad dan Thabarani yang lain, bahwa siapa yang menyimpan emas atau perak, dan tidak diinfakkannya pada jalan Allah akan menjadi gumpalan-gumpalan api kelak di hari kiamat, dan akan disetrikakan tuannya dengan gumpalan-gumpalan api itu.
(At-Targhib Wat-Tarhib 2:178)
Thabarani telah mengeluarkan di dalam kitabnya 'Al-Awsath' dari Qais bin Salk Al-Anshari ra. bahwa saudara-saudaranya telah mengadukan halnya kepada Rasulullah SAW Mereka berkata: Saudara kami Qais suka membuang-buang hartanya, dan terlalu mewah sekali dalam berinfak lalu Qais datang kepada Rasulullah SAW: wahai Rasulullah! Aku mengambil bagianku dari korma dan berinfak untuk orang-orang yang keluar berjihad fi sabilillah, dan kepada siapa yang mengikutiku. Mendengar itu, Rasulullah SAW pun menepuk dadanya seraya berkata: Infakkanlah harta di jalan Allah, niscaya Allah akan menginfakkan gantinya - disebutkan sampai tiga kali. Pada lain waktu, aku keluar berjihad fi sabilillah dan aku sudah mempunyai kendaraan sendiri, dan aku orang yang paling banyak harta dan yang terkaya di antara kaum keluargaku pada hari ini.
(At-Targhib Wat-Tarhib 2:172)
Thabarani telah mengeluarkan berita dari Mu'az bin Jabal ra. dia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: Sangat beruntung orang yang memperbanyakkan zikir kepada Allah ketika sedang berjihad fi sabilillah, kerana baginya buat setiap kalimah tujuh puluh ribu hasanah, setiap hasanah darinya sama dengan sepuluh kali ganda apa yang ada di sisinya dari tambahannya. Para sahabat bertanya pula: Bagaimana pula dengan menginfakkan harta fi sabilillah, ya Rasulullah! jawab beliau: Menginfakkan harta sama kadarnya dengan yang demikian. Berkata Abdul Rahman: Maka aku bertanya kepada Mu'az r.a: Bukankah menginfakkan harta fi sabilillah itu diberikan pahalanya dengan 700 kali lipat? Jawab Mu'az: Barangkali engkau kurang faham tentang maksudnya. Dia itu apabila mereka menginfakkannya sedang mereka menetap dengan kaum keluarga mereka tidak ikut bersama-sama berperang. Tetapi jika mereka turut serta berperang dan menginfakkan hartanya pada jalan Allah, maka Allah akan menyimpan buat mereka dari khazanah (perbendaharaan) rahmatnya apa yang sampai tidak terlintas dari ilmu manusia dan sifatnya, mereka itulah partai Allah, dan partai Allah selalu jaya dan menang.
(Majma'uz Zawa'id 5:282)
Al-Qazwini telah mengeluarkan berita dari seorang yang tidak terkenal dan beritanya mursal kepada Nabi SAW dari Al-Hasan, dari Ahmad, Abu Dardak, Abu Hurairah, Abu Umamah Abdullah bin Amru,jabir dan lmran bin Hushain-radhiallahu-anhum marfuk kepada Nabi SAW bahwa beliau telah berkata: Barangsiapa yang mengeluarkan hartanya fi sabilillah, dan dia duduk di rumahnya, maka baginya pahala bagi setiap dirham 700 dirham. Dan barangsiapa berperang serta bernafkah sekaligus fi sabilillah, maka baginya buat setiap dirham 700,000 dirham. Kemudian beliau membaca firman ini yang bermaksud: Dan Allah menggandakan pahalanya kepada siapa yang disukainya.
Abu Daud, lbnu Hibban telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa seorang lelaki berkata kepada Rasulullah SAW Ada seorang yang ingin berjihad, tetapi niatnya hendakkan harta dunia, bagaimana? Jawab beliau: Tidak ada pahala sama sekali! Ramai orang memandang berat jawaban beliau itu, Ialu mereka kembali kepada orang yang bertanya itu seraya memintanya bertanya sekali lagi, barangkaii dia salah dengar jawabannya, ataupun dia tidak faham maksud dari jawaban beliau itu. Maka orang itu kembali lagi kepada Rasulullah SAW Ialu bertanya: Wahai Rasulullah! Bagaimana dengan orang yang berjihad fl sabilillah, padahal niatnya hendakkan dunia? jawab beliau masih sama: Tidak ada pahalanya sama sekali! Mendengar jawaban yang kedua, orang ramai masih belum puas hati, lalu memintanya supaya bertanya untuk terakhir kalinya. Maka jawaban beliau masih tetap itu juga, yakni tidak ada pahalanya sama sekali.
(At-Targhib Wat-Tarhib 2:419)
Abu Daud dan Nasa'i meriwayatkan dari Abu Umamah ra. dia berkata: Telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah SAW lalu bertanya: Apa katamu terhadap seorang lelaki yang berjihad fi sabilillah kerana inginkan pahala dan pujian, bagaimana keadaannya? Jawab beliau: Sia-sia saja jihadnya. Orang itu mengulangi lagi sampai tiga kali, dan setiap kali ditanya, tetap dijawab oleh beliau: Sia-sia saja jihadnya, kerana Allah tiada akan menerima sesuatu amal melainkan yang dibuat dengan penuh ikhlas kepadanya, dan mengharapkan keridhaannya! (At-Targhib Wat-Tarhib 2:421)
© 2013 - RizzStudio
Pentingnya Amar Ma'ruf dan Nahi Mungkar
Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Abdullah bin Humaid, Abu Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa'y, Ibnu Majah, Ad-Daruquthny, Al-Baihaqy, dan Abu Ya'la mentakhrijkan dari Qais bin Abu Hazim, dia berkata, "Setelah Abu Bakar menjadi khalifah, dia naik ke atas mimbar, lalu menyampaikan pidato. Setelah menyampaikan pujian kepada Allah, dia berkata,
"Wahai semua manusia , tentunya kalian juga membaca ayat ini, 'Hai orang orang yang beriman, jagalah diri kalian. Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk, (QS Al-Maidah : 105), namun kalian meletakkan ayat ini bukan pada tempatnya. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya apabila manusia melihat kemungkaran dan mereka tidak mau merubahnya, maka Allah akan menyegerakan siksa yang menyelingkupi mereka semua'."
(Al-Kanzu, 2/138)
Ath-Thabrany mentakhrijkan dari Thariq bin Syihab, dia berkata, "Itris bin Urqub Asy-Syaibany menemui Abdullah ra . seraya berkata, "binasalah orang yang tidak menyuruh kepada yang ma'ruf dan tidak mencegah dari yang mungkar." Abdullah ra. meralat ucapannya dengan, "Bahkan binasalah orang yang tidak memperlihatkan yang makruf dan tidak mengingkari yang mungkar".
(Al-Haitsamy, 7/275, shahih)
© 2013 - RizzStudio
Dakwah Rasulullah SAW di Medan Perang
Ada banyak riwayat yang mengatakan, bahwa Rasulullah SAW tidak akan memulai peperangan, kecuali sesudah menyeru terlebih dahulu untuk memeluk Islam.
(Nashbur-Raayah 2:278; Majma'uz-Zawa'id 5:304; Kanzul Ummal 2:298).
Ibnu Mandah dan Ibnu Asakir telah memberitakan dari Abdul Rahman bin A'idz ra. katanya: Apabila Rasulullah SAW mengutus pasukannya ke medan perang, terlebih dahulu Beliau berpesan kepada mereka, katanya: Berlembutlah kepada manusia, dan jangan memulai sesuatu tindakan, sebelum kamu mengajak mereka kepada agama Allah.
Sesungguhnya tiada penghuni rumah, atau penduduk kampung, yang dapat kamu membawa mereka kepadaku dalam keadaan memeluk Islam, itu adalah lebih baik kepadaku dari kamu membawa kepadaku wanita-wanita mereka dan anak-anak mereka yang kamu tawan, padahal kamu telah membunuh semua lelaki-lelaki mereka. (Al-Ishabah 3:152; Musnad Termidzi 1:195)
Pesan Rasulullah SAW kepada Pasukan Jihad
Riwayat dari Buraidah ra. katanya: Apabila Rasulullah SAW mengutus satu pasukan, atau pasukan untuk berperang, ia berpesan kepada ketua atau panglimanya supaya senantiasa bertaqwa kepada Allah, khususnya pada diri mereka dan juga pada semua kaum Muslimin, kata Beliau: "Jika kamu bertemu dengan musuh kamu dari kaum musyrikin, ajaklah mereka kepada satu dari tiga perkara, dan kiranya mereka menerima apa saja dari antara tiga perkara itu, hendaklah kamu menerimanya dan berhentikan menyerang mereka":
1. Ajak mereka untuk memeluk Islam, jika mereka menerimanya, biarlah mereka memeluk Islam, dan berhenti menyerang mereka.
2. Ajaklah mereka untuk berpindah dari negeri mereka ke negeri orang yang berhijrah (yakni negeri Islam), dan beritahu mereka jika mereka setuju, akan diberi hak seperti yang diberikan kepada kaum yang berhijrah, dan menanggung hak seperti yang ditanggung oleh mereka. jika mereka enggan berpindah, dan ingin rnenetap di negeri mereka, maka beritahu mereka bahwa mereka harus bersikap seperti kaum badui Arab yang telah memeluk Islam, berlaku ke atas mereka semua hukum-hukum Allah yang dilaksanakan ke atas kaum yang beriman, dan bahwa mereka tidak berhak untuk menerima jizyah dan harta rampasan perang, kecuali jika mereka turut berjihad dengan kaum Muslimin.
3. Jika mereka enggan juga semua tawaran itu, maka berundinglah dengan mereka supaya mereka membayar jizyah (pajak), jika mereka terima, hendaklah disetujui dan hentikan serangan kepada mereka. Tetapi, jika mereka enggan dan menolak juga, maka mintalah bantuan kepada Allah dan perangilah mereka itu. Kemudian, apabila kamu mengepung penduduk yang berlindung di dalam bentengnya, lalu mereka memohon supaya kamu memberikan keputusan kepada mereka dengan hukuman Allah, maka janganlah kamu menuruti permohonan mereka itu, kerana kalian tidak mengetahui apa yang akan diputuskan Allah kepada mereka. Akan tetapi putuskanlah menurut kebijaksanaan kamu, dan tetapkanlah ke atas mereka sesudah itu apa yang dipandang wajar!
(Muslim 2:82; Abu Daud, hal. 358; Ibnu Majah, hal. 210, dan Baihaqi 9:184)
Ada beberapa riwayat yang memberitakan dari Saiyidina Ali bin Abu Thalib ra. bahwa Rasulullah SAW pernah mengutusnya ke medan perang, dan setelah pasukannya berangkat, Beliau lalu menyuruh orang mengejar pasukan itu supaya menyampaikan pesan Rasulullah SAW yang berbunyi: jangan kamu memerangi musuh kamu sebelum kamu menyeru mereka kepada agama Islam terlebih dahulu.
Dalam pembicaraan yang disampaikan oleh Sahel bin Sa'ad ra. yang dinukil oleh Bukhari dan lainnya, bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Ali ra. pada peperangan Khaibar: Berangkatlah dengan segera, hingga engkau tiba di medan perang mereka, kemudian serulah mereka kepada Islam, dan beritahu mereka apa yang diwajibkan Allah dari hal hak-haknya. Demi Allah, seandainya Allah berikan petunjuknya kepada seorang saja di antara mereka di tanganmu, itu adalah lebih baik dari engkau memiliki unta-unta merah!
Ibnu Sa'ad telah meriwayatkan dari Farwah bin Missik Al-Qathi'i ra. berkata: Sekali peristiwa aku datang kepada Rasulullah SAW: "Wahai Rasulullah! Boleh atau tidakkah aku memerangi kaumku yang enggan memeluk Islam dengan mereka yang telah memeluk Islam", tanya Farwah. "Ya, boleh!" jawab Rasulullah SAW "Tapi, wahai Rasulullah!" tambahku, "mereka itu dari keturunan Saba', mereka terkenal kuat dan berani mati!" aku cuba menerangkan situasi yang sebenarnya. "Ya, boleh dan aku benarkan kamu memerangi mereka itu, walaupun mereka Saba' sekalipun!" Rasulullah SAW mengizinkanku untuk meneruskan cita-citaku itu. Berkata Farwah: Aku pun meninggalkan majlis Rasulullah SAW itu kembali ke rumah untuk membuat persiapan. Rupanya waktu itu, telah turun firman Allah ta'ala yang menjelaskan lagi tentang permasalaan Saba' tadi. Lalu Beliau menyuruh mencariku dengan mengutus orang untuk memanggilku. Malangnya aku juga sudah berangkat. Maka utusan itu pun mengejarku dan mengajakku kembali untuk menemui Rasulullah SAW. Apabila aku memasuki majelisnya, aku dapati Beliau sedang duduk dan dikelilingi oleh beberapa orang sahabatnya, lalu Beliau berkata: "Wahai Farwah! Mulaikanlah dengan menyeru mereka kepada Islam terlebih dahulu, siapa yang setuju terimalah darinya. Dan siapa yang enggan, jangan engkau lakukan apa-apa terhadapnya, sehingga datang perintah Allah kepadaku!". "Ya Rasulullah! Apa itu Saba'?" terdengar seorang sahabat bertanya, "apakah dia mengenai tanah Saba' ataupun puterinya?". "Bukan", jawab Rasulullah SAW. "Dia bukan tanahnya atau puetrinya. Tetapi dia seorang lelaki Arab yang beranak sepuluh. Enam dari padanya berpindah ke Yaman, dan empat yang lain berpindah ke Syam". Rasulullah SAW menjelaskan hakikat Saba' itu. Kemudian Beliau menyambung pula: "Adapun yang pergi ke Syam, yaitu: Lakham, Judzam, Chassan dan Amilah", Beliau berhenti sebentar, kemudian menyambung lagi, "adapun yang ke Yaman, maka mereka itu: Azd, Kindah, Himyar, Asyfariyun, Anmar dan Mudzhij". Terdengar pula suatu pertanyaan lagi meminta penerangan, Siapakah Anmar itu?". "Dia itulah yang dari keturunan Khats'am dan Bujailah", jelas Rasulullah SAW, lagi. (Thabaqat Ibnu Sa'ad 2:154, dan Kanzul Ummal 1:260)
Dalam versi Ahmad dan Abd bin Humaid yang diriwayatkannya dari Farwah juga, bahwa dia berkata: Aku telah mendatangi Rasulullah SAW meminta izinnya untuk memerangi orang yang tidak mau memeluk Islam, kataku: "Bolehkah aku memerangi orang yang enggan memeluknya dengan mereka yang telah memeluk Islam dari kaumku?". "Ya, boleh", jawab Rasulullah SAW. "Engkau boleh memerangi orang yang enggan memeluk Islam itu dengan siapa yang telah memeluk Islam dari kaummu". Setelah aku pergi, Beliau lalu memanggilku kembali, seraya berkata: "Jangan engkau memerangi mereka, sehingga engkau menyeru mereka kepada Islam terlebih dahulu". Tiba-tiba terdengar suara orang bertanya kepada Beliau, katanya: "Wahai Rasulullah! Saba' itu, apakah lembah, atau bukit, ataupun apakah dia sebenarnya?". "Bukan semua itu", jawab Rasulullah SAW, "tetapi dia adalah seorang Arab yang beranak sepuluh orang anak...". Dan seterusnya sehingga akhir penerangan Rasulullah SAW seperti yang disebutkan di atas tadi. (Tafsir Ibnu Katsir 3:531)
Thabarani meriwayatkan dari Khalid bin Said ra. katanya: Rasulullah SAW pernah mengutusku ke negeri Yaman, seraya berpesan: Siapa yang engkau temui dari kaum Arab, lalu terdengar darinya suara azan, janganlah engkau mengganggunya. Dan siapa yang mendatangi suara azan, ajaklah mereka kepada Islam. (Majma'uz-Zawa'id 5:307)
© 2013 - RizzStudio
Sebab Kemenangan
Umar ra. telah melantik Atbah bin Ghazwan sebagai panglima perang pasukan Muslimin di dalam peperangan melawan Parsi. Pada ketika itu beliau telah memberikan perintah.
"Senantiasalah menjaga ketaqwaan sedapat-dapatnya. Berhati-hatilah menjalankan keadilan apabila memberi keputusan. Kerjakan sholat pada waktu yang ditentukan dan berzikirlah memuji Allah sebanyak-banyaknya dan selalu".
Satu ketika terdapat seorang tawanan Romawi di dalam penjagaan orang-orang Islam. Terjadi satu keadaan dimana dia telah dapat meloloskan diri dan lari. Raja Heraklius bertanya kepadanya mengenai keadaan orang-orang Islam dengan mendalamnya supaya seluruh kehidupan mereka nampak jelas dihadapannya. tawanan ini juga melaporkan perkara yang sama dan menerangkan bahwa orang-orang itu adalah ahli ibadat diwaktu malam dan kesatria (da'i) disiang harinya. Orang-orang Islam itu juga tidak mengambil sesuatu walaupun daripada Dhimmi (orang-orang kafir yang dibawah lindungan mereka) tanpa membayar harganya dan apabila mereka berjumpa, mereka memberi dan menjawab salam. Heraklius menjawab dengan cepat dan tajam bahwasanya jikalau laporan itu benar dan tepat, maka mereka akan menjadi raja-raja bagi kerajaan Heraklius.
Heraklius mempunyai jumlah tentera yang sangat banyak sedangkan jumlah orang-orang Islam sangat terbatas. Amr bin al-'As ra. memberitahu Abu Bakar Siddiq ra. mengenai keadaan tersebut. Sebagai jawabannya Abu Bakar ra. menulis:
"Kamu orang-orang Islam tidak akan dapat dikalahkan karena jumlah yang kecil. Kamu pasti dapat dikalahkan walaupun mempunyai jumlah yang banyak melebihi jumlah musuh jikalau kamu terlibat didalam dosa-dosa".
Al-Baihaqy mentakhrijkan dari jalan Al-Waqidy, dari Abu-Hurairah ra., dia berkata, "Aku ikut dalam perang Mu'tah. Ketika jarak antara kami dan orang-orang musyrik semakin dekat, kami bisa melihat jumlah pasukan yang amat banyak, membawa persenjataan lengkap, tameng, mengenakan pakaian sutra dan perhiasan emas.
Tsabit bin Arqam ra. berkata saat melihatku membelalakkan mata, "Wahai Abu Hurairah, sepertinya engkau sedang melihat pasukan yang besar."
"Benar", jawabku.
Dia berkata, "Engkau tidak bergabung bersama kami di Badr. Kami menang saat itu bukan karena jumlah kami yang banyak".
(Al-Bidayah 4:244, Al-Ishabah 1:190)
Ahmad bin Marwan bin Maliky di dalam Al-Mujalasah, dari Abu Ishaq, dia berkata, "Tidak ada musuh yang bertahan lama jika berperang melawan para sahabat.
Ketika Heraklius tiba di Anthokia setelah pasukan Romawi dikalahkan pasukan Muslimin, dia bertanya, "Beritahukan kepadaku tentang orang-orang yang menjadi lawan kalian dalam peperangan. Bukankah mereka manusia seperti kalian?"
Mereka menjawab, "Ya".
"Apakah kalian yang lebih banyak jumlahnya ataukah mereka?"
"Kamilah yang lebih banyak jumlahnya dimanapun kami saling berhadapan".
"Lalu mengapa kalian bisa dikalahkan?"
Seseorang yang dianggap paling tua menjawab, "Karena mereka biasa shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, menepati janji, menyuruh kepada kebajikan, mencegah dari kemungkaran dan saling berbuat adil di antara sesamanya. Sementara kami suka minum arak, berzina, melakukan hal-hal yang haram, melanggar janji, suka marah, berbuat semena-mena, menyuruh kepada kebencian, melarang hal-hal yang diridhai Allah dan berbuat kerusakan di bumi".
Heraklius berkata, "Engkau membuatku percaya".
(Al-Bidayah 7:15, Ibnu Asakir 1:143)
© 2013 - RizzStudio
Dakwah Rasulullah SAW Ketika Dalam Perjalanan
Imam Ahmad telah memberitakan dari putera Sa'ad, sedang ayah Sa'ad sendiri yang menunjukkan jalan ke Rakubah (perjalanan di antara Makkah dengan Madinah). Berkata putera Sa'ad, bahwa ayahku telah menceritakan kepadaku, bahwa Rasulullah SAW bersama-sama dengan Abu Bakar ra. telah singgah di kampungku. Sebenarnya Abu Bakar ra. ingin melihat puterinya yang kecil sedang disusukan di kampung kami dan Rasulullah SAW pula inginkan jalan pendek ke Madinah. Berkata Sa'ad kepada Rasulullah SAW: "jalan melalui Rakubah ini ada dua orang perompak dari suku Aslam, dikenal orang dengan panggilan Dua yang terhina!, jika engkau ingin melalui jalan ini, kami akan menunjukkannya". Rasulullah SAW menjawab: "Tidak mengapa, tunjukkanlah jalannya kepada kami!". Berkata Sa'ad seterusnya: "Kami pun berjalan melalui Rakubah itu, dan apabila kami dilihat oleh dua orang perompak itu, salah seorang mereka berkata kepada temannya: "Ini orang dari Yaman, barangkali!". Apabila kita bertemu dua orang perompak itu, Rasulullah SAW pun menyeru mereka supaya masuk Islam, dijelaskannyalah kepada keduanya tentang agama yang diajarkannya. Akhirnya mereka berdua setuju dan memeluk Islam. "Siapa nama kamu berdua?" tanya Rasuluilah SAW "Nama kami?". Mereka tersenyum."orang panggil kami dua orang yang terhina! Barangkali kerana perbuatan kami yang jahat". "Tidak", jawab Rasuluilah SAW. "Tapi sekarang kamu berdua dipanggil sebagai dua orang yang dimuliakan, kerana telah dimuliakan oleh Islam. Kami sekarang hendak menuju Madinah. Nanti temui kami di Madinah!" Rasulullah SAW berpesan kepada mereka berdua. (Musnad Ahmad 4:74; Majma'uz-Zawa'id 6:58)
Pohon Menjadi Saksi Pengislaman seorang Badui
Abu Abdullah An-Naisaburi (Hakim) telah memberitakan pula dari Ibnu Umar ra. katanya: Semasa kami bersama dengan Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, tiba-tiba kami ditemui oleh seorang Arab badui. Apabila kami berhampiran dengan badui itu, berkata Rasulullah SAW kepadanya: "Hendak ke mana, wahai teman?!". "Hendak kembali ke kampungku",jawab badui itu. "Mahukah engkau jika aku tunjukkanmu kepada yang baik?". "Apa itu?", tanya si badui. "Engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah saja, yang Esa, tiada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad itu adalah hambanya dan UtusanNya",jawab Rasulullah SAW. "Siapa yang menjadi saksi atas apa yang engkau katakan itu?", tanya badui itu. "Engkau mahukan saksi? Engkau tak percaya kepadaku?!". "Ya, kerana aku tak kenal padamu!", jawab badui itu. "Baiklah", jawab Rasulullah SAW lagi. "Cukupkah jika pohon itu menjadi saksi?!", sambil beliau menunjuk kepada sebatang pohon yang berdekatan dengan karni. "Pohon menjadi saksi?", mata badui itu terbelalak, dia tertawa. Maka Rasulullah SAW pun memanggil pohon yang tumbuh di lereng lembah bukit itu supaya datang. Lalu pohon itu pun datang menyeret dirinya satu-satu hingga berdiri di hadapan badui itu. Dan beliau meminta kepadanya supaya menyaksikan bahwa apa yang dikatakan beliau itu adalah benar dan betul. Pohon itu lalu bersaksi dengan jelas, kemudian dia kembali semula ke tempatnya di lereng bukit itu. Orang badui itu terperanjat, dan tidak terkata-kata lagi. Kami juga merasa heran, namun begitu kami tahu yang berlaku itu adalah tanda mukjizat Rasulullah SAW. "Kalau begitu, aku percaya kepadamu!", jawab badui itu. Dia pun kembali ke kampungnya, sambil berkata, "Nanti, jika kaumku mengikutku, akan aku bawa mereka semua kepadamu". "Kalau tidak?". "Kalau tidak, aku sajalah yang akan datang kepadamu, dan duduk denganmu!" (Al-Bidayah Wan-Nihayah 6:125; Majma'uz-Zawa'id 8:292)
Islamnya Buraidah bin Hasib ra.
Dan dari riwayat Ashim Al-Aslami yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa'ad katanya: Apabila Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, beliau singgah di sebuah kampung bernama Chamim. Beliau bertemu dengan Buraidah bin Hashib lalu ia diajak Rasulullah SAW untuk memeluk Islam. Buraidah memeluk Islam bersama-sama dengan penduduk kampungnya, dan jumlah mereka sangat ramai, semuanya datang dari kurang lebih 80 rumah. Beliau bermalam di kampung itu, dan bersembahyang Isya' sedang penghuni kampung itu mengikutnya di belakang.
(Tabaqat Ibnu Sa'ad 4:242)
© 2013 - RizzStudio
Dakwah Khalid bin Walid ra. Di Medan Perang
Menurut Al-Waqidi dan lainnya, mereka berkata: Satu peristiwa, pada pertempuran Yarmuk, keluarlah dari barisan musuh seorang panglima besar musyrik, lalu dia menyeru Khalid bin Al-Walid untuk keluar dari barisan kaum Muslimin. Khalid pun keluar dengan kuda tangkasnya, hingga hampir-hampir kedua kuda itu berlaga kerana ketangkasannya. Maka berkatalah panglima pasukan musyrik itu yang bernama Jarjah:
"Engkaukah yang dikenal Khalid, panglima pasukan ini?".
"Ya, aku Khalid pedang Allah!" jawab Khalid.
"Khalid, pedang Allah?" tanya Jarjah lagi.
"Ya", jawab Khalid. "Dan engkau siapa?"
"Aku Jarjah, panglima perang!"
"Apa maksudmu memanggil aku ke sini?" tanya Khalid.
"Hai Khalid! Bicaralah yang benar, dan jangan berdusta! Sebab orang yang merdeka itu tidak berdusta. Dan jangan pula engkau menipuku, kerana orang yang berkedudukan seperti engkau ini tidak akan menipu yang lain, apa lagi bila hal itu ada pertaliannya dengan Allah!" jarjah ingin menguji kejujuran Khalid.
"Baiklah", jawab Khalid. "Aku akan berkata benar dan menjawab sesuai dengan kehendakmu!"
"Engkau mengaku diri sebagai pedang Allah, bukan?" tanya Jarjah.
"Ya", jawab Khalid pendek
"Apakah Allah telah menurunkan pedang itu dari langit kepada Utusan kamu, lalu dia menyerahkan pedang itu kepadamu, dan engkau tidak akan menghunuskan kepada sesiapa pun, melainkan engkau akan mengalahkannya?" Jarjah meminta penerangan dari Khalid.
"Tidak!" jawab Khalid pendek lagi.
"Oh, tidak?!" Jarjah mengejek. "Jadi bagaimana engkau dipanggil sebagai pedang Allah? Bukankah itu ajaib sekali?!" Jarjah menambah lagi.
"Tidak ajaib, jika engkau mendengar cerita yang sebenarnya!" jawab Khalid.
"Kalau begitu ceritakanlah kepadaku!" pinta Jarjah.
"Sekarang dengarlah ceritanya: Sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kita UtusanNya, lalu Beliau mengajak kami memeluk Islam, tetapi kami menjauhkan diri darinya, dan kami sekalian menyingkirkannya. Meskipun begitu ada juga setengah dari kami yang mempercayainya dan mengikutnya, manakala yang lain mendustakannya dan menentangnya, dan jika engkau ingin tahu aku adalah di antara orang-orang yang mendustakannya dan menentangnya", Khalid menceritakan dirinya dengan jujur.
"Sesudah itu?" tanya Jarjah yang mendengar dengan penuh minat.
"Kemudian Allah telah melembutkan hati kami, dan membukakan pemikiran kami, lalu kami diberiNya petunjuk untuk memeluk Islam, dan kami pun memberikan kesetiaan kami kepadanya", Khalid berdiam sebentar mengenang dirinya di masa lalu.
"Kemudian, apa yang berlaku?" tanya Jarjah lagl
'Kerana aku memeluk Islam itulah, maka beliau berkata kepadaku: Hai Khalid! Engkau ini adalah pedang dari pedang-pedang Allah, yang dihunuskan Allah ke atas kaum musyrik, dan beliau mendoakan bagiku dengan kemenangan!" jelas Khalid.
"Sebab itulah engkau dikenal dengan pedang Allah?!" tanya Jarjah.
"Ya, aku rasakan itu, dan aku orang yang paling keras di antara pasukan Islam ke atas kaum musyrik", 'jelas Khalid lagi.
"Baiklah", tanya Jarjah. "Engkau membawa pasukanmu ke sini itu, untuk apa?"
Aku datang ke sini untuk menyeru orang-orang seperti kamu kepada Islam, dan mempercayai Tuhan yang Satu!" jawab Khalid.
"Tuhan yang Satu?" tanya Jarjah.
"Ya, dengan menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasanya Muhammad itu adalah Utusan Allah, serta meyakini bahwa apa yang dibawa Muhammad itu adalah dari Allah yang Maha Mulia", terang Khalid.
"Kalau kami tidak mahu menerimanya?"
"Bayar upeti, dan kami akan melindungi kamu!"
"Kalau kami tidak mahu membayar upeti itu?"
"Kami akan memerangi kamu habis-habisan!"
"Baiklah, apa kedudukan orang yang mengikut seruanmu itu, dan yang mendampingkan diri dalam apa yang engkau seru itu?"
'Kedudukannya dengan kami sama tentang apa yang difardhukan Allah ke atas kami sekalian, baik dia orang berpangkat atau orang yang rendah, yang pertama memeluk Islam dan yang kebelakangan! Yakni siapa yang mengikut Muhammad sekarang ini akan memperoleh pahala yang sama dengan siapa yang telah mengikutnya lama sebelum ini, iaitu balasannya dan kelebihannya?!"
"Bagaimana itu?" Jarjah meminta penjelasan.
"Ya", jawab Khalid, "bahkan boleh jadi lebih utama lagi".
"Bagaimana sampai begitu? Bagaimana agamamu menyamakan orang-orang ini dengan kamu, padahal kamu sudah mendahului mereka?" tanya Jarjah.
"Mudah saja!" jawab Khalid. "Kita orang-orang yang terdahulu memeluk Islam secara terpaksa, kerana kita telah menentangnya sebelum itu. Kemudian kita memberikan kesetiaan kami kepadanya sedang dia hidup di sisi kita, berita-berita langit sedang turun kepadanya, dia memberitahu kita tentang firman-firman Allah itu serta dibuktikannya dengan keterangan-keterangan yang tidak dapat diragukannya lagi", kata Khalid.
"Jadi, apa alasannya?" tanya Jarjah lagi.
"Jadi orang-orang seperti kita ini sudah melihat semua bukti-bukti itu, dan kami mendengar sendiri darinya, sudah seharusnyalah kami mengikutnya dan menganut kepercayaannya. Tetapi kamu tidak seperti kami, kamu tidak melihat apa yang kami lihat, dan kamu tidak mendengar seperti apa yang kami dengar dan berbagai keajaiban dan bukti-bukti yang membenarkan seruan dan dakwaannya. Jadi barangsiapa yang mengikut perkara ini di antara kamu dengan kebenaran dan niat yang baik, tentulah dia lebih utama dari kami".
Jarjah terharu dengan penerangan Khalid itu, lalu dia berkata: "Demi Allah, aku yakin engkau telah mengatakan yang benar, dan engkau tidak menipuku!"
"Demi Allah, aku telah berkata yang benar, tiada suatu pun yang aku sembunyikan, dan Allah telah membantuku untuk menjawab soalan-soalanmu itu dengan yang benar", terang Khalid.
"Kalau begitu, apa gunanya lagi aku menyandang perisai ini", kata Jarjah, dia lalu melepaskannya, sambil memeluk Khalid dan berkata: "Hai Khalid! Ajarkanlah aku agama Islam itu!" pinta Jarjah.
Khalid Ialu mengajak Jarjah datang ke kemahnya, lalu disiramkan ke atasnya dengan qirbah air (kulit kambing yang dibuat untuk mengisi air), kemudian diajaknya Jarjah bersembahyang dengannya dua rakaat.
Akhirnya pasukan Romawi kecewa apabila Jarjah tidak kembali lagi kepada mereka. Lalu mereka memulai penyerangannya kepada pasukan Islam, dan pada mulanya mereka merasa bangga dengan kemenangan kecil di mana mereka dapat mematahkan sayap-sayap pasukan Islam, kecuali yang sedang dipertahankan oleh lkrimah bin Abu jahal ra. dan Al-Harits bin Hisyam ra. Khalid bin Walid ra. pun keluar ke medan peperangan untuk menyelamatkan pasukan Islam, dan keluar bersamanya Jarjah yang baru memeluk Islam. Keduanya pun memimpin pasukan Islam di tengah-tengah pasukan Romawi yang mencoba mengepung pasukan Islam. pasukan Islam pun berteriak semangat dan menggempur di belakang panglimanya, si pedang Allah, sehingga akhirnya pasukan Romawi tidak mampu bertahan lagi, dan mereka pun mundur kebarisan mereka yang asal. Khalid terus berjuang pedang dengan pedang bersama-sama pasukan Islam yang telah kembali semangat perjuangannya, sedang Jarjah turut berjuang sebelah-menyebelah dengan pasukan Islam dari sejak tengahari hingga matahari akan terbenam, dan masuk waktu maghrib. pasukan Islam bersembahyang shalat Dzhuhur dan Asar secara menunduk-nunduk saja kerana hebatnya pertarungan yang berlaku di antara dua pihak itu. Akhimya Jarjah, moga-moga Allah merahmatinya, gugur syahid setelah mendapat luka-luka berat, dan dia tidak bersembahyang kepada Allah selain dua rakaat yang dikerjakannya dengan Khalid ra. ketika dia memeluk Islam itu.
(Al-Bidayah Wan-Nibayah 7:12 - Menurut Abu Nu'aim dalam "Dalaa'ilun Nubuwah", nama panglima Romawi itu ialah jarjir bukan jarjah.)
© 2013 - RizzStudio
Keberanian Hamzah bin Abdul Mutthalib ra.
Thabarani telah mengeluarkan dari Al-Harits At-Taimi dia berkata: Adalah Hamzah bin Abdul Mutthalib ra. pada hari pertempuran di Badar membuat tanda dengan bulu burung Na'amah (Bangau). Sesudah selesai peperangan, maka seorang dari kaum Musyrikin bertanya: Siapa orang yang bertanda dengan bulu burung Na'amah itu? Maka orang berkata: Dialah Hamzah bin Abdul Mutthalib. Sambut orang itu lagi: Dialah orang yang banyak memalu kita di dalam peperangan itu. (Majma'uz Zawa'id 6:81)
Bazzar mengeluarkan dari Abdul Rahman bin Auf ra. dia berkata: Bertanya Umaiyah bin Khalaf kepadanya: Hai Abdullah! Siapa orang yang memakai bulu burung Na'amah di dadanya pada perang Badar itu? jawabku: Dia itu paman Muhammad, dialah Hamzah bin Abdul Mutthalib ra. Berkata lagi Umaiyah bin Khalaf: Dialah orang yang banyak memalu kita dengan senjatanya sehingga dia dapat membunuh ramai di antara kita. (Majma'uz Zawa'id 6:81)
Hakim telah mengeluarkan dari Sabir bin Abdullah ra. dia berkata: Rasulullah SAW mencari-cari Hamzah pada hari Ubud setelah selesai peperangan, dan setelah semua orang berkumpul di sisinya: Di mana Hamzah? Maka salah seorang di situ menjawab: Tadi, saya lihat dia berperang di bawah pohon di sana, dia terus menerus mengatakan: Aku singa Allah, dan singa RasulNya! Ya Allah, ya Tuhanku! Aku mencuci tanganku dari apa yang dibawa oleh mereka itu, yakni Abu Sufyan bin Harb dan tentera Quraisy. Dan aku memohon uzur kepadamu dari apa yang dibuat oleh mereka itu dan kekalahan mereka, yakni tentera Islam yang melarikan diri! Lalu Rasulullah SAW pun menuju ke tempat itu, dan didapati Hamzah telah gugur. Bila Beliau melihat dahinya, Beliau menangis, dan bila melihat mayatnya dicincang-cincang, Beliau menarik nafas panjang. Kemudian Beliau berkata: Tidak ada kain kafan buatnya?! Maka segeralah seorang dari kaum Anshar membawakan kain kafan untuknya. Berkata Jabir seterusnya, bahwa Rasulullah SAW telah berkata: Hamzah adalah penghulu semua orang syahid nanti di sisi Allah pada hari kiamat. (Hakim 3:199)
Cerita Wahsyi ra.
Ibnu Ishak telah mengeluarkan dari Ja'far bin Amru bin Umaiyah Adh-Dhamri, dia berkata: Aku keluar bersama Abdullah bin Adiy bin Al-Khiyar pada zaman Mu'awiyah ra... dan disebutkan ceritanya hingga kami duduk bersama Wahsyi (pembunuh Hamzah ra.), maka kami berkata kepadanya: Kami datang ini untuk mendengar sendiri darimu, bagaimana engkau membunuh Hamzah ra. Wahsyi bercerita: Aku akan memberitahu kamu berdua, sebagai mana aku sudah memberitahu dahulu kepada Rasulullah SAW ketika Beliau bertanya ceritanya dariku.
Pada mulanya, aku ini adalah hamba kepada Jubair bin Muth'im, dan pamannya yang bernama Thu'aimah bin Adiy telah mati terbunuh di perang Badar. Apabila kaum Quraisy keluar untuk berperang di Uhud, Jubair berkata kepadaku: Jika engkau dapat membunuh Hamzah, paman Muhammad untuk menuntut balas kematian pamanku di Badar, engkau akan aku merdekakan. Bila tentera Quraisy keluar ke medan Uhud, aku turut keluar bersama mereka. Aku seorang Habsyi yang memang mahir untuk melempar pisau bengkok, dan sebagaimana biasanya orang Habsyi, jarang-jarang tidak mengenai sasaran apabila melempar. Apabila kedua belah pihak bertempur di medan Uhud itu, aku keluar mencari-cari Hamzah untuk kujadikan sasaranku, sehingga aku melihatnya di antara orang yang bertarung, seolah-olahnya dia unta yang mengamuk, terus memukul dengan pedangnya segala apa yang datang menyerangnya, tiada seorang pun yang dapat melawannya. Aku pun bersiap untuk menjadikannya sasaranku. Aku lalu bersembunyi di balik batu berdekatan dengan pohon yang dia sedang bertarung, sehingga apabila dia datang berdekatan denganku, mudahlahlah aku melemparkan pisau racunku itu.
Tatkala dia dalam keadaan begitu, tiba-tiba datang menyerangnya Sibak bin Abdul Uzza. Apabila Hamzah melihat Sibak datang kepadanya, dia berteriak: Mari ke sini, siapa yang hendak mencari maut! Dipukulnya dengan sekali pukulan kepalanya terus berguling di tanah. Maka pada ketika itulah, aku terus mengacung-acungkan pisau bengkokku itu, dan apabila aku rasa sudah tepat sasaranku, aku pun melemparnya kepada Hamzah mengenai bawah perutnya terus rnenembusi bawah selangkangnya. Dia mencoba hendak menerkamku, tetapi dia sudah tidak berdaya lagi, aku lalu meninggalkannya di situ sehinggalah dia mati. Kemudian aku kembali lagi untuk mengambil pisau bengkokku itu, dan aku membawanya ke perkemahan kami. Aku duduk di situ menunggu, dan aku tidak punya hajat yang lain, selain dari hendak membunuh Hamzah agar aku dapat dimerdekakan oleh tuanku.
Apabila kami kembali ke Makkah, seperti yang dijanjikan oleh tuanku, aku dimerdekakan. Aku terus tinggal di Makkah. Dan apabila kota Makkah ditakluki oleh Rasulullah SAW aku pun melarikan diri ke Tha'if dan menetap di sana. Apabila rombongan orang-orang Tha'if bersiap-siap hendak menemui Rasulullah SAW untuk memeluk Islam, aku merasa serba salah tidak tahu ke mana harus melarikan diri. Aku berfikir, apakah aku harus melarikan diri ke Syam, atau ke Yaman, ataupun ke negeri-negeri lainnya, sampai kapan aku akan menjadi orang buruan?! Demi Allah, aku merasakan diriku susah sekali. Tiba-tiba ada orang yang datang kepadaku memberi nasehat: Apa yang engkau susahkan? Muhammad tidak membunuh orang yang masuk ke dalam agamanya, dan menyaksikan syahadat kebenaran! Aku tidak ada jalan melainkan menerima nasehat itu. Aku pun menuju ke Madinah untuk menemui Rasulullah SAW Memang tiada disangka-sangkanya melainkan dengan tiba-tiba Beliau melihatku berdiri di hadapannya menyaksikan syahadat kebenaran itu. Beliau lalu menoleh kepadaku seraya berkata: Apakah engkau ini Wahsyi? Jawabku: Saya, wahai Rasulullah! Beliau berkata lagi: Duduklah! Ceritakanlah bagaimana engkau rnembunuh Hamzah?! Aku lalu menceritakan kepadanya seperti aku menceritakan sekarang kepada kamu berdua.
Apabila selesai bercerita, Beliau berkata kepadaku: Awas! Jangan lagi engkau datang menunjukkan wajahmu kepadaku! Kerana itu aku terus-menerus menjauhkan diri dari Rasulullah SAW supaya Beliau tidak melihat wajahku lagi, sehinggalah Beliau wafat meninggalkan dunia ini. Kemudian apabila kaum Muslimin keluar untuk berperang dengan Musailimah Al-Kazzab, pemimpin kaum murtad di Yamamah, aku turut keluar untuk berperang dengannya. Aku bawa pisau bengkok yang membunuh Hamzah itu. Ketika orang sedang gawat bertempur, aku mencuri-curi masuk dan aku lihat Musailimah sedang berdiri dan di tangannya pedang yang terhunus, maka aku pun membuat persiapan untuk melemparnya dan di sebelahku ada seorang dari kaum Anshar yang sama tujuan denganku. Aku terus mengacung-acungkan pisau itu ke arahnya, dan apabila aku rasa sudah boleh mengenai sasarannya, aku pun melemparkannya, dan mengenainya, lalu orang Anshar itu menghabiskan hidupnya dengan pedangnya. Aku sendiri tidak memastikan siapa yang membunuh Musailimah itu, apakah pisau bengkokku itu, ataupun pedang orang Anshar tadi, hanya Tuhan sajalah yang lebih mengetahui. Jika aku yang membunuhnya, maka aku telah membunuh orang yang terbaik pada masa hayat Rasulullah SAW dan aku juga sudah membunuh orang yang paling jahat sesudah hayat Beliau.
(Al-Bidayah Wan-Nihayah 4:18)
Bukhari telah mengeluarkan dari Ja'far bin Amru sebagaimana cerita yang sebelumnya, cuma apabila orang ramai berbaris untuk berperang, lalu keluarlah Sibak seraya menjerit: Siapa yang akan melawanku? Hamzah pun keluar untuk melawannya, lalu Hamzah berkata kepadanya: Hai Sibak! Hai putera Ummi Anmar, tukang sunnat orang perempuan! Apakah engkau hendak melawan Allah dan RasulNya? Hamzah lalu menghantamnya dengan suatu pukulan yang keras menghabiskannya.
© 2013 - RizzStudio
Pembelaan Abu Bakar ra. terhadap Nabi SAW
Dalam peristiwa yang diberitakan oleh Abi Ya'la dari Anas bin Malik ra. katanya: Suatu kali, pernah kaum Quraisy memukul Nabi SAW sehingga beliau jatuh pingsan. Ada orang yang memberitahu Abu Bakar ra. lalu segera dia meleraikan mereka, seraya berkata: Celaka kamu sekalian! Apakah kamu hendak membunuh orang yang mengatakan 'Tuhanku Allah!' Kemudian orang-orang jahat bertanya: Siapa orang ini? Jawab mereka: Inilah Abu Bakar yang sudah gila itu! Mereka pun meninggalkan Nabi SAW lalu berkelahi dengan Abu Bakar.
(Majma'uz Zawa'id 6:17; Hakim 3:67)
Bazzar memberitakan di dalam Musnadnya dari Muhammad bin Aqil dari Ali ra. bahwa pada suatu hari, dia berdiri berpidato kepada orang ramai, katanya: 'Siapakah orang yang paling berani?' 'Engkaulah, wahai Amirul Mukminin!' jawab orang-orang yang mendengarnya. 'Memang barangkali aku, kerana tiada siapa yang bertanding pedang denganku, melainkan aku membelahnya menjadi dua!' Ali lalu berdiam sebentar. Kemudian dia menyambung kata-katanya lagi: 'Tetapi yang benar-bena rberani adalah Abu Bakar ra. Pada suatu hari kita memdirikan untuk Nabi SAW sebuah pondok, lalu kita berkata: Siapa yang akan menjaga Nabi SAW supaya jangan ada orang musyrik mengapa-apakannya?! Demi Allah, tiada seorang pun yang maju ke depan, melainkan Abu Bakar ra. sedang dia menghunuskan pedangnya di kepala Rasulullah SAW tiada seorang musyrik yang coba mendekati beliau, melainkan diayunkan pedang itu kepadanya. Inilah orang yang paling berani!' ujar Ali ra.
Kemudian dia bercerita lagi: 'Pernah aku melihat kaum Quraisy mengancam Rasulullah SAW yang satu mengganggunya, dan yang lain menarik-nariknya seraya mengatakan: Engkaukah orangnya yang menjadikan tuhan-tuhan itu hanya Satu Tuhan saja? Demi Allah aku tidak melihat siapa pun datang untuk menolong beliau, selain Abu Bakar semata, dia memukul si fulan, menghadapi si fulan serta mendorong si fulan dan dia terus-menerus berkata: Celaka kamu! Celaka kamu! Apakah kamu mau membunuh orang yang mengatakan'Tuhanku Allah!?...'
Kemudian Ali ra. menngambil kain burdah yang ada pada badannya, seraya dia menangis terisak-isak hingga membasahi janggutnya. Kemudian Ali ra. menanyai orang-orang yang mendengar pidatonya tadi dengan berkata: 'Aku meminta kepada kamu sekalian dengan nama Allah, tolongl beritahub aku, apakah orang Mukmin kaum Fir'aun itu yang lebih baik, atau dia (yakni Abu Bakar)? jawablah tuan-tuan sekalian!' Majlis itu senyap-sunyi, tiada siapa yang mahu menjawabnya, sehingga dia sendiri yang menjawabnya, katanya: 'Demi Allah, satu detik saja dari Abu Bakar adalah lebih baik dari seisi bumi yang dipenuhi oleh orang Mukmin kaum Fir'aun itu! Mereka itu menyembunyikan imannya! Namun Abu Bakar menampakkan imannya!' demikianlah Ali ra. mengenalkan kepada orang tentang keutamaan Abu Bakar ra.
(Al-Bidayah Wan-Nihayah 3:271; Majma'uz Zawa'id 9:47)
© 2013 - RizzStudio
Semangat Anak-anak Untuk Berjihad
lbnu Abi Syaibah telah memberitakan dari As-Sya'bi, bahwa ada seorang wanita menyerahkan sebilah pedang kepada anaknya pada hari perang Uhud, tetapi malangnya sang anak tidak kuat mengangkatnya, lalu pedang itu diikatkannya pada lengan anak itu. Kemudian dia mengajak anak itu menemui Rasulullah SAW seraya berkata kepadanya: Ya Rasulullah! Ini anakku, dia dapat mempertahankanmu dari musuhmu! Maka Nabi SAW berkata kepada anak itu: Hai anak kecil, mari menghadapi orang-orang yang di sini! Kemudian beliau menyuruh lagi supaya menghadapi orang di sana! Kemudian anak kecil itu mengalami luka-luka dan terjatuh, maka orang membawanya kepada Nabi SAW; dan bila melihat luka-luka itu, beliau lalu berujar: Hai anak kecil! Barangkaii engkau menyesal ikut berperang?! jawab anak itu: Tidak, wahai Rasulullah! (Kanzul Ummal 5:277)
Ibnu Asakir telah memberitakan dari Sa'ad bin Abu Waqqash ra. dia berkata: Rasulullah SAW telah menolak Umair bin Abu Waqqash ra. dari ikut serta pada perang Badar, kerana menganggap dia masih kecil. Kerana itu, Umair telah menangis, sehingga akhirnya beliau mengizinkannya ikut berperang. Berkata Sa'ad lagi: Lalu aku menolong Umair rnengangkatkan pedangnya. Dan saya sendiri telah mengikuti perang Badar, dan pada wajahku masih belum tumbuh suatu helai rambut pun (yakni masih belum berjanggut). (Kanzul Ummal 5:270)
Ibnu Sa'ad telah memberitakan dari Sa'ad ra. dia berkata: Saya menemui saudaraku Umair bin Abu Waqqash ra. sebelum kami diperiksa oleh Rasulullah SAW pada hari perang Badar, dan aku lihat Umair mencoba melarikan diri dari orang ramai. "Kenapa engkau berlari-lari begitu, hai Umair?", kataku kepadanya. "Aku takut Rasulullah melihatku ", jawab Umair. "Ada apa kalau dia melihatmu?" "Nanti dia akan menganggapku masih kecil, dan menolakku untuk berjihad",jawab Umair lagi. "Kalau dia tidak mengizinkan engkau berjihad, pulang sajalah!" saranku. "Tidak", jawab Umair dengan penuh kesal. "Aku tetap ingin berjihad, siapa tahu aku dapat mati syahid", sambungnya lagi. Apabila Umair diperiksa oleh Rasulullah SAW, benarlah dia ditolak kerana dianggapnya masih kecil lagi. Maka Umair terus menangis, dan meminta supaya dia diperbolehkan berjihad juga, maka Rasulullah SAW pun memgizinkannya ikut berjihad. Berkata Sa'ad lagi: jadi akulah yang membawakan pedangnya, kerana dia tidak kuat membawa pedang itu. Maka betullah seperti yang diinginkannya sebelum itu, bahwa dia adalah di antara orangorang yang terbunuh syahid di medan perang itu, dan ketika itu usianya masih muda, yaitu 16 tahun saja.
© 2013 - RizzStudio
Penderitaan para Sahabat R.Hum
Ibnu Ishak menceritakan dari Said bin Jubair ra. katanya, aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Abbas (rbnu Abbas) ra.: Apakah kaum Musyrikin sangat berlebih-lebihan saat menyiksa para sahabat Rasulullah SAW supaya mereka mau meninggalkan agama mereka? Ibnu Abbas ra. menjawab: Benar, demi Allah, mereka akan memukul siapa saja yang mereka dapati, mereka melaparkan dan menahan air darinya, sehingga orang Muslim itu tidak sanggup lagi duduk kerana beratnya penanggungan yang dideritainya. Kadang-kadang difitnahnya supaya mengaku hal-hal yang membahayakan kepercayaannya, seperti disuruhnya mengaku, bahwa berhala Laata dan Uzza itu adalah dua tuhan selain dari Allah. Sampai ada kalanya diakui oleh si Muslim itu kerana tidak tertanggungnya lagi penyiksaan yang dideritanya.
(Al-Bidayah Wan-Nihayah 3:59)
Ibnul Mundzir, Thabarani, Hakim, Ibnu Mardawaih dan Baihaqi juga telah meriwayatkan dari Said bin Manshur dari Ubai bin Ka'ab ra. dia berkata: Tatkala Nabi SAW dan para sahabatnya berlindung kepada kaum Anshar, semua kaum Arab seiya sekata keluar memburu mereka, sehingga mereka tidak tidur melainkan di samping mereka ada senjata, dan begitu pula pada siang hari ke mana-mana mereka pergi mesti membawa senjata bersamanya. Mereka lalu berkata sesama mereka: Bilakah masanya, kita dapat hidup dengan aman sentosa, tiada siapa pun yang mengancam, tidak ada yang kita takuti lagi selain Allah saja. Maka turunlah ketika itu firman Allah yang bermaksud: Allah menjanjikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan beramal sholih, akan diberikan kuasa kepada mereka di muka bumi ini hingga akhirnya. (Kanzul Ummal 1:259)
Ibnu Asakir dan Abu Ya'la dari Abu Musa ra. dia berkata: Pernah kami keluar berpatroli dengan Rasulullah SAW di antara kami ada enam orang yang bergilir-gilir menunggang, berganti-gantian, sehingga pecah-pecah kaki kami, ada yang sampai tercabut kukunya, kami lalu membungkus kaki kami dengan kain kerana terlalu banyak luka. Dan kerana itu dinamakan Ghazwah (perang) ini perang Zaatir Riqak, yaitu berbungkus-bungkus kaki. (Kanzul Ummal 5:310)
© 2013 - RizzStudio
Nasihat Rakyat kepada Pemimpin
Abu Nu'am mengeluarkan dari Muhammad bin Suqah, dia berkata, "Aku menemui Nu'aim bin Abu Hindun, yang kemudian dia mengeluarkan selembar kertas, yang di atasnya tertulis:
"Dari Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan Mu'adz bin Jabal, kepada Umar bin Al-Khaththab. Kesejahteraan semoga dilirnpahkan kepadamu. Amma ba'd.
Kami nasihatkan kepadamu, sehubungan dengan tugasmu yang amat penting ini. Kini engkau sudah menjadi pemimpin ummat ini, apa pun warna kulitnya. Di hadapanmu akan duduk orang yang mulia dan yang hina, musuh dan teman. Masing-masing harus engkau perlakukan secara adil. Maka pikirkan kedudukanmu dalam hal ini wahai Umar. Kami ingin mengingatkan kepadamu tentang suatu hari yang pada saat itu wajah-wahaj manusia akan mengisut, wajah mengering dan hujjah-hujjah akan terputus karena ada hujjah Sang Penguasa yang memaksa mereka dengan kekuasaan-Nya. Semua makhluk akan dihimpun di hadapan-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya.
Kami juga ingin memberitahukan bahwa keadaan umat ini akan muncul kembali pada akhir zaman, yang boleh jadi mereka akan menjadi saudara di luarnya saja, padahal mereka adalah musuh dalam selimut. Kami berlindung kepada Allah agar surat kami ini tiba di tanganmu bukan di suatu tempat seperti yang turun pada hati kami. Kami perlu menulis surat ini sekedar untuk memberikan nasihat kepadamu. wassalamu alaika."
(Al-Hilyah, 1:238, Ibnu Abi Syaibah juga mengeluarkannya, seperti yang disebutkan di dalam Al-Kanzu, 8:209, Ath-Thabrany seperti di dalam Al-Majma', 5:214, dan menurutnya, rijalnya tsiqat).
© 2013 - RizzStudio
Mangkuk yang Cantik, Madu dan Sehelai Rambut
Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya
Abakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan 'Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Sayidatina Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).
Abubakar r.a. berkata, "iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut".
Umar r.a. berkata, "kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Utsman r.a. berkata, "ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber'amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
'Ali r.a. berkata, "tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Fatimah r.ha.berkata, "seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yangtak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Rasulullah SAW berkata, "seorang yang mendapat taufiq untuk ber'amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber'amal dengan 'amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat 'amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Malaikat Jibril AS berkata, "menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Allah SWT berfirman, " Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
© 2013 - RizzStudio
Pahala Berjihad
Thabarani telah memberitakan dari Ummi Kabsyah ra. yaitu seorang wanita dari suku kaum Adzirah, yakni Adzirah Bani Qudha'ah, bahwa dia telah berkata: "Wahai Rasulullah! Bolehkah tidak aku keluar berjihad dengan tentera ini dan itu?" tanya Ummi Kabsyah. "Tidak boleh!" jawab Beliau pendek saja. "Aku bukan hendak berperang, tetapi aku dapat menolong mengobati orang yang luka, yang sakit, atau barangkali dapat memberi minum orang yang sakit dan mengurusnya!", pinta Ummi Kabsyah lagi. "Kalaulah tidak nanti orang ramai heboh mengatakan si fulanah itu keluar berperang, niscaya aku akan mengizinkanmu", jawab Nabi SAW. "Tetapi sebaiknya, engkau tinggal di rumah saja!" pesan Nabi SAW lagi. (Majma'uz-Zawa'id 5:323)
Bazzar telah memberitakan dari Abdullah bin Abbas ra. dia berkata: Dalam suatu peristiwa telah datang seorang wanita kepada Nabi SAW sebagai wakil dari kaum wanita lain, lalu berbicara kepada Beliau, katanya: "Wahai Rasulullah! Aku ini sebagai utusan dari kaum wanita untuk bertanya tentang jihad. Dia telah diwajibkan ke atas kaum lelaki saja, jika mereka mendapat kemenangan akan diberikan pahala yang besar, dan jika mereka terbunuh dianggap hidup di sisi Tuhan mereka dengan diberikan berbagai-bagai rezeki dan kurnia. Kami kaum wanita yang bersusah payah mengurus segala keperluan mereka apa yang kami dapat?!"
Jawab Nabi SAW: "Sampaikanlah berita ini kepada siapa saja yang engkau temui dari kaum wanita, bahwa taat kepada suami dan mengakui hak suami itu adalah setimpal dengan pahala jihad, malangnya sangat sedikit di antara kamu yang dapat melaksanakannya". (Riwayat Bazzar)
Manakala Thabarani meriwayatkan cerita yang sama, tetapi sedikit panjang dari yang di atas tadi, katanya: Kemudian telah datang kepada Nabi SAW seorang wanita, lalu berkata: "Aku ini adalah utusan kaum wanita yang diutus kepadamu, dan siapa saja di antara mereka, yang tahu ataupun yang tidak tahu, semua mereka inginkan aku datang kepadamu dan berbicara denganmu. Bukankah Allah itu Tuhan kaum lelaki dan kaum wanita, dan engkau pula adalah Utusan Allah kepada kaum lelaki dan kaum wanita?! Allah telah mewajibkan jibad ke atas kaum lelaki, maka jika mereka menang mereka diberikan pahala yang besar, dan jika mereka mati syahid mereka akan tinggal di sisi Tuhan, mereka menikmati rezeki dan kurnia-Nya. Apa yang dapat menyamai pahala amalan mereka itu dari ketaaatan kami kepada mereka?"
Jawab Nabi SAW: "Bila kaum wanita itu mentaati suami mereka, dan mengenal hak-haknya. Tetapi malangnya, sangat sedikit sekali mereka yang dapat berbuat seperti itu". (At-Targhib Wat-Tarhib 3:336)
© 2013 - RizzStudio
Bidadari untuk Umar r.a.
Umar r.a. adalah salah satu dari sahabat Rasulullah SAW. Semenjak ia memeluk islam kaum muslimin seakan memperoleh suatu kekuatan yang sangat besar. Sejak itulah mereka berani sholat dan thowaf dika'bah secara terang-terangan. Umar r.a. adalah seorang yang waro', ia sangat teliti dalam mengamalkan Islam. Umar r.a. mempelajari surah Al-Baqoroh selama 10 tahun, ia kemudian melapor kepada Rasulullah SAW, "wahai Rasulullah SAW apakah kehidupanku telah mencerminkan surah Al-Baqoroh, apabila belum maka aku tidak akan melanjutkan ke surah berikutnya". Rasulullah SAW menjawab, "sudah..."!. Umar r.a. mengamalkan agama sesuai dengan kehendak Allah SWT. Karena kesungguhannya inilah maka banyak ayat di Al-Qur'an yang diturunkan Allah SWT berdasarkan kehendak yang ada pada hatinya, seperti mengenai pengharaman arak, ayat mengenai hijab, dan beberapa ayat Al-Qur'an lainnya.
Rasulullah SAW seringkali menceritakan kepada para sahabatnya mengenai perjalannya mi'raj menghadap Allah SWT. Beliau SAW sering pula menceritakan bagaimana keadaan surga yang dijanjikan Allah SWT kepada sahabat-sahabatnya. Suatu hari ketika Rasulullah SAW dimi'rajkan menghadap Allah SWT malaikat Jibril AS memperlihatkan kepada Beliau SAW taman-taman surga. Rasulullah SAW melihat ada sekumpulan bidadari yang sedang bercengkrama. Ada seorang bidadari yang begitu berbeda dari yang lainnya. Bidadari itu menyendiri dan tampak sangat pemalu. Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril AS, "wahai Jibril AS bidadari siapakah itu"?. Malaikat Jibril AS menjawab, "Bidadari itu adalah diperuntukkan bagi sahabatmu Umar r.a.". Pernah suatu hari ia membayangkan tentang surga yang engkau ceritakan keindahannya. Ia menginginkan untuknya seorang bidadari yang berbeda dari bidadari yang lainnya. Bidadari yang diinginkannya itu berkulit hitam manis, dahinya tinggi, bagian atas matanya berwarna merah, dan bagian bawah matanya berwarna biru serta memiliki sifat yang sangat pemalu. Karena sahabat-mu itu selalu memenuhi kehendak Allah SWT maka saat itu juga Allah SWT menjadikan seorang bidadari untuknya sesuai dengan apa yang dikehendaki hatinya".
© 2013 - RizzStudio
Kurma Madinah
Ketika Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya untuk segera berangkat ke Tabuk menghadapi kaum kafir, mereka semua bersegera menyambutnya. Hanya beberapa orang sahabat yang tidak mengikuti peperangan tersebut, selain orang tua, para wanita dan anak-anak serta orang-orang munafik. Panen korma hampir tiba dan masa itu musim panas yang terik sedang melanda, sementara perbekalan dan persenjataan yang dimiliki sangat minim, akan tetapi Rasulullah SAW dan para sahabatnya r.ahum. tetap berangkat. Diwaktu itulah keimanan dan pengorbanan para sahabat diuji. Orang-orang munafik mulai menyebarkan desas-desus dan menghasut para sahabat r.ahum. agar tidak meninggalkan kebun kurma mereka dan tidak menyertai peperangan tersebut. Hasutan para munafiqin itu tidak hanya kepada para sahabat r.ahum. tetapi istri para sahabat r.huma. pun tidak luput dari hasutan mereka.
Mereka para munafiqin itu berkata, "suami-suami kalian pergi ke Tabuk sementara kurma di kebun-kebun kalian sebentar lagi ranum, siapakah yang akan mengurusnya. Mereka meninggalkan kesempatan yang bagus ini dan pergi meninggalkannya begitu saja". Istri-istri para sahabat itu menjawab dengan keimanan mereka, "pencari rezeki telah pergi dan pemberi rezeki telah datang". Pada masa itu Rasulullah SAW dan para sahabat r.ahum. dengan pertolongan Allah SWT kembali dari peperangan dalam waktu yang sangat singkat. Allah SWT menjaga kebun-kebun kurma dan keluarga mereka. Tidak satupun buah kurma yang telah masak itu jatuh dari tangkainya, panen mereka berlipat ganda hasilnya dan walaupun demikian harga kurma Madinah saat itu mencapai harga tertinggi sehingga para sahabat r.ahum. tidak mendapatkan kerugian sedikit pun. Sampai saat ini kurma Madinah adalah yang paling digemari dan terkenal di mana-mana.
© 2013 - RizzStudio
CAHAYA DI WAJAH NABI SAW
Telah diriwayatkan dari Siti Aishah rha. bahwa ia telah berkata : "Ketika aku sedang menjahit baju pada waktu sahur (sebelum subuh) maka jatuhlah jarum dari tanganku, kebetulan lampu pun padam, lalu masuklah Rasulullah SAW. Ketika itu juga aku dapat mengutip jarum itu kerana cahaya wajahnya, lalu aku berkata, "Ya Rasulullah alangkah bercahayanya wajahmu! Seterusnya aku bertanya: "Siapakah yang tidak akan melihatmu pada hari kiamat?" Jawab Rasulullah SAW: "Orang yang bakhil." Aku bertanya lagi: "Siapakah orang yang bakhil itu?" Jawab baginda : "Orang yang ketika disebut namaku di depannya, dia tidak mengucap shalawat ke atasku."
BERDOA
Berkata Al-Barra' ra. bahwa Nabi SAW. bersabda: "Segala doa itu terdinding (terhalang untuk dikabulkan) dari langit sehingga orang yang berdoa itu mengucapkan shalawat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad. "
© 2013 - RizzStudio
Wahyu Terakhir Kepada Rasulullah SAW
Diriwayatkan bahwa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu asar yaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan [Wada'].
Pada masa itu Rasulullah SAW berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah SAW tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rasulullah SAW bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril AS dan berkata:
"Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan demikian juga apa yang terlarang olehnya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu."
Setelah Malaikat Jibril AS pergi maka Rasulullah SAW pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah. Setelah Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah SAW pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril AS. Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata:
"Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna."
Apabila Abu Bakar ra. mendengar keterangan Rasulullah SAW itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar ra. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di depan rumah Abu Bakar ra. dan mereka berkata: "Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempuma." Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar ra. pun berkata, "Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahwa apabila sesualu perkara itu telah sempuma maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahwa ia menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah SAW. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda."
Selelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar ra. maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar ra., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah SAW tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat, "Ya Rasulullah SAW, kami baru kembali dari rumah Abu Bakar ra. dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah beliau." Apabila Rasulullah SAW mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah SAW dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar ra.. Setelah Rasulullah SAW sampai di rumah Abu Bakar ra. maka Rasulullah SAW melihat kesemua mereka yang menangis dan bertanya, "Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?." Kemudian Ali ra. berkata, "Ya Rasulullah SAW, Abu Bakar ra. mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?." Lalu Rasulullah SAW berkata: "Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar ra. adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua telah dekat".
Setelah Abu Bakar ra. mendengar pengakuan Rasulullah SAW, maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan. Sementara 'Ukasyah ra. berkata kepada Rasulullah SAW, 'Ya Rasulullah, waktu itu saya anda pukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu apakah anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta baginda." Rasulullah SAW berkata: "Wahai 'Ukasyah, Rasulullah SAW sengaja memukul kamu." Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Bilal ra., "Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku ke mari." Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fathimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, "Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas [diqishash]."
Setelah Bilal sampai di rumah Fathimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fathimah ra. menyahut dengan berkata: "Siapakah di pintu?." Lalu Bilal ra. berkata: "Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW unluk mengambil tongkat beliau."Kemudian Fathimah ra. berkata: "Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya." Berkata Bilal ra.: "Wahai Fathimah, Rasulullah SAW telah menyediakan dirinya untuk diqishash." Bertanya Fathimah ra. lagi: "Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah SAW?" Bilal ra. tidak menjawab perlanyaan Fathimah ra., Setelah Fathimah ra. memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah SAW Setelah Rasulullah SAW menerima tongkat tersebut dari Bilal ra. maka beliau pun menyerahkan kepada 'Ukasyah.
Melihatkan hal yang demikian maka Abu Bakar ra. dan Umar ra. tampil ke depan sambil berkata: "Wahai 'Ukasyah, janganlah kamu qishash baginda SAW tetapi kamu qishashlah kami berdua." Apabila Rasulullah SAW mendengar kata-kata Abu Bakar ra. dan Umar ra. maka dengan segera beliau berkata: "Wahai Abu Bakar, Umar dudukiah kamu berdua, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua." Kemudian Ali ra. bangun, lalu berkata, "Wahai 'Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah SAW oleh itu kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah SAW" Lalu Rasultillah SAW berkata, "Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu." Setelah itu Hasan dan Husin bangun dengan berkata: "Wahai 'Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah SAW, kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu menqishash Rasulullah SAW" Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah SAW pun berkata, "Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua." Berkata Rasulullah SAW "Wahai 'Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul."
Kemudian 'Ukasyah berkata: "Ya Rasulullah SAW, anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju." Maka Rasulullah SAW pun membuka baju. Setelah Rasulullah SAW membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Setelah 'Ukasyah melihat tubuh Rasulullah SAW maka ia pun mencium beliau dan berkata, "Saya tebus anda dengan jiwa saya ya Rasulullah SAW, siapakah yang sanggup memukul anda. Saya melakukan begini adalah sebab saya ingin menyentuh badan anda yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan badan saya. Dan Allah SWT menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu." Kemudian Rasulullah SAW berkata, "Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya." Kemudian semua para jemaah bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para jemaah pun berkata, "Wahai 'Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperolehi derajat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah SAW di dalam syurga."
Apabila ajal Rasulullah SAW makin dekat maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Aisyah ra. dan beliau berkata: "Selamat datang kamu semua semoga Allah SWT mengasihi kamu semua, saya berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah SWT dan mentaati segala perintahnya. Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan kamu semua hampir dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT dan menempatkannya di syurga. Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abbas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kamu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kafanilah aku dengan kain yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. Pertama yang akan menshalatkan aku ialah Allah SWT, kemudian yang akan menshalat aku ialah Jibril AS, kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, malaikat Mikail, dan yang akhir sekali malaikat lzrail berserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu baru kamu semua masuk bergantian secara berkelompok bershalat ke atasku."
Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka mereka pun menangis dengan nada yang keras dan berkata, "Ya Rasulullah SAW anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam penemuan kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila anda sudah tiada nanti kepada siapakah akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?." Kemudian Rasulullah SAW berkata, "Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasihat yang satu daripadanya pandai bicara dan yang satu lagi diam sahaja. Yang pandai bicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada Al-Quran dan Hadis-ku dan sekiranya hati kamu itu berkeras maka lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati."
Setelah Rasulullah SAW berkata demikian, maka sakit Rasulullah SAW bermula. Dalam bulan safar Rasulullah SAW sakit selama 18 hari dan sering diziaiahi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahwa Rasulullah SAW diutus pada hari Senin dan wafat pada hari Senin. Pada hari Senin penyakit Rasulullah SAW bertambah berat, setelah Bilal ra. menyelesaikan azan subuh, maka Bilal ra. pun pergi ke rumah Rasulullah SAW. Sesampainya Bilal ra. di rumah Rasulullah SAW maka Bilal ra. pun memberi salam, "Assalaarnualaika ya rasulullah." Lalu dijawab oleh Fathimah ra., "Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan beliau." Setelah Bilal ra. mendengar penjelasan dari Fathimah ra. maka Bilal ra. pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fathimah ra. itu. Apabila waktu subuh hampir hendak lupus, lalu Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah SAW dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal ra. telah di dengar oleh Rasulullah SAW dan baginda berkata, "Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan shalat subuh berjemaah dengan mereka yang hadir." Setelah mendengar kata-kata Rasulullah SAW maka Bilal ra. pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala dengan berkata: "Aduh musibah."
Setelah Bilal ra. sarnpai di masjid maka Bilal ra. pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya. Abu Bakar ra. tidak dapat menahan dirinya apabila ia melihat mimbar kosong maka dengan suara yang keras Abu Bakar ra. menangis sehingga ia jatuh pingsan. Melihatkan peristiwa ini maka riuh rendah tangisan sahabat dalam masjid, sehingga Rasulullah SAW bertanya kepada Fathimah ra.; "Wahai Fathimah apakah yang telah berlaku?." Maka Fathimah ra. pun berkata: "Kekecohan kaum muslimin, sebab anda tidak pergi ke masjid." Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali ra. dan Fadhl bin Abas ra., lalu Rasulullah SAW bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah Rasulullah SAW sampai di masjid maka beliau pun bershalat subuh bersama dengan para jemaah.
Setelah selesai shalat subuh maka Rasulullah SAW pun berkata, "Wahai kaum muslimin, kamu semua senantiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah, oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah SWT dan mengerjakan segala perintahnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia." Setelah berkata demikian maka Rasulullah SAW pun pulang ke rumah beliau. Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada malaikat lzrail AS, "Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut ruhnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah lerlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masukiah kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaku."
Setelah malaikat lzrail mendapat perintah dari Allah SWT maka malaikal lzrail pun turun dengan menyerupai orang Arab Badwi. Setelah malaikat lzrail sampai di depan rumah Rasulullah SAW maka ia pun memberi salam, "Assalaamu alaikum yaa ahla baitin nubuwwati wa ma danir risaalati a adkhulu?" (Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu semua sekalian, wahai penghuni rumah nabi dan sumber risaalah, bolehkan saya masuk?) Apabila Fathimah mendengar orang memberi salam maka ia-pun berkata; "Wahai hamba Allah, Rasulullah SAW sedang sibuk sebab sakitnya yang semakin berat." Kemudian malaikat lzrail berkata lagi seperti dipermulaannya, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW bertanya kepada Fathimah ra., "Wahai Fathimah, siapakah di depan pintu itu." Maka Fathimah ra. pun berkata, "Ya Rasulullah, ada seorang Arab badwi memanggil mu, dan aku telah katakan kepadanya bahwa anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga terasa menggigil badan saya." Kemudian Rasulullah SAW berkata; "Wahai Fathimah, tahukah kamu siapakah orang itu?." Jawab Fathimah,"Tidak ayah." "Dia adalah malaikat lzrail, malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur." Fathimah ra. tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui bahwa saat perpisahan dengan ayahandanya akan berakhir, dia menangis sepuas-puasnya. Apabila Rasulullah SAW mendengar tangisan Falimah ra. maka beliau pun berkata: "Janganlah kamu menangis wahai Fathimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku akan bertemu dengan aku." Kemudian Rasulullah SAW pun mengizinkan malaikat lzrail masuk. Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap, "Assalamuaalaikum ya Rasulullah." Lalu Rasulullah SAW menjawab: "Wa alaikas saalamu, wahai lzrail engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut ruhku?" Maka berkata malaikat lzrail: "Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut ruhmu, itupun kalau engkau izinkan, kalau engkau tidak izinkan maka aku akan kembali." Berkata Rasulullah SAW, "Wahai lzrail, di manakah kamu tinggalkan Jibril?" Berkata lzrail: "Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, para malaikat sedang memuliakan dia." Tidak beberapa lama kemudian Jibril AS pun turun dan duduk di dekat kepala Rasulullah SAW.
Apabila Rasulullah SAW melihat kedatangan Jibril AS maka Rasulullah SAW pun berkata: "Wahai Jibril, tahukah kamu bahwa ajalku sudah dekat" Berkata Jibril AS, "Ya aku tahu." Rasulullah SAW bertanya lagi, "Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakan aku disisi Allah SWT" Berkata Jibril AS, "Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat bersusun rapi menanti ruhmu dilangit. Kesemua pintu-pintu syurga telah dibuka, dan kesemua bidadari sudah berhias menanti kehadiran ruhmu." Berkata Rasulullah SAW: "Alhamdulillah, sekarang kamu katakan pula tentang umatku di hari kiamat nanti." Berkata Jibril AS, "Allah SWT telah berfirman yang bermaksud,
"Sesungguhnya aku telah melarang semua para nabi masuk ke dalam syurga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki syurga sebelum umatmu memasuki syurga."
Berkata Rasulullah SAW: "Sekarang aku telah puas hati dan telah hilang rasa susahku." Kemudian Rasulullah SAW berkata: "Wahai lzrail, mendekatlah kamu kepadaku." Selelah itu Malaikat lzrail pun memulai tugasnya, apabila ruh beliau sampai pada pusat, maka Rasulullah SAW pun berkata: "Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati." Jibril AS mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW apabila mendengar kata-kata beliau itu. Melihatkan telatah Jibril AS itu maka Rasulullah SAW pun berkata: "Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?" Jibril AS berkata: "Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu dikala kamu dalam sakaratul maut?" Anas bin Malik ra. berkata: "Apabila ruh Rasulullah SAW telah sampai di dada beliau telah bersabda,
"Aku wasiatkan kepada kamu agar kamu semua menjaga shalat dan apa-apa yang telah diperintahkan ke atasmu."
Ali ra. berkata: "Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengan Rasulullah SAW berkata: "Umatku, umatku." Telah bersabda Rasulullah SAW bahwa: "Malaikat Jibril AS telah berkata kepadaku; "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan sebuah laut di belakang gunung Qaf, dan di laut itu terdapat ikan yang selalu membaca selawat untukmu, kalau sesiapa yang mengambil seekor ikan dari laut tersebut maka akan lumpuhlah kedua belah tangannya dan ikan tersebut akan menjadi batu."
© 2013 - RizzStudio
Wafatnya Seorang Laki-laki Habsyi di Majelis Nabi SAW
Thabrani mentakhrijkan dari Ibnu 'Umar ra. (yang maksudnya kurang lebih -p), dia berkata, " Seorang laki-laki dari Habasyah datang kepada Rasulullah SAW. Maka berkatalah Rasulullah SAW, 'bertanyalah dan pahamkanlah!'. Ia lalu berkata, 'Ya Rasulullah! Engkau telah dimuliakan dari kami dengan rupamu, dengan keturunanmu, dengan kenabianmu. Apakah jika aku beriman dengan apa yang engkau telah beriman dan ber'amal dengan apa yang engkau telah amalkan apakah aku akan bersama mu di dalam Jannah?'. Berkata Rasulullah SAW, "na'am, dan orang yang dirinya seperti ini (berkulit hitam) sesungguhnya dia terlihat putih di Jannah sejauh seribu tahun perjalanan".
Kemudian Rasulullah SAW berkata, "barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallaah, bersamanya janji Allah dan siapa yang mengucapkan Subhanallahi wabihamdihi dituliskan baginya seratus duapuluh empat ribu (124.000) hasanah". Maka laki-laki itu berkata, "bagaimana keadaanku setelah ini ya Rasulullah?" Maka berkata Rasulullah SAW, "sesungguhnya seorang lelaki mendatangi hari kiamat dengan 'amal ...". Kemudian dibacakan oleh Rasulullah SAW surah berikut yaitu surah Al-insaan ayat 1 hingga ayat 20.
Orang Habsyi itu bertanya lagi, "dan apakah mata ini akan melihat apa yang akan engkau lihat di dalam Jannah?" Berkatalah Rasulullah, "na'am". Maka orang Habsyi itu menangis sehinggalah ia meninggal dunia (yakni keluarlah ruhnya)...
(Tafsir Ibnu Katsir)
Di dalam riwayat yang lain bersabda Rasulullah SAW terhadap lelaki habsyi tersebut, "Telah keluarlah ruh sahabatmu ini (saudaramu ini) dikarenakan Asy Syauqu ilaa Al-Jannah, rindukan jannah. (HR Ahmad)
(Note: Riwayat hadits selengkapnya pada kitab Hayatush Shahabah 3:80)
© 2013 - RizzStudio
Bertani di Syurga
Pada suatu hari Rasulullah SAW berbicara dengan seorang lelaki dari desa. Beliau SAW menceritakan bahwa ada seorang lelaki penghuni syurga meminta kepada Allah untuk bercocok tanam, kemudian Allah bertanya kepadanya bukankah Allah telah berikan semua perkara yang dia perlukan? Lelaki itu mengakui, tetapi dia suka bercocok tanam. Lalu dia menabur biji benih. Tanamn itu langsung tumbuh. Kesemuanya sama. Setelah itu dia menuainya. Hasilnya dapat setinggi gunung. Allah berfirman kepadanya, "Wahai anak Adam, ia tidak mengenyangkan perut kamu".
"Demi Allah, orang itu adalah orang Quraisy atau pun Anshar karena mereka dari golongan petani. Kami bukan dari golongan petani", kata orang Badui itu. Rasulullah SAW tertawa mendengar kata-kata orang badui itu.
(al-Sirah al-Nabawiyah, Muhammad Rasulullah wa al-Ladzina Ma'ahu, Ghazwatul Khandak)
© 2013 - RizzStudio
Gurau dan Canda Rasulullah SAW
Rasulullah SAW bergaul dengan semua orang. Baginda menerima hamba, orang buta, dan anak-anak. Baginda bergurau dengan anak kecil, bermain-main dengan mereka, bersenda gurau dengan orang tua. Akan tetapi Baginda tidak berkata kecuali yang benar saja.
Suatu hari seorang perempuan datang kepada beliau lalu berkata,
"Ya Rasulullah! Naikkan saya ke atas unta", katanya.
"Aku akan naikkan engkau ke atas anak unta", kata Rasulullah SAW.
"Ia tidak mampu", kata perempuan itu.
"Tidak, aku akan naikkan engkau ke atas anak unta".
"Ia tidak mampu".
Para sahabat yang berada di situ berkata,
"bukankah unta itu juga anak unta?"
Datang seorang perempuan lain, dia memberitahu Rasulullah SAW,
"Ya Rasulullah, suamiku jatuh sakit. Dia memanggilmu".
"Semoga suamimu yang dalam matanya putih", kata Rasulullah SAW.
Perempuan itu kembali ke rumahnya. Dan dia pun membuka mata suaminya. Suaminya bertanya dengan keheranan, "kenapa kamu ini?".
"Rasulullah memberitahu bahwa dalam matamu putih", kata istrinya menerangkan. "Bukankah semua mata ada warna putih?" kata suaminya.
Seorang perempuan lain berkata kepada Rasulullah SAW,
"Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar aku dimasukkan ke dalam syurga". "Wahai ummi fulan, syurga tidak dimasuki oleh orang tua".
Perempuan itu lalu menangis.
Rasulullah menjelaskan, "tidakkah kamu membaca firman Allah ini,
..Serta kami telah menciptakan istri-istri mereka dengan ciptaan istimewa, serta kami jadikan mereka senantiasa perawan (yang tidak pernah disentuh), yang tetap mencintai jodohnya, serta yang sebaya umurnya".
Para sahabat Rasulullah SAW suka tertawa tapi iman di dalam hati mereka bagai gunung yang teguh. Na'im adalah seorang sahabat yang paling suka bergurau dan tertawa. Mendengar kata-kata dan melihat gelagatnya, Rasulullah turut tersenyum.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Bilal R.A. Berhutang Pada Seorang Musyrik
Suatu ketika seseorang bertanya kepada Bilal r.a.
“Bagaimana biaya pengeluaran Rasulullah?”
Jawabnya, “Beliau tidak pernah menyimpan sesuatu. Sayalah yang mengurus keuangannya. Apabila datang seorang Islam yang sedang kelaparan, maka beliau menyuruh saya melayani orang itu. Saya meminjam dari siapa saja untuk memberi orang itu makan.”
Hal seperti itu terjadi terus menerus. Pada suatu hari saya bertemu dengan seorang musyrik, dia berkata, “Saya mempunyai banyak harta benda, maka janganlah kamu meminjam dari siapapun, apabila kamu mempunyai keperluan, berhutanglah kepada saya.”
Aku menjawab, “Apa yang lebih baik dari hal ini”, maka akupn mulai mengambil uhtang dari dia. Apabila datang perintah dari Rasulullah saw. maka aku datang dengan membawa pinjaman dari orang itu dan memberikannya kepada orang yang beliau kehendaki.
Suatu ketika, setelah berwudhu saya bangun untuk mengumandangkan adzan, orang musyrik itu datang bersama beberapa orang lainnya dan berkata, “Hai, Habsyi!” Maka sayapun memalingkan wajah kearahnya, tiba-tiba dia mencaci maki dan mengeluarkan kata-kata kotor dari mulutnya. Sambil berkata, “Tinggal berapa hari lagi habisnya bulan ini?”
Saya menjawab, “Bulan ini sudah hampir habis.”
Dia berkata, “Tinggal empat hari lagi, apabila engkau belum melunasi seluruh pinjaman kepadaku hingga akhir bulan ini, maka aku akan menjadikanmu sebagai hamba sahaya dan kamu harus menggembala kambing seperti dahulu.”
Setelah berkata demikian, dia pergi meninggalkan saya. Sesuatu yang saya takutkan telah terjadi. Saya merasa bingung dan gelisah. Setelah shalat ‘Isya, ketika Rasulullah saw. sedang duduk seorang diri, saya mendekatinya lalu menceritakan peristiwa tadi. Saya berkata, “Ya Rasulullah, engkau tidak mempunyai persediaan apapun untuk membayar hutang itu saat ini, dan saya juga tidak mempunyai apa-apa. Saya merasa orang itu akan menghinakan saya lagi. Oleh karena itu, apabila diizinkan, saya akan bersembunyi sambil menyiapkan sesuatu untuk membayar hutang, apabila datang kepada engkau sesuatu dari mana saja, maka aku akan datang. Setelah berkata demikian, saya segera pulang ke rumah. Saya mempersiapkan pedang, perisai, sepatu, dan semua barang-barang untuk di perjalanan, dan saya menunggu sampai datangnya waktu shubuh. Tetapi menjelang kepergian saya itu, seorang utusan Nabi saw. datang berlari sambil berkata, “Cepatlah datang menemui Nabi.” Sayapun segera datang menemui Nabi saw. dan melihat empat unta beserta muatannya sedang duduk.
Beliau bersabda, “Dengarkanlah kabar gembira ini wahai Bilal. Allah telah menyiapkan sesuatu untuk melunasi hutang-hutangmu. Ambillah unta-unta ini beserta muatannya. Barang-barang ini telah dikirim kemari sebagai hadiah untukku oleh ketua kaum Fidak.”
Saya mengucapkan sykur kepada Allah kemudian dengan gembira membawa semua barang itu dan kembali lagi setelah melunasi semua hutang-hutangku. Sedangkan Rasulullah saw. sedang menunggu di dalam masjid. Sampai disana aku berkata,
“Ya Rasulullah, aku bersyukur kepada Allah Swt. telah membebaskan kita dari seluruh hutang-hutang, dan tidak ada sesuatupun yang tersisa dari hutang-hutang itu.
Nabi saw. bertanya, “Apakah ada barang-barang masih tersisa?”
“Ya, masih ada sedikt barang yang tersisa,”jawab Bilal r.a.
Nabi saw. bersabda, “Bagikanlah barang-barang itu sampai habis, sehingga aku menjadi tenang, saya tidak akan puang ke rumah sebelum barang itu dibagikan semua.”
Sayapun pergi untuk mebagikan barang-barang yang masih tersisa kepada fakir miskin. Setelah shalat ‘Isya, Nabi saw. bertanya, “Masihkah ada barang yang tersisa?”
Saya berkata, “Masih, karena belum ada orang yang memerlukannya.” Maka Nabi saw. kembali tidur di masjid.
Keesokan harinya, setelah ‘Isya, beliau bertanya lagi. “Apakah masih ada barang yang tertinggal?”
Saya menjawab, “Tidak ada sisa. Allah telah memberkati Anda dengan ketentraman jiwa. Semua barang-barang itu telah saya habiskan.” Rasulullah saw. memuji Allah. Pada malam itu barulah beliau pulang menemui istri-istri beliau. Nabi saw. tidak suka menghadapi maut selama masih ada harta kekayaan di tangannya. (Al Badzlu)
© 2013 - RizzStudio
Kisah Pertanyaan Nabi SAW tentang Dua Jenis Manusia
Suatu ketika Rasulullah saw. sedang duduk bersama beberapa orang sahabatnya. Kemudian seseorang berjalan di depan mereka. Nabi saw. bertanya kepada mereka, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?”
Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, dia termasuk orang yang mulia. Demi Allah, jika dia melamar seorang wanita, lamarannya pasti diterima. Jika dia melindungi seseorang, tentu perlndungannya akan disetujui.”
Mendengar jawaban mereka, Nabi saw., hanya terdiam. Tidak lama kemudian, ada seorang lagi yang berjalan didepan mereka. Rasulullah saw. bertanya tentang orang itu. Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, dia seorang Islam yang miskin. Jika melamar wanita, pasti lamarannya ditolak. Jika dia mengusulkan sesuatu, pasti tdak diterima. Jika dia berbicara, tidak ada orang yang mendengarkannya,”
Rasulullah bersabda, “Apabila seluruh dunia dipenuhi oleh orang seperti yang pertama tadi, maka orang yang kedua lebih baik dari mereka semua.”
Hikmah dari kisah di atas
Maksud dari kisah diatas adalah, hanya kemuliaan dunia saja tidak mendapat tempat apa-apa disisi Allah Swt. Seseorang yang miskin yang tidak mendapakan tempat di sisi siapa pun, yang kata-katanya tidak didengar oleh orang lain, tetapi ternyata ia lebih mulia dalam pandangan Allah Swt. daripada ribuan bangsawan yang terhormat, yang kata-katanya mendapatkan tempat yang banyak di dunia ini dan setiap orang bersedia untuk mendengarkan dan menaatinya namun di sisi Allah dia tidak mendapat tempat apapun.
Berdirinya dunia ini adalah semata-mata karena keberkahan kekasih-kekasih Allah. Hal ini diterangkan langsung oleh hadits bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari di mana tidak tersisa satupun manusia yang menyebut nama Allah, maka kiamat akan terjadi dan keberadaan dunia akan punah”. Inilah keberkahan dari nama Allah yang Maha Suci, yang dengannya seluruh aturan alam berdiri tegak.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Kemiskinan dan Kelaparan yang Menimpa Pasukan Al-Ambar
Dikisahkan oleh Jabir bin 'Abdullah: “Kami berperang pada pasukan Al Khobath Dan yang menjadi Amir (panglima) adalah Abu Ubaidah, lalu kami merasa sangat lapar. Tiba-tiba lautan melempar Bangkai ikan yang tidak pernah kami lihat sebesar itu, dinamakan ikan Al- Anbar (paus). Kami pun memakan ikan tersebut selama setengah bulan. Lalu Abu Ubaidah memasang salah satu tulangnya, lalu orang berkendaraan dapat lewat dibawahnya. Ketika sampai di Madinah, kami sampaikan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: Makanlah! Itu rizki yang dikaruniakan Allah. Berilah untuk kami makan bila (sekarang) masih ada bersama kalian”. Lalu sebagian mereka menyerahkannya dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memakannya” [HR Al-Bukhori dan Muslim]
Pada bulan Rajab tahun kedelapan Hijriah,Nabi s.a.w. telah mengirim satu pasukan tentara muslimin yang terdiri dari 300 orang sahabat r.a ,mereka menuju ke sebuah tempat yang berdekatan dengan lautan,yang diketuai oleh Abu Ubaidah r.a. Rasulullah s.a.w hanya membekali mereka dengan sekarung buah kurma. Selama 15 hari,mereka telah menetap disana, tetapi perbekalan makanan yang mereka bawa telah habis dimakan. Qais r.a, salah seorang peserta dalam pasukan itu membeli unta milik salah seorang dari pasukan tersebut dan berjanji akan membayarnya sesampainya di Madinah nanti. Disembelihnya unta itu sebagai usaha mengatasi kelaparan yang menimpa mereka. Setiap hari,disembelihlah 3 ekor unta sebagai makanan mereka.
Pada hari yang ketiga,pimpinan pasukan berpendapat bahwa jika penyembelihan unta ini diteruskan, sudah barang tentu alat pengangkutan mereka setiap hari semakin berkurang sehingga keadan akan menjadi semakin sulit. Maka Abu Ubaidah r.a. memerintahkan agar penyembelihan unta dihentikan. Ia memerintahkan agar setiap orang yang masih memiliki sisa buah kurma supaya mengumpulkan menjadi satu untuk disimpan dalam sebuah kantong. Kemudian buah kurma tersebut dibagikan kepada setiap orang,satu orang mendapat jatah satu buah kurma setiap hari. Kurma itu hanya dimakan dengan air minum. Kemudian hingga malam hari,mereka tidak memakan apa pun.
Singkatnya,selama berhari-hari dalam peperangan yang sangat membutuhkan tenaga dan kekuatan seperti itu,setiap hari mereka hanyalah memakan buah kurma.
Jabir r.a,ketika sedang menceritakan hal ini kepada para sahabatnya salah seorang dari mereka bertanya,"Apakah hanya dengan satu buah kurma sehari dapat memberikan kekuatan?" Dia menjawab,"Setelah beberapa lama,kami terus berjalan.Kurma pun sudah habis sehingga tidak ada lagi makanan yang menghilangkan rasa lapar yang sungguh dahsyat imji. Hampir-hampir kami mati kelaparan. kami terpaksa memetik daun-daunan,rumput-rumputan, akar-akar pepohonan kemudian mencampurnya dengan air ,lalu kami memakanya.(HR.Bukhari)
Dalam keadan terpaksa,semuanya bisa dilakukan, Juga seperti biasanya,setiap ada kesusahan, Allah. s.w.t akan menggantinya dengan kemudahan sebagaimana rahmat-Nya yang telah dicucurkan ke atas orang yang tahan menderita. Setelah pasukan itu mengalami penderitaan yang sangat menyedihkan,tiba-tiba seekor ikan yang sangat besar telah terlempar dari laut,lalu jatuh kepantai di depan mata mereka. Itulah ikan yang biasa disebut dengan ikan ambar (ikan paus). Begitu besarnya ikan tersebut sehingga selama 18 hari,ikan itu terus dimakan tetapi belum juga habis. Sehingga mereka membawa dagingnya ketika kembali ke madinah.
Ketika peristiwa itu diceritakan kepada Nabi s.a.w beliau berkata, "Ikan itu merupakan rezeki yang sengaja diturunkan oleh Allah s.w.t untuk kalian."(HR.Bukhari dan Muslim)
Faidah:
Kesusahan dan penderitaan adalah hal yang biasa dalam kehidupan manusia sehari-hari. Demikian pula halnya dengan orang-orang yang dekat kepada Allah, secara khusus Allah s.w.t memberikan kesusahan kepada diri mereka. Kesusahan adalah ujian dari Allah s.w.t , Untuk itulah Rasulullah s.a.w bersabda,"Penderitaan yang paling berat diberikan kepada anbiya a.s,kemudian kepada orang-orang yang paling utama dari umat ini, kemudian lebih rendah lagi diturunkan kepada orang yang keutamaanya lebih rendah dari yang kedua. Kemudian penderitaan yang lebih rendah lagi diberikan kepada seluruh manusia pada umumnya."(HR. al-Ahmad, al-Tirmidzi dan Ibn Majah,berkata al-Tirmidzi: hadits hasan shahih)
Ujian yang diberikan kepada seseorang adalah sesuai dengan ketaatanya dalam agama. Semakin dekat diri kita kepada Allah s.w.t semakin berat ujian yang akan kita terima.meskipun demikian setiap selesai mengalami penderitaan,maka dengan rahmat dan kasih sayang Allah s.w.t ,selalu diringi dengan kemudahan.
Oleh karena itu hendaklah kita selalu memikirkan betapa orang-orang terdahulu telah sedemikian bersusah payah,semuanya semata-mata dilakukan untuk agama dan ridha Allah s.w.t. Dakam menyebarkan agama ini,yang akhirnya agama tersebut berada dalam diri kita,semua itu telah mereka jalani dengan tumpahan darah,penderitaan,kesusahan,dan pengorbanan. Sehingga kita tanpa susah payah telah mendapatkan agama ini.tetapi apa yang kita perbuat sekarang?
© 2013 - RizzStudio
Sejarah Pengumpulan Al-qur'an (Tahun 633 M)
Di masa pemerintahan Khalifatur Rasul Abu Bakar ash-Shiddiq ra, terjadi perang Yamamah yang mengakibatkan banyak sekali para qurra’/ para huffazh (penghafal al-Qur`an) terbunuh. Akibat peristiwa tersebut, Umar bin Khaththab merasa khawatir akan hilangnya sebagian besar ayat-ayat al-Qur`an akibat wafatnya para huffazh. Maka beliau berpikir tentang pengumpulan al-Qur`an yang masih ada di lembaran- lembaran.
Zaid bin Tsabit ra berkata: Abu Bakar telah mengirim berita kepadaku tentang korban Perang Ahlul Yamamah. Saat itu Umar bin Khaththab berapa di sisinya.
Abu Bakar ra berkata, bahwa Umar telah datang kepadanya lalu ia berkata: “Sesungguhnya peperangan sengit terjadi di hari Yamamah dan menimpa para qurra’ (para huffazh). Dan aku merasa khawatir dengan sengitnya peperangan terhadap para qurra (sehingga mereka banyak yang terbunuh) di negeri itu. Dengan demikian akan hilanglah sebagian besar al- Qur`an.”
Abu Bakar berkata kepada Umar: “Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasul saw?”
Umar menjawab: “Demi Allah ini adalah sesuatu yang baik.”
Umar selalu mengulang-ulang kepada Abu Bakar hingga Allah memberikan kelapangan pada dada Abu Bakar tentang perkara itu. Lalu Abu Bakar berpendapat seperti apa yang dipandang oleh Umar.
Zaid bin Tsabit melanjutkan kisahnya. Abu Bakar telah mengatakan kepadaku, “Engkau laki-laki yang masih muda dan cerdas. Kami sekali-kali tidak pernah memberikan tuduhan atas dirimu, dan engkau telah menulis wahyu untuk Rasulullah saw sehingga engkau selalu mengikuti al-Qur`an, maka kumpulkanlah ia.”Demi Allah seandainya kalian membebaniku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, maka sungguh hal itu tidaklah lebih berat dari apa yang diperintahkan kepadaku mengenai pengumpulan al- Qur`an.
Aku bertanya: “Bagaimana kalian melakukan perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw?”
Umar menjawab bahwa ini adalah sesuatu yang baik. Umar selalu mengulang-ulang perkataaannya sampai Allah memberikan kelapangan pada dadaku seperti yang telah diberikanNya kepada Umar dan Abu Bakar ra.
Maka aku mulai menyusun al- Qur`an dan mengumpulkannya dari pelepah kurma, tulang- tulang, dari batu-batu tipis, serta dari hafalan para sahabat, hingga aku dapatkan akhir surat at-Taubah pada diri Khuzaimah al-Anshari yang tidak aku temukan dari yang lainnya, yaitu ayat:
Laqad jaaa`akum rasuulun min anfusikum ‘aziizun ‘alaiHi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil mu`miniina ra`uufur rahiim
Artinya: Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olenya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At-Taubah [9]: 128)
Pengumpulan al-Qur`an yang dilakukan Zaid bin Tsabit ini tidak berdasarkan hafalan para huffazh saja, melainkan dikumpulkan terlebih dahulu apa yang tertulis di hadapan Rasulullah saw. Lembaran- lembaran al-Qur`an tersebut tidak diterima, kecuali setelah disaksikan dan dipaparkan di depan dua orang saksi yang menyaksikan bahwa lembaran ini merupakan lembaran yang ditulis di hadapan Rasulullah saw. Tidak selembar pun diambil kecuali memenuhi dua syarat: 1) Harus diperoleh secara tertulis dari salah seorang sahabat. 2) Harus dihafal oleh salah seorang dari kalangan sahabat.
Saking telitinya, hingga pengambilan akhir Surat at- Taubah sempat terhenti karena tidak bisa dihadirkannya dua orang saksi yang menyaksikan bahwa akhir Surat at-Taubah tsb ditulis di hadapan Rasululllah saw, kecuali kesaksian Khuzaimah saja. Para sahabat tidak berani menghimpun akhir ayat tersebut, sampai terbukti bahwa Rasulullah telah berpegang pada kesaksian Khuzaimah, bahwa kesaksian Khuzaimah sebanding dengan kesaksian dua orang muslim yang adil. Barulah mereka menghimpun lembaran yang disaksikan oleh Khuzaimah tersebut.
Demikianlah, walaupun para sahabat telah hafal seluruh ayat al-Qur`an, namun mereka tidak hanya mendasarkan pada hafalan mereka saja.
Akhirnya, rampung sudah tugas pengumpulan al-Qur`an yang sangat berat namun sangat mulia ini. Perlu diketahui, bahwa pengumpulan ini bukan pengumpulan al-Qur`an untuk ditulis dalam satu mushhaf, tetapi sekedar mengumpulkan lembaran-lembaran yang telah ditulis di hadapan Rasulullah saw ke dalam satu tempat.
Lembaran-lembaran al-Qur`an ini tetap terjaga bersama Abu Bakar selama hidupnya. Kemudian berada pada Umar bin al- Khaththab selama hidupnya. Kemudian bersama Ummul Mu`minin Hafshah binti Umar ra sesuai wasiat Umar.
© 2013 - RizzStudio
Sejarah Awal Penulisan Al-qur'an
Ketika diturunkan satu atau beberapa ayat, Rasul saw langsung menyuruh para sahabat untuk menghafalkannya dan menuliskannya di hadapan beliau. Rasulullah mendiktekannya kepada para penulis wahyu. Para penulis wahyu menuliskannya ke dalam lembaran-lembaran yang terbuat dari kulit, daun, kaghid, tulang yang pipih, pelepah kurma, dan batu-batu tipis.
Mengenai lembaran-lembaran ini Allah SWT berfirman:
Artinya: (yaitu) seorang utusan Allah (yakni Muhammad) yang membacakan lembaran- lembaran yang disucikan (al- Qur`an) (QS. Al-Bayyinah [98]: 2 )
Rasulullah saw mengizinkan kaum muslimin untuk menuliskan al-Qur`an berdasarkan apa yang beliau diktekan kepada para penulis wahyu. Rasulullah saw bersabda:
Artinya: Janganlah kalian menulis dari aku. Barangsiapa yang telah menulis dari aku selain al-Qur`an hendaknya ia menghapusnya. (HR. Muslim)
Rasulullah saw tidak khawatir dengan hilangnya ayat-ayat al- Qur`an karena Allah telah menjamin untuk memeliharanya berdasarkan nash yang jelas:
Artinya: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr [15] :9)
Rasulullah saw gembira dan ridha dengan al-Qur`an sebagai mukjizat terbesarnya yang dapat digunakan sebagai hujjah terhadap orang-orang Arab maupun orang-orang di seluruh dunia
Ketika Nabi saw wafat, al-Quran secara keseluruhan sudah tertulis pada lembaran-lembaran, tulang-tula
© 2013 - RizzStudio
Kisah Rasulullah s.a.w pada 10 malam Terakhir Ramadhan
Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sedang duduk i’tikaf semalam suntuk pada hari-hari terakhir Bulan Suci Ramadhan. Para sahabat pun tidak sedikit yang mengikuti apa yang dilakukan Nabi SAW ini. Beliau berdiri shalat mereka juga shalat, beliau menegadahkan tangannya untuk berdo’a dan para sahabatpun juga serempak mengamininya. Saat itu langit mendung tidak berbintang. Angin pun meniup tubuh-tubuh yang memenuhi masjid. Dalam riwayat tersebut malam itu adalah malam ke-27 dari Bulan Ramadhan.
Disaat Rasulullah SAW dan para sahabat sujud, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Masjid yang tidak beratap itu menjadi tergenang air hujan. Salah seorang sahabat ada yang ingin membatalkan shalatnya, ia bermaksud ingin berteduh dan lari dari shaf, namun niat itu digagalkan karena dia melihat Rasulullah SAW dan sahabat lainnya tetap sujud dengan khusuk tidak bergerak. Air hujan pun semakin menggenangi masjid dan membasahi seluruh tubuh Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang berada di dalam masjid tersebut, akan tetapi Rasulullah SAW dan para sahabat tetap sujud dan tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya.
Beliau basah kuyup dalam sujud. Namun sama sekali tidak bergerak. seolah-olah beliau sedang asyik masuk kedalam suatu alam yang melupakan segala-galanya. Beliau sedang masuk kedalam suatu alam keindahan. Beliau sedang diliputi oleh cahaya Ilahi. Beliau takut keindahan yang beliau saksikan ini akan hilang jika beliau bergerak dari sujudnya. Beliau takut cahaya itu akan hilang jika beliau mengangkat kapalanya. Beliau terpaku lama sekali di dalam sujudnya. Beberapa sahabat ada yang tidak kuat menggigil kedinginan. Ketika Rasulullah SAW mengangat kepala dan mengakhiri shalatnya, hujan pun berhenti seketika.
Anas bin Malik, sahabat Rasulullah SAW bangun dari tempat duduknya dan berlari ingin mengambil pakaian kering untuk Rasulullah SAW. Namun beliau pun mencegahnya dan berkata “Wahai anas bin Malik, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku, biarkanlah kita sama-sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering dengan sendirinya. ” Anas pun duduk kembali dan mendengarkan dengan seksama cerita Rasulullah SAW mengapa beliau begitu lama bersujud. Masya Allah….ternyata ketika tadi Rasulullah SAW, dan disaat hujan mulai turun, disaat itu pula malaikat dibawah pimpinan jibril turun dalam keindahan dan bentuk aslinya. Mereka berbaris rapi dengan suara gemuruh tasbih
dan tahmid mereka bergema dilangit dan dibumi serta alam semesta saat itu dipenuhi dengan cahaya ilahi. Inilah yang membuat Rasulullah SAW terpaku menyaksikan keindahan dan cahaya yang sama sekali tidak pernah dilihat oleh mata. Gema tasbih dan tahmid malaikat yang tak pernah didengar oleh telinga dan suasana
yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh pikiran manusia.
Itulah lailatul qadar. Tahukah kalian, apakah Lailatul Qadar ?
Lailatul qadar yang sesaat itu lebih baik dari pada seribu bulan. Di malam itu, para malaikat dibawah pimpinan Jibril turun atas izin Allah SWT, mereka menebarkan kedamaian, keselamatan, kesejahteraan dan mengatur segala urusan, mereka menyampaikan salam sampai terbitnya fajar keseluruh semesta alam. Sekarang Kita sudah hampir mencapai puncak terakhir dari Bulan Ramadhan, dan dipuncaknya kita mendapatkan pembebasan dari api neraka. Pada malam-malam terakhir, para malaikat turun dari langit untuk menaburkan kasih sayang Allah SWT kepada para hambanya dan menyampaikan salam kepada kaum beriman hingga terbitnya fajar, itulah yang dinamakan lailatul qadar, malam yang lebih afdhal daripada seribu malam.
Lailatul Qadar adalah malam kebesaran Allah SWT, malam keagungan-Nya, malam pengampunan-Nya, malam yang dimiliki-Nya untuk memberi maaf
kepada para pembuat dosa dan menebarkan kasih sayang kepada para hamba-Nya. Dilangit ada kerajaan sangat besar yang mengatur dan mencatat segala amal manusia dimuka bumi ini. Ketika para malaikat melihat kitab catatan amal manusia, mereka iri dengan amal yang hanya khusus dilakukan penduduk bumi dimalam-malam lailatul qadar. Malaikat pun tidak ada yang dapat menirunya. Salah satu di antaranya adalah rintihan taubat para pembuat dosa yang kemudian diampuni segala dosa- dosanya.
Allah SWT berfirman dalam sebuah hadist qudsi: “Aku lebih suka mendengarkan rintihan para pembuat dosa ketimbang gemuruh suara tasbih. Karena gemuruh suara tasbih hanya menyentuh kebesaranKu, sedangkan rintihan para pembuat dosa menyentuh kasih sayangKu.”
Shalawat dan salam selalu tercurahkan atas junjunganMu Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya. Amin….
Diambil dari BUKU KADO DARI KOTA NABI
PENULIS : HASAN HUSEIN ASSEGAF
PENERBIT: PUSTAKA BASMA
CET:I: JANUARI 2010
via : Syiar-Muslim
© 2013 - RizzStudio
Kisah Doa Ibnu Jahsy RA & Sa'ad RA
Dalam perang Uhud, Abdullah bin Jahsy r.a. berkata kepada Saad bin Abi Waqash r.a., "Wahai Saad, marilah kita sama-sama berdoa, dan diantara kita mengamininya. Yaitu, apabila salah seorang di antara kita berdoa terhadap apa yang diingininya, maka yang lainnya mengamini apa yang didoakan oleh saudaranya. Inilah doa yang paling dikabulkan oleh Allah S.W.T." Maka, dua sahabat tersebut pergi ke sebuah sudut, kemudian mereka berdoa di sana. Yang berdoa terlebih dahulu adalah Saad r.a. Inilah doanya: "Ya Allah, jika besok kami bertempur, maka hadapkanlah kepadaku seorang musuh yang sangat berani yang memiliki kekuatan menyerang yang hebat, dan saya melawannya dengan serangan yang hebat pula. Kemudian berilah kepadaku kemenangan, dan bunuhlah musuh tadi melalui tanganku ini. Kemudian kembalikanlah kami dengan membawa serta harta rampasan." Maka, Abdullah r.a. mengamini doa tersebut.
Kemudian giliran Abdullah bin Jahsy r.a. untuk berdoa. Inilah doanya: "Ya Allah, jika besok kami bertempur, maka hadapkanlah kepada seorang yang sangat hebat, dan berilah taufik kepadaku untuk menghadapinya dengan keberanian. Kemudian, ya Allah, syahidkanlah aku dalam pertempuran itu. Kemudian potonglah hidung dan telingaku sehingga pada hari Kiamat nanti, ketika di hadapan Rasulullah S.A.W., Engkau akan bertanya kepadaku, 'Hai Abdullah, mengapa hidung dan telingamu terpotong?' Maka, aku akan menjawab, 'Ya Allah, hidung dan telingaku terlah terpotong untuk berjuang di jalan-Mu dan di jalan Rasul-Mu. Dan, Engkau akan mengatakan: 'Benar, benar, semuanya telah terpotong untuk berjuang di jalan-ku'." Saad r.a. pun mengamini doa tersebut.
Keesokan harinya, terjadilah pertempuran yang berlangsung dengan sengitnya. Doa kedua sahabat ini telah dikabulkan oleh Allah S.W.T. Persis sebagaimana yang mereka doakan. Saad r.a. berkata, "Doa Abdullah bin Jahsy r.a. lebih baik daripada doaku. Sore itu, aku melihat telinga dan hidungnya telah dipotong-potong oleh musuh. Kemudian, Rasulullah SAW memberinya sebatang ranting pohon yang segera dipegang olehnya, langsung menjadi pedang. Maka, digunakanlah pedang itu olehnya untuk berperang. Setelah peperangan selesai, pedang itu masih dimilikinya untuk beberapa lama. Tetapi, kemudian pedang tersebut telah terjual seharga dua ratus dinar emas - sebagai mata uang pada masa itu."
Faidah
Kisah ini menunjukkan betapa hebatnya keberanian para sahabat r.a. Keinginan mereka untuk bertemu dengan musuh yang sangat berani, menunjukkan keberanian tersebut. Dalam pada itu, mereka juga menunjukkan betapa tingginya rasa cinta mereka untuk berjuang di jalan Allah sehingga mereka menginginkan tubuhnya terpotong-potong dalam peperangan. Pada hari Kiamat nanti, mereka ingin ditanya, "Untuk siapakah semuanya ini kamu kerjakan, wahai hamba-Ku?" Maka, mereka menjawab, "Semua ini semata-mata untuk-Mu, ya Allah."
Sumber: kitab Hikayaat-e-Sahabah yang ditulis oleh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandhalawi. Alih bahasa oleh A. Abdurrahman Ahmad.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Keberanian Ali R.A Dalam Perang Uhud
Dalam perang uhud, kaum muslimin mengalami sedikit kekalahan. Adapun penyebap utamanya adalah kerena tidak mentaati Rasulullah saw. Ketika itu kaum muslimin telah di kepung oleh kaum kuffar dari empat penjuru sehingga banyak kaum muslimin yang gugur syahid dan sebagian ada yang melarikan diri. Sedangkan Nabi saw. Terkepung oleh musuh-musuh kafir. Lalu mereka mengumumkan bahwa Nabi saw. Telah gugur. Berita ini membuat para sahabat r.hum merasa panik. Sebagian sahabat r.hum ada yang melarikan diri, ada pula yang lari ke sana-kemari dalam keadaan cerai berai.
Ali r.a. Bercerita, "ketika orang-orang kafir mengepung kaum muslimin, aku tidak melihat Rasulullah saw.. Aku segera mencari beliau di antara orang-orang yang masih hidup, tetapi tidak aku temukan. Lalu aku mencari di antara mayat para syuhada', di sana pun tidak aku temukan. Tidak mungkin Nabi saw. Melarikan diri dari pertempuran , pikirku. Mungkin karena perbuatan kami, Allah marah kepada kami sehingga Allah mengangkat Kekasih-Nya ke lagit. Aku tidak dapat mengira-ngira kemungkinan lain tentang Nabi saw. Yang lebih baik dari itu. Aku segera mencabut pedang kemudian terjun ke tengah pertempuran dengan prasaan bawha aku akan gugur dalam pertempuran ini. Aku terus bertempur sehingga sebuah jalan tebuka di tengah kepungan itu. Pada saat itulah terlihat olehku Rasulullah saw.. Bukan main gembira hatiku. Aku yakin allah melindungi kekasih-Nya melalui para malaikat-Nya. Aku segera menjumpai beliau dan berdiri di sisinya. Tiba-tiba muncullah pasukan kafir Quraisy untuk menyerang Rasulullah saw.. Beliau bersabda, "Hai Ali, tahanlah mereka," aku langsung menghadapi mereka seorang diri dengan segenap keberanianku, sehingga sebagian dari mereka melarikan diri, dan lainnya dapat aku bunuh. Lalu datang lah pasukan kedua untuk menyerang Rasulullah saw.. Beliau memberi isyarat kepadaku agar melawan mereka. Maka aku lawan mereka seorang diri."
Ketika peristiwa tersebut berlangsung, Jibril memuji keberanian Ali r.a.. Rasulullah saw. Bersabda, "sesungguhnya Ali adalah bagianKu dan aku bagian dari Ali." Ucapan beliau itu menunjukan sempurnanya kesatuan. Dan Jibril a.s berkata, "Aku dari kalian berdua." (Qurratul-Unyum).
Demikianlah teladan tentang keberanian. Dengan niat mengorbankan nyawanya, Ali r.a. Melawan pasukan orang-orang kafir sehingga dapat mengalahkannya semata-mata demi melindungi Rasulullah saw.. Dari satu sisi, terlihat betapa ketulusan cinta mereka terhadap rasulullah.. Dan di sisi lain, mereka mencontohkan keberanian yang sempurna.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Hanzhalah ra. Yang Syahid Di Medan Uhud
Pada perang Uhud, Hanzhalah ra. tidak turut bertempur. Menurut riwayat, beliau baru saja melangsungkan pernikahannya, dan baru saja berkumpul dengan istrinya pada malam itu. Ketika ia akan mulai mandi, dan baru membasuh kepalanya, tiba-tiba terdengar suara kekalahan kaum Muslimin, yang tidak tahan ia dengar. Dalam kondisi seperti itu, ia langsung menghunuskan pedangnya menuju pertempuran Uhud, bergabung menyerang pasukan Kafirin. Akhirnya, dalam keadaan seperti itu ia telah gugur sebagai syuhada.
Karena kesyahidannya, jika ia tidak dalam keadaan junub, maka ia dapat langsung dikuburkan tanpa harus dimandikan. Namun Nabi saw. melihat para malaikat sedang memandikan mayat Hanzhalah ra.. Mengenai hal ini, Nabi saw. bersabda kepada para sahabat, "Hanzhalah ra. telah dimandikan oleh para malaikat." Abu Sa'id Saidi ra. berkata, "Ketika Rasulullah saw. berkata demikian, saya pergi melihat mayatnya. Saya melihat tetesan air bekas mandi menetes dari kepala Hanzhalah ra.. Dalam perjalanan pulang, Rasulullah saw. memastikan lagi bahwa mayat Hanzhalah ra. tidak perlu dimandikan.
Faedah:
Ini pun suatu teladan keberanian yang sempurna. Seorang pemberani tidak akan mengundurkan niatnya. Sehingga, tanpa menunggu mandi junub, ia langsung menunaikan tugasnya.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Amru Bin Jamuh ra. Mendambakan Mati Syahid
Amrubin Jamuh ra. adalah seorang lelaki pincang yang memiliki empat orang putra. Mereka sering berkhidmat kepada Nabi saw., dan selalu menyertai berbagai peperangan. Pada perang Uhud pun, Amru bin Jamuh ra. sangat bergairah untuk menyertainya. Namun orang-orang berkata, "Kamu ada udzur, kakimu pincang, kamu akan sulit berjalan." Ia berkata, "Betapa buruk, jika anak-anak saya pergi ke surga, sedangkan saya tertinggal di sini." Ditambah lagi, istrinya selalu mendorongnya dengan sindiran, "Saya melihat suamiku tinggal di rumah karena melarikan diri dari peperangan." Mendengar ucapan istrinya, Amrura. menghadap ke arahkiblat dan berdo'a,
"Ya Allah, jangan kembalikan aku kepada keluargaku. "
Kemudian Amru menghadiri majelis Nabi saw. dan menceritakan anjuran kaumnya serta semangat dirinya untuk ikut berjuang di jalan Allah. Amru berkata, "Saya berharap, dengan kakiku yang pincang ini, saya dapat berjalan di surga." Sabda Nabi saw., "Allah telah mentakdirkanmu udzur. Tidak pergi pun tidak mengapa." Amru ra. tetap bersemangat untuk ikut berperang, sehingga Nabi saw. mengijinkannya ikut.
Abu Thalhah ra. berkata, "Saya melihat Amru ra. ikut bertempur dengan penuh semangat. Ia selalu berkata, "Demi Allah saya harus masuk surga." Salah seorang putranya ikut berlari-lari di belakangnya. Keduanya bertempur mati-matian, hingga keduanya gugur sebagai syuhada. Kemudian istrinya datang ke medan perang dengan seekor unta untuk membawa mayat suami dan putranya agar dapat dikuburkan di Madinah. Tetapi unta itu hanya duduk saja. Walaupun dipaksa, bahkan dicambuk dan berbagai cara untuk membawa jenazah itu ke Madinah, unta itu tetap diam sambil memandang ke arah Uhud. Istrinya mengadukan hai ini kepada Nabi saw.. Sabda Beliau, "Unta ini telah diperintahkan demikian. Apakah sebelum berperang Amru telah berkata sesuatu?" Istrinya menjawab, "Ya, ia telah berdo'a sambil menghadap kiblat, "Ya Allah, jangan kembalikan aku ke keluargaku." Sabda Nabi saw., "Karena do'a itulah, unta itu enggan pergi."
Faedah:
Hanya karena Allah, ia sangat bersemangat ke surga. Demikianlah teladan kecintaan yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga para sahabat sangat bersemangat untuk syahid, yang menghantarkan mereka ke derajat yang tinggi. Sampai untanya pun enggan berj alan, hanya duduk memandang ke arah Uhud.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Kesyahidan Mus'ab Bin Umair ra
Sebelum masuk Islam, Mus'ab bin Umair ra. adalah seorang bangsawan dan pemuda terkaya diantara rekan-rekannya. Ayahnya membelikannya pakaian berharga ratusan dirham. Pada masa mudanya ia telah dikaruniai banyak kenikmatan. Pada masa permulaan Islam, ia telah masuk Islam dengan diam-diam. Hingga beberapa lama, ada seseorang yang mengadukannya kepada keluarganya, sehingga mereka marah dan mengikatnya selama beberapa hari. Ketika ada kesempatan, ia melarikan diri dan ikut berhijrah ke Habasyah bersama kaum Muslimin. Lalu ia kembali ke Madinah, dan mulai hidup dalam kezuhudan dan kefakiran.
Demikian menderita kehidupannya. Sehingga, ketika Nabi saw. sedang duduk-duduk, lewatlah Mus'ab bin Umair ra.. Di tubuhnya hanya melekat sehelai kain lusuh penuh tambalan. Salah satu tambalannya dari kulit. Melihat hal ini, terbayang oleh Nabi saw. bagaimana keadaan Mus'ab ra. sebelum Islam. Yang sangat berbeda dengan saat itu, sampai Nabi saw. meneteskan air mata.
Ketika perang Uhud, bendera kaum Muslimin dipegang oleh Mus'ab bin Umair ra.. Ketika kaum Muslimin mengalami kesulitan sehingga kacau balau, ia tetap berdiri tegak. Tiba-tiba, seorang musuh menyerangnya dengan pedang, memotong salah satu tangannya. Bendera di tangannya hampir terjatuh. Ketika itu, pasukan Muslimin telah kalah. Mus'ab segera meraih bendera dengan tangan satunya. Si kafir itu pun kembali memotong tangan yang satunya lagi. Didekaplah bendera itu di dadanya dengan sisa-sisa kedua tangannya. Akhirnya, dadanya dipanah oleh musuh kafir sehingga ia mati syahid. Sampai sisa-sisa hidupnya, ia tetap berusaha untuk menjaga bendera itu agar tidak terjatuh ke tanah. Setelah itu, bendera langsung diambil oleh seorang kawannya.
Ketika akan dikebumikan, di tubuhnya hanya ada sehelai kain kafan yang tidak cukup untuk menutupi seluruh tubuhnya. Jika ditutupkan ke kepalanya, kakinya akan terbuka. Jika ditutupi kakinya, kepalanya akan terbuka. Nabi saw. bersabda, "Tutupkanlah kain itu ke kepalanya, dan tutupi kakinya dengan daun-daunan Adkhar."
Faedah:
Demikianlah akhir hidup Mus'ab ra., begitu susah dan mengharukan. Padahal ia pernah berpakaian seharga ratusan dirham. Namun pada akhir hidupnya, ia mengenakan sehelai kain kafan yang tidak mencukupi tubuhnya. Hingga akhir hayatnya, dengan penuh semangat ia berusaha agar bendera tidak jatuh, walaupun kedua tangannya telah terpotong.
Demikian mengharukan keteguhan iman dalam hati mereka, membuat mereka tetap mempertahankannya, tanpa berani meninggalkannya sedikit pun. Mereka berani mengorbankan harta, uang, istirahat, ataupun kesenangannya, semata-mata untuk berjuang dijalan-Nya.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Kesyahidan Mus'ab Bin Umair ra
Dalam pertempuran Irak, khalifah Umar bin Khattab ra. berniat menyertai pasukan muslimin dalam peperangan tersebut.
Masyarakat biasa dan para tokoh telah berkumpul dan bermusyawarah hingga beberapa hari; Apakah Umar ra. lebih baik ikut dalam pertempuran itu atau lebih baik tingal di Madinah untuk mempersiapkan pasukan yang akan dikirim kemudian? Kalangan rakyat biasa mengusulkan lebih baik Umar ra. ikut dalam peperangan, sedangkan para tokoh berpendapat, Umar ra. lebih baik tinggal di Madinah. Dalam musyawarah tersebut, muncullah nama Sa'ad bin Abi Waqas ra. Mereka lebih suka, jika Sa'ad bin Abi Waqash ra. yang memimpin pasukan, sehingga Umar ra. tidak perlu pergi ke medan perang.
Sa'ad bin Abi Waqash ra. adalah seorang pemberani dan terkenal sebagai singa Arab. Singkat cerita, diputuslah Sa'ad bin Abi Waqash ra. dikirim memimpin pasukan Muslimin. Ketika pasukan telah sampai di Kadisiah, Raja Kisra telah mengirim pasukan yang dipimpin oleh Rustum, yang terkenal dengan kehebatannya. Padahal, Rustum telah berkali-kali meminta kepada raja, agar ia diijinkan untuk tetap mendampingi raja. Sebenarnya ia takut menghadapi pasukan Muslimin. Namun, ia sembunyikan ketakutannya itu, dan berkata kepada raja, "Saya lebih baik tinggal di sini untuk mempersiapkan pasukan yang akan dikirim dan dapat membantu paduka dalam perundingan-perundingan nanti." Tetapi, Raja yang bernama Yadzdajir, menolak usulan Rustum. Sehingga terpaksa Rustum menyertai pasukan. (Asyhar)
Ketika Sa'ad bin Abi Waqqash ra. akan berangkat, Umar bin Khattab ra. berwasiat kepadanya, "Hai Sa'ad, janganlah kamu terperosok dalam tipuan, kamu disebut sebagai paman dan sahabat Rasulullah saw.. Allah swt. tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi membalas keburukan dengan kebaikan. Dan Allah tidak memiliki hubungan apapun dengan hamba-Nya kecuali penghambaan yang dikabulkan-Nya. Semua hamba itu pada hakekatnya sama. Semuanya adalah hamba Allah, dan Allah adalah Rabb manusia. Nikmat-Nya didapatkan melalui penghambaan kepada-Nya. Segala perintah-Nya hendaknya dilaksanakan sesuai contoh Rasulullah saw.. Itulah amal shalih. Ingatlah nasehat ini dengan baik. Kamu dikirim untuk suatu tugas yang sangat besar. Dan itu dapat kamu kerjakan, bila berpegang teguh kepada yang hak. Biasakanlah dengan sifat kebaikan pada dirimu serta kawan-kawanmu. Tingkatkanlah rasa takut kepada Allah. Takut kepada Allah swt. itu ada dua hal: Mentaati Allah swt. dan menghindari dosa. Ketaatan kepada Allah ini akan diperoleh oleh mereka yang membenci dunia dan hanya mencintai akherat."
Setelah itu, Sa'ad ra. dengan wajah berseri-seri, membawa pasukannya ke medan perang. Sesuai dengan surat yang dikirim olehnya kepada Rustum:
'Sesungguhnya saya membawa sebuah pasukan, yang mencintai mati, sebagaimana orang-orangmu mencintai khamar.' (TafsirAzizi)
Faedah:
Tanyakanlah kepada para pecinta khamar, bagaimanakah rasanya? Jika ada yang mencintai syahid di jalan Allah, seperti orang yang mencintai khamar, maka mengapa kita tidak mengikuti jejak mereka?
© 2013 - RizzStudio
Kisah Kesyahidan Wahab Bin Qobus ra. di Perang Uhud
Wahab bin Qabus ra. adalah seorang sahabat yang masuk Islam pada suatu waktu. Ia tinggal di sebuah kampung, sambil menggembala kambing. Suatu hari, bersama keponakannya ia pergi ke Madinah sambil membawa kambing-kambingnya. Setibanya di sana, ia bertanya kepada orang-orang, "Dimanakah Rasulullah saw.?" Ia diberitahu, bahwa Nabi saw. telah pergi ke medan Uhud. Ia langsung meninggalkan kambing-kambingnya, dan menyusul ke Uhud menjumpai Nabi saw.. Ketika itu Rasulullah saw. sedang terkepung oleh pasukan kafir. Sabda Nabi saw., "Barangsiapa dapat membubarkan kepungan mereka, ia akan bersamaku di surga." Wahab bin Qabus ra. langsung menghunus pedangnya dan menyerang kepungan orang-orang kafir itu, sehingga mereka melarikan diri. Lalu muncul lagi serangan musuh seperti tadi, dan ia berhasil mengusir kembali. Kemudian terjadi lagi pengepungan yang ketiga kalinya. Dan Wahab berhasil mengusirnya. Nabi saw. terus menjanjikannya dengan surga. Mendengar janji-janji itu, Wahab bin Qabus ra. bertambah semangat dan menghunus pedangnya menyerang musuh-musuhnya hingga syahid.
Sa'ad bin Abi Waqas ra. berkata, "Saya belum pernah melihat orang yang demikian hebat bertempur seperti Wahab bin Qabus." Setelah ia mati syahid, saya melihat Nabi saw. berdiri sambil menegakkan kepala, dan bersabda, "Allah meridhaimu dan saya pun meridhaimu." Lalu Beliau saw. ikut menguburkan jenazahnya dengan tangan beliau sendiri. Padahal, ketika itu Nabi saw. sedang terluka." Umar ra. berkata, "Saya tidak pernah sangat mencemburui suatu perbuatan, kecuali perbuatannya Wahab ra.. Hati saya berdo'a dan berharap; Semoga Allah menyampaikan daku kepada derajat sebagaimana amalan Wahab ra." (Al-Ishabah)
Faedah:
Rasa cemburu terhadap suatu amalan, menyebabkan nyawa tidak dipandang lagi. Padahal Umar ra., juga sahabat lainnya mempunyai amalan yang sama luar biasanya.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Perang Bir Mauna
Pertempuran Bir Mauna sangatlah terkenal. Ada tujuh puluh sahabat ra. yang semuanya syahid dalam pertempuran itu. Mereka adalah Qurra; para hafizh Al-Qur'an. Selain mereka ada beberapa orang Muhajirin, sedangkan jumlah Anshar lebih banyak. Rasulullah saw. sangat mencintai mereka, karena mereka banyak menyibukkan diri pada malam harinya untuk berdzikir dan tilawat Qur'an. Dan pada siang harinya, mereka membantu istri-istri Rasulullah saw., dengan mengumpulkankayubakar, air, dan sebagainya.
Suatu ketika, jamaah yang makbul ini diminta oleh serombongan penduduk Najed, yaitu kaum Bani Amir dengan pimpinan Amir bin Malik yang terkenal dijuluki Abu Barra. Atas perlindungan darinya sebagai pemimpin, mereka meminta agar dikirim beberapa orang sahabat untuk bertabligh dan mengajari kaumnya. Sabda Nabi saw., "Hati saya berkata, para sahabat saya ini dalam bahaya. Saya khawatir mereka tidak sampai ke tujuan." Tetapi, karena utusan tadi memberikan alasan-alasan yang cukup kuat, sehingga Nabi saw. mengijinkan tujuh puluh sahabat ra. diutus ke Bani Amir. Dan Nabi saw. telah menulis surat yang dititipkan kepada jamaah untuk ketua Banu Amir, yang bernama Amir bin Tufail. Yang isinya adalah ajakan Rasulullah saw. kepadanya untuk masuk Islam.
Jamaah ini bertolak meninggalkan Madinah, dan tiba di suatu tempat bernama Bir Mauna. Lalu, dua orang sahabat, yaitu; Umar bin Umayah ra. dan Mundzir bin Umar ra. ditugaskan untuk menggembalakan unta-unta milik jamaah. Dan Haram ra. dengan dua kawannya ditugaskan untuk menyampaikan surat Nabi saw. kepada Amir bin Tufail.
Ketika hampir tiba, ia berkata kepada kedua kawannya. "Kalian tunggu di sini. Saya akan masuk ke sana. Jika saya ditipu, maka kalian pergi dari sini. Daripada kita bertiga terbunuh lebih baik salah satu saja yangterbunuh."
Amir bin Tufail adalah keponakan Amir bin Malik ra., yang membawajamaah sahabat tersebut. Sebenarnya Amir bin Tufail sangat membenci Islam dan kaum Muslimin. Haram ra. menjumpai Amir bin Thufail dan menyampaikan surat Rasulullah saw. kepadanya. Namun, tanpa dibaca, Amir bin Thufail langsung menombak dada Haram ra., hinggamati syahid. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Haram sempat berkata, "...Demi Tuhan Ka 'bah, saya telah menang. " Ia meninggal dunia dengan kalimat ini. Amir bin Thufail sama sekali tidak peduli telah membunuh seorang utusan. Padahal, menurut bangsa manapun, membunuh seorang utusan itu tidak diperbolehkan. Ia juga tidak berpikir, bahwa orang tersebut telah mendapatkan perlindungan dari pamannya sendiri.
Setelah mensyahidkan sahabat tersebut, Amir mengumpulkan kaumnya dan menyuruh mereka untuk membunuh semua orang Islam. Namun kaumnya merasa ragu, karena kaum Muslimin telah memperoleh perlindungan dari Abu Barra. Melihat hai itu, Amir bin Thufail segera mengumpulkan orang-orang di pihaknya, sehingga terkumpullah suatu kelompok besar yang menyerang 70 sahabat ra. tersebut. Para sahabat ra. melawan mereka dengan gigih. Mereka telah dikepung oleh orang-orang kafir, sehingga semua gugur terbunuh. Tinggal seorang sahabat bernama Ka'ab bin Zaid ra. yang masih hidup, namun ia disangka telah meninggal dunia, sehingga ia ditinggalkan begitusaja. Sedangkan yang lainnya telah syahid.
Mundzir dan Umar ra. yang ditugaskan mengembalakan unta-unta, melihat ke langit dan terlihat burung-burung pemakan bangkai berterbangan di dekat situ. Keduanya berkata, "Kita harus segera kembali, pasti ada sesuatu yang terjadi pada kawan-kawan kita." Ketika tiba, mereka menjumpai seluruh kawannya telah gugur syahid, dan semua kendaraan mereka penuh dengan darah. Mereka berputar-putar mengelilingi mayat-mayat tersebut. Atas kejadian tersebut, mereka berdua bermusyawarah apa yang harus mereka lakukan. Umar bin Umayah ra. mengusulkan, "Mari kita kembali dan memberitahukan kepada Nabi saw.." Tetapi Mundzir ra. berkata, "Berita ini pasti akan disampaikan Allah kepada beliau. Hati saya berkata lebih baik kita jangan kembali, dan hati kecil saya mengatakan jangan tinggalkan mati syahid. Kita segera menyusul kawan-kawan kita yang telah syahid di sini." Lalu keduanya menyerang musuh, yang pada akhirnya, Mundzir ra. pun mati syahid. Dan Umar bin Umayah ra. ditawan sebagai budak oleh orang-orang kafir. Namun, karena ibu Amir bin Thufail telah bersumpah akan membebaskan seorang budak, maka Amir bin Thufail pun bertanggung jawab untuk membebaskan seorang budak, sehingga ia terpaksa membebaskan sahabat tadi.
Diantara para sahabat yang syahid, ada seorang hamba sahaya Abu Bakar Shiddiq ra., yaitu Amir bin Fuhirah ra.. Yang membunuh Amir adalah Jabbar bin Salami. Jabbar bin Salami bercerita, "Ketika saya melempar tombak ke arahnya dan tepat mengenai sasaran, ia mati syahid sambil berkata sebelum meninggalnya; "Demi Allah, saya telah menang. " Kemudian, saya melihat mayatnya terbang ke langit dan menghilang. Saya sangat heran atas kejadian itu, sehingga saya terus memikirkannya. Akhirnya, saya berkata kepada orang-orang, "Saya telah membunuhnya dengan tombak hingga mati, tetapi ketika mati, ia berkata, 'Saya telah memang. Kemenangan apakah itu?" Orang-orang memberitahuku bahwa itu adalah kememangan mendapatkan surga. Dan disebabkan itulah, akhirnya saya masuk Islam. (Khamis)
Faedah:
Demikianlah pribadi-pribadi muslim yang patut dibanggakan. Mereka benar-benar lebih mencintai syahid daripada mereka yang mencintai minuman keras. Demikinlah keadaan dunia, barangsiapa berkorban untuk Allah swt, maka ia akan mendapatkan keberhasilan dengan penuh keyakinan. Karena itu barangsiapa mendapatkan syahid, sesungguhnya ia telah berjaya.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Ucapan Umair ra. Bahwa Memakan Kurma Itu Buang Waktu
Pada perang Badar, ketika Nabi saw. sedang beristirahat di sebuah kemah, beliau bersabda kepada para sahabatnya, "Berdirilah dan segeralah menuju surga yang luasnya lebih besar daripada langit dan bumi, yang disediakan hanya bagi orang-orang yang bertakwa." Umair bin Himam ra., seorang sahabat Nabi saw. yang mendengar seruan itu langsung berkata, "Wah..wah!" Beliau saw. bersabda, "Apa maksudmu dengan, wah...wah?" Ia menjawab, "Ya Rasulullah, saya ingin agar saya dapat masuk ke dalamnya." Jawab Beliau saw., "Kamu termasuk orang yang berada di dalamnya." Kemudian Umair ra. mengeluarkan kurma dari sakunya, dan memakannya. Lalu ia berkata, "Jika saya harus menunggu hingga kurma ini habis, berarti memperpanjang hidup saya. Sampai kapan saya harus menunggu?" Setelah berkata demikian, ia lemparkan kurma-kurma itu, dan segera meraih pedangnya, maju bertempur hingga syahid. (Thabaqat Ibnu Saad)
Faedah:
Orang-orang seperti inilah yang berhak masuk surga. Jika keyakinan kita seperti mereka, maka segala persoalan akan menjadi mudahbagi kita.
© 2013 - RizzStudio
Kisah Hijrah Umar ra
isah tentang Umar ra. sudah banyak diketahui, bahkan kehebatan dan keberaniannya sangat dikenal oleh anak-anak sekalipun. Ketika beliau masuk Islam, keadaan kaum Muslimin sangat lemah. Nabi saw. sendiri pemah berdo'a agar Islam dikuatkan melalui Umar ra.. Ternyata do'a itu dikabulkan Allah swt.. Abdullah bin Mas'ud ra. berkata, "Sebelum Umar ra. memeluk Islam, kami tidak leluasa mendirikan shalat di Ka'bah." Dan Ali ra. berkata, "Pada mulanya, setiap muslim berhijrah dengan sembunyi-sembunyi, tetapi ketika Umar ra. hijrah, ia pergi dengan pedang terhunus dan panah serta anak panah yang cukup banyak di tangannya.
Pertama-tama ia masuk ke Masjidil Haram, berthawaf dengan tenang, lalu shalat dengan penuh khusyu'. Kemudian ia pergi ke kumpulan orang-orang kafir dan berkata kepada mereka, "Siapakah yang hatinya menginginkan ibunya menangis karena kehilangan anak, dan istrinya menjadi janda serta anaknya menjadi yatim? Tunggulah di luar Mekkah untuk melawan saya!" Kata-kata itu diucapkan di setiap perkumpulan orang kafir." Dan tiada seorang pun yang berani menyambut tantangan Umarra. tersebut. (Asadul Ghobah)
© 2013 - RizzStudio
Kisah Perang Mu'tah
Dalam rangka mendakwahkan Islam, Rasulullah saw. biasa mengirim surat ajakan kepada raja-raja. Salah satunya, ditujukan kepada Raja Bushra melalui Harits bin Umair ra.. Ketika sampai di Mu'tah, Harits telah dibunuh oleh Syarahbil Ghassani, salah seorang gubernur kaisar. Membunuh utusan, menurut aturan siapapun, adalah suatu kesalahan besar, sehingga Rasulullah saw. sangat marah atas peristiwa ini. Beliau segera menyiapkan 3000 orang pasukan, dan memilih Zaid bin Haritsah ra. sebagai panglimanya. Kemudian Nabi saw. berpesan, "Jika Zaid syahid, angkatlah Ja'far bin Abi Thalib ra. sebagai pemimpin.
Jika ia juga syahid, maka angkatlah Abdullah bin Rawahah ra. sebagai pimpinan. Jika ia pun syahid, maka terserah kaum Muslimin untuk memilih pemimpinnya." Seorang Yahudi, ketika mendengar ucapan ini berkata, "Ketiga orang yang ditunjuk itu, pasti akan mati syahid. Nabi-nabi dahulu pun berkata demikian."
Kemudian Nabi saw. memberikan bendera putih kepada Zaid bin Haritsah ra., dan beliau sendiri ikut mengantar serta melepas rombongan tersebut. Di perbatasan kota, ketika para pengantar akan kembali, Nabi saw. berdo'a, "Semoga Allah mengembalikan kalian dengan keselamatan dan kemenangan, serta dijauhkan dari segala keburukan." Do'a Rasulullah saw. ini dijawab oleh Abdullah bin Rawahah ra. dengan tigabait yang maksudnya:
Saya agar engkau meminta ampunan dari Tuhanmu atas dosa-dosaku Sedangkan kami menginginkan sebuah pedang yang akan memutuskan pembuluh-pembuluh darahku atau sebilah tombak yang akan menusuk lambung dan hatiku;
Dan jika kelak orang-orang melawat kuburan kami, mereka akan berkata:
Semoga Allah memberipetunjuk dan kejayaan atas pertempuranmu Kalian betul-betul telah mendapat petunjuk dan kejayaan.
Setelah itu, berangkatlah pasukan tersebut.
Syarahbil Ghassani pun mendengar keberangkatan pasukan itu, lalu dia menyiapkan 100.000 tentara untuk melawannya. Terdengar pula berita bahwa Hiraklius, kaisar Ruum telah mengirim 100.000 tentaranya. Dengan jumlah musuh yang begitu banyak, sebagian sahabat menjadi ragu, apakah meneruskan bertempur atau memberitahu Rasulullah saw.. Abdullah bin Rawahah ra. berkata, "Hai sahabat-sahabatku, apa yang kalian takuti? Untuk apa kalian keluar meninggalkan rumah? Maksud kalian adalah untuk syahid. Kita adalah orang-orang yang tidak terpengaruh oleh kekuatan atau jumlah orang. Kita hanya berperang untuk agama, agar Allah swt. memuliakan kita. Majulah! Setidaknya dua kemenangan pasti kita dapatkan, mati syahid atau kemenangan." Mendengar kata-kata tersebut, semangat kaum Muslimin bangkit. Mereka maju terus, sehingga sampai di Mu'tah. Dan terjadilah pertempuran antara kedua pasukan itu.
Bendera dibawa oleh Zaid bin Haritsah ra.. Ia menyerang di medan pertempuran sampai ke Ghamsan (salah satu wilayah Mu'tah). Saat itu, saudara Syarahbil telah terbunuh, dan kawan-kawannya telah melarikan diri. Syarahbil pun lari ke sebuah benteng dan bersembunyi di dalamnya. Kaisar Hiraklius mengirimkan lagi pasukan bantuan sebanyak 200.000 tentara, sehingga pertempuran bertambah seru. Akhirnya, Zaid ra. mati syahid. Bendera kaum Muslimin diambil alih oleh Ja' far bin Abi Thalib ra..
Lalu ia memotong kaki kudanya, agar dirinya tidak berpikir untuk pulang ke rumah. Sambil menyerang musuh, ia membaca beberapa syair yang artinya :
'Hai manusia, apalagiyang lebih indah daripada surga itu
Surga sudah begitu dekat
Betapa indahnya ia, betapasejukairnya
Telah dekat saat siksa bagi orang-orang Ruum
Dan saya wajib untuk membunuhnya'
Ia menghunus pedangnya dan menerobos ke medan pertempuran melawan orang-orang kafir. Karena ia adalah pimpinan pasukan, maka bendera tetap di tangannya. Pada mulanya, bendera itu dipegang tangan kanannya, tetapi seorang kafir telah memenggal tangan kanannya. Bendera itu langsung ia raih dengan tangan kirinya, tetapi si kafir itu pun kembali memotong tangan kirinya. Ia segera mendekap bendera itu di dadanya dengan sisa-sisa lengannya sambil digigitnya. Kemudian, seorang kafir lainnya menebaskan pedang dari arah belakang, sehingga tubuhnya terpotong dua. Ia rubuh syahid ke tanah. Pada saat itu, Ja'far bin Abi Thalib baru berumur 33 tahun. Abdullah bin Umar ra. berkata, "Setelah wafatnya, ketika mayat itu diangkat, di bagian depan tubuhnya terdapat sembilan puluh luka."
Kemudian orang-orang memanggil Abdullah bin Rawahah ra.. Ketika itu, Abdullah bin Rawahah ra. sedang makan sekerat daging di sebuah sudut, bersama beberapa orang sahabat, karena sudah tiga hari tidak makan apapun. Mendengar ada yang memanggilnya, ia lemparkan daging itu, sambil memarahi dirinya, "Hai lihatlah, Ja'far telah mati syahid sedangkan kamu masih sibuk dengan dunia." Ia menyerang dan mengambil bendera kaum Muslimin. Jari tangannya terluka dan terkulai hampir putus. Kemudian jari itu ia injak dengan kakinya, lalu tangan itu ditariknya, sehingga terpotonglah jarinya. Ia buang jari yang sudah terputus itu, lalu maju ke medan tempur. Dalam keadaan demikian, datanglah keraguan di hatinya, karena melihat kekuatan musuh yang besar. Tetapi, hanya sekilas pikiran itu terlintas dalam hatinya. Ia segera berkata pada dirinya sendiri, "Wahai hati, apa yang masih kamu rindukan sehingga ragu? Istrikah? Ia sudah saya talak tiga. Atau budak sahaya? Semuanya telah dimerdekakan. Atau kebun? Itu pun telah disedekahkan di jalan Allah swt.." Setelah itu, ia membaca syair, yang artinya:
Demi Allah Wahai hati, kamu harus turun Meskipun dengan senang, ataupun dengan berat hati Kamu pernah menjalani hidup dengan ketenangan selama beberapa lama.
Berpikirlah, pada hakekatnya kamu berasal dari setetes air mani, lihatlah orang-orang kafir telah menyerang Kaum Muslimin. Mengapa kamu tidak mencintai surga Jika kamu tidak mati sekarang, suatu saat nanti, akhirnya kamu akan mati juga. Setelah itu, ia turun dari kudanya. Dan datang sepupunya, memberinya sekerat daging karena sudah berhari-hari ia tidak makan, sambil berkata, "Makanlah ini untuk meluruskan tulang punggungmu!" Baru saja ia akan memakan daging itu, terdengar suara kekalahan. Akhirnya, ia lemparkan daging itu dan segera menghunus pedangnya, terjun ke kancah pertempuran. Ia terus bertempur hingga mati syahid. (Khamis)
Faedah:
Inilah suatu teladan kehidupan para sahabat ra.. Setiap kejadian mereka, memberikan pelajaran ketidakcintaan terhadap dunia dan kecintaan terhadap akherat. Kita tidak perlu meragukan lagi tentang para sahabat ra.. Bahkan para tabiin rah.a. pun banyak yang memiliki sifat tersebut.
Sebagai penutup bab ini, saya akan menceritakan sebuah kisah yang bercorak lain. Dimana kita tentu telah mengetahui, bagaimana keberanian mereka dalam melawan musuh. Sekarang mari kita perhatikan bagaimana sifat mereka di depan para penguasa. Rasulullah saw. bersabda, "Jihadyangpaling utama ialah menyampaikan kalimat hak kepada raja yang zhalim. "
© 2013 - RizzStudio
Kisah Tasbih Fatimah
Ali r.a (baca : rodhiallahu ‘anhu) berkata kepada murid-muridnya, “ Maukah aku ceritakan kepada kalian mengenai Fathimah r.ha, putri Rasulullah SAW(baca : shalallahu 'alaihi wassallam) yang sangat beliau cintai?” Murid-muridnya berkata, “Tentu.” Ali r.a pun bercerita, “Dengan tangannya, Fathimah r.ha menggiling gandum sehingga timbul kapalan di tangannya. Ia mengisi tempatnya air sendiri dan bekasnya terlihat di dadanya. Ia juga menyapu seluruh bagian rumah sehingga bajunya kotor dan kumal. Suatu ketika, Rasulullah SAW mendapatkan beberapa hamba sahaya wanita. Aku berkata kepada Fathimah, "Pergilah kepada Rasulullah dan mintalah pembantu kepada beliau agar dapat meringankan pekerjaanmu.“ Fathimah r.ha. pun datang ke majelis Rasulullah SAW. Karena saat itu banyak orang, ia malu menyampaikan maksudnya. Akhirnya, ia kembali ke rumah. Keesokan harinya, Rasulullah SAW mengunjugi rumah kami dan berkata kepada Fathimah r.ha., “Wahai Fathimah, apakah maksudmu engkau kemarin datang kepadaku?“ Karena malu Fathimah r.ha diam saja. Aku berkata“ Ya Rasulullah, ia menggiling gandum setiap hari sehingga timbul kapalan ditangannya, dan ia mengisi air hingga berbekas di dadanya, ia juga selalu membersihkan rumah sehingga kumal dan kotor bajunya, maka kemarin aku suruh ia mendatangi engkau untuk meminta seorang pelayan, karena aku dengar ada beberapa hamba sahaya padamu.“
Dalam riwayat lain, Fathimah r.ha berkata kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah, aku dan Ali hanya memiliki kasur dari kulit kambing. Pada malam hari kami gunakan untuk tidur dan pada siang hari kami gunakan untuk tempat rumput makanan unta.”
Rasulullah SAW bersabda, “ WAhai anakku, bersabarlah. Selama sepuluh tahun Musa a.s. (baca : 'alaihissalam) dan istrinya hanya tidur diatas satu alas tidur, yaitu hamparan mantel Musa a.s. Bertakwalah kepada Allah dan tetaplah menyempurkan kewajibanmu dan pekerjaan rumahmu. Ketika kamu berbaringtidur, bacalah : Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali, ini lebih baik daripada seorang pembantu.” Fathimah r.ha berkata, “Aku rela dengan keputusan Allah dan Rasul-Nya.“ (Abu Dawud)
© 2013 - RizzStudio
Kisah Sahabat yang Jenazahnya Dilindungi Lebah
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus 10 mata-mata yang dipimpin Ashim bin Tsabit al-Anshari kakek Ashim bin al-Khaththab. Ketika mereka tiba di daerah Huddah antara Asafan dan Makkah mereka berhenti di sebuah kampung suku Hudhail yang biasa disebut sebagai Bani Luhayan.
Kemudian Bani Luhayan mengirim sekitar 100 orang ahli panah untuk mengejar para mata-mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berhasil menemukan sisa makanan berupa biji kurma yang mereka makan di tempat istirahat itu. Mereka berkata, ‘Ini adalah biji kurma Madinah, kita harus mengikuti jejak mereka.’
Ashim merasa rombongannya diikuti Bani Luhayan, kemudian mereka berlindung di sebuah kebun. Bani Luhayan berkata, ‘Turun dan menyerahlah, kami akan membuat perjanjian dan tidak akan membunuh salah seorang di antara kalian.’ Ashim bin Tsabit berkata, ‘Aku tidak akan menyerahkan diri pada orang kafir.’ Lalu memanjatkan doa, ‘Ya Allah, beritakan kondisi kami ini kepada Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
Rombongan Bani Luhayan melempari utusan Rasulullah dengan tombak, sehingga Ashim pun terbunuh. Utusan Rasulullah tinggal tiga orang, mereka setuju untuk membuat perjanjian. Mereka itu adalah Hubaib, Zaid bin Dasnah dan seorang lelaki yang kemudian ditombak pula setelah mengikatnya. Laki-laki yang ketiga itu berkata, ‘Ini adalah penghianatan pertama. Demi Allah, aku tidak akan berkompromi kepadamu karena aku telah memiliki teladan (sahabat-sahabatku yang terbunuh).’
Kemudian rombongan Bani Hudhail membawa pergi Hubaib dan Zaid bin Dasnah, mereka berdua dijual. Ini terjadi setelah peperangan Badar. Adalah Bani Harits bin Amr bin Nufail yang membeli Hubaib. Karena Hubaib adalah orang yang membunuh al-Harits bin Amir pada peperangan Badar. Kini Hubaib menjadi tawanan Bani al-Harits yang telah bersepakat untuk membunuhnya.
Pada suatu hari Hubaib meminjam pisau silet dari salah seorang anak perempuan al-Harits untuk mencukur kumisnya, perempuan itu meminjaminya. Tiba-tiba anak laki-laki perempuan itu mendekati Hubaib bahkan duduk dipangkuannya tanpa sepengetahuan ibunya. Sementara tangan kanan Hubaib memegang silet. Wanita itu berkata, ‘Aku sangat kaget.’ Hubaib pun mengetahui yang kualami. Hubaib berkata, ‘Apakah kamu khawatir aku akan membunuh anakmu? Aku tidak mungkin membunuhnya.’
Wanita itu berkata, ‘Demi Allah aku tidak pernah melihat tawanan sebaik Hubaib. Dan demi Allah pada suatu hari, aku melihat Hubaib makan setangkai anggur dari tangannya padahal kedua tangannya dibelenggu dengan besi, sementara di Makkah sedang tidak musim buah. Sungguh itu merupakan rizki yang dianugrahkan Allah kepada Hubaib.’
Ketika Bani al-Harits membawa keluar Hubaib dari tanah haram untuk membunuhnya, Hubaib berkata, ‘Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan shalat dua rakaat.’ Mereka mengizinkan shalat dua rakaat. Hubaib berkata, ‘Demi Allah, sekiranya kalian tidak menuduhku berputus asa pasti aku menambah shalatku.’ Lalu Hubaib memanjatkan doa, ‘Ya Allah, susutkanlah jumlah bilangan mereka, musnahkanlah mereka, sehingga tidak ada seorang pun dari keturunannya yang hidup,’ lalu mengucapkan syair:
Mati bagiku bukan masalah, selama aku mati dalam keadaan Islam
Dengan cara apa saja Allahlah tempat kembaliku
Semua itu aku kurbankan demi Engkau Ya Allah
Jika Engkau berkenan,
berkahilah aku berada dalam tembolok burung karena lukaku (syahid)
Lalu Abu Sirwa’ah Uqbah bin Harits tampil untuk membunuh Hubaib. Hubaib adalah orang Islam pertama yang dibunuh dan sebelum dibunuh melakukan shalat.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahu para sahabat pada hari disiksanya Hubaib, bahwa kaum Quraisy mengutus beberapa orang untuk mencari bukti bahwa Ashim bin Tsabit telah terbunuh dalam peristiwa itu, mereka mencari potongan tubuh Ashim. Karena Ashim adalah yang membunuh salah seorang pembesar Quraisy. Tetapi Allah melindungi jenazah Ashim dengan mengirim sejenis sekawanan lebah yang melindungi jenazah Ashim, sehingga orang-orang itu tidak berhasil memotong bagian tubuh jenazah Ashim sedikit pun.” (HR. Al-Bukhari, no. 3989; Abu Dawud, no. 2660.)
© 2013 - RizzStudio
Matahari Yang Tertunda Terbenamnya
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Suatu ketika, seorang Nabi (Yusya bin Nun Alaihi Salam) berperang, kemudian ia berkata kepada kaumnya, ‘Janganlah ikut serta dalam peperanganku ini seseorang lelaki yang baru saja menikah dan ia hendak berhubungan dengan istrinya itu, jangan pula ikut serta dalam peperangan ini seorang yang tengah membangun rumah dan belum mengangkat atapnya, jangan pula seseorang yang membeli kambing atau onta yang sedang bunting tua yang ia menantikan kelahiran anak-anak ternaknya itu’.”
“Lantas sang Nabi berangkat perang. Ketika ia telah dekat dengan sebuah desa pada waktu shalat ashar atau sudah dekat dengan itu, ia berkata kepada matahari, ‘Sesungguhnya engkau diperintahkan dan saya pun juga diperintahkan. Ya Allah! Tahanlah jalan matahari itu di atas kami.’ Kemudian matahari itu tertahan (tertunda dari waktu terbenamnya) sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemenangan kepada sang Nabi.
Kemudian ia mengumpulkan banyak harta rampasan. Kemudian datanglah api untuk membakar harta rampasan tadi, tetapi api tersebut enggan membakarnya. Sang Nabi berkata, ‘Sesungguhnya di antara kalian semua itu ada yang mencuri harta rampasan. Oleh karena itu, hendaklah dari setiap kabilah ada satu orang yang berbaiat padaku.
Lalu ada seorang lelaki yang tangannya melekat dengan tangan Nabi tersebut. Lalu sang Nabi berkata, lagi, ‘Sesungguhnya di kalangan kabilahmu ada yang mencuri harta rampasan. Oleh sebab itu, hendaklah setiap orang dari kabilahmu berbaiat kepadaku.’ Selanjutnya ada dua atau tiga orang yang tangannya lekat dengan tangan sang Nabi, lalu beliau berkata pula, ‘Di kalangan kabilahmu ada yang mencuri harta rampasan.’ Mereka lalu menyerahkan sebongkah emas sebesar kepala lembu, lalu mereka meletakkan benda tersebut, kemudian datanglah api yang langsung melalapnya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menghalalkan harta rampasan tersebut untuk kita. Dia mengetahui betapa lemahnya diri kita. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghalalkannya untuk kita.” (Muttafaq alaih).
Catatan: Harta rampasan perang tidak halal bagi umat-umat sebelumnya.
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1
© 2013 - RizzStudio
Nabi SAW Bersama Malaikat Jibril dan Mikail
Saya adalah pemimpin semua orang pada hari kiamat. Tahukah kalian sebabnya apa? Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang akhir di suatu dataran tinggi. Mereka dapat dilihat oleh orang yang melihat dan dapat mendengar orang yang memanggil. Matahari dekat sekali dari mereka. Semua orang mengalami kesusahan dan penderitaan yang mereka tidak mampu memikulnya. Lantas orang-orang berkata, ‘Apakah kalian tidak tahu sampai sejauh mana yang kalian alami ini? Apakah kalian tidak memikirkan siapa yang dapat memohonkan syafaat kepada Rabb untuk kalian?’ Lantas sebagian orang berkata kepada sebagian lain, ‘Ayah kalian semua, Nabi Adam ‘alaihissalam’.
Mereka pun mendatangi beliau, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nabi Adam! Engkau adalah ayah semua manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakanmu dengan kekuasaan-Nya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam tubuhmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan kepada malaikat untuk bersujud, sehingga mereka pun bersujud kepadamu. Di samping itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan tempat tinggal kepadamu di surga. Sudilah kiranya engkau memohonkan syafaat kepada Rabbmu untuk kami? Bukankah engkau tahu apa yang kami alami dan sampai sejauh apa menimpa kami?’ Nabi Adam ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, Dia melarangku akan suatu pohon, tetapi saya berbuat maksiat. Diriku, diriku, diriku. Pergilah ke selain aku. Pergilah kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam’.
Lantas mereka mendatangi Nabi Nuh ‘alaihissalam, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nuh! Engkaulah Rasul pertama di muka bumi ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebut dirimu hamba yang banyak bersyukur. Bukankah engkau mengetahui apa yang sedang kita alami sekarang? Sudilah kiranya engkau memohonkan syafaat kepada Rabbmu untuk kami?’ Nabi Nuh ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, saya mempunyai suatu dosa mustajab yang telah saya gunakan untuk mendoakan kebinasaan pada kaumku. Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam’.
Kemudian mereka pun mendatangi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, lalu mereka bertanya, ‘Wahai Ibrahim! Engkau adalah Nabi Allah dan kekasih Allah di antara penduduk bumi. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kami. Bukankah engkau telah mengetahui keadaan yang sedang kami alami?’ Lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sesungguhnya saya pernah berdusta sebanyak tiga kali. Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Musa ‘alaihissalam’.
Selanjutnya mereka mendatangi Nabi Musa ‘alaihissalam, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nabi Musa! Engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi keutamaan kepadamu dengan kerasulan dan kalam-Nya yang melebihi orang lain. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kita. Bukankah engkau mengetahui keadaan yang sedang kita alami?’ Lantas Nabi Musa ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, saya pernah membunuh seorang manusia padahal saya tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Isa ‘alaihissalam’.
Setalah itu, mereka pun mendatangi Nabi Isa ‘alaihissalam, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nabi Isa! Engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang diciptakan dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Engkau dapat berbicara dengan orang-orang ketika masih dalam buaian. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kita. Bukankah engkau mengetahui keadaan yang sedang kita alami?’ Lantas Nabi Isa ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya.’ Nabi Isa tidak menyebutkan dosa yang diperbuatnya. ‘Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam’.
Lalu mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selanjutnya mereka berkata, ‘Wahai Muhammad! Engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan penutup para nabi. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kita. Bukankah engkau mengetahui keadaan yang sedang kita alami?’ Lantas saya berangkat hingga saya sampai di bawah Arsy. Kemudian saya bersujud kepada Rabbku. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala ajarkan padaku pujian-pujian kepada-Nya serta keindahan sanjungan terhadap-Nya yang belum pernah Dia ajarkan kepada selain diriku. Lalu dikatakan, ‘Wahai Muhammad! Angkatlah kepadamu. Ajukanlah permohonan, niscaya permohonanmu dikabulkan. Mohonlah syafaat, pastilah akan diterima syafaatmu.’ Selanjutnya aku mengangkat kepalaku, lalu saya berkata, ‘Ummatku, wahai Rabbku, umatku wahai Rabbku, ummatku wahai Rabbku!’ Lantas dikatakan, ‘Wahai Muhammad! Masukkanlah umatmu yang tidak peru dihisab dari pintu surga ke sebelah kanan. Mereka juga sama dengan orang-orang lain di selain pintu tersebut.’ Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Demi Dzat yang mengauasai diriku, sesungguhnya jarak anara dua daun pintu dari beberapa daun pintu surga sama dengan jarak antara Mekah dan Hajar atau antara Mekah dan Bushra’.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1
© 2013 - RizzStudio
Kisah Seorang Pemuda & Bidadari Bermata Jeli
Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di majelis kami, aku pun sudah siap dengan pakaian perangku, karena ada komando untuk bersiap-siap sejak Senin pagi. Kemudian saja ada seorang laki-laki membaca ayat, (artinya) ‘Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan memberi Surga.’ (At-Taubah: 111). Aku menyambut, “Ya, kekasihku.”
Laki-laki itu berkata, “Aku bersaksi kepadamu wahai Abdul Wahid, sesungguhnya aku telah menjual jiwa dan hartaku dengan harapan aku memperoleh Surga.”
Aku menjawab, “Sesungguhnya ketajaman pedang itu melebihi segala-galanya. Dan engkau sajalah orang yang aku sukai, aku khawatir manakala engkau tidak mampu bersabar dan tidak mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini.”
Laki-laki itu berkata, “Wahai Abdul Wahid, aku telah berjual beli kepada Allah dengan harapan mendapat Surga, mana mungkin jual beli yang aku persaksikan kepadamu itu akan melemah.” Dia berkata, “Nampaknya aku memprihatinkan kemampuan kami semua, …kalau orang kesayanganku saja mampu berbuat, apakah kami tidak?” Kemudian lelaki itu menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah kecuali seekor kuda, senjata dan sekedar bekal untuk perang. Ketika kami telah berada di medan perang dialah laki-laki pertama kali yang tiba di tempat tersebut. Dia berkata, “Assalamu ‘alaika wahai Abdul Wahid,” Aku menjawab, “Wa’alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh, alangkah beruntungnya perniagaan ini.”
Kemudian kami berangkat menuju medan perang, lelaki tersebut senantiasa berpuasa di siang hari dan qiyamullail pada malam harinya melayani kami dan menggembalakan hewan ternak kami serta menjaga kami ketika kami tidur, sampai kami tiba di wilayah Romawi.
Ketika kami sedang duduk-duduk pada suatu hari, tiba-tiba dia datang sambil berkata, “Betapa rindunya aku kepada bidadari bermata jeli.” Kawan-kawanku berkata, “Sepertinya laki-laki itu sudah mulai linglung.” Dia mendekati kami lalu berkata, “Wahai Abdul Wahid, aku sudah tidak sabar lagi, aku sangat rindu pada bidadari bermata jeli.” Aku bertanya, “Wahai saudaraku, siapa yang kamu maksud dengan bidadari bermata jeli itu.” Laki-laki itu menjawab, “Ketika itu aku sedang tidur, tiba-tiba aku bermimpi ada seseorang datang menemuiku, dia berkata, ‘Pergilah kamu menemui bidadari bermata jeli.’ Seseorang dalam mimpiku itu mendorongku untuk menuju sebuah taman di pinggir sebuah sungai yang berair jernih. Di taman itu ada beberapa pelayan cantik memakai perhiasan sangat indah sampai-sampai aku tidak mampu mengungkapkan keindahannya.
Ketika para pelayan cantik itu melihatku, mereka memberi kabar gembira sambil berkata, ‘Demi Allah, suami bidadari ber-mata jeli itu telah tiba.’ Kemudian aku berkata, ‘Assalamu ‘alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Pelayan cantik itu menjawab, ‘Tidak, kami sekedar pelayan dan pembantu bidadari bermata jeli. Silahkan terus!’
Aku pun meneruskan maju mengikuti perintahnya, aku tiba di sebuah sungai yang mengalir air susu, tidak berubah warna dan rasanya, berada di sebuah taman dengan berbagai perhiasan. Di dalamnya juga terdapat pelayan bidadari cantik dengan mengenakan berbagai perhiasan. Begitu aku melihat mereka aku terpesona. Ketika mereka melihatku mereka memberi kabar gembira dan berkata kepadaku, ‘Demi Allah telah datang suami bidadari bermata jeli.’ Aku bertanya, ‘Assalamualaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, Waalaikassalam wahaiwaliyullah, kami ini sekedar budak dan pelayan bidadari bermata jeli, silahkan terus.’
Aku pun meneruskan maju, ternyata aku berada di sebuah sungai khamr berada di pinggir lembah, di sana terdapat bidadari-bidadari sangat cantik yang membuat aku lupa dengan kecantikan bidadari-bidadari yang telah aku lewati sebelumnya. Aku berkata, ‘Assalamu alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, kami sekedar pembantu dan pelayan bidadari bermata jeli, silahkan maju ke depan.’
Aku berjalan maju, aku tiba di sebuah sungai yang mengalirkan madu asli di sebuah taman dengan bidadari-bidadari sangat cantik berkilauan wajahnya dan sangat jelita, membuat aku lupa dengan kecantikan para bidadari sebelumnya. Aku bertanya, ‘Assalamu alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, ‘Wahai waliyurrahman, kami ini pembantu dan pelayan bidadari jelita, silahkan maju lagi.’
Aku berjalan maju mengikuti perintahnya, aku tiba di se-buah tenda terbuat dari mutiara yang dilubangi, di depan tenda terdapat seorang bidadari cantik dengan memakai pakaian dan perhiasan yang aku sendiri tidak mampu mengungkapka keindahannya. Begitu bidadari itu melihatku dia memberi kabar gembira kepadaku dan memanggil dari arah tenda, ‘Wahai bidadari bermata jeli, suamimu datang!’
Kemudian aku mendekati kemah tersebut lalu masuk. Aku mendapati bidadari itu duduk di atas ranjang yang terbuat dari emas, bertahta intan dan berlian. Begitu aku melihatnya aku terpesona sementara itu dia menyambutku dengan berkata, ‘Selamat datang waliyurrahman, telah hampir tiba waktu kita bertemu.’ Aku pun maju untuk memeluknya, tiba-tiba ia berkata, ‘Sebentar, belum saatnya engkau memelukku karena dalam tubuhmu masih ada ruh kehidupan. Tenanglah, engkau akan berbuka puasa bersamaku di kediamanku, insya Allah. ‘
Seketika itu aku bangun dari tidurku wahai Abdul Wahid. Kini aku sudah tidak bersabar lagi, ingin bertemu dengan bida-dari bermata jeli itu.”
Abdul Wahid menuturkan, “Belum lagi pembicaraan kami (cerita tentang mimpi) selesai, kami mendengar pasukan musuh telah mulai menyerang kami, maka kami pun bergegas meng-angkat senjata begitu juga lelaki itu.
Setelah peperangan berakhir, kami menghitung jumlah para korban, kami menemukan 9 orang musuh tewas dibunuh oleh lelaki itu, dan ia adalah orang ke sepuluh yang terbunuh. Ketika aku melintas di dekat jenazahnya aku lihat, tubuhnya berlu-muran darah sementara bibirnya tersenyum yang mengantarkan pada akhir hidupnya.”
Sumber: 99 Kisah Orang Shalih, Penerbit Darul Haq
via ; arrahmah.com
© 2013 - RizzStudio
Kisah SUFYAN ATS-TSAURI & AIR ZAM ZAM
Diriwayatkan dari Abdur Rahman bin Abi Ibad al-Makki, dia berkata, Seorang syaikh yang dijuluki Abu Abdillah mendatangi kami. Dia berkata, "Pada waktu sahur aku pergi ke sumur Zam Zam. Di tempat ini aku bertemu dengan seorang syaikh yang membiarkan kainnya menutupi wajahnya, dia datang ke sumur dan minta diambilkan air. Kemudian aku mengambilkan air untuk syaikh tersebut. Aku juga meminum sebagian air itu. Ternyata rasa air tersebut seperti air bercampur madu yang aku belum pernah merasakannya. Ketika aku me-noleh, syaikh tersebut telah pergi.
Pada waktu sahur hari kedua, aku pergi ke sumur Zam Zam lagi. Aku melihat seorang syaikh masuk dari arah pintu masjid dengan menutupkan kain di wajahnya juga. Beliau menuju sumur dan minta diambilkan air. Setelah minum beliau pergi. Aku minum air sisanya, terasa lebih enak dari sebelumnya.
Pada malam ketiga, beliau datang lagi ke sumur dan minta air. Lalu aku memegang ujung selimut tebalnya, ia menangkap tanganku. Aku juga minum air sisanya, terasa seperti air susu manis, yang aku belum pernah merasakan minum senikmat itu.
Aku bertanya kepada syaikh, 'Demi Pemilik Baitullah ini, sebenarnya siapa anda?' Dia bertanya, 'Sanggupkah kamu mera-hasiakannya?' Aku menjawab, 'Ya!', Dia berkata, 'Aku Sufyan Ats Tsauri'."
© 2013 - RizzStudio
Kisah ABU ABDILLAH AL-QALANISI & Seekor Gajah
Abu Abdillah al-Qalanisi dalam sebuah perjalanannya dengan mengendarai perahu. Tiba-tiba angin kencang menggoncangkan perahu yang ditumpanginya. Seluruh penumpang berdoa dengan khusyu' demi keselamatan mereka dan mengucapkan sebuah nadzar.
Para penumpang berkata kepada Abu Abdillah, "Masing-masing kami telah berjanji kepada Allah dan bernadzar agar Allah SWT menyelamatkan kami. Maka hendaknya kamu juga bernadzar dan bersumpah kepada Allah." Dia menjawab, "Aku ini orang yang tidak perduli dengan dunia, aku tidak perlu bernadzar."
Tetapi mereka memaksaku. Lalu aku bersumpah, "Demi Allah, sekiranya Allah SWT menyelamatkanku dari musibah yang menimpaku maka aku tidak akan makan daging gajah."
Mereka bertanya, "Apakah boleh bernadzar seperti itu? Apakah ada orang yang mau makan daging gajah.?" Aku menjawab, "Itulah pilihanku, semoga Allah memberi ganjaran atas lisanku yang mengucapkan kata-kata itu."
Benar, tidak lama kemudian kapal itu pecah. Para penumpang terdampar di sebuah pantai. Berhari-hari kami berada di pantai tersebut tanpa makan sesuatu pun.
Ketika kami sedang duduk-duduk beristirahat, ada anak gajah lewat di depan kami. Mereka menangkap anak gajah tersebut, menyembelih lalu memakannya. Mereka menawariku makan seperti mereka. Aku menjawab, "Aku telah bernadzar dan bersumpah kepada Allah untuk tidak makan daging gajah."
Mereka mengajukan alasan, bahwa aku dalam keadaan terpaksa, sehingga dibolehkan untuk membatalkannya. Aku menolak alasan mereka, aku tetap memenuhi sumpahku. Setelah makan, mereka merasa kenyang lalu tidur.
Pada saat mereka tidur, induk gajah datang mencari anaknya, ia berjalan mengikuti jejak anaknya sambil mengendus-endus. Hingga akhirnya ia menemukan potongan tulang anaknya.
Induk gajah itu pun sampai di tempat istirahat kami, aku memperhatikannya. Satu orang demi satu orang dia ciumi, setiap kali ia mencium bau daging anaknya pada orang itu, maka orang itu diinjak dengan kaki atau tangannya sampai mati. Kini mereka semua telah mati.
Tiba saatnya induk gajah mendekatiku, ia menciumku tapi tidak mendapatkan bau daging anaknya pada diriku. Lalu ia menggerakkan tubuh bagian belakangnya, ia memberi isyarat, kemudian mengangkat ekor dan kakinya.
Dari gerakan tubuh gajah itu aku mengerti bahwa ia menghendaki agar aku menungganginya. Lalu aku naik, duduk di atasnya. Ia memberi isyarat agar aku duduk dengan tenang di atas punggungnya yang empuk. Ia membawaku berlari kencang sehingga malam itu juga aku tiba di sebuah perkebunan yang banyak pepohonan. Ia memberi isyarat agar aku turun dengan bantuan kakinya, maka aku pun turun. Kemudian ia berlari lebih kencang dari pada saat ia membawaku tadi.
Di pagi hari, aku menyaksikan di sekilingku hamparan sawah, perkebunan dan sekelompok orang. Orang-orang tersebut membawaku ke rumah kepala suku. Juru bicara suku itu memintaku berbicara. Kemudian aku ceritakan tentang diriku dan kejadian yang dialami sekelompok orang dan rombongan dalam perahuku.
Juru bicara itu bertanya kepadaku, "Tahukah kamu berapa jauh jarak perjalananmu dengan seekor gajah itu.?" Aku jawab, "Tidak tahu!" Ia menjawab, "Sejauh perjalanan selama 8 hari! Sementara Gajah itu membawamu lari hanya dalam satu malam."
Selanjutnya aku diperkenankan tinggal bersama mereka di desa tersebut sehingga aku mendapat pekerjaan. Setelah itu aku pulang ke kampungku.
(SUMBER: 99 Kisah Orang Shalih, sebagai yang dinukil dari kitab Hilyatul Awliya`, 10/160)
© 2013 - RizzStudio
Karena Kejujuran, Cobaan Berubah Menjadi Nikmat
Dari Ibnu Syihab, dari Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’ab bin Malik, diriwayatkan, bahwa Abdullah bin Ka’ab bin Malik -dia adalah penuntun Ka’ab dari anak-anaknya saat Ka’ab menjadi buta- berkata: “Saya mendengar Ka’ab bin Malik bercerita tentang kisahnya saat tidak ikut dalam perang Tabuk.
Ka’ab bercerita, ‘Saya tidak pernah absen dalam peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam kecuali perang Tabuk. Hanya saja, saya juga tidak ikut dalam perang Badar, tapi Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam tidak menegur orang-orang yang absen saat itu. Sebab Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam -saat itu- hanya keluar untuk mencegat kafilah onta yang membawa dagangan kaum Quraisy. Dan tanpa ada rencana sebelumnya, ternyata Allah Ta`ala mempertemukan kaum muslimin dengan musuh mereka. Tapi saya pernah ikut bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam pada malam (Baitul) Aqabah, saat itu kami mengadakan janji setia terhadap Islam. Dan peristiwa ini lebih saya senangi ketimbang peristiwa perang Badar, walaupun perang Badar itu lebih sering dikenang oleh banyak orang!’
Sehubungan dengan perang Tabuk, ceritanya begini. Saya tidak pernah merasa lebih kuat secara fisik dan lebih mudah secara ekonomi ketimbang saat saya absen dalam perang itu. Demi Allah, saya tidak pernah punya dua kendaraan (kuda), tetapi ternyata saat perang itu saya bisa mempunyai dua kendaraan. Sebelum Tabuk, bila Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam mengajak para sahabat untuk perang, biasanya beliau selalu tidak menerangkan segala sesuatunya dengan jelas dan terang-terangan. Tetapi dalam perang ini, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam berterus terang kepada para sahabat. Sebab, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam akan melangsungkan peperangan ini dalam kondisi cuaca yang sangat panas. Beliau akan menempuh perjalanan yang jauh, melalui padang pasir yang begitu luas. Dan beliau juga akan menghadapi musuh dalam jumlah besar. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam menjelaskan semua ini pada para sahabat. Saat itu, jumlah kaum muslimin memang banyak. Tidak ada catatan yang menyebutkan nama-nama mereka secara lengkap.’
Ka’ab berkata, ‘Dari saking banyaknya, sampai-sampai tak ada seorang pun yang ingin absen saat itu kecuali dia menyangka tidak akan diketahui selagi wahyu tidak turun dalam hal ini.
Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam melangsungkan perang Tabuk itu di saat buah-buahan dan pohon-pohon yang rindang tumbuh dengan suburnya. Ketika Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam dan kaum muslimin telah bersiap-siap, hampir saja saya berangkat dan bersiap-siap dengan mereka. Tapi ternyata saya pulang dan tidak mempersiapkan apa-apa. Saya berkata dalam hati, ‘Saya bisa bersiap-siap nanti.’ Begitulah, diulur-ulur, sampai akhirnya semua orang sudah benar-benar siap. Di pagi hari, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam telah berkumpul bersama kaum muslimin untuk berangkat. Tetapi saya tetap belum mempersiapkan apa-apa. Saya berkata, ‘Saya akan bersiap-siap sehari atau dua hari lagi, kemudian saya akan menyusul mereka setelah mereka berangkat.’ Saya ingin bersiap-siap, tapi ternyata saya pulang dan tidak mempersiapkan apa-apa. Begitulah setiap hari, sampai akhirnya pasukan kaum muslimin benar-benar sudah jauh dan perang dimulai. Saat itu saya ingin berangkat untuk menyusul mereka, tapi sayang, saya tidak melakukannya. Saya tidak ditakdirkan untuk berangkat.
Setelah Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam dan kaum muslimin keluar dari kota Madinah, aku keluar dan berputar-putar melihat orang-orang yang ada. Dan yang menyedihkan, yaitu bahwa saya tidak melihat kecuali yang dicurigai sebagai munafik atau orang lemah yang memang mendapat keringanan dari Allah Ta`ala. Sementara itu, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam tidak menyebut-nyebut saya sampai beliau tiba di Tabuk. Di sana, beliau duduk-duduk bersama para sahabat dan bertanya, ‘Apa yang diperbuat Ka’ab?’ Ada seseorang dari Bani Salamah yang menyahut, ‘Ya Rasulullah, dia itu tertahan oleh pakaiannya dan bangga dengan diri dan penampilannya sendiri.’ Mendengar itu Muadz bin Jabal berkata, ‘Alangkah jeleknya apa yang kamu katakan. Demi Allah ya Rasulullah, kami tidak mengetahui dari Ka’ab itu kecuali kebaikan.’ Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam diam.’
Ka’ab melanjutkan ceritanya, ‘Ketika saya mendengar bahwa beliau bersama pasukan kaum muslimin menuju kota Madinah kembali, saya mulai dihinggapi perasaan gundah. Saya pun mulai berfikir untuk berdusta, saya berkata, ‘Bagaimana saya bisa bersiasat dari kemarahan Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam besok?’
Untuk itu, saya minta bantuan saran dari keluarga saya. Setelah ada informasi bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam sudah mulai masuk kota Madinah, hilanglah semua kebatilan yang sebelumnya ingin saya utarakan.
Saya tahu, bahwa tidak mungkin saya bisa bersiasat dari kemarahan beliau dengan berdusta. Ketika Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam telah tiba, dan biasanya bila beliau tiba dari suatu perjalanan, pertama kali beliau masuk ke masjid, lalu shalat dua rakaat, kemudian duduk-duduk menemui orang-orang yang datang.
Setelah Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam duduk, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut berperang menemui beliau. Mereka mengajukan berbagai macam alasan diikuti dengan sumpah -jumlah mereka lebih dari 80 orang- Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam menerima mereka secara lahir dan membai'at mereka serta memintakan ampunan. Adapun rahasia-rahasia hati, semuanya beliau pasrahkan kepada Allah Ta`ala.
Saya pun datang menemui beliau dan mengucapkan salam. Beliau tersenyum sinis, kemudian berkata, ‘Kemarilah!’ Saya berjalan sampai duduk di hadapan beliau. Lalu beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu tidak ikut serta? Tidakkah kau sudah membeli kendaraanmu?’ Saya jawab, ‘Ya benar. Demi Allah, sekiranya aku sekarang duduk di hadapan orang selain engkau dari seluruh penduduk dunia ini, tentu aku bisa selamat dari kemarahannya dengan mengemukakan alasan tertentu. Aku telah dikaruniai kepandaian berdiplomasi. Akan tetapi, demi Allah, aku yakin, kalau hari ini aku berdusta kepada engkau dan engkau rela menerima alasanku, niscaya Allah akan menanamkan kemarahan diri engkau kepadaku. Dan bila aku berbicara jujur kepada engkau, maka engkau akan menjadi marah karenanya. Sesungguhnya aku mengharapkan pengampunan dari Allah Ta`ala. Tidak, demi Allah, sama sekali saya tidak mempunyai alasan apa pun secara fisik dan lebih lapang secara ekonomi daripada saat aku tidak ikut serta dengan engkau.’(Maksudnya dalam perang Tabuk. (Pen)) Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam berkata, ‘Orang ini telah berkata jujur, bangun dan pergilah sampai Allah Ta`ala memberikan keputusan dalam masalahmu ini!’ Saya pun berdiri dan pergi. Saat itu orang-orang dari Bani Salamah mengikutiku, mereka berkata, ‘Demi Allah, kami tidak pernah mengetahui bahwa engkau pernah berbuat kesalahan sebelum ini. Mengapa engkau tidak mengajukan kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam alasan-alasan seperti yang dilakukan orang lain yang juga tidak ikut? Dan dosamu nanti akan hilang dengan istighfar (permintaan ampun) Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam untukmu.’ Mereka terus menerus mencerca saya sampai-sampai saya sempat berfikir untuk kembali kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam dan meralat pembicaraan saya yang pertama. Kemudian saya bertanya pada mereka, ‘Adakah orang yang mendapatkan perlakuan sama denganku?’ Mereka menjawab, ‘Ya, ada dua orang lagi yang mengatakan seperti apa yang kau katakan dan mendapatkan jawaban seperti jawaban yang kau terima.’ Saya bertanya lagi, ‘Siapa mereka?’ Mereka menjawab, ‘Murarah bin Ar-Rabi’ Al-Amry dan Hilal bin Umayyah Al-Waqify.’ Mereka menyebutkan nama dua orang yang pernah ikut perang Badar dan mereka bisa dijadikan panutan. Setelah mendengar dua nama yang mereka sebutkan itu saya terus pergi.
Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam lalu melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga di antara orang-orang yang tidak ikut bersama beliau. Akibatnya, orang-orang semua meninggalkan kami dan sikap mereka pun berubah, bahkan dunia ini pun seolah juga berubah, tidak sama dengan dunia yang saya kenal sebelumnya.
Kami merasakan hal demikian selama 50 hari. Selama itu, dua teman senasib saya hanya berdiam diri dan duduk di rumah masing-masing sambil menangis. Berbeda dengan saya, saya termasuk yang paling muda dan paling kuat menahan ujian ini. Saya pergi keluar dan ikut shalat berjamaah, tetapi tidak ada satu pun yang mau berbicara dengan saya. Saya datangi Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam dan saya ucapkan salam kepada beliau saat berada di tempat duduknya seusai shalat. Saya berkata dalam hati, ‘Adakah Rasulullah menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak?!’ Kemudian saya shalat di dekat beliau, saya mencuri pandangan. Saat saya sedang shalat, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam melihat kepada saya. Tapi bila saya menoleh kepadanya, beliau berpaling dari saya. Setelah cukup lama orang-orang meninggalkan saya, suatu saat saya pergi memanjat dinding kebun Abu Qatadah -dia adalah sepupu saya dan termasuk orang yang paling saya cintai-. Saya mengucapkan salam kepadanya, tetapi -demi Allah- dia tidak menjawab salam saya. Saya berkata, ‘Wahai Abu Qatadah! Demi Allah aku bertanya, adakah engkau tahu bahwa aku ini mencintai Allah dan Rasul-Nya?’ Dia diam saja. Saya kembali bertanya tapi dia tetap diam. Saya bertanya sekali lagi, akhirnya dia juga menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya sendiri yang lebih tahu.’ Air mata saya berlinang dan saya kembali memanjat dinding itu lagi.
Ketika saya berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada seorang bangsawan dari Syam. Dia termasuk para pedagang yang datang membawa makanan untuk dijual di Madinah. Dia berkata, ‘Siapa yang dapat menunjukkan di mana Ka’ab bin Malik?’
Orang-orang yang ada di situ menunjukkannya. Setelah dia mendatangi saya, dia menyerahkan pada saya sebuah surat dari Raja Ghassan. Dalam surat itu tertulis, ‘Aku telah mendengar bahwa kawanmu (yaitu Nabi Muhammad) telah meninggalkanmu, sementara engkau tidaklah dijadikan oleh Allah berada pada derajat yang hina dan terbuang. Datanglah kepada kami, kami akan menghiburmu.’ Setelah membaca surat itu saya bergumam, ‘Ini termasuk rangkaian ujian Allah.’ Lalu saya bawa surat itu ke tungku dan membakarnya.
Setelah berlalu 40 hari dari total 50 hari, utusan Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam datang kepada saya. Katanya, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam telah menyuruhmu untuk menjauhi isterimu!’ Saya bertanya, ‘Apakah saya harus menceraikannya atau bagaimana?’, dia menjawab, ‘Tidak, jauhilah dia dan janganlah kau mendekatinya'. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam juga mengirimkan utusan beliau kepada dua rekan senasib saya. Maka saya meminta pada isteri saya, ‘Pergilah kau ke tempat keluargamu. Menetaplah di sana sampai Allah Ta`ala memutuskan masalah ini!’
Ka’ab berkata, ‘Isteri Hilal bin Umayyah datang menemui Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, Hilal bin Umayyah itu sudah tua renta, dan dia tidak mempunyai pembantu. Apakah engkau keberatan bila aku melayaninya?’ Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam menjawab, ‘Tidak, tetapi jangan sampai dia mendekatimu!’ Isterinya menjawab, ‘Demi Allah, dia sudah tidak bisa bergerak lagi dan dia masih tetap menangis sejak dia mempunyai masalah ini sampai hari ini juga.’ Sementara itu sebagian keluarga saya berkata, ‘Bagaimana sekiranya engkau juga minta izin kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam dalam masalah isterimu, agar dia bisa melayanimu seperti isteri Hilal bin Umayyah.’ Tetapi saya menjawab, ‘Demi Allah, dalam masalah ini aku tidak akan minta izin kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bila aku minta izin kepada beliau, sementara aku ini masih muda?!’
Saya berada dalam kondisi demikian selama sepuluh malam, sehingga jumlahnya 50 malam dari mulai pertama kali Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam melarang orang untuk berbicara pada kami. Pada hari yang ke-50, saya menghadiri shalat Shubuh, setelah itu saya duduk-duduk, sementara kondisi saya persis seperti yang digambarkan oleh Allah Ta`ala, diri sendiri terasa sempit, begitu juga bumi yang luas ini terasa sempit bagi saya. Saat saya duduk dalam keadaan demikian, tiba-tiba saya mendengar suara orang yang berteriak dengan lantang di atas bukit, ‘Wahai Ka’ab, bergembiralah!’ Saat itu juga saya langsung sujud, saya tahu bahwa masalah saya akan berakhir. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam mengumumkan datangnya taubat (pengampunan) Allah atas kami bertiga saat beliau selesai shalat Shubuh. Banyak orang pergi menemui kami untuk menyampaikan kabar gembira. Sebagian mereka ada yang menemui dua kawan senasib saya, dan ada seseorang yang ingin menemui saya dengan berkuda. Sementara itu ada seorang Bani Aslam yang hanya berjalan kaki, lalu dia naik ke bukit dan meneriakkan kabar gembira pada saya. Ternyata suara itu lebih cepat dari pada kuda. Setelah orang yang naik ke bukit itu datang menemui saya untuk menyampaikan langsung, saya tanggalkan pakaian saya dan saya hadiahkan untuknya sebagai imbalan atas kabar gembiranya. Demi Allah, sebenarnya saya ini tidak mempunyai baju lagi selain itu. Akhirnya saya meminjam baju orang, kemudian berangkat menemui Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Orang-orang datang berduyun-duyun mengucapkan selamat atas kabar gembira ini. Mereka mengatakan, ‘Selamat atas pengampunan Allah untukmu!’ Setelah itu saya masuk ke dalam masjid, di situ terlihat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam sedang duduk di kelilingi banyak orang. Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah bangun dan menuju ke arah saya dengan setengah lari. Dia menjabat tangan saya dan mengucapkan selamat. Tidak ada seorang pun dari kaum Muhajirin yang bangun selain dia, dan saya tidak akan melupakannya.
Setelah saya mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, beliau berkata -dengan wajah bersinar penuh kegembiraan-, ‘Bergembiralah dengan datangnya sebuah hari yang paling baik yang pernah engkau lalui semenjak kau dilahirkan oleh ibumu.’ ‘Dari engkau atau dari Allah, ya Rasulullah?’ tanya saya. Beliau menjawab, ‘Bukan dariku, tapi dari Allah.’ Dan demikianlah, bila Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam sedang gembira, wajah beliau bersinar seperti bulan. Kami semua tahu hal itu. Setelah aku duduk tepat di hadapan Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sebagai pertanda taubat ini, aku akan melepas semua hartaku dan menjadikannya sebagai shadaqah untuk Allah dan Rasul-Nya.’ Rasulullah menjawab, ‘Ambillah sebagian dari hartamu, ini lebih baik untukmu.’ Saya berkata, ‘Ya, aku akan mengambil jatahku yang aku dapatkan dari perang Khaibar.’ Setelah itu saya ungkapkan kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta`ala telah menyelamatkan aku dengan kejujuran, dan sebagai pertanda taubatku kepada Allah, aku berjanji bahwa aku akan selalu berkata jujur selama hidupku. Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang muslim yang diuji oleh Allah dalam kejujuran kata-katanya melebihi ujian yang aku dapatkan.’
Dan sejak aku ungkapkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, saya tidak pernah berdusta sampai hari ini. Saya memohon semoga Allah tetap menjaga saya selama sisa hidup saya. Dan Allah Ta`ala menurunkan firman-Nya kepada Rasul-Nya:
“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan. Setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allahlah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (At-Taubah: 117-119).
Demi Allah, tidak ada nikmat yang telah Allah karuniakan kepada saya -setelah nikmat hidayah Islam- yang lebih besar dari nikmat kejujuran saya kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Saya tidak ingin berdusta tapi kemudian binasa seperti binasanya orang-orang yang telah berdusta. Dan Allah Ta`ala telah memberikan komentar tentang orang-orang yang berdusta -di dalam wahyu yang diturunkan-Nya- dengan kata-kata yang sangat keras dan jelek.
Allah Ta`ala berfirman:
“Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka itu berpalinglah dari mereka, karena mereka itu adalah najis dan tempat mereka adalah Jahannam, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu agar kamu rela kepada mereka. Tetapi, jika sekiranya kamu rela kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak rela kepada orang-orang yang fasik itu.” (At-Taubah: 95-96).
Ka’ab berkata:
“Kami bertiga tidak memperhatikan lagi orang-orang yang diterima alasan mereka setelah bersumpah kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, kemudian beliau menyumpah mereka dan memintakan ampun buat mereka, sementara itu beliau menangguhkan urusan kami sampai Allah sendiri yang memutuskan. Oleh karena itu Alah Ta`ala menyatakan,
وَعَلَى الثَّلَثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُواْ.
''(Dan Allah juga telah menerima taubat) tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka.''
Yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah tidak ikut sertanya kami bertiga dalam perang, tetapi yang dimaksud adalah ditangguhkannya taubat kami serta tidak diikutsertakannya kami pada kelompok orang-orang yang telah bersumpah dan mengemukakan alasan dan diterima oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam.”( HR. Al-Bukhari (8/113)), Kitabul Maghazi, bab Hadits Ka’ab bin Malik.)
Sumber : Alsofwah
© 2013 - RizzStudio
Masuk Surga Setelah Meniggalkan Kekufuran, Padahal Belum Pernah Sujud Kepada Allah
Abu Hurairah radhiallahu `anhu pernah berkata: “Tahukah kalian siapakah orang yang masuk Surga tetapi tidak pernah shalat walaupun sekali?” Kemudian dia sendiri yang menjawab: “Dia adalah Amr bin Tsabit”.
Ibnu Ishaq berkata bahwa Hushain bin Muhammad pernah berkata: “Aku bertanya kepada Mahmud bin Labid, ‘Bagaimana kisah Amr bin Tsabit itu?’, ia menjawab, ‘Dulunya, Amr bin Tsabit itu menolak agama Islam. Akan tetapi, saat terjadi perang Uhud dia menjadi simpatik kepada Islam. Kemudian dia mengambil pedangnya dan bergabung dengan kaum muslimin. Saat perang sedang berkecamuk dia masuk ke kancah peperangan sampai akhirnya dia terluka. Ketika ditemukan oleh orang-orang yang sekabilah dengannya, mereka bertanya, ‘Apa yang membuatmu datang ke mari? Apakah karena kasihan pada kaum kabilahmu, ataukah karena kau ingin masuk Islam?’ Dia jawab, ‘Ya, karena aku ingin masuk agama Islam, aku telah berjihad bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam sehingga aku terluka begini’. Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh dia adalah ahli Surga.’” Dalam riwayat lain disebutkan: Kemudian dia meninggal -karena lukanya- maka dia masuk Surga dan tidak pernah melaksanakan shalat sekalipun.( Fathul Bari Syarh Shahihul Bukhari (6/25) Kitab Al-Jihad, Al-Hafizh Ibnu Hajar bekata: “Sanad hadits ini shahih.”)
Kisah tersebut juga diriwayatkan dengan redaksi lain: Az-Zuhri dan Urwah berkata: “Ada seorang budak hitam dari Habasyah yang tinggal di daerah Khaibar, saat itu dia sedang menggembalakan kambing milik tuannya. Ketika dia melihat penduduk Khaibar telah memegang senjata perang mereka, dia bertanya, ‘Mau apa kalian?’, mereka menjawab, ‘Kami akan memerangi orang laki-laki yang mengaku nabi itu.’
Saat mendengar kata “Nabi” disebut, dia langsung pergi dengan kambingnya menghadap kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, kemudian bertanya pada beliau, ‘Kepada apa Anda mengajak orang?’, Nabi menjawab, ‘Aku akan mengajakmu kepada Islam, kepada persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku ini adalah utusan Allah, dan aku juga mengajak agar kau tidak menyembah kecuali kepada Allah’. Kemudian si budak tadi berkata, ‘Apa yang bisa aku dapatkan bila aku mengikrarkan persaksian tadi dan beriman kepada Allah?’. Jawab Nabi shallallahu `alaihi wasallam, ‘Kau akan mendapatkan Surga bila mati atas hal itu.’
Lalu dia masuk Islam dan berkata kepada Nabi shallallahu `alaihi wasallam, ‘Hai Nabi Allah, kambing-kambing ini adalah amanat yang ada padaku.’ Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam menyarankan, ‘Keluarkan kambing-kambing itu dari laskar kami dan lemparilah dengan batu kerikil niscaya Allah akan membantumu memberikan amanat itu pada yang punya.’ Lalu dia kerjakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam dan ternyata kambing-kambing itu kembali pulang kepada pemiliknya, hingga tuannya yang Yahudi itu tahu bahwa budaknya telah masuk Islam. Setelah itu beliau memberikan nasihat-nasihat kepada kaum muslimin.”
Dalam riwayat ini juga disebutkan bagaimana Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam memberikan bendera komando kepada Ali radhiallahu `anhu. Dan di bawah kepemimpinan Ali bin Abi Thalib radhiallahu `anhu budak hitam itu meninggal. Kaum muslimin yang ada saat itu menggotongnya ke tempat berkumpulnya pasukan Islam, kemudian memasukkannya ke dalam kemah. Mereka berkata bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam menengok ke dalam kemah lalu berkata kepada para sahabat: “Sungguh, Allah telah memuliakan budak ini dan menggiringnya menuju kebaikan. Agama Islam telah benar-benar berada dalam hatinya. Sungguh, aku telah melihat di sisi kepalanya dua bidadari yang cantik.”
Al-Hafizh Al-Baihaqi meriwayatkan kisah ini dengan sanadnya dari Jabir bin Abdillah, dia berkata: “Suatu saat kami pernah bersama dengan Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di perang Khaibar. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam mengirimkan pasukannya lalu datanglah seseorang dengan kambing-kambing yang sedang digembalakannya.” Untuk selanjutnya riwayat ini sama dengan kisah budak hitam di atas. Dalam riwayat tersebut dikatakan bahwa orang tersebut akhirnya terbunuh dalam keadaan syahid, sementara dia tidak pernah bersujud kepada Allah Ta`ala sekalipun!”.
Sumber : Alsofwah
© 2013 - RizzStudio
Kisah Ja’far bin Abu Thalib, Si Burung Surga
Ja'far bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim masuk Islam sejak awal dan sempat mengikuti hijrah ke Habasyah. Ia malah sempat mendakwahkan Islam di daerah itu.
Dalam Perang Muktah, ia diserahi tugas menjadi pemegang bendera Islam. Setelah tangan kanannya terpotong dia memegang bendera dengan tangan kiri. Namun tangan kirinya juga terpotong, sehingga dia memegang bendera itu dengan dadanya. Akhirnya, ia mati syahid dengan tubuh penuh luka dan sayatan pedang.
Di kalangan Bani Abdi Manaf ada lima orang yang sangat mirip dengan Rasulullah SAW, sehingga seringkali orang salah menerka. Mereka itu adalah Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muthallib, sepupu sekaligus saudara sesusuan beliau. Qutsam Ibnul Abbas bin Abdul Muthallib, sepupu Nabi. Saib bin Ubaid bin Abdi Yazin bin Hasyim. Ja’far bin Abu Thalib, saudara Ali bin Abu Thalib. Dan Hasan bin Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah SAW. Dan Ja'far bin Abu Thalib adalah orang yang paling mirip dengan Nabi SAW di antara mereka berlima.
Ja’far dan istrinya, Asma’ bin Umais, bergabung dalam barisan kaum Muslimin sejak dari awal. Keduanya menyatakan Islam di hadapan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebelum Rasulullah SAW masuk ke rumah Al-Arqam.
Pasangan suami istri Bani Hasyim yang muda belia ini tidak luput pula dari penyiksaan kaum kafir Quraisy, sebagaimana yang diderita kaum Muslimin yang pertama-tama masuk Islam. Namun mereka bersabar menerima segala cobaan yang menimpa.
Namun yang merisaukan mereka berdua adalah kaum Quraisy membatasi geraknya untuk menegakkan syiar Islam dan melarangnya untuk merasakan kelezatan ibadah. Maka Ja’far bin Abu Thalib beserta istrinya memohon izin kepada Rasulullah untuk hijrah ke Habasyah bersama-sama dengan para sahabat lainnya. Rasulullah SAW pun mengizinkan.
Ja'far pun menjadi pemimpin kaum Muslimin yang berangkat ke Habasyah. Mereka merasa lega, bahwa Raja Habasyah (Najasyi) adalah orang yang adil dan saleh. Di Habasyah, kaum Muslimin dapat menikmati kemanisan agama yang mereka anut, bebas dari rasa cemas dan ketakutan yang mengganggu dan yang menyebabkan mereka hijrah.
Ja’far bin Abu Thalib beserta istri tinggal dengan aman dan tenang dalam perlindungan Najasyi yang ramah tamah itu selama sepuluh tahun.
Pada tahun ke-7 Hijriyah, kedua suami istri itu meninggalkan Habasyah dan hijrah ke Yatsrib (Madinah). Kebetulan Rasulullah SAW baru saja pulang dari Khaibar. Beliau sangat gembira bertemu dengan Ja’far sehingga karena kegembiraannya beliau berkata, "Aku tidak tahu mana yang menyebabkan aku gembira, apakah karena kemenangan di Khaibar atau karena kedatangan Ja’far?"
Begitu pula kaum Muslimin umumnya, terlebih fakir miskin, mereka juga bergembira dengan kedatangan Ja’far. Ia adalah sosok yang sangat penyantun dan banyak membela golongan dhuafa, sehingga digelari Abil Masakin (bapak orang-orang miskin).
Abu Hurairah bercerita tentang Ja’far, "Orang yang paling baik kepada kami (golongan orang-orang miskin) ialah Ja’far bin Abu Thalib. Dia sering mengajak kami makan di rumahnya, lalu kami makan apa yang ada. Bila makanannya sudah habis, diberikannya kepada kami pancinya, lalu kami habiskan sampai dengan kerak-keraknya."
Belum begitu lama Ja’far tinggal di Madinah, pada awal tahun ke-8 Hijriyah, Rasululalh SAW menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Romawi di Muktah. Beliau mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi komandan pasukan.
Rasulullah berpesan, "Jika Zaid tewas atau cidera, komandan digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Seandainya Ja’far tewas atau cidera pula, dia digantikan Abdullah bin Rawahah. Dan apabila Abdullah bin Rawahah cidera atau gugur pula, hendaklah kaum muslmin memilih pemimpin/komandan di antara mereka."
Setelah pasukan sampai di Muktah, yaitu sebuah kota dekat Syam dalam wilayah Yordania, mereka mendapati tentara Romawi telah siap menyambut dengan kekuatan 100.000 pasukan inti yang terlatih, berpengalaman, dan membawa persenjataan lengkap. Pasukan mereka juga terdiri dari 100.000 milisi Nasrani Arab dari kabilah-kabilah Lakham, Judzam, Qudha’ah, dan lain-lain. Sementara, tentara kaum Muslimin yang dipimpin Zaid bin Haritsah hanya berkekuatan 3.000 tentara.
Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang itu berhadap-hadapanan, pertempuran segera berkobar dengan hebatnya. Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid ketika dia dan tentaranya sedang maju menyerbu ke tengah-tengah musuh.
Melihat Zaid jatuh, Ja’far segera melompat dari punggung kudanya, kemudian secepat kilat disambarnya bendera komando Rasulullah dari tangan Zaid, lalu diacungkan tinggi-tinggi sebagai tanda pimpinan kini beralih kepadanya. Dia maju ke tengah-tengah barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul rubuh setiap musuh yang mendekat kepadanya. Akhirnya musuh dapat mengepung dan mengeroyoknya.
Ja’far berputar-putar mengayunkan pedang di tengah-tengah musuh yang mengepungnya. Dia mengamuk menyerang musuh ke kanan dan kiri dengan hebat. Suatu ketika tangan kanannya terkena sabetan musuh sehingga buntung. Maka dipegangnya bendera komando dengan tangan kirinya.
Tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang musuh. Dia tidak gentar dan putus asa. Dipeluknya bendera komando ke dadanya dengan kedua lengan yang masih utuh. Namun tidak berapa lama kemudian, kedua lengannya tinggal sepertiga saja dibuntung musuh. Ja'far pun syahid menyusul Zaid.
Secepat kilat Abdullah bin Rawahah merebut bendera komando dari komando Ja’far bin Abu Thalib. Pimpinan kini berada di tangan Abdullah bin Rawahah, sehingga akhirnya dia gugur pula sebagai syahid, menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid lebih dahulu.
Rasulullah SAW sangat sedih mendapat berita ketiga panglimanya gugur di medan tempur. Beliau pergi ke rumah Ja’far, didapatinya Asma’, istri Ja’far, sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya. Dia mengaduk adonan roti, merawat anak-anak, memandikan dan memakaikan baju mereka yang bersih.
Asma’ bercerita, "Ketika Rasulullah mengunjungi kami, terlihat wajah beliau diselubungi kabut sedih. Hatiku cemas, tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut mendengar berita buruk. Beliau memberi salam dan menanyakan anak-anak kami. Beliau menanyakan mana anak-anak Ja’far, suruh mereka ke sini.”
Asma' kemudian memanggil mereka semua dan disuruhnya menemui Rasulullah SAW. Anak-anak Ja'far berlompatan kegirangan mengetahui kedatangan beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman kepada Rasulullah. Beliau menengkurapkan mukanya kepada anak-anak sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata beliau mengalir membasahi pipi mereka.
Asma' bertanya, "Ya Rasulullah, demi Allah, mengapa anda menangis? Apa yang terjadi dengan Ja’far dan kedua sahabatnya?"
Beliau menjawab, "Ya, mereka telah syahid hari ini."
Mendengar jawaban beliau, maka reduplah senyum kegirangan di wajah anak-anak, apalagi setelah mendengar ibu mereka menangis tersedu-sedu. Mereka diam terpaku di tempat masing-masing, seolah-olah seekor burung sedang bertengger di kepala mereka.
Rasulullah berdoa sambil menyeka air matanya, "Ya Allah, gantilah Ja’far bagi anak-anaknya... Ya Allah, gantilah Ja’far bagi istrinya."
Kemudian beliau bersabda, "Aku melihat, sungguh Ja’far berada di surga. Dia mempunyai dua sayap berlumuran darah dan bertanda di kakinya."
Sumber : Republika
© 2013 - RizzStudio
Kisah Ja’far bin Abu Thalib, Si Burung Surga
Ja'far bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim masuk Islam sejak awal dan sempat mengikuti hijrah ke Habasyah. Ia malah sempat mendakwahkan Islam di daerah itu.
Dalam Perang Muktah, ia diserahi tugas menjadi pemegang bendera Islam. Setelah tangan kanannya terpotong dia memegang bendera dengan tangan kiri. Namun tangan kirinya juga terpotong, sehingga dia memegang bendera itu dengan dadanya. Akhirnya, ia mati syahid dengan tubuh penuh luka dan sayatan pedang.
Di kalangan Bani Abdi Manaf ada lima orang yang sangat mirip dengan Rasulullah SAW, sehingga seringkali orang salah menerka. Mereka itu adalah Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muthallib, sepupu sekaligus saudara sesusuan beliau. Qutsam Ibnul Abbas bin Abdul Muthallib, sepupu Nabi. Saib bin Ubaid bin Abdi Yazin bin Hasyim. Ja’far bin Abu Thalib, saudara Ali bin Abu Thalib. Dan Hasan bin Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah SAW. Dan Ja'far bin Abu Thalib adalah orang yang paling mirip dengan Nabi SAW di antara mereka berlima.
Ja’far dan istrinya, Asma’ bin Umais, bergabung dalam barisan kaum Muslimin sejak dari awal. Keduanya menyatakan Islam di hadapan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebelum Rasulullah SAW masuk ke rumah Al-Arqam.
Pasangan suami istri Bani Hasyim yang muda belia ini tidak luput pula dari penyiksaan kaum kafir Quraisy, sebagaimana yang diderita kaum Muslimin yang pertama-tama masuk Islam. Namun mereka bersabar menerima segala cobaan yang menimpa.
Namun yang merisaukan mereka berdua adalah kaum Quraisy membatasi geraknya untuk menegakkan syiar Islam dan melarangnya untuk merasakan kelezatan ibadah. Maka Ja’far bin Abu Thalib beserta istrinya memohon izin kepada Rasulullah untuk hijrah ke Habasyah bersama-sama dengan para sahabat lainnya. Rasulullah SAW pun mengizinkan.
Ja'far pun menjadi pemimpin kaum Muslimin yang berangkat ke Habasyah. Mereka merasa lega, bahwa Raja Habasyah (Najasyi) adalah orang yang adil dan saleh. Di Habasyah, kaum Muslimin dapat menikmati kemanisan agama yang mereka anut, bebas dari rasa cemas dan ketakutan yang mengganggu dan yang menyebabkan mereka hijrah.
Ja’far bin Abu Thalib beserta istri tinggal dengan aman dan tenang dalam perlindungan Najasyi yang ramah tamah itu selama sepuluh tahun.
Pada tahun ke-7 Hijriyah, kedua suami istri itu meninggalkan Habasyah dan hijrah ke Yatsrib (Madinah). Kebetulan Rasulullah SAW baru saja pulang dari Khaibar. Beliau sangat gembira bertemu dengan Ja’far sehingga karena kegembiraannya beliau berkata, "Aku tidak tahu mana yang menyebabkan aku gembira, apakah karena kemenangan di Khaibar atau karena kedatangan Ja’far?"
Begitu pula kaum Muslimin umumnya, terlebih fakir miskin, mereka juga bergembira dengan kedatangan Ja’far. Ia adalah sosok yang sangat penyantun dan banyak membela golongan dhuafa, sehingga digelari Abil Masakin (bapak orang-orang miskin).
Abu Hurairah bercerita tentang Ja’far, "Orang yang paling baik kepada kami (golongan orang-orang miskin) ialah Ja’far bin Abu Thalib. Dia sering mengajak kami makan di rumahnya, lalu kami makan apa yang ada. Bila makanannya sudah habis, diberikannya kepada kami pancinya, lalu kami habiskan sampai dengan kerak-keraknya."
Belum begitu lama Ja’far tinggal di Madinah, pada awal tahun ke-8 Hijriyah, Rasululalh SAW menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Romawi di Muktah. Beliau mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi komandan pasukan.
Rasulullah berpesan, "Jika Zaid tewas atau cidera, komandan digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Seandainya Ja’far tewas atau cidera pula, dia digantikan Abdullah bin Rawahah. Dan apabila Abdullah bin Rawahah cidera atau gugur pula, hendaklah kaum muslmin memilih pemimpin/komandan di antara mereka."
Setelah pasukan sampai di Muktah, yaitu sebuah kota dekat Syam dalam wilayah Yordania, mereka mendapati tentara Romawi telah siap menyambut dengan kekuatan 100.000 pasukan inti yang terlatih, berpengalaman, dan membawa persenjataan lengkap. Pasukan mereka juga terdiri dari 100.000 milisi Nasrani Arab dari kabilah-kabilah Lakham, Judzam, Qudha’ah, dan lain-lain. Sementara, tentara kaum Muslimin yang dipimpin Zaid bin Haritsah hanya berkekuatan 3.000 tentara.
Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang itu berhadap-hadapanan, pertempuran segera berkobar dengan hebatnya. Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid ketika dia dan tentaranya sedang maju menyerbu ke tengah-tengah musuh.
Melihat Zaid jatuh, Ja’far segera melompat dari punggung kudanya, kemudian secepat kilat disambarnya bendera komando Rasulullah dari tangan Zaid, lalu diacungkan tinggi-tinggi sebagai tanda pimpinan kini beralih kepadanya. Dia maju ke tengah-tengah barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul rubuh setiap musuh yang mendekat kepadanya. Akhirnya musuh dapat mengepung dan mengeroyoknya.
Ja’far berputar-putar mengayunkan pedang di tengah-tengah musuh yang mengepungnya. Dia mengamuk menyerang musuh ke kanan dan kiri dengan hebat. Suatu ketika tangan kanannya terkena sabetan musuh sehingga buntung. Maka dipegangnya bendera komando dengan tangan kirinya.
Tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang musuh. Dia tidak gentar dan putus asa. Dipeluknya bendera komando ke dadanya dengan kedua lengan yang masih utuh. Namun tidak berapa lama kemudian, kedua lengannya tinggal sepertiga saja dibuntung musuh. Ja'far pun syahid menyusul Zaid.
Secepat kilat Abdullah bin Rawahah merebut bendera komando dari komando Ja’far bin Abu Thalib. Pimpinan kini berada di tangan Abdullah bin Rawahah, sehingga akhirnya dia gugur pula sebagai syahid, menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid lebih dahulu.
Rasulullah SAW sangat sedih mendapat berita ketiga panglimanya gugur di medan tempur. Beliau pergi ke rumah Ja’far, didapatinya Asma’, istri Ja’far, sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya. Dia mengaduk adonan roti, merawat anak-anak, memandikan dan memakaikan baju mereka yang bersih.
Asma’ bercerita, "Ketika Rasulullah mengunjungi kami, terlihat wajah beliau diselubungi kabut sedih. Hatiku cemas, tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut mendengar berita buruk. Beliau memberi salam dan menanyakan anak-anak kami. Beliau menanyakan mana anak-anak Ja’far, suruh mereka ke sini.”
Asma' kemudian memanggil mereka semua dan disuruhnya menemui Rasulullah SAW. Anak-anak Ja'far berlompatan kegirangan mengetahui kedatangan beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman kepada Rasulullah. Beliau menengkurapkan mukanya kepada anak-anak sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata beliau mengalir membasahi pipi mereka.
Asma' bertanya, "Ya Rasulullah, demi Allah, mengapa anda menangis? Apa yang terjadi dengan Ja’far dan kedua sahabatnya?"
Beliau menjawab, "Ya, mereka telah syahid hari ini."
Mendengar jawaban beliau, maka reduplah senyum kegirangan di wajah anak-anak, apalagi setelah mendengar ibu mereka menangis tersedu-sedu. Mereka diam terpaku di tempat masing-masing, seolah-olah seekor burung sedang bertengger di kepala mereka.
Rasulullah berdoa sambil menyeka air matanya, "Ya Allah, gantilah Ja’far bagi anak-anaknya... Ya Allah, gantilah Ja’far bagi istrinya."
Kemudian beliau bersabda, "Aku melihat, sungguh Ja’far berada di surga. Dia mempunyai dua sayap berlumuran darah dan bertanda di kakinya."
Sumber : Republika
© 2013 - RizzStudio
Kisah Hudzaifah Ibnul Yaman Yang Memegang Rahasia Rasulullah
Hudzaifah Ibnul Yaman lahir di rumah tangga Muslim, dipelihara dan dibesarkan dalam pangkuan kedua orang tuanya yang telah memeluk agama Allah, sebagai rombongan pertama.
Oleh sebab itu, Hudzaifah telah Islam sebelum dia bertemu muka dengan Rasulullah. Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau bagaikan seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, kecuali dalam Perang Badar.
Dalam Perang Uhud, Hudzaifah ikut memerangi kaum kafir bersama dengan ayahnya, Al-Yaman. Dalam perang itu, Hudzaifah mendapat cobaan besar. Dia pulang dengan selamat, tetapi bapaknya syahid oleh pedang kaum Muslimin sendiri, bukan kaum musyrikin. Kaum Muslimin tidak mengetahui jika Al-Yaman adalah bagian dari mereka, sehingga mereka membunuhnya dalam perang.
Rasulullah menilai dalam pribadi Hudzaifah Ibnul Yaman terdapat tiga keistimewaan yang menonjol. Pertama, cerdas, sehingga dia dapat meloloskan diri dalam situasi yang serba sulit. Kedua, cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya setiap diperlukan. Ketiga, cermat memegang rahasia, dan berdisiplin tinggi, sehingga tidak seorang pun dapat mengorek yang dirahasiakannya.
Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin di Madinah ialah kehadiran kaum Yahudi munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat. Untuk menghadapi kesulitan ini, Rasulullah memercayakan suatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah Ibnul Yaman—dengan memberikan daftar nama orang munafik itu kepadanya. Itulah suatu rahasia yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga sekarang.
Dengan memercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rasulullah menugaskan Hudzaifah memonitor setiap gerak-gerik dan kegiatan mereka, untuk mencegah bahaya yang mungkin dilontarkan mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin. Karena inilah, Hudzaifah Ibnul Yaman digelari oleh para sahabat dengan "Shahibu Sirri Rasulullah (Pemegang Rahasia Rasulullah).
Pada puncak Perang Khandaq, Rasulullah memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang amat berbahaya. Beliau mengutus Hudzaifah ke jantung pertahanan musuh, dalam kegelapan malam yang hitam pekat.
"Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh. Pergilah engkau ke sana dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data yang pasti. Dan laporkan kepadaku segera!" perintah beliau.
Hudzaifah pun bangun dan berangkat dengan takutan dan menahan dingin yang sangat menusuk. Maka, Rasulullah berdoa, "Ya Allah, lindungilah dia, dari depan, dari belakang, kanan, kiri, atas, dan dari bawah."
"Demi Allah, sesudah Rasulullah selesai berdoa, ketakutan yang menghantui dalam dadaku dan kedinginan yang menusuk-nusuk tubuhku hilang seketika, sehingga aku merasa segar dan perkasa," tutur Hudzaifah.
Tatkala ia memalingkan diri dari Rasulullah, beliau memanggilnya dan berkata, "Hai Hudzaifah, sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai, dan kembali kepadaku!"
"Saya siap, ya Rasulullah," jawab Hudzaifah.
Hudzaifah pun pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Ia berhasil menyusup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah anggota pasukan mereka. Belum lama berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba terdengar Abu Sufyan memberi komando.
"Hai, pasukan Quraisy, dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh Muhammad. Karena itu, telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!"
Mendengar ucapan Abu Sufyan, Hudzaifah segera memegang tangan orang yang di sampingnya seraya bertanya, "Siapa kamu?"
Jawabnya, "Aku si Fulan, anak si Fulan."
Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, "Hai, pasukan Quraisy. Demi Tuhan, sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat meninggalkan kita. Angin topan menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu, berangkatlah kalian sekarang dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat."
Selesai berkata demikian, Abu Sufyan kemudian mendekati untanya, melepaskan tali penambat, lalu dinaiki dan dipukulnya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat. Seandainya Rasulullah tidak melarangnya melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, tentu ia akan membunuh Abu Sufyan dengan pedangnya.
Hudzaifah Ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang munafik selama hidupnya, sampai kepada seorang khalifah sekali pun. Bahkan Khalifah Umar bin Khathtab, jika ada orang Muslim yang meninggal, dia bertanya, "Apakah Hudzaifah turut menyalatkan jenazah orang itu?" Jika mereka menjawab, "Ada," Umar turut menyalatkannya.
Suatu ketika, Khalifah Umar pernah bertanya kepada Hudzaifah dengan cerdik, "Adakah di antara pegawai-pegawaiku orang munafik?"
"Ada seorang," jawab Hudzaifah.
"Tolong tunjukkan kepadaku siapa?" kata Umar.
Hudzaifah menjawab, "Maaf Khalifah, saya dilarang Rasulullah mengatakannya."
Walau demikian, amat sedikit orang yang mengetahui bahwa Hudzaifah Ibnul Yaman sesungguhnya adalah pahlawan penakluk Nahawand, Dainawar, Hamadzan, dan Rai. Dia membebaskan kota-kota tersebut bagi kaum Muslimin dari genggaman kekuasaan Persia. Hudzaifah juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragaman mushaf Alquran, sesudah kitabullah itu beraneka ragam coraknya di tangan kaum Muslimin.
Ketika Hudzaifah sakit keras menjelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya pada tengah malam. Hudzaifah bertanya kepada mereka,"Pukul berapa sekarang?"
Mereka menjawab, "Sudah dekat Subuh."
Hudzaifah berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari Subuh yang menyebabkan aku masuk neraka."
Ia bertanya kembali, "Adakah kalian membawa kafan?"
Mereka menjawab, "Ada."
Hudzaifah berkata, "Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia akan menggantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika aku tidak baik dalam pandangan Allah, Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku."
Sesudah itu dia berdoa kepada Allah, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu, aku lebih suka fakir daripada kaya, aku lebih suka sederhana daripada mewah, aku lebih suka mati daripada hidup."
Sesudah berdoa demikian, ruhnya pun pergi menghadap Ilahi. Seorang kekasih Allah kembali kepada Allah dalam kerinduan. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya.
Sumber : Republika
© 2013 - RizzStudio
Kisah Ashim bin Tsabit Yang Jasadnya Dijaga Allah
Perang Badar baru saja usai. Kaum Quraisy bertekad membalas kekalahan mereka. Kedengkian dan nafsu untuk balas dendam terus berkobar di dada kaum Quraiys. Tidak saja kaum pria, bahkan perempuan-perempuan bangsawan kaum Quraisy pun turut pula ke Uhud untuk menggelorakan semangat perang.
Di antara para wanita itu terdapat Hindun binti Utbah (istri Abu Sufyan bin Harb), Raithah binti Munabbih (istri Amr bin Ash), Sulafah binti Sa’ad beserta suaminya, Thalhah, dan tiga orang anak laki-lakinya: Musafi', Julas, dan Kilab, serta banyak lagi wanita-wanita lainnya.
Ketika pasukan-pasukan Islam dan musyrikin bertemu di medan Uhud, dan api peperangan pun menyala, Hindun binti Utbah dan beberapa perempuan lain berdiri di belakang pasukan pria. Mereka memegang rebana dan menabuhnya sambil menyanyikan lagu peperangan. Lagu-lagu mereka membakar semangat pasukan berkuda, membuat para suami bagai terkena sihir.
Pertempuran pun usai. Kaum Quraisy meraih kemenangan pada peperangan tersebut. Para wanita Quraisy berlompatan, berlarian ke tengah medan pertempuran, mabuk kemenangan. Mereka mencincang dan merusak mayat-mayat kaum Muslimin yang gugur dalam pertempuran tersebut dengan cara yang sangat keji. Perut mayat-mayat itu mereka belah, matanya dicongkel, telinga dan hidungnya dipotong.
Bahkan seorang di antara mereka tidak puas dengan cara begitu saja. Hidung dan telinga mayat-mayat itu dibuatnya menjadi kalung, lalu dipakainya untuk membalaskan dendam bapak, saudara, dan pamannya yang terbunuh di Badar.
Sulafah binti Sa’ad lain pula caranya. Dia tidak seperti perempuan lain. Hatinya guncang dan gelisah menunggu kemunculan suami dan ketiga orang anaknya. Dia berdiri bersama kawan-kawannya yang sedang mabuk kemenangan. Setelah lama menunggu dengan sia-sia, akhirnya dia masuk ke arena pertempuran, sampai jauh ke dalam. Diperiksanya satu per satu wajah mayat-mayat yang bergelimpangan.
Tiba-tiba didapatkannya mayat suaminya terbaring hampa berlumuran darah. Dia melompat bagaikan singa betina ketakutan. Kemudian, ditujukannya pandangan ke segala arah mencari anak-anaknya: Musafi', Kilab, dan Julas. Tidak berapa lama dia mencari ke segenap lapangan, didapatinya Musafi dan Kilab telah tewas. Namun Julas masih hidup dengan nafas kembang-kempis.
Sulafah memeluk tubuh anaknya yang setengah sekarat. Kemudian diletakkannya kepala anak itu ke pahanya. Dibersihkannya darah dari kening dan mulutnya. Air matanya kering karena pukulan berat yang sangat mengguncang hatinya.
Kemudian, ditatapnya wajah anaknya seraya bertanya, “Siapa lawan yang menjatuhkanmu?”
Dengan nafas putus nyambung Julas menjawab, “Ashim bin Tsabit, dia pula yang memukul roboh Musafi' dan...”
Belum habis dia berbicara, nafasnya sudah putus. Sulafah binti Sa’ad bagaikan orang gila. Dia menangis dan meraung sekencang-kencangnya. Dia bersumpah tidak akan makan dan menghapus air mata, kecuali bila orang Quraisy membalaskan dendamnya terhadap Ashim bin Tsabit, dan memberikan batok kepala Ashim kepadanya untuk dijadikan mangkok tempat minum khamr. Dia juga berjanji akan memberikan hadiah dan uang yang banyak bagi orang yang dapat menyerahkan Ashim bin Tsabit kepadanya, hidup atau mati!
Janji Sulafah itu tersiar cepat ke seluruh Quraisy. Setiap pemuda Makkah berharap mereka dapat memenangkan lomba itu, dan membawa Ashim kepada Sulafah untuk memperoleh hadiah besar yang dijanjikannya.
Seusai Perang Uhud, kaum Muslimin kembali ke Madinah. Mereka membicarakan pertempuran yang baru dialami. Sama-sama memperlihatkan rasa sedih atas pahlawan-pahlawan yang syahid, memuji keberanian orang-orang yang terluka, dan sebagainya. Mereka pun tidak ketinggalan menyebut nama Ashim bin Tsabit yang dikatakan sebagai pahlawan gagah tak terkalahkan. Mereka kagum bagaimana Ashim mampu merobohkan tiga bersaudara sekaligus.
Seorang di antaranya berkata, “Itu soal yang tidak perlu diherankan. Bukankah Rasulullah pernah mengingatkan ketika beliau bertanya bebarapa saat sebelum berkobar Perang Badar, “Bagaimana caranya kamu berperang?”
Lalu Ashim tampil dengan busur panah di tangan, lalu berkata, “Jika musuh berada di hadapanku seratus hasta, aku panah dia. Apabila musuh mendekat dalam jarak tikaman lembing, aku bertanding dengan lembing sampai patah. Jika lembingku patah, kuhunus pedang, lalu aku main pedang.”
Maka Rasulullah bersabda, “Nah, begitulah berperang. Siapa yang hendak berperang, berperanglah seperti Ashim.”
Tidak berapa lama setalah Perang Uhud, Rasulullah memilih enam orang sahabat untuk melaksanakan suatu tugas penting, dan beliau mengangkat Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin. Orang-orang terpilih ini berangkat melaksanakan tugas yang dibebankan oleh Rasulullah kepada mereka.
Di tengah jalan, tidak jauh dari Makkah, sekelompok kaum Hudzail melihat kedatangan mereka. Kelompok itu segera mengepung mereka dengan ketat. Ashim dan kawan-kawan dengan sigap menyambar pedang masing-masing, dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Kata orang-orang Hudzail, “Kalian tidak akan berdaya melawan kami. Demi Allah, kami tidak akan berlaku jahat terhadap kalian jika kalian menyerah. Kalian boleh memercayai sumpah kami dengan nama Allah.”
Para sahabat Rasulullah berpandangan satu sama lain seolah-olah bermusyawarah, sikap apa yang harus diambil. Ashim menoleh kepada kawan-kawannya seraya berkata, “Aku tidak dapat memegang janji orang-orang musyrik itu.”
Kemudian diingatnya sumpah Sulafah untuk menangkapnya. Ashim kemudian menghunus pedangnya sambil berdoa, “Wahai Allah, aku memelihara agama-Mu dan bertempur karenanya. Maka lindungilah daging dan tulangku, jangan biarkan seorang musuh pun menjamah.”
Ashim dan rekan-rekannya menyerang orang-orang Hudzail. Mereka bertiga bertempur mati-matian, sehingga akhirnya roboh dan gugur satu per satu. Adapun kawan Ashim tiga lagi menyerah sebagai tawanan. Mereka dikhianati oleh kaum Hudzail yang tidak memenuhi janji.
Pada mulanya kaum Hudzail tidak mengetahui bahwa salah seorang di antara korban mereka adalah Ashim bin Tsabit. Namun setelah tahu bahwa salah satunya adalah Ashim, mereka pun girang bukan kepalang, karena membayangkan hadiah besar yang akan diperoleh.
Hanya beberapa saat setelah kematian Ashim bin Tsabit dan kawan-kawan, kaum Quraisy telah mencium beritanya. Karena kaum Hudzail tinggal tidak jauh dari kota Makkah, para pemimpin Quraisy segera mengirim utusan kepada pembunuh Ashim, meminta kepala Ashim untuk menghilangkan dahaga Sulafah binti Sa’ad, dan menyempurnakan sumpahnya.
Para pemimpin Quraisy membekali para utusan itu dengan uang yang memadai, dan menyuruh mereka menyerahkan seluruh uang itu kepada kaum Hudzail demi untuk mendapatkan kepala Ashim.
Kaum Hudzail pergi mencari mayat Ashim untuk memisahkan kepalanya dari jasad. Tetapi alangkah ajaib, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sarang lebah dan gerombolan serangga yang menyerang dari segala arah. Ketika mereka hendak menghampiri tubuh Ashim yang telah menjadi mayat, serangga itu terbang menyeranga, menggigiti muka, mata, dan kening. Bahkan seluruh tubuh mereka luput dari gigitan, sehingga mereka tidak bisa mendekati jenazah Ashim.
Setelah mereka mencoba berulang-ulang menghampiri mayat Ashim, mereka selalu gagal, akhirnya menyerah. “Biarkanlah dahulu sampai malam. Biasanya bila hari telah malam, mereka terbang. Maka tinggallah mayat itu untuk kita,” kata seseorang.
Mereka kemudian duduk menunggu sampai malam. Namun ketika langit mulai gelap, tiba-tiba kilat dan petir menggelegar sambung-menyambung. Hujan pun turun dengan lebatnya bagai dicurahkan dari langit. Setahu mereka belum pernah terjadi hujan sedemikian lebat. Dengan cepat air mengalir dari tebing-tebing memenuhi sungai-sungai dan menutup permukaan lembah. Banjir besar segera datang melanda segala yang ada.
Setelah Subuh tiba, mereka bangkit kembali mencari tubuh Ashim di segala penjuru. Namun usaha mereka sia-sia, bahkan mereka tidak menemukan bekas-bekasnya. Rupanya banjir telah menghanyutkan mayat Ashim tanpa diketahui ke mana perginya.
Allah SWT memperkenankan doa Ashim bin Tsabit. Dia melindungi mayat Ashim yang suci, jangan sampai dijamah oleh tangan-tangan kotor orang-orang musyrik.
Sumber : Republika
© 2013 - RizzStudio
Salman al Farisi
Dari Abdullah bin Abbas Radhiallaahu 'anhu berkata, "Salman al-Farisi menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Dia berkata, 'Aku seorang lelaki Persia dari Isfahan, warga suatu desa bernama Jai. Ayahku adalah seorang tokoh masyarakat yang mengerti pertanian. Aku sendiri yang paling disayangi ayahku dari semua makhluk Allah. Karena sangat sayangnya aku tidak diperbolehkan keluar rumahnya, aku diminta senantiasa berada di samping perapian, aku seperti seorang budak saja.
Aku dilahirkan dan membaktikan diri di lingkungan Majusi, sehingga aku sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya api dan tidak membiarkannya padam.
Ayahku memiliki tanah perahan yang luas. Pada suatu hari beliau sibuk mengurus bangunan. Beliau berkata kepadaku, 'Wahai anakku, hari ini aku sibuk di bangunan, aku tidak sempat mengurus tanah, cobalah engkau pergi ke sana!' Beliau menyuruhku melakukan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.
Aku keluar menuju tanah ayahku. Dalam perjalanan aku melewati salah satu gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka yang sedang sembahyang. Aku sendiri tidak mengerti mengapa ayahku mengharuskan aku tinggal di dalam rumah saja (melarang aku keluar rumah).
Tatkala aku melewati gereja mereka, dan aku mendengar suara mereka sedang shalat maka aku masuk ke dalam gereja itu untuk mengetahui apa yang sedang mereka lakukan?
Begitu aku melihat mereka, aku kagum dengan shalat mereka, dan aku ingin mengetahui peribadatan mereka. Aku berkata dalam hati, 'Demi Allah, ini lebih baik dari agama yang kita anut selama ini.'
Demi Allah, aku tidak beranjak dari mereka sampai matahari terbenam. Aku tidak jadi pergi ke tanah milik ayahku. Aku bertanya kepada mereka, 'Dari mana asal usul agama ini?' Mereka menjawab, 'Dari Syam (Syiria).'
Kemudian aku pulang ke rumah ayahku. Padahal ayahku telah mengutus seseorang untuk mencariku. Sementara aku tidak mengerjakan tugas dari ayahku sama sekali. Maka ketika aku telah bertemu ayahku, beliau bertanya, 'Anakku, ke mana saja kamu pergi?
Bukankah aku telah berpesan kepadamu untuk mengerjakan apa yang aku perintahkan itu?' Aku menjawab, 'Ayah, aku lewat pada suatu kaum yang sedang sembahyang di dalam gereja, ketika aku melihat ajaran agama mereka aku kagum. Demi Allah, aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam.'
Ayahku menjawab, 'Wahai anakku, tidak ada kebaikan sedikitpun dalam agama itu. Agamamu dan agama ayahmu lebih bagus dari agama itu.' Aku membantah, 'Demi Allah, sekali-kali tidak! Agama itu lebih bagus dari agama kita.' Kemudian ayahku khawatir dengan diriku, sehingga beliau merantai kakiku, dan aku dipenjara di dalam rumahnya.
Suatu hari ada serombongan orang dari agama Nasrani diutus menemuiku, maka aku sampaikan kepada mereka, 'Jika ada rombongan dari Syiria terdiri dari para pedagang Nasrani, maka supaya aku diberitahu.' Aku juga meminta agar apabila para pedagang itu telah selesai urusannya dan akan kembali ke negrinya, memberiku izin bisa menemui mereka.
Ketika para pedagang itu hendak kembali ke negrinya, mereka memberitahu kepadaku. Kemudian rantai besi yang mengikat kakiku aku lepas, lantas aku pergi bersama mereka sehingga aku tiba di Syiria.
Sesampainya aku di Syiria, aku bertanya, 'Siapakah orang yang ahli agama di sini?' Mereka menjawab, 'Uskup (pendeta) yang tinggal di gereja.' Kemudian aku menemuinya. Kemudian aku berkata kepada pendeta itu, 'Aku sangat mencintai agama ini, dan aku ingin tinggal bersamamu, aku akan membantumu di gerejamu, agar aku dapat belajar denganmu dan sembahyang bersama-sama kamu.' Pendeta itu menjawab, 'Silahkan.'
Maka akupun tinggal bersamanya.
Ternyata pendeta itu seorang yang jahat, dia menyuruh dan menganjurkan umat untuk bersedekah, namun setelah sedekah itu terkumpul dan diserahkan kepadanya, ia menyimpan sedekah tersebut untuk dirinya sendiri, tidak diberikan kepada orang-orang miskin, sehingga terkumpullah 7 peti emas dan perak.
Aku sangat benci perbuatan pendeta itu. Kemudian dia meninggal. Orang-orang Nasrani pun berkumpul untuk mengebumikannya. Ketika itu aku sampaikan kepada khalayak, 'Sebenarnya, pendeta ini adalah seorang yang berperangai buruk, menyuruh dan menganjurkan kalian untuk bersedekah. Tetapi jika sedekah itu telah terkumpul, dia menyimpannya untuk dirinya sendiri, tidak memberikannya kepada orang-orang miskin barang sedikitpun.'
Mereka pun mempertanyakan apa yang aku sampaikan, 'Apa buktinya bahwa kamu mengetahui akan hal itu?' Aku menjawab, 'Marilah aku tunjukkan kepada kalian simpanannya itu.' Mereka berkata, Baik, tunjukkan simpanan tersebut kepada kami.'
Lalu Aku memperlihatkan tempat penyimpanan sedekah itu. Kemudian mereka mengeluarkan sebanyak 7 peti yang penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka menyaksikan betapa banyaknya simpanan pendeta itu, mereka berkata, 'Demi Allah, selamanya kami tidak akan menguburnya.' Kemudian mereka menyalib pendeta itu pada tiang dan melempari jasadnya dengan batu.
Kemudian mereka mengangkat orang lain sebagai penggantinya. Aku tidak pernah melihat seseorang yang tidak mengerjakan shalat lima waktu (bukan seorang muslim) yang lebih bagus dari dia, dia sangat zuhud, sangat mencintai akhirat, dan selalu beribadah siang malam. Maka aku pun sangat mencintainya dengan cinta yang tidak pernah aku berikan kepada selainnya. Aku tinggal bersamanya beberapa waktu.
Kemudian ketika kematiannya menjelang, aku berkata kepadanya, 'Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersamamu, dan aku sangat mencintaimu, belum pernah ada seorangpun yang aku cintai seperti cintaku kepadamu, padahal sebagaimana kamu lihat, telah menghampirimu saat berlakunya taqdir Allah, kepada siapakah aku ini engkau wasiatkan, apa yang engkau perintahkan kepadaku?'
Orang itu berkata, 'Wahai anakku, demi Allah, sekarang ini aku sudah tidak tahu lagi siapa yang mempunyai keyakinan seperti aku.
Orang-orang yang aku kenal telah mati, dan masyarakatpun mengganti ajaran yang benar dan meninggalkannya sebagiannya, kecuali seorang yang tinggal di Mosul (kota di Irak), yakni Fulan, dia memegang keyakinan seperti aku ini, temuilah ia di sana!'
Lalu tatkala ia telah wafat, aku berangkat untuk menemui seseorang di Mosul. Aku berkata, 'Wahai Fulan, sesungguhnya si Fulan telah mewasiatkan kepadaku menjelang kematiannya agar aku menemuimu, dia memberitahuku bahwa engkau memiliki keyakinan sebagaimana dia.'
Kemudian orang yang kutemui itu berkata, 'Silahkan tinggal bersamaku. Aku pun hidup bersamanya.' Aku dapati ia sangat baik sebagaimana yang diterangkan Si Fulan kepadaku. Namun ia pun dihampiri kematian. Dan ketika kematian menjelang, aku bertanya kepadanya, 'Wahai Fulan, ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepadamu dan agar aku menemuimu, kini taqdir Allah akan berlaku atasmu sebagaimana engkau maklumi, oleh karena itu kepada siapakah aku ini hendak engkau wasiatkan? Dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?'
Orang itu berkata, 'Wahai anakku, Demi Allah, tak ada seorangpun sepengetahuanku yang seperti aku kecuali seorang di Nashibin (kota di Aljazair), yakni Fulan. Temuilah ia!'
Maka setelah beliau wafat, aku menemui seseorang yang di Nashibin itu. Setelah aku bertemu dengannya, aku menceritakan keadaanku dan apa yang di perintahkan si Fulan kepadaku.
Orang itu berkata, 'Silahkan tinggal bersamaku.' Sekarang aku mulai hidup bersamanya. Aku dapati ia benar-benar seperti si Fulan yang aku pernah hidup bersamanya. Aku tinggal bersama seseorang yang sangat baik.
Namun, kematian hampir datang menjemputnya. Dan di ambang kematiannya aku berkata, 'Wahai Fulan, Ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepada Fulan, dan kemarin Fulan mewasiatkan aku kepadamu? Sepeninggalmu nanti, kepada siapakah aku akan engkau wasiatkan? Dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?'
Orang itu berkata, 'Wahai anakku, Demi Allah, tidak ada seorangpun yang aku kenal sehingga aku perintahkan kamu untuk mendatanginya kecuali seseorang yang tinggal di Amuria (kota di Romawi). Orang itu menganut keyakinan sebagaimana yang kita anut, jika kamu berkenan, silahkan mendatanginya. Dia pun menganut sebagaimana yang selama ini kami pegang.'
Setelah seseorang yang baik itu meninggal dunia, aku pergi menuju Amuria. Aku menceritakan perihal keadaanku kepadanya. Dia berkata, 'Silahkan tinggal bersamaku.'
Akupun hidup bersama seseorang yang ditunjuk oleh kawannya yang sekeyakinan.
Di tempat orang itu, aku bekerja, sehingga aku memiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Kemudian taqdir Allah pun berlaku untuknya. Ketika itu aku berkata, 'Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersama si Fulan, kemudian dia mewasiatkan aku untuk menemui Si Fulan, kemudian Si Fulan juga mewasiatkan aku agar menemui Fulan, kemudian Fulan mewasiatkan aku untuk menemuimu, sekarang kepada siapakah aku ini akan engkau wasiatkan?dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?'
Orang itu berkata, 'Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui seorangpun yang akan aku perintahkan kamu untuk mendatanginya. Akan tetapi telah hampir tiba waktu munculnya seorang nabi, dia diutus dengan membawa ajaran nabi Ibrahim. Nabi itu akan keluar diusir dari suatu tempat di Arab kemudian berhijrah menuju daerah antara dua perbukitan. Di antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Pada diri nabi itu terdapat tanda-tanda yang tidak dapat disembunyikan, dia mau makan hadiah tetapi tidak mau menerima sedekah, di antara kedua bahunya terdapat tanda cincin kenabian. Jika engkau bisa menuju daerah itu, berangkatlah ke sana!'
Kemudian orang inipun meninggal dunia. Dan sepeninggalnya, aku masih tinggal di Amuria sesuai dengan yang dikehendaki Allah.
Pada suatu hari, lewat di hadapanku serombongan orang dari Kalb, mereka adalah pedagang. Aku berkata kepada para pedagang itu, 'Bisakah kalian membawaku menuju tanah Arab dengan imbalan sapi dan kambing-kambingku?' Mereka menjawab, 'Ya.' Lalu aku memberikan ternakku kepada mereka.
Mereka membawaku, namun ketika tiba di Wadil Qura, mereka menzha-limiku, dengan menjualku sebagai budak ke tangan seorang Yahudi.
Kini aku tinggal di tempat seorang Yahudi. Aku melihat pohon-pohon kurma, aku berharap, mudah-mudahan ini daerah sebagaimana yang disebutkan si Fulan kepadaku. Aku tidak biasa hidup bebas.
Ketika aku berada di samping orang Yahudi itu, keponakannya datang dari Madinah dari Bani Quraidzah. Ia membeliku darinya. Kemudian membawaku ke Madinah. Begitu aku tiba di Madinah aku segera tahu berdasarkan apa yang disebutkan si Fulan kepadaku. Sekarang aku tinggal di Madinah.
Allah mengutus seorang RasulNya, dia telah tinggal di Makkah beberapa lama, yang aku sendiri tidak pernah mendengar ceritanya karena kesibukanku sebagai seorang budak. Kemudian Rasul itu berhijrah ke Madinah. Demi Allah, ketika aku berada di puncak pohon kurma majikanku karena aku bekerja di perkebunan, sementara majikanku duduk, tiba-tiba salah seorang keponakannya datang menghampiri, kemudian berkata, 'Fulan,
Celakalah Bani Qailah (suku Aus dan Khazraj). Mereka kini sedang berkumpul di Quba’ menyambut seseorang yang datang dari Makkah pada hari ini. Mereka percaya bahwa orang itu Nabi.'
Tatkala aku mendengar pembicaraannya, aku gemetar sehingga aku khawatir jatuh menimpa majikanku. Kemudian aku turun dari pohon, dan bertanya kepada keponakan majikanku, 'Apa tadi yang engkau katakan? Apa tadi yang engkau katakan?' Majikanku sangat marah, dia memukulku dengan pukulan keras. Kemudian berkata, 'Apa urusanmu menanyakan hal ini, Lanjutkan pekerjaanmu.'
Aku menjawab, 'Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin mencari kejelasan terhadap apa yang dikatakan. Padahal sebenarnya saya telah memiliki beberapa informasi mengenai akan diutusnya seorang nabi itu.'
Pada sore hari, aku mengambil sejumlah bekal kemudian aku menuju Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang berada di Quba, lalu aku menemui beliau. Aku berkata, 'Telah sampai kepadaku kabar bahwasanya engkau adalah seorang yang shalih, engkau memiliki beberapa orang sahabat yang dianggap asing dan miskin. Aku membawa sedikit sedekah, dan menurutku kalian lebih berhak menerima sedekahku ini daripada orang lain.'
Aku pun menyerahkan sedekah tersebut kepada beliau, kemudian Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, 'Silahkan kalian makan, sementara beliau tidak menyentuh sedekah itu dan tidak memakannya. Aku berkata, 'Ini satu tanda kenabiannya.'
Aku pulang meninggalkan beliau untuk mengumpulkan sesuatu. Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam pun berpindah ke Madinah. Kemudian pada suatu hari, aku mendatangi beliau sambil berkata, 'Aku memperhatikanmu tidak memakan pemberian berupa sedekah, sedangkan ini merupakan hadiah sebagai penghormatanku kepada engkau.'
Kemudian Rasulullah makan sebagian dari hadiah pemberianku dan memerintahkan para sahabat untuk memakannya, mereka pun makan hadiahku itu. Aku berkata dalam hati, 'Inilah tanda kenabian yang kedua.'
Selanjutnya aku menemui beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam saat beliau berada di kuburan Baqi' al-Gharqad, beliau sedang mengantarkan jenazah salah seorang sahabat, beliau mengenakan dua lembar kain, ketika itu beliau sedang duduk di antara para sahabat, aku mengucapkan salam kepada beliau. Kemudian aku berputar memperhatikan punggung beliau, adakah aku akan melihat cincin yang disebutkan Si Fulan kepadaku.
Pada saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melihatku sedang memperhatikan beliau, beliau mengetahui bahwa aku sedang mencari kejelasan tentang sesuatu ciri kenabian yang disebutkan salah seorang kawanku. Kemudian beliau melepas kain selendang beliau dari punggung, aku berhasil melihat tanda cincin kenabian dan aku yakin bahwa beliau adalah seorang Nabi. Maka aku telungkup di hadapan beliau dan memeluknya seraya menangis.
Rasulullah bersabda kepadaku, 'Geserlah kemari,' maka akupun bergeser dan menceritakan perihal keadaanku sebagaimana yang aku ceritakan kepadamu ini wahai Ibnu Abbas. Kemudian para sahabat takjub kepada Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam ketika mendengar cerita perjalanan hidupku itu."
Salman sibuk bekerja sebagai budak. Dan perbudakan inilah yang menyebabkan Salman terhalang mengikuti perang Badar dan Uhud. "Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam suatu hari bersabda kepadaku, 'Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman!' Maka majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus aku tanam untuknya dan 40 uqiyah.
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salllam mengumpulkan para sahabat dan bersabda, 'Berilah bantuan kepada saudara kalian ini.' Mereka pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seorang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, masing-masing sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.
Setelah terkumpul Rasulullah bersabda kepadaku, 'Berangkatlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletakkannya di tanganku.' Aku pun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salllam dan memberitahukan perihalku. Kemudian Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu kepada beliau dan Rasulullah pun meletakkannya di tangan beliau. Maka, demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, tidak ada sebatang pohon pun yang mati.
Untuk tebusan pohon kurma sudah terpenuhi, aku masih mempunyai tanggungan uang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salllam membawa emas sebesar telur ayam hasil dari rampasan perang. Lantas beliau bersabda, 'Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?' Kemudian aku dipanggil beliau, lalu beliau bersabda, 'Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu wahai Salman!'
Wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salllam, bagaimana status emas ini bagiku? Rasulullah menjawab, 'Ambil saja! Insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberi kebaikan kepadanya.' Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, berat ukuran emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku, dan aku dimerdekakan.
Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak aku ikuti." [1]
PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK:
1. Di antara hasil/buah mentaati kedua orang tua adalah dicintai orang.
2. Masuk penjara, cekal, rantai adalah cara musuh Islam menghalangi kaum muslimin dalam menegakkan agama Allah.
3. Jika gigih memperjuangkan keimanan maka urusan dunia terasa ringan.
4. Berpegang pada keimanan lebih kokoh dari seluruh rayuan.
5. Hendaknya seorang mukmin senantiasa siap mental menghadapi segala kemungkinan.
6. Terkadang orang-orang jahat mengenakan pakaian/menampakkan diri sebagai orang baik-baik.
7. Jalan mencapai ilmu tidak bisa ditempuh melainkan dengan senantiasa dekat dengan orang yang berilmu.
8. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah memberikan jalan keluar dari problematika hidupnya.
9. Takaran keimanan seseorang adalah mencintai dan membenci karena Allah.
10. Di antara akhlak terpuji para nabi adalah mau mendengarkan seseorang yang sedang berbicara dengan baik.
11. Seorang pemimpin hendaknya senantiasa memantau kondisi bawahannya.
12. Diperbolehkan membeli budak dari tawanan perang, menghadiahkan dan memerdekakannya.
13. Saling tolong menolong adalah gambaran dari wujud hidup bermasyarakat
Sumber : Alsofwah
© 2013 - RizzStudio
Kisah Al-Adhba', Unta Rasulullah
Diriwayatkan dari Imran bin Hushain Radhiyallaahu 'anhu dia berkata, "Seorang lelaki dari Bani Aqil mempunyai seekor unta bernama al-‘Adhba’, dia termasuk unta yang gesit.
Suatu ketika lelaki pemilik unta ini ditawan begitu juga untanya. Kemudian Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam lewat di hadapannya melihat ia dalam keadaan terikat, ketika itu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam mengendarai keledai yang di atasnya terdapat kain beludru.
Pemilik unta itu bertanya, 'Wahai Muhammad, atas dasar apa engkau menawan aku dan mengambil untaku?' Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Kami menangkapmu karena dosa sekutumu, kabilah Tsaqif.’
Pada saat itu, kabilah Tsaqif telah menangkap dua orang sahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Terdapat suatu riwayat pula bahwa lelaki pemilik unta itu berkata, 'Aku telah masuk Islam.' Maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam pun berkomentar, 'Jika engkau benar berkata demikian dan seluruh urusanmu berada dalam kekuasaanmu, maka engkau benar-benar beruntung!'
Kemudian Rasulullah Shallallaahu a'alihi wa sallam meninggalkannya, namun ia berkata, 'Wahai Muhammad, aku lapar dan haus, berilah aku makanan dan minuman!' Lalu Rasulullah bersabda, 'Inilah kebu-tuhanmu!' Kemudian ia ditebus dengan dua orang sahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam.
Hanya saja Rasulullah Shallallaahu a'alihi wa sallam tetap menahan al-Adhba’ unta milik orang itu.
Suatu ketika orang-orang musyrik menyerbu dari ketinggian kota Madinah dan berhasil membawa lari al-Adhba’, mereka juga menawan seorang wanita muslimah, Dan jika mereka turun dari bukit itu, mereka melepaskan unta-unta mereka.
Pada suatu malam seorang wanita muslimah tersebut bangun saat semua kawannya tertidur pulas. Setiap kali dia mendekati unta, selalu saja unta itu berteriak. Maka ia pun mendekati al-Adhba', perempuan itu berhasil menundukkan unta ini lalu ia menungganginya dan membawa lari ke arah Madinah.
Perempuan ini bernadzar, sekiranya Allah menyelamatkan dirinya dengan naik unta tersebut, ia akan menyembelih unta yang ditunggangi itu. Tetapi setibanya di kota Madinah, orang-orang mengenali unta tersebut. Mereka berteriak, 'Itu unta Rasulullah Shallallaahu a'alihi wa sallam.’
Ada juga riwayat yang menyebutkan, 'Ada seseorang yang memberitahukan nadzar perempuan tersebut kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Ada juga yang mengatakan bahwa perempuan itu lalu mendatangi Rasulullah dan memberitahukan nadzarnya. Kemudian Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Alangkah buruknya balasanmu kepada unta ini. Atau, 'Alangkan buruknya balasannya!' -sekiranya Allah menyelamatkan perempuan itu, dia akan menyembelih unta (al-Adhba’)-'
Kemudian Rasulullah Shallallaahu a'alihi wa sallam bersabda, 'Tidak boleh melaksanakan nadzar berupa maksiat kepada Allah, dan tidak boleh melaksanakan nadzar terhadap harta yang tidak menjadi miliknya'." [1]
PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK:
1. Anjuran untuk memperlakukan tawanan dengan baik dan mengasihinya.
2. Menjelaskan tawadhu' Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan kasih sayangnya kepada orang lain.
3. Manusia menghukumi seseorang hanya berdasarkan yang dhahir, untuk yang batin diserahkan kepada Allah Ta'ala.
4. Seseorang ditawan karena dosa sekutu ataupun pengikut setianya.
5. Keislaman seseorang setelah ia menjadi tawanan tidak berarti membebaskannya dari status budak.
6. Keberanian seorang wanita dan kecanggihan strategi yang disusunnya.
7. Tidak boleh melaksanakan nadzar jika berupa maksiat kepada Allah Ta'ala.
8. Tidak boleh melaksanakan nadzar terhadap harta yang tidak menjadi miliknya.
9. Tidak selayaknya seorang mukmin yang mendapat perlakuan baik, membalas dengan keburukan, sekalipun kepada binatang.
___________________
[1] HR. Ahmad, 40/430; Muslim, 1641; Abu Dawud, 3316.
[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, edisi bahasa Indonesia: "61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat", pent. Pustaka Darul Haq, Jakarta]
Sumber : Alsofwah
© 2013 - RizzStudio
Fitnah Terhadap 'Aisyah
Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallaahu 'anha bahwa ketika orang-orang menuduhnya berbuat serong, kemudian Allah membersihkan tuduhan tersebut melalui wahyuNya. Az-Zuhri berkata, "Masing-masing mereka menyampaikan hadits kepadaku tentang hadits Aisyah ini, hanya saja sebagian ada yang lebih berbobot, kemudian saya mencari hadits yang paling kuat tentang kisah ini, sekalipun antara hadits yang satu dengan yang lain saling menguatkan, mereka yakin bahwa Aisyah berkata, 'Biasanya apabila Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hendak melakukan suatu perjalanan jauh, beliau mengadakan undian di antara para istri beliau. Siapa di antara mereka yang terpilih dalam undian tersebut dialah yang akan turut serta mendampingi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.'
Pada suatu ketika, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengundi kami untuk ikut mendampingi beliau dalam suatu peperangan yang dipimpin beliau sendiri. Aku beruntung karena akulah yang keluar sebagai pemenang. Maka akulah yang berhak pergi bersama beliau. Peristiwa ini terjadi setelah turunnya ayat hijab (menutup muka) lalu aku dinaikkan ke dalam sebuah sekedup dan diturunkan dalam setiap perhentian.
Setelah selesai perang, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan rombongan pulang kembali ke Madinah. Hampir sampai di Madinah, beliau memberi izin seluruh pasukan untuk istirahat malam. Ketika istirahat itu, aku keluar dari sekedup dan berjalan menjauhi pasukan untuk buang hajat.
Setelah selesai buang hajat, aku segera kembali ke pasukan. Ketika aku meraba dadaku, terasa kalungku yang terbuat dari permata zhafar telah putus. Karena itu aku kembali mencari kalungku sehingga aku terlambat pulang ke pasukan.
Para pengawal yang bertugas menjagaku selama dalam perjalanan telah mengangkat sekedupku dan menaikkannya ke punggung unta yang kukendarai (tanpa memeriksa lebih dahulu apakah aku ada di dalam atau tidak) lalu mereka berangkat. Mereka menyangka bahwa aku berada dalam sekedup. Ketika itu, berat badan kaum wanita sangat ringan, tidak gemuk atau bertumpuk lemak, karena hanya sedikit makan. Sehingga kalaupun aku berada di dalam sekedup, para pengawal tidak akan merasa lebih berat bila mengangkat sekedup itu. Dan ketika itu aku masih merupakan wanita muda usia. Mereka terus berjalan menggiring untaku (tanpa aku).
Aku mendapatkan kalungku kembali setelah pasukan ber-jalan agak jauh. Ketika aku tiba di tempat peristirahatan, aku dapati di sana telah sepi. Aku memutuskan untuk tetap menunggu di tempatku semula.
Karena aku berpendapat, bila rombongan tidak menemukanku tentu mereka akan kembali mencariku.
Ketika aku duduk menunggu mereka di tempat itu, aku mengantuk dan tertidur. Kebetulan Shafwan bin Mu’aththal as Sulami Zakwani yang berjalan di belakang pasukan sampai di tempatku menunggu.
Ketika itu, dia melihat sosok tubuh yang sedang tidur, dia menghampiri dan mengenaliku. Dia memang sudah pernah melihatku sebelum ayat hijab turun. Aku terbangun ketika dia dengan terkejut mengucapkan kalimah istirja’ (Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un). Dia segera menyuruh untanya merunduk, dan aku disilahkannya menaiki kendaraan itu. Sedangkan dia sendiri berjalan kaki menuntun unta sampai dapat menyusul pasukan yang di depan, sesudah mereka berhenti istirahat dari terik panas tengah hari.
Tetapi sungguh celaka, orang yang sengaja membuat fitnah terhadap diriku mengenai berita bohong itu, yang diprakarsai oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.
Setelah kami sampai di Madinah, aku jatuh sakit selama sebulan. Sementara itu dalam masyarakat telah meluas kabar bohong mengenai diriku. Tetapi ada satu hal yang membuat aku bimbang ialah sikap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak memperlihatkan kasih sayang seperti biasanya kalau aku sedang sakit. Beliau hanya datang menengokku, setelah memberi salam beliau ber-tanya, 'Bagaimana keadaanmu?'Aku tidak mengetahui sama sekali berita heboh mengenai diriku, sampai pada suatu hari setelah aku agak sembuh, aku pergi bersama Ummu Misthah ke suatu tempat untuk buang hajat. Dan kami tidak pergi ke sana kecuali hanya malam hari saja. Yang demikian itu ialah sebelum kami membuat tempat tertutup di sekitar rumah kami.
Memang sudah menjadi kebiasaan orang Arab pada masa lalu, kalau buang hajat pergi ke suatu tempat yang lapang.
Kemudian aku pulang dengan berjalan kaki bersama Ummu Misthah binti Abu Ruhm, tiba-tiba ia tersandung sandalnya, lalu menyumpahi dirinya, 'Celaka si Misthah!' Maka aku menegur, 'Alangkah jeleknya perkataanmu, Apakah engkau memaki orang yang turut serta dalam perang Badar?' Dia berkata, 'Alangkah bodohnya engkau, apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan mereka?'
Kemudian dia menceritakan kepadaku (omongan tukang-tukang fitnah yang memburuk-burukkan diriku). Semenjak itu, sakitku bertambah parah. Setelah aku sampai di rumahku, Rasulullah masuk ke kamar dan memberi salam sambil bertanya, 'Bagaimana keadaanmu?' Kemudian aku meminta kepada beliau, 'Izinkan aku pulang ke rumah orang tuaku.'
Ketika itu, aku ingin menanyakan kepada kedua orang tuaku mengenai kebenaran berita. Ternyata Rasulullah mengizinkanku. Lalu aku pulang ke rumah orang tuaku dan menanyakan kepada ibuku berita yang dipercakapkan orang mengenai diriku?
Ibuku menjawab, 'Wahai anakku! Janganlah engkau pedulikan hal itu. Demi Allah sesungguhnya tidak ada perempuan cantik di samping laki-laki yang mengasihinya dan ia mempunyai banyak madu melainkan akan diomongi orang. Aku mengucapkan, 'Subhanallah! Kalau begitu memang benarlah kiranya banyak orang membicarakan hal ini!' ujarku. Malam itu, aku menginap di sana dan air mataku mengalir tak dapat ditahan dan aku tak dapat tidur karenanya hingga subuh.
Sementara itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid karena waktu itu wahyu terhenti, untuk bermusyawah mengenai perpisahannya dengan istrinya. Adapun Usamah menyatakan bahwa dia tahu benar para istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka semuanya mencintainya. Usamah berkata, 'Para istri anda wahai Rasulullah, kami yakin benar bahwa semuanya adalah para istri yang baik.'
Sedangkan Ali bin Abi Thalib berkata, 'Wahai Rasulullah, Allah tidak akan mempersulit anda. Masih banyak wanita selain dia, jika anda menghendaki seorang gadis, tidak seorangpun yang akan menolak anda.'
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil Barirah -pembantu rumah tangga Aisyah-, lalu beliau bertanya, 'Hai Barirah, adakah engkau melihat sesuatu yang mencurigakan pada Aisyah?' Barirah menjawab, 'Tidak, demi Allah yang mengutusmu dengan agama yang benar. Sungguh aku tidak melihat sedikitpun yang mencemarkan dirinya, selain hanya dia itu seorang wanita muda yang manja, yang pergi tidur meninggalkan adonan roti lalu datang hewan peliharaannya memakan adonan itu.'
Hari itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri berkhutbah, menyatakan keberatannya terhadap tuduhan yang diprakarsai Abdullah bin Ubbay bin Salul.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Siapakah di antara kalian yang setuju dengan penolakanku atas tuduhan yang telah mencemarkan nama baik keluargaku? Demi Allah! Aku yakin keluargaku bersih dari tuduhan kotor yang tidak benar itu. Mereka juga telah menyebut-nyebut seorang lelaki yang aku yakin bahwa orang itu baik. Dia tidak pernah masuk ke rumahku kecuali bersamaku.'
Maka Sa’ad bin Muadz berdiri lalu berkata, 'Wahai Rasulullah! Demi Allah, saya membela anda dalam masalah ini. Jika tuduhan itu datang dari Suku Aus, kami penggal lehernya. Dan jika datangnya dari saudara-saudara kami suku Khazraj, kami menunggu perintah anda, apa yang anda perintahkan, segera kami laksanakan.'
Sa’ad bin Ubadah lalu berdiri. Dia pemimpin Khazraj dan orang shalih tetapi diperdayakan oleh rasa kesukuan. Lalu dia berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz, 'Demi Allah! Engkau bohong! Engkau tidak boleh membunuhnya dan engkau memang tidak sanggup melakukannya.'
Usaid bin Hudhair berdiri dan berkata, 'Demi Allah, engkaulah yang bohong, kapan saja dan di mana saja kami sanggup membunuhnya. Sebenarnya engkau munafik karena membela orang-orang munafik.'
Pertengkaran antara dua suku Aus dan Khazraj itu menjadi hangat, sehingga hampir terjadi perkelahian antara mereka. Tetapi Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam yang ketika itu berada di atas mimbar, turun untuk menenangkan mereka, sehingga mereka diam dan Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam pun diam.
Aisyah berkata, 'Seharian kerjaku menangis, air mataku tidak putus-putusnya dan aku tidak pernah bisa tidur. Pagi harinya ibu bapakku berada di sisiku. Sementara aku telah menangis sehari dua malam, hingga seakan-akan tangisku itu mengiris hatiku. Ketika keduanya sedang duduk di sisiku, sementara aku terus menangis, tiba-tiba datang perempuan Anshar minta izin masuk, lalu aku izinkan. Iapun duduk sambil menangis bersamaku.
Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk dan duduk. Semenjak berita bohong itu tersiar, beliau tidak pernah duduk di sampingku. Dan sudah satu bulan, beliau tidak menerima wahyu mengenai keadaanku.
Nabi mengucapkan syahadat kemudian beliau bersabda, 'Wahai Aisyah! Telah sampai kepadaku berita mengenai dirimu begini, begini. Kalau engkau bersih dari tuduhan itu, maka Allah Ta'ala akan membebaskanmu. Tetapi kalau engkau berbuat dosa maka mohonlah ampunan kepada Allah dan tobatlah kepada-Nya. Karena apabila seorang hamba sadar mengakui dosanya, kemudian ia bertaubat, niscaya Allah menerima taubatnya.'
Setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam selesai mengucapkan kata-kata itu, keringlah air mataku hingga tiada terasa setetespun. Aku berkata kepada ayahku, 'Ayah, tolong ayah menjawab pertanyaan Rasulullah.' Ayahku menjawab, 'Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian aku meminta kepada Ibuku agar berkenan menjawab. Ibuku menjawab, 'Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.'
Maka terpaksa aku sendiri yang harus menjawabnya, 'Aku ini seorang wanita yang masih muda yang belum banyak mengetahui isi al-Qur’an. Demi Allah, sekarang aku telah tahu bahwa anda telah mendengar apa yang diperbincangkan orang banyak dan telah merasuk ke dalam hati anda, dan tampaknya anda seperti membenarkan berita itu. Walaupun aku mengatakan kepada anda bahwa aku bersih dari tuduhan itu. Demi Allah, hanya Allah saja Yang Mahatahu bahwa aku memang bersih, anda tentu tidak akan mempercayaiku juga. Dan seandainya aku mengatakan bahwa aku telah bersalah dan berbuat dosa, demi Allah, Dia jugalah Yang Maha Mengetahui bahwa aku bersih, tentu anda akan mempercayainya. Demi Allah, aku tidak memperoleh sebuah contoh pun yang paling tepat mengenai peristiwa ini, selain perkataan yang diucapkan oleh Nabi Ya’qub ayah Nabi Yusuf, dia berkata, 'Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu ceritakan.' (Yusuf :18).
Kemudian aku berpaling dan pindah ke tempat tidurku, sambil mengharapkan pertolongan dari Allah. Tetapi demi Allah, saya benar-benar tidak mengira bahwa akan turun wahyu mengenai permasalahanku. Hal ini, karena kasus itu sangat cemar (aib) terasa olehku untuk disebutkan dalam al-Qur’an. Tetapi aku hanya berharap, semoga Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam melihat dalam mimpi beliau di mana Allah ta'ala memperlihatkan kepada beliau bahwa aku sungguh-sungguh bersih.
Maka, demi Allah, belum lagi Rasulullah meninggalkan tempat duduk beliau, dan belum ada seorangpun yang keluar dari rumah, Allah menurunkan wahyu. Terlihat Nabi seperti orang yang keberatan memikul beban yang sangat berat, sebagaimana biasanya apabila wahyu sedang diturunkan kepada beliau, sehingga beliau bersimbah peluh.
Ketika wahyu telah selesai turun kepada Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam, beliau tertawa. Kalimat yang mula-mula diucapkan beliau kepada saya adalah, 'Wahai Aisyah, bersyukurlah kepada Allah, sesungguhnya Dia telah membebaskanmu dari tuduhan itu.' Ibuku berkata kepadaku, 'Berdirilah engkau dan mintalah maaf kepada Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam! Jawabku, 'Tidak, demi Allah, aku tidak perlu meminta maaf kepada beliau. Aku hanya akan memuji Allah. Kemudian Allah menurunkan ayat, artinya, 'Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah golongan kamu juga.' (An-Nur: 11).
Setelah Allah menurunkan wahyu tentang terbebasnya aku dari tuduhan itu, Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, -Ketika itu beliau biasa memberi nafkah kepada Misthah bin Utsatsah, sebagai keluarga dekatnya- 'Demi Allah, aku tidak akan lagi memberikan bantuan kepada Misthah selama-lamanya. Karena Misthah salah satu orang yang suka membeberkan masalah ini.' Maka turun pula wahyu yang melarang penghentian bantuan tersebut, artinya, 'Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' (An-Nur: 22).
Kemudian Abu bakar berkata, 'Ya, demi Allah, aku lebih senang sekiranya Allah mengampuniku.' Lalu Abu Bakar kembali memberi uang belanja kepada Misthah sebagaimana biasanya.
Begitu juga, ketika itu Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam menanyakan permasalahanku ini kepada Zainab binti Jahsy. Beliau bersabda, 'Wahai Zainab, apa yang engkau ketahui selama ini tentang Aisyah?' Zainab menjawab, 'Aku pelihara pendengaran dan penglihatanku, demi Allah, aku tidak mengetahuinya, selain ia adalah wanita yang baik.'
Dialah wanita yang meninggikan derajatku, sehingga Allah melimpahkan karunia sifat wara’ kepadanya.
PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK:
1. Anjuran untuk menggilir istri bagi seorang suami yang memiliki beberapa orang istri.
2. Diperbolehkan menceritakan keutamaan atau kelebihan seseorang sekalipun nanti ada yang memuji atau mencelanya. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan praduga yang bersifat buruk pada seseorang jika pada dasarnya ia memang orang yang baik dan untuk menasehati orang yang menyangsikan kebaikannya.
3. Diperbolehkan menyusun persiapan ucapan sebelum berlangsung pembicaraan jika memang diperlukan.
4. Sekedup berfungsi sebagaimana rumah yang dapat digunakan seorang wanita untuk menutupi auratnya.
5. Diperbolehkan seorang wanita berada dalam sekedup di atas unta sekalipun mempersulit dan melelahkannya.
6. Diperbolehkan orang yang bukan mahram bagi seorang wanita untuk membantunya dari balik hijab.
7. Seorang wanita diperbolehkan berhijab tidak dengan sesuatu yang harus menempel dengan badannya.
8. Diperbolehkan seorang wanita keluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya seorang diri dan tanpa izin secara khusus dari suaminya tetapi dengan berdasarkan izin suami yang secara umum karena kebiasaan yang berlaku.
9. Seorang wanita dalam perjalanan dibolehkan memakai perhiasan seperti kalung dan lainnya, atau menyimpan/mem-bawa uang sekalipun sedikit supaya tidak menghambur-ham-burkan uang
10. Keburukan yang ditimbulkan sifat tamak dalam harta kekayaan, sebab sekiranya Aisyah tidak menghabiskan waktu yang cukup lama dalam mencari kalungnya yang hilang tentu akan cepat kembali setelah menunaikan hajatnya.
11. Diperbolehkan pasukan tentara menghentikan perjalanan atas izin pemimpinnya.
12. Pembagian tugas pasukan perang; ada yang bertugas sebagai penjaga keamanan, membantu dan mengangkat orang lemah, meneliti barang yang hilang atau jatuh di perjalanan.
13. Anjuran mengucapkan Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un pada saat ditimpa musibah.
14. Anjuran seorang wanita agar menutup wajahnya dari pandangan lelaki yang bukan mahram.
15. Anjuran untuk menolong seseorang yang didzalimi, memberi makan orang yang kehabisan bekal, membantu orang yang kehilangan barang, menghormati orang yang mulia dan mempunyai kedudukan di masyarakat, mempersilahkan orang lain ikut serta naik dalam kendaraannya dan menanggung penderitaan orang lain.
16. Memperlakukan wanita dengan baik sekalipun bukan mahramnya terlebih lagi saat berkhalwat.
17. Bersikap lemah lembut terhadap istri, menggaulinya dengan baik, dan memberi maaf atas kekurangannya dan hendaknya tidak menyebar luaskan rahasia kehidupan rumah tangganya.
18. Hendaknya seorang wanita jika ingin keluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya ditemani salah seorang keluarganya yang dirasa mampu menjaga kehormatannya.
19. Hendaknya seorang muslim membela muslim lainnya terutama kepada orang-orang yang mempunyai keutamaan, dan hendaknya menghalangi orang-orang yang akan menyakiti mereka.
20. Menerangkan keutamaan orang-orang yang ikut serta dalam perang Badar.
21. Larangan mencela orang lain, atau menyumpahinya atau mencelakakannya dengan ucapan.
22. Bertabayyun terhadap kabar buruk.
23. Anjuran untuk bertasbih saat mendengar suatu yang dianggap sebagai kebohongan.
24. Keterikatan seorang wanita jika ingin keluar rumah yakni setelah mendapat izin suaminya, sekalipun ke rumah kedua orangtuanya.
25. Anjuran untuk meminta pendapat kepada orang-orang yang memahami suatu urusan dalam lingkungan keluarganya.
26. Ketika memberikan rekomendasi (tazkiyah) kepada seseorang hendaknya menggunakan kalimat, 'Kami tidak mengetahuinya kecuali selalu baik.'
27. Harus mantap saat memberikan kesaksian.
28. Ta’ashub dengan kelompok yang batil tidak termasuk usaha mendamaikan yang bersengketa.
29. Hendaknya menyudahi/mengakhiri suatu petengkaran dan memupus tersebarnya fitnah.
30. Anjuran untuk menjauhi seseorang yang nyata-nyata menentang Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam sekalipun dia termasuk keluarga dekat kita.
31. Barangsiapa menyakiti Nabi shallallohu 'alaihi wasallam dengan ucapan maupun perbuatan maka ia berhak untuk dibunuh.
32. Memulai pembicaraan dengan Tasyahud, Tahmid dan memuji-muji Allah dan diakhiri dengan ucapan, Amma ba’du.
33. Anjuran untuk bertaubat. Taubat seseorang yang tulus dan mengakui kesalahannya pasti diijabah.
34. Anjuran untuk mendahulukan orang tua untuk berbicara
35. Anjuran kepada orang yang baru saja mendapat nikmat atau dicabut musibahnya untuk menceritakan kepada orang lain.
36. Anjuran bertasbih saat takjub atau mendengar sesuatu yang berat.
37. Larangan berghibah maupun mendengarkannya dan memperingatkan orang yang senang tenggelam di dalam ghibah tersebut.
38. Anjuran untuk menunda jatuhnya suatu sangsi jika diragukan keterlibatannya.
39. Memperlakukan wanita secara adil.
[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, edisi bahasa Indonesia: "61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat", pent. Pustaka Darul Haq, Jakarta]
Sumber : Alsofwah
© 2013 - RizzStudio
Rasulullah Menceritakan Keadaan Hari Kiamat Pada Sahabat
Dari Abu Said al-Khudri bahwasanya pada suatu hari orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah dapatkah kita kelak di hari kiamat melihat Tuhan?' Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Ya. Apakah kalian terhalang melihat matahari di siang yang cerah, tanpa mendung? Apakah kalian terhalang melihat bulan pada malam purnama yang terang benderang, tanpa awan?" Para sahabat menjawab, "Tidak, ya Rasulullah." Nabi melanjutkan, "Sungguh, tidak terhalang melihat Allah ta'ala kelak di hari kiamat sebagaimana tidak terhalang melihat salah satu di antara keduanya.
Jika terjadi kiamat, ada seseorang yang menyeru, 'Hendaklah setiap umat mengikuti kepada siapa yang disembahnya. Sehingga tidak tersisa seorangpun yang menyembah selain Allah Ta'ala seperti para penyembah patung dan berhala melainkan berjatuhan ke dalam neraka. Sesudah itu, tidak tersisa lagi kecuali para penyembah Allah dari orang-orang baik dan orang-orang durhaka, dan sisa-sisa Ahli Kitab
Kemudian dipanggil orang-orang Yahudi dan ditanyakan, 'Apa yang kalian sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah Uzair anak Allah.' Maka dijawab, 'Kalian berdusta. Tidak pernah Allah menjadikan pendamping dan anak bagiNya. Maka apakah yang kalian inginkan?'
Mereka menjawab, 'Kami haus wahai Tuhan kami, maka berilah kami minum.' Kemudian diberikan isyarat kepada mereka dan dikatakan, 'Mengapa kalian tidak menuju ke sana?' Kemudian mereka digiring ke neraka, seolah-olah ia fatamorgana yang sebagiannya menghancurkan sebagian yang lain. Mereka pun berjatuhan ke dalam neraka.
Kemudian dipanggil orang-orang Nashrani dan ditanyakan, 'Apa yang kalian sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah al-Masih anak Allah.' Maka dijawab, 'Kalian berdusta. Tidak pernah Allah menjadikan pendamping dan anak bagiNya.' Kemudian ditanyakan, 'Apakah yang kalian inginkan?' Mereka menjawab, 'Wahai Tuhan kami, kami haus, oleh karena itu berilah kami minum.' Kemudian diberikan isyarat kepada mereka dan dikatakan, 'Mengapa kalian tidak menuju ke sana? Kemudian mereka digiring menuju neraka Jahannam, seolah-olah ia fatamorgana yang sebagiannya menghancurkan sebagian yang lain. Mereka pun berjatuhan ke dalam neraka.
Hingga tidak tersisa kecuali orang-orang yang menyembah Allah Ta'ala, dari orang yang baik dan durhaka. Allah Rabb semesta alam mendatangi mereka dalam bentuk yang mereka kenal. Kemudian Allah bertanya, 'Apa yang kalian nantikan? Hendaknya setiap umat mengikuti apa yang disembah.'
Mereka menjawab, 'Ya Tuhan kami, kami telah memisahkan diri dari orang-orang ketika di dunia, kami tidak membutuhkan apa yang mereka kejar, kami pun tidak berteman dengan mereka.'
Kemudian Allah berfirman, 'Aku adalah Rabbmu.' Maka mereka berkata, 'Kami berlindung kepada Allah, kami tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun,' (2 atau 3 kali). Bahkan hampir-hampir di antara mereka ada yang terbalik mengucapkan.
Allah bertanya, 'Apakah antara kalian dan Rabbmu ada tanda yang kalian kenal?' Mereka menjawab, 'Ya.' Maka disingkapkannyalah as-Saaq (betis). Maka tidak ada yang tersisa dari orang-orang yang bersujud kepada Allah (orang mukmin) kecuali dizinkan bersujud kepadaNya. Dan tinggallah orang-orang yang bersujud karena riya’, maka dijadikan punggungnya oleh Allah satu tingkatan. Setiap kali akan bersujud, maka tersungkur. Kemudian mereka mengangkat kepala mereka.
Dan Allah telah merubah bentuk dari bentuk yang pertama kali mereka lihat. Kemudian berfirman, 'Aku adalah Rabbmu.' Mereka menjawab, 'Engkau lah Tuhan kami.'
Kemudian jembatan dibentangkan di atas Jahannam, dan syafaat diberlakukan. Mereka berkata, 'Ya Allah, selamatkan, selamatkan'."
Ditanyakan kepada Rasulullah, "Apakah yang dimaksud jembatan itu?" Beliau 'alaihi wa sallam menjawab, "Titian licin yang menggelincirkan, padanya terpasang besi pengait yang bengkok, juga besi-besi runcing, seperti duri pohon Sa'dan.
Di antara orang-orang mukmin ada yang melewati titian itu dalam sekejap mata, cepat seperti kilat, atau angin yang bertiup atau burung yang melesat, atau kuda yang berlari kencang, atau secepat kendaraan. Di antara mereka ada yang selamat, ada yang luka dan terlempar, ada yang tertimbun di kedalaman jahannam.
Jika orang-orang mukmin telah melewati neraka, maka demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggamanNya, tidaklah salah seorang di antara kamu yang benar-benar bersumpah kepada Allah kecuali meminta meneliti kebenaran dari sesama mukmin yang masih di dalam neraka kepada Allah pada hari kiamat. Mereka berkata, 'Wahai Tuhan kami, dulu mereka berpuasa, shalat dan haji bersama-sama kami!'
Kemudian dikatakan kepada mereka, 'Silahkan kalian mengeluarkan orang-orang yang kalian kenal!' Lantas tubuh mereka diharamkan tersentuh api neraka. Mereka dapat membebaskan sejumlah orang.
Ada pula yang tenggelam di dalam neraka sampai pertengahan betisnya, atau sampai lututnya, kemudian mereka berkata, 'Wahai Rabb kami, sudah tidak tersisa walau seorangpun yang engkau perintahkan untuk mengeluarkan darinya.' Allah berfirman, 'Kalau demikian, kembalilah. Dan siapa saja yang kalian dapati dalam hatinya kebaikan seberat dinar, maka keluarkanlah mereka.' Kemudian dikeluarkan sejumlah besar manusia.
Kemudian mereka berkata, 'Ya Rabb, sudah tidak ada lagi orang yang harus dikeluarkan sebagaimana yang Engkau perintahkan.'
Allah berfirman, 'Kalau demikian kembalilah. Dan siapa saja yang kalian dapati dalam hatinya kebaikan seberat setengah dinar, maka keluarkanlah mereka.' Maka dikeluarkanlah sejumlah besar manusia dari neraka.
Kemudian mereka berkata, 'Ya Rabb, sudah tidak ada lagi orang yang harus dikeluarkan sebagaimana yang Engkau perintahkan.'
Allah berfirman, 'Kalau demikian kembalilah. Dan siapa yang kalian dapati di dalam hatinya kebajikan seberat zarrah, keluarkan mereka.'
Maka dikeluarkan dari mereka sejumlah besar manusia.
Mereka berkata, 'Ya Rabb, tidak tersisa lagi kebaikan di neraka."
Berkenaan dengan hal ini, Abu Said al-Khudri berkata, "Jika kalian tidak mempercayai hadits ini, bacalah sekiranya kalian mau ayat,artinya,
'Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar.' (An-Nisa’: 40).
Allah Ta'ala berfirman, 'Para Malaikat, Nabi dan orang-orang mukmin memberikan syafaat, dan yang tinggal adalah orang-orang yang paling dikasihi.' Kemudian Allah menggenggam satu genggaman neraka dan Allah mengeluarkan dari neraka itu orang-orang yang belum pernah berbuat kebaikan sedikitpun, mereka telah kembali menjadi arang, kemudian mereka ini lemparkan ke dalam sungai di tepi surga yang disebut dengan sungai kehidupan.
Mereka ini keluar dari neraka sebagaimana biji-bijian yang terbawa arus banjir. Tidakkah kalian sesekali melihatnya terserempet batu, atau pohon, pohon itu ke arah matahari terkadang menjadi putih atau hijau, dan yang condong ke arah bayangannya berwarna putih.
Mereka bertanya, 'Wahai Rasulullah, Seakan-akan engkau menggembala di wilayah pedusunan.' Rasulullah shallallohu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Orang-orang tadi keluar laksana mutiara yang di lehernya terdapat kalung, yang dikenali para penghuni surga. Mereka itulah orang-orang yang dibebaskan, Allah memasukkan mereka ke dalam surga tanpa amalan yang mereka kerjakan dan tanpa kebaikan yang selama ini mereka berikan.
Allah berkata kepada mereka, 'Masuklah kalian ke surga, apa yang kalian lihat adalah milik kalian.' Mereka menjawab, 'Ya Rabb, Engkau memberikan kami kenikmatan yang tidak Engkau berikan kepada seorangpun di alam raya ini.' Allah berfirman, 'Aku memiliki yang lebih afdhal dari pemberianKu itu.' Mereka bertanya, 'Wahai Tuhanku, Apakah yang lebih afdhal dari semua itu?' Allah Ta'ala menjawab, 'RidhaKu, setelah itu Aku tidak murka lagi' [1]
_________________
[1] HR. Al-Bukhari, 7439; Muslim, 183.
[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, edisi bahasa Indonesia: "61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat", pent. Pustaka Darul Haq, Jakarta]
Sumber : Alsofwah
© 2013 - RizzStudio
Ketundukan AWAN
Dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada suatu ketika ada seseorang yang sedang berjalan di padang pasir tiba-tiba mendengar suara dari dalam awan, ‘Siramilah kebun si Fulan.’ Kemudian awan itu menuju ke arah suatu tempat yang banyak batunya, lantas menuangkan airnya.
Pada tempat yang banyak batunya tersebut ada sebuah parit yang penuh dengan air hingga parit itupun ikut mengalirkan air. Kemudian di situ ada seorang lelaki yang berada di tengah-tengah kebunnya sedang membagi-bagi air, dengan alat pengukur tanah, ia bertanya kepada orang itu, ‘Wahai hamba Allah, siapakah namamu?’
Orang itu menjawab, ‘Fulan.’ Nama yang sama dengan yang pernah didengarnya dari dalam awan tadi.
Kemudian Fulan bertanya kepadanya, ‘Kenapa kamu menanyakan namaku?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya saya tadi mendengar suara dari dalam awan, yang kemudian menuangkan air ini, suara itu berkata, ‘Siramilah kebun si Fulan,’ persis dengan namamu, memangnya apa yang telah kamu perbuat?’ Fulan menjawab, ‘Karena kamu bertanya seperti itu, maka aku jawab. Sebenarnya, aku selalu memperhatikan hasil yang dikeluarkan kebun ini, sepertiga dari hasil itu saya sedekahkan, sepertiga saya makan dengan keluargaku dan sepertiga lagi saya persiapkan untuk bibit.” [1]
Pelajaran Yang Dapat Dipetik:
1. Keutamaan bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan.
2. Anjuran untuk berbuat ihsan kepada fakir-miskin dan anak-anak terlantar.
3. Keutamaan seseorang yang makan dari hasil usahanya sendiri.
4. Keutamaan memberi nafkah kepada istri dan keluarganya.
5. Penetapan adanya karamah para wali, sehingga alam tunduk kepadanya.
6. Keutamaan bertani dan bercocok tanam. Karena merupakan mata pencaharian yang baik.
7. Awan tunduk untuk berjalan sesuai dengan kehendak Allah dan ada malaikat yang bertugas mengawasi jalannya awan.
8. Allah mencintai seorang hamba yang hidupnya seimbang, dia mau menginfakkan sebagian hartanya kepada yang berhak menerima.
9. Orang Mukmin adalah manusia yang bisa saja mendengar suara Malaikat.
___________________
[1] HR. Muslim, 2984.
[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, edisi bahasa Indonesia: "61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat", pent. Pustaka Darul Haq, Jakarta]
Sumber : Alsofwah
© 2013 - RizzStudio
Infaqnya Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiallahu ‘Anha
Malik telah meriwayatkan dalam Muwaththa', "Bahwasanya telah sampai kepadanya dari Aisyah -istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa seorang miskin meminta kepadanya, sedang dia berpuasa dan tidak ada suatu makanan pun di rumahnya kecuali roti kering, lalu dia berkata kepada pelayannya, 'Berikanlah roti itu kepadanya', pelayan itu berkata, 'Tidak ada lagi makanan yang dapat engkau makan untuk berbuka', Aisyah berkata, 'Berikanlah roti itu kepadanya', dia berkata, 'Lalu saya memberikannya', dan di sore hari kami diberi sebuah hadiah dari keluarga atau dari seseorang yang tidak pernah menghadiahkan kepada kami seekor domba, dan dia menutupinya dengan pengharum, lalu Aisyah memanggilku seraya berkata, 'Makanlah makanan ini, hal ini lebih baik dari sepotong rotimu tadi'."
Dan dari Ibnu az-Zubair -semoha Allah meridhoinya- berkata, "Saya tidak pernah melihat dua wanita yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma' radhiallahu ‘anhuma. Adapun Aisyah, ia selalu mengumpulkan sesuatu hingga bila telah terkumpul banyak, maka dia membagi-bagikannya, sedangkan Asma' maka dia tidak menyimpan sesuatu pun untuk keesokan harinya." ( HR. Al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, hal. 43.)
Dan dari seorang wanita yang sering mendatangi Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata, "Ibnu az-Zubair radhiallahu ‘anhu mengirimkan sejumlah harta kepada Aisyah di dalam dua kantung, Aisyah berkata, 'Saya mengiranya seratus delapan puluh ribu,' lalu dia meminta mangkok padahal dia berpuasa di saat itu, lalu dia duduk seraya membagi-bagikan harta tersebut kepada orang-orang, dan tidaklah tersisa untuknya saat itu satu dirham pun, dan di sore harinya Aisyah berkata, 'Wahai pelayan, berikanlah makanan berbuka untukku,' lalu dia datang membawa roti dan minyak seraya berkata kepada Aisyah, 'Tidakkah engkau mampu untuk membeli daging buat kita dengan satu dirham saja dari harta yang telah engkau bagikan hari ini untuk kita gunakan berbuka? 'Aisyah menjawab, 'Janganlah kamu menyesaliku, karena bila kamu mengingatkanku tadi, pastilah akan aku lakukan'." ( Shifat ash-Shafwah 2/29.)
Dinukil dari, “Keajaiban Sedekah dan Istighfar”, karya: Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam, edisi terjemah cet: Pustaka Darul Haq
Sumber : Alsofwah
© 2013 - RizzStudio
Infaq Ummul Mukminin Zainab Binti Jahsy Radhiallahu ‘Anha
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
'Bahwa yang paling cepat menyusul diriku dari kalian (istri-istriku) adalah yang paling panjang tangannya', Aisyah berkata, 'Lalu kami saling mengukur tangan kami agar mengetahui siapa yang paling panjang tangannya,' dia melanjutkan, 'Dan ternyata istri beliau yang paling panjang tangannya adalah Zainab karena dia bekerja dengan tangannya sendiri dan selalu bersedekah'." (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan lafazh tersebut dari Muslim)
Dan dalam suatu riwayat yang lain Aisyah berkata, "Lalu kami bila berkumpul pada suatu rumah dari salah seorang di antara kami setelah kematian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kami selalu mengukur tangan-tangan kami di tembok untuk mencari tangan yang terpanjang, dan kita masih saja selalu berbuat hal itu hingga meninggalnya Zainab binti Jahsy, dan ternyata dia adalah wanita yang mempunyai tangan pendek dan bukan yang terpanjang di antara kita, akhirnya kami mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermaksud dengan panjangnya tangan adalah suka bersedekah, dan Zainab adalah seorang wanita pekerja dengan tangannya (Pekerja tangan adalah cerdik dan pandai, ahli bekerja dengan tangan). Dia menyamak kulit, menyulam, dan bersedekah di jalan Allah."
Dan pada suatu riwayat disebutkan bahwa Zainab radhiallahu ‘anha merajut pakaian, lalu memberikannya kepada pasukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka menjahit dan memanfaatkannya pada peperangan mereka. ( Dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath)
Dinukil dari, “Keajaiban Sedekah dan Istighfar”, karya: Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam, edisi terjemah cet: Pustaka Darul Haq
Sumber : Alsofwah
© 2013 - RizzStudio
Sa'ad bin Abi Waqas r.a
Dalam pertempuran Irak, khalifah Umar bin Khattab ra. berniat menyertai pasukan muslimin dalam peperangan tersebut.
Masyarakat biasa dan para tokoh telah berkumpul dan bermusyawarah hingga beberapa hari; Apakah Umar ra. lebih baik ikut dalam pertempuran itu atau lebih baik tingal di Madinah untuk mempersiapkan pasukan yang akan dikirim kemudian? Kalangan rakyat biasa mengusulkan lebih baik Umar ra. ikut dalam peperangan, sedangkan para tokoh berpendapat, Umar ra. lebih baik tinggal di Madinah. Dalam musyawarah tersebut, muncullah nama Sa'ad bin Abi Waqas ra. Mereka lebih suka, jika Sa'ad bin Abi Waqash ra. yang memimpin pasukan, sehingga Umar ra. tidak perlu pergi ke medan perang.
Sa'ad bin Abi Waqash ra. adalah seorang pemberani dan terkenal sebagai singa Arab. Singkat cerita, diputuslah Sa'ad bin Abi Waqash ra. dikirim memimpin pasukan Muslimin. Ketika pasukan telah sampai di Kadisiah, Raja Kisra telah mengirim pasukan yang dipimpin oleh Rustum, yang terkenal dengan kehebatannya. Padahal, Rustum telah berkali-kali meminta kepada raja, agar ia diijinkan untuk tetap mendampingi raja. Sebenarnya ia takut menghadapi pasukan Muslimin. Namun, ia sembunyikan ketakutannya itu, dan berkata kepada raja, "Saya lebih baik tinggal di sini untuk mempersiapkan pasukan yang akan dikirim dan dapat membantu paduka dalam perundingan-perundingan nanti." Tetapi, Raja yang bernama Yadzdajir, menolak usulan Rustum. Sehingga terpaksa Rustum menyertai pasukan. (Asyhar)
Ketika Sa'ad bin Abi Waqqash ra. akan berangkat, Umar bin Khattab ra. berwasiat kepadanya, "Hai Sa'ad, janganlah kamu terperosok dalam tipuan, kamu disebut sebagai paman dan sahabat Rasulullah saw.. Allah swt. tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi membalas keburukan dengan kebaikan. Dan Allah tidak memiliki hubungan apapun dengan hamba-Nya kecuali penghambaan yang dikabulkan-Nya. Semua hamba itu pada hakekatnya sama. Semuanya adalah hamba Allah, dan Allah adalah Rabb manusia. Nikmat-Nya didapatkan melalui penghambaan kepada-Nya. Segala perintah-Nya hendaknya dilaksanakan sesuai contoh Rasulullah saw.. Itulah amal shalih. Ingatlah nasehat ini dengan baik. Kamu dikirim untuk suatu tugas yang sangat besar. Dan itu dapat kamu kerjakan, bila berpegang teguh kepada yang hak. Biasakanlah dengan sifat kebaikan pada dirimu serta kawan-kawanmu. Tingkatkanlah rasa takut kepada Allah. Takut kepada Allah swt. itu ada dua hal: Mentaati Allah swt. dan menghindari dosa. Ketaatan kepada Allah ini akan diperoleh oleh mereka yang membenci dunia dan hanya mencintai akherat."
Setelah itu, Sa'ad ra. dengan wajah berseri-seri, membawa pasukannya ke medan perang. Sesuai dengan surat yang dikirim olehnya kepada Rustum:
'Sesungguhnya saya membawa sebuah pasukan, yang mencintai mati, sebagaimana orang-orangmu mencintai khamar.' (TafsirAzizi)
Faedah:
Tanyakanlah kepada para pecinta khamar, bagaimanakah rasanya? Jika ada yang mencintai syahid di jalan Allah, seperti orang yang mencintai khamar, maka mengapa kita tidak mengikuti jejak mereka?
© 2013 - RizzStudio
IMAM MAHDI MENYERU:
BalasHapusBENTUKLAH PASUKAN FI SABILILLAH DISETIAP DESA
SAMBUTLAH UNDANGAN GUBERNUR MILITER ISLAM
Untuk para Rijalus Shaleh dimana saja kalian berada,
bukankah waktu subuh sudah dekat? keluarlah dan hunuslah senjata kalian.
Firman Allah: at-Taubah 38, 39
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu jika dikatakan orang kepadamu: “Berperanglah kamu pada jalan Allah”, lalu kamu berlambat-lambat (duduk) ditanah? Adakah kamu suka dengan kehidupan didunia ini daripada akhirat? Maka tak adalah kesukaan hidup di dunia, diperbandingkan dengan akhirat, melainkan sedikit
sekali. Jika kamu tiada mahu berperang, nescaya Allah menyiksamu dengan azab yang pedih dan Dia akan menukar kamu dengan kaum yang lain, sedang kamu tiada melarat kepada Allah sedikit pun. Allah Maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
Firman Allah: al-Anfal 39
Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi, dan jadilah agama untuk Allah.
Peraturan dan undang-undang ciptaan manusia itu adalah kekufuran, dan setiap kekufuran itu disifatkan Allah sebagai penindasan, kezaliman, ancaman, kejahatan dan kerusakan kepada manusia di bumi.
Allah Memerintahkan Kami untuk menghancurkan dan memerangi Pemerintahan dan kedaulatan Sekular-Nasionalis-Demokratik-Kapitalis yang mengabdikan manusia kepada sesama manusia karena itu adalah FITNAH
Firman Allah: al-Hajj 39, 40
Telah diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, disebabkan mereka dizalimi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk menolong mereka itu. Iaitu
orang-orang yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena mengatakan: Tuhan kami ialah Allah
Firman Allah: an-Nisa 75
Mengapakah kamu tidak berperang di jalan Allah untuk (membantu) orang-orang tertindas. yang terdiri daripada lelaki, perempuan-perempuan dan kanak-kanak .
Dan penindasan itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan(al-Baqarah 217)
Firman Allah: at-Taubah 36, 73
Perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagai mana mereka memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahawa Allah bersama orang-orang yang taqwa. Wahai Nabi! Berperanglah terhadap orang-orang kafir dan munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka.
Firman Allah: at-Taubah 29,
Perangilah orang-orang yang tidak beriman, mereka tiada mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan tiada pula beragama dengan agama yang benar, (iaitu) diantara ahli-ahli kitab, kecuali jika mereka membayar jizyah dengan tangannya sendiri sedang mereka orang yang tunduk..
Bentuklah secara rahasia Pasukan Jihad Perang setiap Regu minimal dengan 3 Anggota maksimal 12 anggota per desa / kampung.
Siapkan Pimpinan intelijen Pasukan Komando Panji Hitam secara matang terencana, lakukan analisis lingkungan terpadu.
Apabila sudah terbentuk kemudian Daftarkan Regu Mujahid
ke Markas Besar Angkatan Perang Pasukan Komando Bendera Hitam
Negara Khilafah Islam Ad Daulatul Islamiyah Melayu
Mari Bertempur dan Berjihad dalam Naungan Pemerintah Khilafah Islam, berpalinglah dari Nasionalisme (kemusyrikan)
Masukan Kode yang sesuai dengan Bakat Karunia Allah yang Antum miliki.
301. Pasukan Bendera Hitam
Batalion Pembunuh Thogut / Tokoh-tokoh Politik Musuh Islam
302. Pasukan Bendera Hitam Batalion Serbu
- ahli segala macam pertempuran
- ahli Membunuh secara cepat
- ahli Bela diri jarak dekat
- Ahli Perang Geriliya Kota dan Pegunungan
303. Pasukan Bendera Hitam Batalion Misi Pasukan Rahasia
- Ahli Pelakukan pengintaian Jarak Dekat / Jauh
- Ahli Pembuat BOM / Racun
- Ahli Sandera
- Ahli Sabotase
304. Pasukan Bendera Hitam
Batalion Elit Garda Tentara Khilafah Islam
305. Pasukan Bendera Hitam Batalion Pasukan Rahasia Cyber Death
- ahli linux kernel, bahasa C, Javascript
- Ahli Gelombang Mikro / Spektrum
- Ahli enkripsi cryptographi
- Ahli Satelit / Nuklir
- Ahli Pembuat infra merah / Radar
- Ahli Membuat Virus Death
- Ahli infiltrasi Sistem Pakar
email : seleksidim@yandex.com atau
email : angsahitam@inbox.com
WILAYAH KHILAFAH ISLAM AD DAULATUL ISLAMIYAH MELAYU
BalasHapusBismillahir Rahmanir Rahiim
MARKAS BESAR ANGKATAN PERANG
KHILAFAH ISLAM AD DAULATUL ISLAMIYAH MELAYU
MENERBITKAN SURAT SECARA RESMI
NOMOR : 1436H-RAJAB-02
PETA ASAL WILAYAH
KHILAFAH ISLAM AD DAULATUL ISLAMIYAH MELAYU
Maha Suci Allah yang di tangan-Nya Kekuasaaan Pemerintahan atas segala
sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala Kerajaan, dan Dia Maha
Kuasa atas segala sesuatu,
Wahai Rabb Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi maupun Kerajaan yang Ada
diantara Keduanya, Sesunggunya Engkau Maha Kuasa atas Segala Sesuatu
yang Engkau Kehendaki.
Wahai Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang
Hamba memohon Ampun dan Kasih Sayang-Mu,
Kami Hamba-Mu yang Dhoif Mohon Izin untuk melakukan Ijtihad Syiasah
Allaahumma sholli alaa Muhammad wa alaa aali Muhammad kamaa shol
laita alaa aali Ibroohiim ,
wa baarik alaa Muhammad wa alaa aali Muhammad kamaa baarokta alaa aali
Ibroohiim fil aalamiina innaka hamiidum majiid.
Pada Hari Ini Hari Isnain 1 Rajab 1436H
1. Kami sampaikan Kabar Gembira bahwa Asal Mula wilayah
Khilafah Islam Ad Daulatul Islamiyah Melayu adalah dari Sabang hingga
Maurake
2. Wilayah Negeri dari Sabang hingga Mauroke yang dihuni oleh Umat
Islam yang Sholeh-sholeh kami beri Namanya sesuai dengan Hadist
Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam Menjadi Wilayah Negeri Syam.
3. Peta Wilayah Indonesia Kami Hapus diganti dengan Nama Wilayah Syam
(Negeri
Ummat Islam Akhir Zaman)
4. RI bubar dan Hilang, Berganti Nama Organisasi Penyamun Indonesia
(OPI)
"Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap
keraslah terhadap mereka." (QS. Al-Taubah: 73, Al-Tahrim: 9)
Kepada para Alim Ulama cerdik cendikia Islam, Mari bersama-sama kita
tegakkan Islam dan menjadikan AlQuran dan As Sunnah Rasulullah SAW
menjadi satu-satunya sumber hukum yang berkuasa di Wilayah Syam.
Umat Islam tidak layak untuk hidup tentram di-RI,
RI adalah bagian dari Negara Zionis Internasional, Negara Dajjal.
Khilafah Islam Ad Daulatul Islamiyah (Melayu) menghimbau melalui
Aqidah Islam bahwa Semua Negara binaan Dajjal adalah Jibti dan Thagut
yang harus dihancurkan, bukan menjadikannya tempat bernaung dan merasa
hidup tentram di dalamnya sampai akhir hayat.
Akhir Zaman adalah Masa-nya seluruh umat islam harus berperang melawan
Zionis Internasional yang di Komandoi Israel. Waktu akan kian mendekat
Maka Umat Islam secara terpaksa atau secara ikhlas menjadi dua
gelombang besar wala kepada Zionis atau wala kepada Islam.
Bila Umat Islam yang berada di Wilayah Negeri Syam ridha pasrah dan
tunduk dibawah Tekanan OPI (organisasi Penyamun Indonesia), maka
bersiaplah menjadi negeri yang mengerikan.
Dan betapa banyak penduduk negeri yang mendurhakai perintah Tuhan
mereka dan Rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan
hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan.
(Qs. At-Thalaq :8)
Dan demikianlah Kami jadikan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat
yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan
mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka
tidak menyadarinya. (Qs. Al-an am : 123)
Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-
negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat
pedih lagi keras. (Qs. Huud:102)
Dan berapa banyak penduduk negeri yang zalim yang teIah Kami
binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain sebagai
penggantinya. (Qs. Al-Anbiyaa:11)
Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang Kafir (OPI) yang ada
disekitar kamu, hendaklah mereka merasakan keganasan darimu,
ketahuilah Allah bersama orang-orang yang bertaqwa (Qs. At-Taubah:123)
..dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun
memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta
orang-orang yang bertakwa. (Qs. At-Taubah:36)
PANGLIMA PERANG PASUKAN KOMANDO PANJI HITAM
Kolonel Militer Syuaib Bin Sholeh
angsahitam@inbox.com